Pasukan Langit
Dompai, Tempat Tes Ketiga
Pagi hari menyapa, ujian ketiga merupakan hari terberat bagi 21 peserta Pasukan Langit yang tersisa. Ujian itu akan dilakukan di suatu tempat yang belum diketahui, tapi para peserta harus berkumpul di alun-alun untuk mendapatkan instruksi terlebih dahulu.
Aji sudah berdiri dengan bersedekap di alun-alun tersebut, beberapa peserta sudah datang dan masuk ke alun-alun. Alicia pun sudah di sana dan dia kadang memperhatikan Aji, tapi Aji tak bergeming dan tetap santai.
Barsha pun menyusul sudah hadir, hanya tinggal beberapa peserta yang lulus ujian kedua yang belum hadir. Saat matahari sepenggalan, para peserta seluruhnya yang berjumlah 21 orang pun lengkap.
Alun-alun itu dijaga oleh para pendekar dari aliran putih, yang menjaga dan membuat barier berkeliling dengan rapi. Mereka adalah pasukan keamanan dari Kota Prisma. Seorang lelaki gemuk mendekati Aji.
”Terima kasih atas bantuanmu kemarin Tuan, oya siapa nama Tuan?” itu adalah suara Nora, dia adalah orang yang diselamatkan dari penyerang yang menyamar menjadi peserta kemarin.
Aji menatap lelaki yang cukup berisi itu, ”Itu biasa, aku adalah Aji. Panggil saja aku Aji.”
”Baiklah, Mohon bantuannya nanti ke depannya,” Nora tersenyum dan dibalas senyuman oleh Aji. Menambah pertemanan tentu adalah sesuatu yang baik. Hal itu akan mempermudah misinya dalam menghabisi Lord Demon.
Semua peserta yang lulus tes kedua sudah berkumpul seluruhnya, 21 orang. Saat itu mereka saling memandang untuk saling mengenal, hal itu akan lebih familiar demi Pasukan Langit nantinya jika mereka berjuang bersama sebagai pasukan.
Para peserta sudah dikawal oleh prajurit pilihan kota Prisma, mereka mengelilingi para peserta dan rapi berbaris. Di sisi lain, mereka juga sudah disiapkan untuk berbaris dan berjaga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan.
Dari arah Walikota Prisma, beberapa orang berjalan dengan gagah diiringi beberapa orang mengawal. Itu adalah Ketua Yarko, Ketua Gonan, dan satu lagi berdiri agak belakang di antara mereka berdua. Lelaki tua berjanggut.
Langkah mereka bertiga mendekati para peserta tes ketiga Pasukan Langit, dan diiringi dari samping kanan dan kiri serta belakang mereka. Beberapa pendekar dengan rank tingkat yang tinggi.
Saat mereka sampai di depan para peserta tes Pasukan Langit yang sudah bersiaga. Mereka pun berhenti. Ketua Gonan maju ke depan sambil mengangkat tangan kanannya.
”Kuucapkan selamat pada kalian, kalian sudah menempuh ujian dengan baik. Tapi ingatlah satu hal. Ujian ketiga ini adalah ujian yang sangat berat. Bahkan, bisa jadi beberapa di antara kalian akan gugur atau bahkan semuanya.”
Ketua Gonan memberikan ultimatum agar para peserta dapat memahami dengan baik, dan tidak menganggap enteng persoalan tes ketiga kali ini.
Berdasarkan para Tetua dari semua aliansi di lima benua. Ujian tes ketiga ini adalah ujian yang sangat berat, hal ini berkaitan dengan mental para peserta tes peserta Pasukan Langit. Mereka adalah harapan bagi seluruh benua.
Para peserta harus bisa bersiap dalam segala kemungkinan, apalagi mereka dipersiapkan sebagai gerbang utama untuk melawan pasukan hitam dan juga Lord Demon. Rahasia yang mereka jaga di para Tetua dan juga pembesar di lima benua. Ujian ketiga kali ini akan menggunakan artefak tingkat tertinggi. Artefak Heart Dragon.
”Oleh karena itu,” Ketua Yarko ikut menambahi perkataan dari Ketua Gonan, ”Kalian harus mengerahkan semua kemampuan kalian. Kekuatan kalian dan mental kalian adalah hal utama untuk bisa melewati ujian ketiga kali ini. Untuk itu, kalian akan diberikan arahan singkat dan persiapan sehingga menjadi kata kunci kalian dalam tes ketiga kali ini.
