Padang Sajadah

Keputusan yang Diambil (1)

 “Insyaallah, yang paling tepat di antara alternatif yang ada adalah transplantasi ginjal atau pendonoran ginjal. Jika dengan hemodialisis atau cuci darah tidak akan berdampak lama karena ginjalnya hanya buatan.”

Kami kaget mendengar penjelasan Azizah, jadi, benarlah adanya. Saat yang ditunggu oleh dokter akhirnya tiba juga. Sewaktu dulu, dokter Anita sebenarnya sudah mengatakan cepat atau lambat operasi harus dilakukan. Istirahat kak Faza tidak akan lama, karena ginjalnya memang sedang sakit.

Kami duduk di kursi memanjang di depan kamar kak Faza dirawat, beliau masih pingsan dan diperiksa di dalam.

“Sebenarnya, bagaimana kejadiannya Iza?” aku menatap wajah sembab milik Azizah. Aku tahu, dia pasti sangat terpukul karena di dunia ini dia hanya memiliki satu orang yang dicintainya, dia kini sedang sakit dan terbaring tak berdaya. Lalu, bagaimanakah hatinya akan tenang?

“Aku tidak tahu persis, kak Shafwan yang membawa kak Faza kesini. Sekarang dia sedang menjaga Hafidz, sebentar lagi dia akan kesini. Tapi, aku sudah mengenal sangat baik dengan kak Faza. Aku tahu apa yang dilakukannya selama ini, dan dia tidak akan pernah bisa beristirahat. Dia selalu bekerja tanpa mengenal istirahat.”

Seorang lelaki berjalan cepat menuju arah kami. Dia Shafwan.

“Apakah kak Faza sudah siuman?”

“Belum Kak,” Azizah masih sedikit serak suaranya.

Shafwan duduk di sebelah kanan kami, berjarak agak jauh.

“Tolong ceritakan pada kami dari awal kejadiannya, hingga kak Faza bisa jatuh sakit,” Zulfa melihat kekhawatiran Azizah, hingga membantunya menguak rahasia tentang sakit kak Faza kali ini.

Wajah Shafwan berubah merah sejenak, lalu pandangannya menunduk melihat ujung bawah tembok di depan kami. Dan, cerita penuh dengan empati mengalir dari bibir Shafwan, nampak kesedihan begitu jelas tergambar dari wajahnya.

Cerita yang membuat kami terheran-heran, sungguh. Rini dan Ratih tampak serius mendengarkan, ada daya tarik tersendiri tentang kisah yang diceritakan Shafwan, cerita tentang manusia biasa yang selalu tampak ceria dan membantu saudara-saudaranya, menetapi imannya walau sesungguhnya dirinya kepayahan dan sakit di tubuhnya tak dihiraukannya.

Ya, dialah lelaki yang dikirimkan Allah ‘Azza wa Jalla tepat pada waktunya, ketika kesucianku hendak diruda paksa. Dia datang dengan segenap kewibawaannya, dia datang tanpa rasa takut sedikitpun, mirip seperti superhero. Dan demi aku..., oh Allah, dia mendorongku dan pisau tajam itu menancap di perut bagian kirinya, dan dari situlah semua ini bermula. Airmataku menetes, ketetapanMu ya Allah, inilah ketetapanMu. Tapi, semua juga bagian dari diriku. Apa yang harus kulakukan?

Lelaki itu, ya, dia yang seharusnya hemodialisis  minimal seminggu dua kali. Tapi, dia hanya melakukannya sekali. Karena biayanya mahal dan lebih mengedepankan biaya untuk adiknya. Tapi, bukanlah itu yang membuat kami larut dalam cerita Shafwan.

Setiap bertemu dengan siapapun, ketika orang bertanya tentang kesehatannya setelah di rumah sakit. Dia dengan ringan menjawab, “Alhamdulillah, aku sehat. Tidak ada kabar yang lebih baik dari kabarku.” Dia begitu rapi menyembunyikan sakit yang dideritanya. Dan sakitnya itupun, tak melunturkan sedikitpun aktivitas dakwahnya, hingga sekali pernah pingsan sewaktu mengisi kajian di SMA 3 Kota Metro.

“Aku tak bisa melarangnya sama sekali, entah kekuatan apa yang membuatnya begitu tenang. Bahkan, dia yang selalu menasehatiku agar selalu bersabar akan semua musibah yang menimpa kita. Dia selalu menangis kala menjaga dan mengobati Hafidz dengan cinta, dia juga yang mendatangi sahabat-sahabat yang pernah melukainya. Dia tak memiliki dendam sama sekali. Dan kini...,”

“Allah mengujinya kembali,” Shafwan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ada air yang menggenang dari sela-sela jarinya. Ruangan lorong-lorong Rumah Sakit kurasakan berdzikir, menggema, memantul di setiap celahnya.

