Pengorbanan Cinta David
Ikut Puasa
"Dan, apakah gue boleh ikut berpuasa?" bisik David yang nampak serius.
Mendengar ucapan David membuat Hamdan terkejut bukan main.
"Lo serius mau ikut puasa?" tanya Hamdan masih tidak percaya dengan ucapan David.
"Yahh gue serius emang kenapa sih, salah?" ujar David lalu kembali memundurkan tubuhnya dan menyela rambutnya dengan jemari tangannya.
Hamdan pun mengusap wajahnya, "Eh bro! apakah lo gak bakal dimarahin kalau ketahuan berpuasa dan apa tujuan lo mau ikut puasa Syaban bareng gue?"
"Orangtua gue gak akan ngomelin kok, orang gue ikut puasa untuk niat yang berbeda lagian gue gak ada teman makan, orang lo sama Alex saja puasa apalagi kalian buka puasanya malam saat adzan magrib, sudahlah tidak ada yang masalahkan?" David berbicara dengan nada santai namun wajahnya nampak begitu serius.
"Wkwkwk diet?" pekik Hamdan sembari terkekeh dan memukul mejanya pelan, "Ya sudah terserah lo aja deh."
"Ya gue kan gak bisa menjalankan puasa sesuai syariat agama islam jadi gue akan puasa dengan niat untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan sekaligus menahan diri dari nafsu saja," ujar David lirih ada raut kesedihan yang terpancar di wajahnya membuat Hamdan ikut bersedih.
'Ya Allah bukanlah pintu hati salah satu ciptaanmu ini sungguh, dia adalah anak yang baik dan berikanlah dia pertolongan-Mu' gumam Hamdan seraya menangis dalam hatinya.
"Baiklah terserah lo saja, ya sudah yuk cabut sudah malam nanti Nyokap lo nyariin," seru Hamdan seraya bangkit dari duduknya.
David pun berjalan menuju kasir terlebih dahulu dia berniat untuk membayar makanannya.
Hamdan mengikuti David ke tempat kasir dia pun berniat untuk membayar namun sampai sana David sudah menjumlah semua pesananya.
"Hey gak usah biar gue saja yang bayar," ujar Hamdan tak enak hati.
Dengan pelan David menghentikan tangan Hamdan yang hendak membuka dompetnya.
"Terima kasih telah berkunjung ke caffe kami," ucap salah satu pelayan dengan memberikan senyuman terbaiknya seraya memberikan nota pesananan dan kembalian uang David.
David pun mengambilnya lalu pergi sambil merangkul bahu Hamdan untuk beranjak pergi dari sana.
"Anggap saja ini suatu kebaikan gue, kan gue juga pengen berbuat baik," kata David santai.
Hamdan tidak bisa menolak kebaikan David dia pun langsung memakai helm.
"Langsung pulang atau mau jalan-jalan lagi?" ujar Hamdan sembari menyalakan mesin motornya
"Pulang langsung, gue mau istirahat lah." David berseru sebelum menjalankan motornya.
Motor David pun sudah berjalan terlebih dahulu disusul dengan Hamdan yang mengikuti di belakangnya.
Suasana malam yang begitu indah, udara malam yang begitu dingin masuk ke lapisan kulit David tanpa izin, untung saja dia memakai hoodie yang cukup tebal untuk menyelimuti tubuhnya.
Saat di persimpangan jalan motor David berbelok arah berbeda dengan Hamdan yang terus berjalan lurus, ya mereka terpisah karena rumah mereka tak searah.
Motor ninja besar milik David telah membelah jalanan kota Jakarta, jika dia tidak menggunakan helm sudah pasti rambutnya akan terbang-terbang tertiup angin yang begitu kencang yang disebabkan oleh dia sendiri yang membawa motornya dengan kecepatan tinggi.
Saat sudah sampai di gang rumahnya tidak sengaja dia melihat seorang perempuan yang tak lain adalah Dinda anak dari tetangganya itu sedang berjalan dengan membawa sebuah buku tebal.
David membunyikan kelakson motornya beberapa kali karena gerbang masih terkunci.
"Tunggu sebentar," teriak Pak Bayu dari balik gerbang yang bercat hitam itu dan menjulang tinggi. "Den David, baru pulang?" ujarnya ketika selesai membuka gerbang dan melihat siapa yang baru saja pulang.
"Iya Pak," sahut David dan berlalu masuk ke dalam perkarangan rumahnya.
Lalu Pak Bayu pun langsung menutup gerbangnya kembali karena sudah larut malam dia pun langsung menguncinya.
David melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya yang masih terang suara televisi pun terdengar seperti ada seseorang yang sedang menontonnya.
"Mamah?" pekik David saat melihat siapa yang sedang menonton televisi.
