Pasukan Langit
Pertarungan dan Kepercayaan
Lao duduk di hadapan Nasura yang kini terlihat ketakutan, matanya kesana kemari dan melihat sosok lelaki dan wanita yang kini menahannya itu.
”Aku tidak tahu apa-apa Tuan, tolong lepaskan aku!” Nasura memohon dan memelankan suaranya. Sepertinya dia juga takut pada sesuatu.
”Katakan saja dan kami akan melindungimu, kamu pasti akan diburu oleh mereka. Dan, mereka akan membunuhmu bukan?” ucapan Lao itu langsung membuat Nasura gemetaran. Benar saja, jika ketahuan maka dia pasti akan dibunuh langsung oleh Tuan Malam.
”Apa yang kalian sembunyikan di sekitar kandang kuda? Katakan dan kami akan membawamu selamat dari ancaman para pendekar kegelapan. Kami akan melindungimu dari Drakos.”
Mata Nasura membelalak dan menatap mata Lao, dia kaget, darimana dia tahu semua hal yang sudah disembunyikan rapat-rapat. Soal kandang kuda yang luas itu, bagaimana bisa dia memperoleh informasinya? Artinya, bukan dia yang memberitahu tetapi sudah diselidiki oleh para pendekar bela diri.
Nasura menjadi ketakutan, ”Baik... Baik aku akan mengakui, tapi selamatkan aku dari para pembunuh kejam itu!”
Lao tersenyum pada adiknya, Gayatri. Keduanya segera membawa Nasura keluar dan menuju ke luar untuk menemui pejuang Jiro. Mereka akn memberikan bukti kuat keterlibatan dari perguruan Bangau Emas pada Lord Demon. Ini akan menggemparkan seluruh benua, dan tentu saja keberadaan Mondu akan semakin diselidiki dengan sangat ketat, karena sudah terbukti salah satu perguruan besar terlibat dalam hal ini.
Gayatri dan Lao keluar sambil mengapit Nasura dan mereka membuka pintu. Mereka melangkah keluar, suasana amat sepi dan mereka baru menyadari kalau penjaga dan pelayan sudah roboh di lantai di depan kamar dari Nasura.
Mereka menyadari bahwa orang-orang dengan pakaian gelap dan juga pakaian jubah mengelilingi mereka. Pasukan musuh! Mereka sedang berdiri penuh di atas genting-genting seluruh kediaman dari Nasura dan di atas mereka. Jumlahnya puluhan dan hampir memenuhi tempat di atas kediaman sampai di gerbang keluar.
”Matilah aku sekarang! Tolong pendekar, lindungi aku!” Nasura ketakutan, nyawanya di ujung tanduk. Pasti dia akan dibunuh karena sudah ketahuan dan dirinya tidak lagi berguna di hadapan Tuan Malam.
Lao dan Gayatri tak gentar dan menyiapkan senjata mereka, mereka pun bersiap melawan pasukan kegelapan itu.
***
Seseorang prajurit dengan pangkat cukup tinggi, mengetuk pintu kediaman dari pemimpin perguruan Bangau Emas.
”Tuan! Tuan Sengturi!”
Lelaki di dalam kamar yang memiliki kumis cukup tebal dan rambut diikat itu terlihat kaget, dia sedang berduaan dengan isterinya dan sedang bersenang-senang. Dia marah karena kesenangannya diganggu. Dia pun berdiri dan mengenakan pakaiannya.
”Ada apa prajurit! Kenapa mengganggu malam-malam begini!” nada keras dari Sengturi mengagetkan prajurit di depan pintu itu. Namun, dia harus menyampaikan kabar penting itu.
”Maaf pemimpin! Nasura dikepung oleh para pasukan kegelapan. Mereka sedang menyerang Nasura yang dilindungi oleh para anggota Pasukan Langit!”
Apa-apaan ini? Sengturi menjadi kaget, kenapa bisa terjadi perang dengan Pasukan Langit dan bagaimana Nasura bisa akan dibunuh. Apakah semuanya sudah terbongkar? Apakah ayahnya tidak tahu? Ini gawat!
Sengturi segera memakai pakaiannya dan mengambil senjatanya, kali ini dia harus turun tangan. Berbahaya jika ketahuan soal rahasia besar yang disembunyikan oleh perguruan Bangau Emas.
***
Barsha meliuk dan menyerang para penyerang serba hitam. Senjata bertemu senjata, dan juga terkadang sihir ledakan nampak diarahkan pada Barsha. Barsha mampu menghindari semua serangan itu dengan kecepatan Ghost Speed-nya.
