Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Bab 1
Argh ….
Aku meregangkan tubuh setelah lelah semalaman.
Aku terbangun ketika matahari belum benar-benar naik. Cahaya tipis menyelinap dari balik tirai kamar, menyapa wajahku yang masih berat karena begadang semalam. Melewati malam yang panas bersama Mas Raka … malam kedua kami sebagai suami istri.
Aku tersenyum kecil, lalu menoleh ke samping. Tapi senyumku yang tadi merekah, seketika menurun dengan kening yang mengerut.
Mas Raka nggak ada di sebelahku.
Aku refleks bangkit. Mer4ba sisi kasur yang dingin. Wajahku mengernyit. “Mas …?”
Nggak ada.
Aku duduk sebentar di pinggir kasur, mengucek kelopak mata. Baru jam lima lewat sedikit, masih terlalu pagi untuk keluar rumah sebenarnya, tapi tidak enak jika hanya aku yang masih tertidur di dalam kamar. Sedangkan mereka sudah sibuk beberes.
Ini rumah Ibu Mertuaku. Rumah besar, bangunan lama, terlalu luas untuk ditinggali hanya tiga orang. Sejak Mas Raka kecil, ayahnya sudah meninggal dunia karena kecelakaan. Waktu itu Mas Raka baru kelas lima SD. Sejak itu, Ibu membesarkannya sendirian. Katanya, setelah ditinggal Ayah, Ibu menutup hati. “Cukup sekali aku dikhianati takdir,” begitu yang kudengar dulu saat lamaran.
Aku bangga dengan wanita itu, sungguh. Bagiku dia ibu yang sempurna. Merawat, membesarkan, membiayai dan mendidik dengan seorang diri itu nilai yang luar biasa untukku tiru.
Aku bangkit. Pakai jaket tipis, lalu keluar kamar. Rumah masih sepi. Biasanya kalau pagi begini, Ibu sudah sibuk di dapur. Tapi kali ini, aneh. Rumah benar-benar hening. Suasana dingin pagi menyelinap lewat celah jendela.
Lumayan membuat bulu-bulu kudukku berdiri.
Aku ke ruang tengah. Kosong.
Ke dapur. Sepi.
Aku panggil pelan. “Mas Raka …?”
Nggak ada sahutan.
Aku jalan ke depan rumah, buka pintu, cek halaman sebentar. Nggak ada siapa-siapa. Pintu pagar masih terkunci rapat.
Aku menghela napas. “Mas ke mana sih!!” Aku menggerutu sebal.
Aku berbalik menuju kamar. Tapi langkahku terhenti.
Tiba-tiba terdengar suara.
Samar, pelan, seperti suara orang mengerang. Bukan jeritan keras, lebih ke de54han pelan. Aku spontan berhenti.
Aku terdiam beberapa detik, mencoba mendengarkan lebih jelas.
Sumber suaranya dari kamar Ibu.
Aku mendekat pelan, jantungku makin nggak karuan. Suara itu jelas suara perempuan. Aku tempelkan telingaku ke pintu. Suara itu makin kentara.
Suara itu pelan, pelan, begitu pelan. Namun memburu.
“Ahhh … ahh .…”
Aku pejamkan mata sebentar. Tapi suara itu tak berhenti. Justru makin jelas.
Makin panas.
“Mas … pelan, Mas. Udah makin jago sekarang ….”
Aku merinding. Itu jelas suara Ibu.
Aku terpaku. Lututku rasanya lemas. Jantungku berdentum keras di dada. Mas? Mas siapa? Di rumah ini … cuma aku, Ibu, dan Mas Raka.
Aku semakin menempelkan telingaku ke pintu. Desahan itu makin jelas. Napasnya memburu. Terdengar ranjang bergeser pelan.
Aku gemetar.
Tangan ini tanpa sadar mengetuk pintu pelan.
Tok tok.
“Ibu?”
Suara itu berhenti mendadak.
Beberapa detik, hening aku menunggu.
Akhirnya pintu terbuka. Ibu berdiri di sana. Rambutnya berantakan, sebagian menempel di pipi yang lembap. Pelipisnya berkeringat. Nafasnya tersengal, wajahnya memerah. Daster tipisnya basah di bagian leher, menempel di tubuh. Matanya sedikit berair, seperti orang habis … aku takut melanjutkan pikiranku.
Aku buru-buru menundukkan kepala. Dan tanpa sengaja, pandanganku jatuh ke bagian dadanya yang terlihat menonjol tanpa penutup. Aku alihkan pandangan cepat-cepat, berusaha tetap sopan.
“Eh … a-ada apa, Nak?” suara Ibu pelan, parau, nadanya gugup. Tangannya buru-buru merapikan rambut, menarik nafas dalam-dalam seolah menenangkan diri.
“Maaf, Bu … aku cuma cari Mas Raka. Dia nggak ada di kamar.”
“Oh … mungkin ke warung depan … beli kopi. Dia emang suka bangun subuh-subuh.” Ibu menjawab cepat, suaranya gelagapan, bibirnya menyungging senyum tipis yang lebih mirip paksaan.
Aku mengangguk pelan. Tapi mata ini menangkap sesuatu. Di balik pundak Ibu, ranjangnya luar biasa kusut. Seprai setengah lepas.
Dan di sudut kamar, tergeletak kaos hitam.
Ya!! Sangat jelas itu kaos yang tadi malam dipakai Mas Raka.