Pasukan Langit
Mundur Semua!
”Waktu mereka hampir habis penasehat Kakek Nurin,” Ketua Yarko mencoba mengingatkan Tetua atau Kakek Nurin. Kakek Nurin dilihatnya masih duduk dengan tenang dan seperti bermeditasi.
”Tunggu sebentar lagi, jika waktu ujian hampir selesai dan mereka belum keluar. Maka, kita akan masuk ke dalam.”
Kakek Nurin memberikan penjelasan, tapi dirinya juga mengalami masalah dalam pandangan jiwanya sendiri. Itu adalah soal Heart Dragon. Kekuatan Heart Dragon seolah menghilang seperti hancur tanpa jejak. Heart Dragon adalah item yang menjadi salah satu dari 3 Rahasia Langit. Tidak sembarangan orang bisa menyentuh apalagi hendak menyerap kekuatannya.
Lalu... kenapa Heart Dragon bahkan tidak bisa dirasakan kehadirannya lagi oleh Kakek Nurin? Seolah-olah, Heart Dragon itu musnah begitu saja. Tidak ada serpihan energi yang tersisa yang bisa dilacak oleh kakek Nurin.
***
Jasum terlihat marah, dia kurang berkonsentrasi dalam pertarungannya. Hal itu setelah melihat tubuh Mora terkena serangan energi pedang, dan menghantam Mora ke lantai dalam ruangan Dompai tersebut.
Dia baru saja menghempaskan pemuda yang sombong itu ke lantai, dengan serangannya yang kuat. Namun, saat menoleh ke arah rekannya Mora, Mora juga sudah terjatuh dengan serangan beruntun dari 3 orang yang menyerangnya bersamaan.
”Kurang ajar!” kemarahan Jasum memuncak, dia mengeluarkan seluruh energi gelap yang ada di dalam tubuhnya. Awan gelap menyelimuti tubuhnya seperti api yang membakar dengan pekat, menutupi sekujur tubuhnya. Bayangan kegelapan nampak bersiap menerjang.
Energi meluap dari tubuh Jasum, dia segera akan meluncur ke arah beberapa orang yang menjatuhkan Mora. Dan, saat energinya mulai membentuk booster untuk melesat. Tiba-tiba gerakannya terhenti dan tak bisa meneruskan serangannya tersebut.
Ada yang mengekang kedua kakinya dengan kuat, itu adalah rantai energi yang saling terkait. Siapa yang melakukannya?
Dari ujung dinding, pemuda yang baru saja dihempaskan oleh Jasum kini memegang rantai energi yang berkaitan itu. Energi itu dibuat oleh pendekar wanita dengan kemampuan support elemental. Dia adalah Gayatri.
Gayatri memang sudah tidak memiliki tenaga yang cukup, maka Aji memintanya untuk menggabungkan energi-energi dan saling mengait, lalu melemparkannya ke kaki Jasum. Aji melompat dan menarik rantai energi itu.
”Bocah sialan!”
Sraak!
Belum selesai berbicara, Aji segera mengalirkan energi di kedua tangannya dan menarik rantai itu kearahnya dengan sangat kuat.
Jasum mencoba menolaknya dengan mendorong energi menjauh. Namun, kekuatan tarikan itu sangat cepat dan kuat, hingga membuat tubuhnya tak bisa mengambil keseimbangan dan tertarik begitu saja. Tenaga pemuda itu tidak berkurang bahkan setelah dihempaskan? Monster macam apa dia itu?
Tubuh Jasum tertarik ke arah Aji, Jasum pun bersiap menyerang Aji dengan kekuatannya. Dia juga bersiap dengan melancarkan pukulan kuat penuh dengan awan gelap. Tubuhnya yang tertarik, dan dia sekaligus juga memukul sekuat tenaga dengan energi yang sangat kuat.
Wooossshhhh!
Aji melepaskan rantai energi yang dipegangnya, sudah cukup main-mainnya. Dia menarik tangan kanannya ke belakang dan bersiap menyambut pukulan dari Jasum, sepertinya kekuatan Jasum sudah dikerahkan sepenuhnya. Ledakan energi dirasakan berpendar kemana-mana. Aji juga harus menggunakan kekuatannya.
Pukulan keduanya berbenturan dan membentuk semacam energi gelap dan terang, yang saling berbenturan.
BOOOOMMM!
Saat kedua pukulan itu bertemu pendar-pendar cahaya memenuhi seluruh ruangan di dalam Dompai tersebut. Energi gelap dan terang saling bergulung, dan pecah ke semua penjuru. Itu adalah ledakan energi yang besar yang bisa menghancurkan apapun.
