Pasukan Langit
Akhir dari Perjuangan Gultron
"Pemuda sepertimu memang jarang ada, harusnya kamu mati dengan bangga karena telah menghadapiku!" suara Gultron sambil menatap bekas longsor, dan juga asap yang masih menutupi pandangannya. Mulai menghilang, debu sudah mulai turun dan hanya menyisakan sedikit debu.
Gultron berniat pergi dari sana. Jarak yang cukup jauh membuat Gultron harus menuju salah satu kota, atau menghubungi rekannya untuk bisa membuka portal kearah perguruan Bangau Emas. Benar-benar merepotkan!
Mungkin yang paling mudah adalah memberi pesan pada salah satu bawahannya untuk membuatkan portal. Gultron sendiri tidak bisa membuat portal teleportasi, karena memang rumit dalam hal pembuatan energi sihirnya. Tak semua orang bisa mempelajari dengan baik sistem portal tersebut.
Belum sempurna Gultron hendak mengirim pesan melalui artefak komunikasinya, tiba-tiba bumi seolah bergetar. Ada apa lagi? Jangan-jangan...
Gultron melihat ke arah bukit dimana Aji, sosok pemuda yang sudah diserangnya tadi ternyata masih hidup dan keluar dari bukit yang hancur itu. Sosoknya keluar dengan cepat dan meninggalkan ledakan bukit di belakangnya.
Aji melesat dengan debu yang masih mengitarinya, dia menerjang dengan kekuatan terang yang jelas. Gultron langsung menahannya dengan dua pedangnya yang disilangkan. Pukulan Aji mengarah pada Gultron, Gultron pun menyelimuiti tubuhnya dengan kekuatan defensif.
Cling!
Sekejap sebelum serrangan Aji menabraknya, tubuhnya hilang seketika. Kemana dia? Saat Gultron menengok ke belakang dan belum sempurna. Dia melihat Aji sudah memukulnya dari belakang dan mengenai punggungnya.
Buuuggg!
Gultron terpental ke depan, kecepatan Aji cukup membuat Gultron kaget. Pukulan itu juga cukup kuat. Gultron yang terpental pun segera menahan dengan mendorong kekuatannya sehingga tubuhnya tidak terus terpelanting. Dia berbalik dengan cepat dan menghadap kembali pada Aji yang masih berada di tempat sebelumnya dia di pukul.
"Kau hebat juga Aji! Melihat kekuatanmu, aku jadi tambah bersemangat untuk bermain-main. Sama seperti ketika aku menghadapi Tiga Legenda dulu. Aku kembali bersemangat tentunya! Tapi..., waktuku tidak banyak, aku harus segera kembali ke Bangau Emas!"
Aji pun tersenyum kembali, "Kamu tidak akan bisa kembali ke Orpris sana Gultron! Karena waktumu di dunia akan berakhir hari ini!"
"Bocah Sombong! Kamu belum tahu siapa aku!"
Energi Gultron kembali meledak. Ledakan hitam dan energi mengerikan pecah dari tubuh Gultron. Di atas sana, Aji memutar kedua tanganya, dia sedang membuat sebuah lingkaran sihir. Bukan untuk menyerang Gultron, Aji membuat sebuah portal lingkaran yang bercahaya dan seperti ruang hampa ada di dalamnya.
"Aku akan bertaruh padamu Gultron, portal di sampingku ini adalah arah menuju pertempuran di Bangau Emas. Jika kamu bisa mengalahkanku, maka kamu bisa langsung kesana!"
Apa-apaan bocah bernama Aji itu. Pemuda yang aneh dan sangat berani, bahkan dia membuat sebuah portal di mana itu menuju pada benua Orpris seperti dikatakannya. Apakah dia sedang main-main? Dia tidak mengetahui kekuatan dari Lima Gerbang, sehingga bisa sesumbar seperti itu!
Perubahan Demon Transform milik Gultron bertambah kuat energi yang dikeluarkannya. Dia tak peduli lagi, kali ini dalam sekali serangan lagi dia akan menghancurkan tubuh pemuda bernama Aji itu. Dia pun menyiapkan stamina, kecepatan dan damage ledakan pada energi kegelapan yang dimilikinya.
Kecepatan Gultron menyerang Aji demikian dahsyat dan sangat cepat. Angin di sekeliling Gultron pun meraung-raung seperti angin badai. Energi kabut hitam di belakang Gultron yang ditinggalkannya seperti mendung gelap yang menggumpal. Gultron pun sudah berada di depan Aji dengan cepat.
Pukulan menerjang, Aji berusaha menghindarinya dan menggeser tubuhnya ke kiri. Pukulan satunya pun menerjang dengan kuat dengan pedang yang menempul di belakang jari-jarinya. Pedang gelap menyabet, sesekali pukulan kuat juga mengarah pada Aji. Aji mundur sambil menghindari, dia pun meliuk ke samping dan ke belakang untuk menghindari setiap serangan mematikan dari Gultron.