Aaman tak mau kalah, jurus dari gulungan yang diberikan oleh Aji semakin membuatnya berlipat ganda kekuatannya. Pedangnya juga menahan serangan dari beberapa orang, tapi para penyerang malah terpental.
Aaman dengan mudah menghindari dan menghantamkan serangan pedangnya, disertai energi yang kuat hingga mampu merobohkan para penyerang. Sudah lebih dari 5 orang yang ditumbangkan oleh Barsha dan Aaman. Mereka semua cukup terlatih, kali ini pun Rakuta merasa bahwa dirinya aman.
”Kamu berkembang cukup pesat, Aaaman!” goda Barsha.
”Sepertinya pelatihan di Pasukan Langit juga membuatmu semakin cepat, Barsha!”
Keduanya tersenyum dan bertarung kembali.
Rakuta tidak tinggal diam, dia membantu sebisa mungkin untuk menghadang satu atau dua orang yang menuju kearahnya. Dia juga pernah berlatih ilmu bela diri, dia dapat menggunakan kemampuannya. Apalagi, dia juga membekali dirinya dengan senjata artefak, yang memiliki barier atau penghalang dari serangan musuh.
Para penyerang yang masih ada sekitar 6 orang itu sudah kelelahan, dan mereka ternyata masih di bawah kemampuan dari Barsha dan Aaman. Barsha pun ingin mengakhiri dengan cepat pertarungan itu dan melesat ke depan untuk menyelesaikan sisanya. Belatinya bersilangan penuh cahaya. Kecepatan tingginya seolah ingin menghancurkan semua pasukan penyerang serba hitam itu.
Klaannggg!
Barsha kaget, serangannya ditahan dengan sebuah pedang besar. Sosok misterius muncul di hadapannya. Dia memakai jubah hitam dan kepalanya ditutupi dengan kain dari jubahnya itu. Matanya tajam dan hidungnya lancip. Senyumnya mengerikan. Dia adalah seorang lelaki yang mengerikan.
Barsha mundur dengan cepat, musuh baru itu tidak bisa dianggap enteng. Lelaki itu membuka penutup kepalanya, rambutnya diikat jadi beberapa bagian dan cukup panjang, hingga mencapai telinganya.
”Kalian semua akan mati!” lelaki itu menggerakkan kepalanya ke kenan dan ke kiri seolah mencari mangsa. Di sebelahnya, juga muncul seorang lelaki dari atas dan lengannya terbuka serta badannya kekar. Ada ikat rambut yang menutupi keningnya.
Mereka bukan lawan yang mudah. Barsha dan Aaman harus melindungi Rakuta, apapun yang terjadi. Itu adalah pesan dari Aji.
”Serang mereka!” lelaki yang ada ikatan rambut dan baru muncul itu menyuruh semuanya menyerang.
Blaaaammmmmmm!
Sesosok lelaki turun dari langit, dia menghantamkan tinjunya ke tanah sehingga terciptalah getaran energi yang mendorong ke depan. Serangan itu membuat serangan para pasukan hitam itu seolah terhalang energi, dan mereka tak bisa meneruskan serangannya.
Wooosshhhhhhhh!
Angin energi menghantam penyerang, mereka semua mundur ke belakang. Aji sudah duduk di depan Barsha dan Aaman. Dia pun berdiri dan masih membelakangi kedua rekannya beserta juga Rakuta.
”Kalian bawa tuan Rakuta dengan aman kepada pejuang Jiro. Aku akan menghambat mereka di sini!”
Aji mengatakan hal itu tanpa menoleh.
”Aku akan membantumu Aji!” suara Barsha.
”Sudahlah Barsha, ikuti kata Aji. Dia bisa menahan mereka, kita harus bisa membongkar kebusukan dari Bangau Emas!” kata Aaman.
Barsha tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tahu bahwa Aji memiliki kemampuan yang kuat, tapi melawan mereka semua apalagi dua orang yang baru datang cukup kuat. Apakah Aji bisa menahan pasukan kegelapan itu? Namun, benar kata Aaman.
Ini saatnya untuk menghentikan pasukan Lord Demon, menghambat mereka dan juga melemahkan kekuatan mereka.
’Hati-hati, Aji.’
Suara dari hati Barsha, dia pun pergi menuntun Rakuta pergi menuju pintu keluar. Beberapa pasukan kegelapan mencoba menyerang dan terbang ke arah pintu gerbang. Sayangnya, Aji menghentak, dan sedetik kemudian sudah berada di depan mereka. Serangan Aji menghantam tiga orang sekaligus dan terpental jatuh hingga bergulingan dan roboh.
Braaakkkk!