Anggelia pun menoleh mencari sumber suara yang ternyata anaknya sendiri yang baru pulang.
"Kamu baru pulang Dav?" tanya Anggelia memandang anak bungsunya yang baru pulang.
David berjalan menghampiri Mamahnya dan duduk di dekatnya, "Mah apakah David boleh ikut berpuasa syaban?"
Mendengar ucapan anaknya itu membuat Anggelia langsung melotot, "Sayang kamu lagi mabuk?" tanyanya sembari menangkup wajah anaknya.
David memegang tangan Mamahnya dan menjauhkannya dari wajahnya tetapi masih digenggamnya, "David serius Mah, aku gak lagi mabuk aku hanya ingin berpuasa di bulan ini apakah ada yang salah?" ujar David jujur saja dia takut untuk mengatakan hal itu tapi jika Mamahnya tidak tahu dia akan berpuasa otomatis dia akan disuruh makan jadi terpaksa dia harus jujur asal dia berkata sama halnya kepada Hamdan.
"Ya ampun Nak sebentar lagi kita akan berpuasa Paskah ngapain kamu harus ikut puasa syaban?" Anggelia menggelengkan kepalanya masih tidak mengerti apa yang dikatakan anaknya.
"Tentu saja David akan ikut berpuasa di hari Paskah, Mah bukankah puasa itu dianjurkan di hari-hari tertentu? David akan melakukan puasa untuk mensyukuri nikmat Tuhan saja sekaligus menahan diri dari hawa nafsu, sudahlah intinya besok David akan berpuasa jadi Mamah tidak usah menyuruh David untuk makan," jelas David panjang lebar keputusannya sudah bulat dan tidak bisa diubah-ubah.
"Kalau begitu kamu bukan puasa syaban namanya dan jangan katakan lagi seperti itu apalagi di depan Mamah dan Papah, katakan bahwa kamu sedang berpuasa untuk mensyukuri nikmat Tuhan sekaligus menahan diri dari nasfu," sergah Anggelia dia takut jika anaknya itu akan berkata salah lagi apalagi di depan suaminya.
Setidaknya, ada beberapa alasan atau motif umat yang beragama katholik berpuasa. Pertama, memperoleh pengawasan bagi jasmani dan kesadaran yang tinggi. Kedua, mengingat Tuhan dan beribadah kepada-Nya. Ketiga, memperoleh kepuasan jiwa atas nikmat yang diperoleh. Jika itu alasannya Anggelia pasti tidak akan marah atau melarang anaknya itu dan Anggelia menyadari perubahan dalam diri putra bungsunya itu.
David menatap wajah Mamahnya dengan tajam, "Ya sudah aku ke kamar dulu ya, sudah malam lekaslah tidur Mah, agar tubuh Mamah tetap sehat," kata David sembari memberikan kecupan hangat untuk sang Mamah dan berlalu pergi ke lantai dua tempat kamarnya berada.
"Good night sayang," seru Anggelia dengan tersenyum hangat menatap kepergian anaknya itu mendengar David akan berpuasa syaban membuat jantungnya hampir copot tapi untungnya cuma kesalahpahaman saja.
Saat sampai di kamar David langsung mengeluarkan bukunya yang dikasih Hamdan kepadanya, bagaimana pun dia harus belajar dengan baik agar bisa mendapatkan nilai yang bagus hingga David terlelap di atas meja belajarnya.
Kesesokan harinya David berangkat ke kampus awal yang bagus dengan dimulainya David melaksanakan ibadah puasa, saat di kantin taman kampus David bertemu dengan ke dua temannya itu yang sedang asik membaca buku entah apa judulnya tidak dapat terlihat oleh pandangan David.
"Hay Dav!" seru Alex sembari melambaikan tangannya ke arah temannya itu.
Dengan langkah lebar-lebar David menghampiri ke dua temannya itu, "Kalian sudah dari tadi datangnya?" tanyanya begitu sudah dekat dengan mereka.
"Lo kesiangan kok baru datang?" tukas Hamdan yang mengenal teman barunya itu yang selalu kesiangan jika bangun pagi.
David mengangguk dan tersenyum tipis, "Gue tidur malam gara-gara ngafalin rumus fisika."
"Wih hebat banget ya lo sampe sempat-sempatnya ngafal rumus, nanti gue nyontek ya wkwk," seru Alex berdecak kagum kepalanya geleng-geleng tidak percaya mendengarnya.
"Enak aja Lo," pekik David mendengar perkataan Alex.
"Dav lo beneran puasa?" tanya Alex yang baru saja diberitahu oleh Hamdan mengenai perbincangan mereka berdua malam itu.
Tanpa ragu David menganggukan kepalanya, "Nanti kita bisa kan buka puasa bersama?" ujarnya.