Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Bab 2
Dari mana, Mas?” tanyaku pelan, mencoba bersikap santai saat Mas Raka baru saja masuk ke kamar.
Padahal, sejujurnya … hatiku rasanya ingin meledak. Aku ingin menjerit, ingin menanyakan semua hal yang sejak tadi berkecamuk di kepala. Tapi entah kenapa … mulutku justru kelu. Rasanya terlalu aneh untuk sekadar kutepis.
Mas Raka mengerutkan kening, lalu tanpa bicara, tubuhnya dijatuhkan ke atas ranjang. Napasnya sedikit memburu, seperti orang yang habis buru-buru.
“Baru ngerokok di depan. Nyari angin pagi,” katanya datar, tanpa menoleh ke arahku.
“Di depan?” Aku memiringkan kepala, tatapanku lurus menatap tubuhnya.
Mas Raka mengangguk kecil.
Aku menghela napas. “Aku tadi ke depan, Mas. Nggak ada siapa-siapa,” ucapku pelan.
Dalam hati ini ingin rasanya mencecar Mas Raka habis-habiskan.
“Mas …,” aku panggil sekali lagi.
Dia masih diam.
“A-aku tadi … dengar suara dari kamar Ibu.”
Kali ini Mas Raka menoleh. Wajahnya langsung tegang.
“Suara orang … ah … suara kayak orang ngeluh. Berdesah pelan, pelan, hampir gak kedengaran. Seperti …,” ucapanku terhenti dipotong Mas Raka.
Detik itu juga wajah Mas Raka memerah. Matanya membulat.
“Ayna, kamu jangan ngawur ya!” suaranya meninggi, meski berusaha ditahan. “Itu Ibu! Jangan ngomong yang enggak-enggak!”
Aku menunduk, menggigit bibir.
“Tapi, Mas!! Itu beneran suara ibu!”
“Ayna!!” bentaknya lagi, kali ini nadanya lebih keras. Napasnya memburu, matanya tajam. “Itu Ibuku, ngerti nggak?! Jangan asal ngomong kalau nggak jelas! Mulut kamu itu jangan sampai …,” ucapannya terhenti mendadak.
Aku menunduk, menggigit bibir, menahan air mata yang hampir tumpah.
Delapan tahun pacaran … baru kali ini Mas Raka membentakku.
Sakit.
Sakit banget.
Karena selama ini … bagiku dia lelaki paling lembut, paling baik, paling sabar di mataku. Bahkan terlalu sempurna untuk sekadar disebut manusia.
Aku tahu aku nggak seharusnya suudzon sama Ibu. Tapi apa aku salah?
Karena … suara itu terlalu jelas. Terlalu nyata.
“Sayang …,” suara Mas Raka tiba-tiba melunak. Napasnya ditahan, mungkin menyadari nada kasarnya tadi. “Maafin, Mas ya, Dek. Mas nggak bermaksud. Mas cuma nggak pengen kamu punya pikiran buruk sama Ibu. Kasian, Sayang … selama ini Ibu sendiri, hidupnya pasti sepi. Kan, ya?”
Tangannya meraih jemariku, menggenggamnya lembut.
“Mas harap kamu bisa deket sama Ibu, ya … bisa jadi temen buat beliau. Kan kita udah tinggal di sini sekarang. Nggak enak kalo ada prasangka buruk.”
Mas Raka menasihati begitu lembut sembari menggenggam tanganku.
Tapi … pandanganku langsung tertuju ke satu hal.
Baju.
Baju hitam yang dipakai Mas Raka semalam. Sekarang … dipakai lagi.
Tapi, aku jelas .…
Aku jelas lihat baju itu tergeletak di lantai, di samping ranjang Ibu tadi.
Jelas!
Aku menelan ludah. Dada ini sesak.
“Mas …,” aku beranikan diri, suaraku pelan dan berat.
“B-baju ini …?” aku menunjuk ke baju yang dipakainya.
Mas Raka mengernyit. “Kenapa?”
“Aku … aku tadi lihat baju yang sama … di samping ranjang Ibu,” ucapku pelan, begitu pelan takut menyakiti hati Mas Raka.
Detik itu juga, wajah Mas Raka membeku. Matanya membulat.
Napasnya tercekat.
Tangannya refleks melepas genggamanku.
Hening.
Mas Raka menarik napas panjang, seolah menahan sesuatu yang ingin meledak.
“Sekarang … aku tahu pikiran kamu ke mana,” ucapnya datar, dingin. Lalu tanpa menunggu, dia meraih handuk.
“Aku mau mandi.”
Tapi langkah kakinya justru ke arah pintu keluar kamar.
Aku refleks menahan, “Mas … mandi di mana? Kamar mandinya di sini kan .…”
Tanpa menoleh, Mas Raka menjawab enteng, “Mandi di luar … dimandiin Ibu sekalian!”
Aku tercekat.
Astaghfirullah. Apa-apaan ini?