Aji terdesak, tapi dia membuat tekanan di arah belakangnya. Seperti booster, dia mendorong kekuatannya ke depan tepat saat Gultron hendak menyabetkan kedua pedang besarnya.
Aji melesat dan meninju dada Gultron.
Blaaarrrrrr!
Gultron mundur tak jauh, dia segera menahan tubuhnya dan dia pun melaju kembali mengarahkan serangannya pada Aji. Gultron menyadari kekuatan Aji sangat kuat. Dia tak ragu lagi dan menggunakan semua kekuatan gelapnya.
"Ultimage Demon Destruction!"
Gultron dengan cepat melesat seperti kekuatan penghancur, melesat kesana-kemari. Aji terlihat siaga, serangan itu bahkan sangat cepat dan menyebar ke seluruh penjuru. Aji terkurung dalam dimensi celah karena seluruh gerakan Gultron, seolah membentuk tiap sudut dan mengelilingi Aji dari setiap sudut.
Segitiga itu akhirnya penuh dan semua seperti segel kuat dan ada penghalang sehingga Aji tak bisa keluar dari sihir segitiga kuat segel tersebut. Gultron berhenti dari gerakan tak terlihatnya dan membentuk pengurung segitiga dan membuat Aji masuk di dalamnya.
Gultron menangkupkan kedua tangannya ke depan, tangannya yang dipenuhi sisik kuat itu membentuk segitiga melalui jari telunjuk dan ibu jari. Energi meluap dari lubang segitiga yang dibentuk dari jemari Gultron. Energi itu memang keluar kecil, tapi membesar seperti gumpalan ledakan dan membuat lingkaran yang menyegel Aji jadi terbakar dengan api yang hitam pekat.
Api hitam berkobar dan seperti api yang mengerikan, karena di dalamnya terdapat kilatan-kilatan petir yang seolah membakar habis apapun yang terkurung dalam segitiga besar itu. Ledakan hitam itu semakin pekat dan memadat. Sepertinya kali ini, Aji tidak akan selamat dan hancur menjadi abu dengan kekuatan gelap itu.
Itulah yang ada dalam pikiran Gultron. Tidak mungkin seorang manusia bisa selamat dari kobaran api hitam terkuatnya itu. Api hitam itu bahkan tidak akan bisa ditahan oleh seseorang yang kuat sekalipun. Kekuatan api hitam yang membakar raga Aji, itu adalah kekuatan api tertinggi dalam pasukan kegelapan.
Sesekali suara ledakan terjadi di dalam segitiga yang mengurung Aji. Itu pasti kehancuran seluruh tubuh Aji. Gultron merasa senang, sudah saatnya dia pergi dan meninggalkan tempat terpencil itu!
Gultron berniat membongkar ledakan api dan juga api hitam yang mengurung Aji tersebut. Dengan kedua tangannya, array penghalang hitam berbentuk segitiga besar itu hilang tanpa bekas dan meledak seperti pecahnya awan hitam.
Saat itulah, mata Gultron berbelalak karena ada sosok yang memakai energi putih mengelilingi tubuhnya. Sosok itu adalah Aji yang tengah tertunduk. Aji pun mendongakkan kepalanya menghadap kepada Gultron.
Ada luka-luka yang terlihat di wajah dan tubuh Aji. Sayangnya, Aji tidak bergerak dan hanya mengepalkan tangan kanannya yang memegang tongkat di samping tangan kirinya. Tangannya tampak gemetaran.
Anehnya, luka-luka goresan dan luka terbakar karena api hitam milik Gultron itu hilang perlahan. Seolah, ada regenerasi yang kuat sehingga kulit rusak milik Aji berangsur-angsur pulih kembali. Itu persis seperti kekuatan dari Lord Demon yang bisa meregenerasi luka dengan sangat cepat.
Gultron pun kaget bukan main, "Siapa kamu sebenarnya!"
Saat kekagetan Gultron belum berakhir, serta keheranannya pada sosok Aji. Aji memegang kedua sisi dari tongkatnya, masing-masing tangan memegang di ujung tongkat itu. Sekejap kemudian, Gultron merasa harus segera menyerang Aji.
Aji melesat menyambut Goltron. Aji menarik tongkat itu dengan masing-masing tangannya. Tongkatnya mengeluarkan cahaya, Aji menarik dengan sempurna dan bagian tengah terjatuh, di tangan kiri Aji sekarang memegang pedang yang sangat kuat, dan di tangan kanan memegang belati yang cukup panjang.
Keduanya bertemu! Dengan kecepatan tertinggi, Aji melesat melebihi apapun dan melewati tubuh Gultron. Sedangkan pedang dan belatinya sudah mencabik ratusan, bahkan ribuan kali serangan pada tubuh Gultron.
"Dengarlah baik-baik Gultron, aku adalah Legenda Pemukul Halilintar!"
Bersamaan dengan itu, Gultron mendelikkan matanya, tapi kilatan senjata dengan sangat cepat menyerang kembali dan membuat kepalanya berpisah dari raganya.
Pemukul Halilintar?