Saya mempersilakan, Tetua tertinggi di Benua Orpris, Tuan Nurin.”
Saat mendengar nama Tuan Nurin, atau Kakek Nurin, semua mata tertuju pada lelaki tua berjanggut yang berada di antara ketua Gonan dan ketua Yarko. Tetua yang dihormati di seluruh benua Orpris, dia sudah menjadi legenda tersendiri setelah tiga legenda menghilang dari dunia bela diri.
Tetua Nurin biasa dipanggil dengan Kakek Nurin.
Kakek Nurin maju ke depan, dan kedua tangannya bertaut di belakang punggungnya, ”Selamat datang para peserta Pasukan Langit. Aku ucapkan selamat terlebih dahulu karena kalian sudah melewati dua ujian dan bisa lulus,” suara Kakek Nurin itu sangat berkharisma. Dia menatap 21 peserta Pasukan Langit itu bergantian.
Tatapan Kakek Nurin terhenti cukup lama pada Aji, yang terlihat sangat santai sambil bersedekap di dadanya.
Suara Kakek Nurin cukup membuat semua orang di sana takzim dan mendengarkan dengan baik. Sosok legenda paling berpengaruh di semua benua, dan juga pendekar putih yang menjadi idola semua orang.
Kakek Nurin tersenyum kepada semua peserta, ”Saya berharap, kalian semua lulus dan menjadi penerus para pendekar dan menjadi tameng bagi keadilan. Saya sangat berharap hal itu. Maka dari itu, dengarkan baik-baik perihal penting yang ingin saya sampaikan mengenai spesifikasi tes ketiga kali ini.”
Angin bertiup perlahan dan sepi, membuat para peserta dan seluruh orang yang berada di alun-alun tersebut mendengarkan dengan seksama. Mereka memasang pendengaran mereka dengan sangat optimal, sehingga dapat mendengarkan hal sekecil apapun yang akan mereka dapatkan dari arahan seorang legenda tersebut.
”Tes kali ini adalah soal mental kalian. Seberapa kuat mental kalian dalam pertempuran, mental kalian adalah mental yang harus bisa menghadapi apapun di depan kalian. Bahkan, jika pasukan kegelapan mengepung kalian, maka kalian tidak boleh gentar!”
Arahan dari Kakek Nurin itu diperhatikan dengan seksama oleh semua peserta Pasukan Langit. Tes mental? Para peserta pun masih bingung dengan klasifikasi tes. Apakah mereka akan menghadapi situasi, di mana mereka akan diserang oleh penyerang lagi, atau melawan monster? Atau yang lainnya.
Mereka sangat penasaran akan hal itu.
”Sekali lagi,” Kakek Nurin mengangkat tangan kanannya ke depan, menuju para peserta Pasukan Langit, ”Siapkanlah mental kalian, kalian harus dapat menghadapi kondisi apapun dengan tenang. Kalian adalah harapan bagi pendekar di seluruh benua, untuk menjadi angkatan pertama yang memimpin perubahan besar!”
Mereka, para peserta semakin terpompa semangatnya. Rasa keadilan dan keberanian memenuhi keinginan mereka untuk membawa perdamaian. Sudah banyak mereka mendengar kejahatan terjadi di seluruh penjuru benua; mulai dari pasukan gelap yang terus melakukan aksi kejahatan, para bandit yang berkeliaran, para pejabat korup yang selalu menyengsarakan para penduduk.
Semua itu harus dihentikan oleh para keamanan dan juga para pendekar. Pasukan Langit, adalah sebuah bentukan tertinggi, yang di pundak mereka dipercayakan untuk menumpas segala bentuk kejahatan.
Waktunya bersiap. Kakek Nurin memberikan kode pada ketua Yarko dan ketua Gonan untuk mengarahkan para peserta Pasukan Langit menuju tempat ujian ketiga. Kakek Nurin berbalik sendirian dan meninggalkan tempat alun-alun itu, sedangkan Ketua Gonan dan Ketua Yarko berjalan dan meminta para peserta untuk mengikuti langkah mereka.
Para pengawal mengikuti para Ketua dan peserta. Mereka keluar dari alun-alun dan menuju kearah timur dari kota Prisma. Perjalanan mereka ini tentu menjadi tontonan penduduk sekitar. Mereka terus melangkah hingga sekitar 2 km mereka pun berhenti.
Tepat di depan mereka, sebuah bangunan dengan pemandangan yang cukup luas dan bangunan yang unik dan besar.