Semua mata menatap mereka, tapi mereka kesulitan karena ledakan energi itu sangat besar dan tak kuasa mereka tahan.
Blaaaarrrrr!
Adu kekuatan itu pecah. Dan seluruh pandangan seolah nanar. Beberapa saat semua mata tak bisa melihat. Bagaimana hasilnya, semua pendekar penasaran dan menunggu sambil menajamkan matanya, namun pendar-pendar energi belum hilang sepenuhnya.
Asap dan kabut energi itu seolah mengilang perlahan, meskipun belum nampak keseluruhan. Sepertinya, ada satu sosok di balik kabut yang menyisa. Sosok yang berdiri tegak, lambat laun wajah dari sosok yang berdiri tegak itu mulai terlihat samar. Semua makin penasaran, apakah Aji berhasil mengalahkan sosok Jasum, atau dirinya yang dikalahkan?
Sosok itu pun terlihat, itu adalah Aji Bagaskara. Sosok di depannya adalah sosok Jasum yang sempurna jatuh menelungkup ke bawah dan tubuhnya penuh dengan luka gelap. Jasum sudah berubah ke kondisi semula dan Demon Transformnya sudah hilang. Dia juga tak bergerak lagi dan jatuh dan tergeletak tak sadarkan diri, karena hanya diam saja dan tak menyisakan energi sama sekali.
Di sisi lain, Mora yang juga dijatuhkan oleh Ganada tak juga bangun. Mereka semua berhasil, waktu untuk mereka tidak banyak lagi. Tinggal tiga menit waktu yang tersisa semenjak mereka masuk ke lorong Dompai. Waktu yang semula diberikan 3 jam untuk keluar dari Dompai, dan kini hanya tersisa 3 menit saja.
Ujung jalan keluar menuju ujung Dompai masih cukup jauh, waktu semakin bertambah. Jika mereka tidak segera keluar dari Dompai, maka semuanya tidak akan lulus. Di antara mereka semua juga sudah terluka, oleh karena itu hanya beberapa orang saja yang bisa lulus.
Lalu, apakah mereka akan meninggalkan rekannya dan menggunakan kecepatan tinggi untuk mencapai ujung Dompai lalu meninggalkan yang lainnya?
Para peserta Pasukan Langit sendiri masih belum bisa memahami, bagaimana Aji menjatuhkan Jasum dengan satu serangan itu. Kali ini, waktu ujian juga hampir berakhir bahkan dalam hitungan detik.
Semuanya tidak tahu harus melakukan apa lagi. Jika mereka berlari, maka mereka mungkin masih memiliki kesempatan, tapi yang lainnya apakah juga sanggup?
Gayatri mendekati Aji, ”Maaf, apa yang harus kita lakukan sekarang Aji?” Gayatri merasa bahwa Aji memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin. Dia sendiri melihat gerakan pertempuran benturan tadi. Meskipun tak bisa melihat dengan matanya. Namun, energi yang dikeluarkan saat benturan itu, Gayatri melihat melalui kekuatan spesial matanya yang melihat melalui warna energi.
Barsha, Alicia dan yang lainnya terutama Nagada pun bergerak menuju kearah Aji. Mereka cukup lelah setelah pertempuran dengan Mora tadi. Para peserta Pasukan Langit yang lain juga seolah terpanggil untuk mendekat ke arah Aji, semuanya.
Semua peserta menatap Aji, seolah mereka akan menurut dengan apa yang akan dilakukan Aji sekarang.
”Tunjukkan kami jalan Aji,” Nagada melihat Aji dan menganggukkan kepalanya.
Aji bergerak ke samping, dia mendekati dinding Dompai, ”Ikuti aku!” semua peserta Pasukan Langit mengikuti langkah Aji hingga mendekati dinding Dompai. Jika menuju ujung Dompai, tentu tidak semuanya bisa ke sana. Aji melihat bahwa jalan satu-satunya adalah jalan pintas.
Aji memundurkan kakinya, dia menarik lengan kanannya dan energi meluap dari kepalan tangannya, ”Mundur!”
Dan..., Aji menghempaskan kepalan tangannya pada dinding Dompai itu dengan kekuatannya.
BOOOMMMM!
Sekali lagi, suara gemuruh terjadi. Meski dilapisi barier tingkat 8, tapi dinding itu pecah berantakan seperti debu beterbangan. Dinding itu menyisakan lubang besar, dan beberapa penjaga di luar, yang mengelilingi Dompai kaget. Para penjaga itu segera melompat mundur, karena hancurnya tembok Dompai yang sedang mereka jaga.