Bangunan besar itu adalah, Dompai. Sebuah tempat rahasia untuk melatih secara menyeluruh dari setiap perguruan bela diri yang ada di seluruh benua Orpris. Biasanya dalam lima tahunan diadakan adu bela diri untuk menambah wawasan, dan Kota Prisma memberikan apresiasi dan dukungan pada para pemenang di dalam turnamen tersebut.
Tempat itu, Dompai sangat luas dan bangunannya pun unik. Dompai juga menjadi pusat bagi mereka para pejuang bela diri untuk mendapatkan wawasan di sana. Dompai juga menjadi pusat teori, dan buku dari semua seni bela diri yang ada di kota Prisma.
Ketua Gonan dan Ketua Yarko berdiri di depan pintu masuk bangunan yang besar dan panjang tersebut. Mirip sebuah stadiun besar dengan ukuran raksasa. Bangunan itu panjang bahkan bisa mencapai panjang 1 km luasnya.
Para prajurit diperintahkan oleh ketua Gonan untuk membentuk barier, di seluruh tempat dan mengelilingi Dompai. Para prajurit bela diri dari Kota Prisma pun bersiap, dan segera melakukan perintah ketua Gonan.
Barier langsung dibuat dengan mengelilingi semua tempat di bangunan Dompai yang sangat luas tersebut. Bentuknya seperti persegi panjang dengan penutup atas yang sangat elegant. Setelah barier dibentuk, ketua Gonan dan ketua Yarko berdiri di depan pintu dan menatap seluruh peserta Pasukan Langit.
Ketua Gonan meminta pada ketua Yarko, untuk berbicara guna memulai tes ketiga untuk para peserta Pasukan Langit.
Ketua Yarko maju ke depan dua langkah, ”Bersiaplah para pejuang peserta Pasukan Langit. Ingat kembali pesan dari Kakek atau Tetua Nurin. Jika kalian berbuat kebaikan dan menegakkan kebenaran, maka jangan pernah takut atau gentar. Jika kalian sudah siap, masuklah melalui pintu di belakang kami. Persiapkan seluruh kemampuan kalian!”
Ketua Yarko memajukan tangan kanannya dan menggesernya ke kanan di arah pintu Dompai. Para peserta pun ada yang menggenggam sebagai bentuk persiapan, ada yang menelan ludah dan ada yang mencengkeram senjata mereka dengan baik.
Ujian kali ini pasti berat, ini adalah ujian ketiga mereka. Mau tidak mau, pasti lebih berat dari ujian pertama dan kedua. Bahkan, ujian kedua telah menggugurkan hampir keseluruhan dari peserta, kini tersisa 21 orang.
Barsha santai sambil berjalan ke depan menuju pintu Dompai. Ketua Gonan dan Ketua Yarko saling mundur beberapa langkah, sebagai bentuk penghormatan kepada peserta Pasukan Langit untuk memasuki Dompai. Tempat ujian ketiga mereka dan juga pengujian yang khusus akan diperuntukkan untuk kekuatan mental mereka.
Di ujian ketiga kali ini, mental mereka adalah hal utama yang akan membuat mereka bisa lulus atau tidak. Mental mereka akan dihadapkan pada artefak tingkat tinggi, disitulah letak mental mereka ditunjukkan saat berhadapan dengan artefak Heart Dragon.
Informasi soal Heart Dragon sangat terbatas, dan hanya para Tetua dari lima benua yang mengetahuinya. Bahkan, Ketua Yarko dan Ketua Gonan baru diberitahu tadi pagi. Informasi ini tentu saja membuat mereka kaget, dan mereka pun hanya bisa menjalankan misi mereka. Mereka juga belum yakin, apakah para peserta Pasukan Langit ini akan menjadi kuat setelah tes ketiga ini.
Di sisi lain, mereka khawatir, apakah para peserta Pasukan Langit bisa lulus ujian ini. Mereka akan ditunjukkan kebesaran mental mereka, mental yang mereka yakini dengan kuat sebagai pendekar kebenaran dan melawan kejahatan.
Jika mental mereka tidak murni dan hanya mengharapkan pujian, popularitas dan uang, maka mereka akan gagal secara total.
Setelah para peserta Pasukan Langit masuk ke Dompai. Maka para penguji, para pengawal tidak diperbolehkan untuk melakukan apapun hingga garis finish di ujung pintuk Dompai. Lulus tidaknya mereka, tidak boleh ada seorang pun yang memasuki Dompai. Ujian ini bukan soal waktu, melainkan soal pertarungan mental para peserta Pasukan Langit.