Kami berenam membisu, bermain dalam pikiran kami masing-masing.

Beberapa saat beberapa orang terlihat datang dan mendekati kami.

“Assalamu’alaikum,” wajah-wajah mereka terlihat sangat khawatir. Mereka adalah Lutfi dan Nabil.

Kami menjawab salam dan mereka segera berebut untuk mengetahui keadaan kak Faza. Lutfi baru hari ini ke Kota Metro karena mengurusi pendaftaran registrasi di Lampung Timur sebagai manager baru dalam pendirian ekonomi syariah disana. Wajahnya teramat khawatir dan berkali-kali mengutarakan penyesalannya dan meminta maaf pada Azizah.

“Semua yang terjadi adalah ketetapan dariNya Kak, yang penting semuanya sudah jelas. Pasti kak Faza akan tersenyum begitu mengetahui bahwa kak Lutfi sudah memaafkannya,” Azizah memejamkan matanya sejenak, ada bening semburat yang terlihat hendak keluar dari kedua matanya.

“Akulah yang seharusnya minta maaf padanya, sungguh dia adalah orang yang paling baik yang pernah kutemui. Aku telah menyakitinya, ya Allah..., sembuhkan dan kembalikan dia pada kami ya Allah,” Lutfi mengusap kedua matanya yang berkaca.

Tidak berhenti disitu dua orang dari ujung koridor datang dua orang yang menuju tempat kami. Mereka adalah Rasyid dan isterinya, mereka berucap salam dan mendengarkan penjelasan Shafwan. Rasyid tak kuat menahan airmatanya dan isterinya menenangkannya.

Aku semakin yakin padaMu ya Allah tentang kemulyaan seseorang yang Kau mulyakan sesuai kehendakMu. Kau uji manusia hingga Kau melihat sampai sebatas mana kesabarannya. Apakah dia akan menetapiMu atau berpaling dariMu.

Seperti kemulyaan Imam Ahmad bin Hanbal, siapa yang tidak mengenalnya? Dia menghafal Al-Quran ketika umurnya sepuluh tahun, namun tidak disitu melainkan di dalam hatinya sehingga dia dikatakan sebagai Al-Quran yang berjalan. Imam Syafi’i pun belajar darinya. Namun penderitaan dan cobaan yang dideritanya sungguh berat, dia dipenjara dan dicambuk sebanyak 160 kali setiap hari selama dua puluh delapan bulan dan dihinakan karena membela kesucian Al-Quran.

Dan Allah memulyakannya ketika meninggal, dikatakan dalam sejarah bahwa yang menshalati dan menggiring jenazahnya adalah satu juta tiga ratus ribu orang. Subhanallah.

Deg! Hatiku khawatir seketika. Tidak! Kak Faza! Dia tidak akan meninggal saat ini, Allah akan bermurah hati padanya. Lihatlah ya Allah, lihatlah Azizah, jangan Kau buat dia sedih lagi. Kesusahan dan musibah telah dia alami semenjak kecilnya, kumohon sembuhkanlah kak Faza. Aku berhutang budi padanya, dan belum sempat kubalas sama sekali.

Saat airmataku hendak menyembul keluar dari koridor lorong yang berlawanan beberapa orang datang, wajah mereka tampak bersedih. Mereka adalah Naurah dan kedua Kakaknya, dan ketika mereka telah sampai, beberapa orang datang kembali. Kini terlalu ramai, mereka anak-anak sekolah karena masih berseragam Sekolah Menengah Atas.

Mereka semua adalah murid-murid kak Faza, Subhanallah. Ada 20-30 orang. Ruangan di depan kamar kak Faza terlalu sesak. Lihatlah, desahan bibir-bibir mereka mengagungkanMu wahai Rabbku. Lihatlah ketulusan yang terpancar dari wajah-wajah mereka, mereka hanya meminta satu padaMu. Mereka ingin kak Faza kembali bersama kami dan menyemai kesyukuran kepadaMu. Maka, izinkalah wahai Tuhanku, izinkanlah...

Dan itulah harapanku. Itulah harapanku...

Airmata Azizah tumpah, dia sudah tak kuat membendung perasaannya melihat begitu banyak yang mencintai Kakaknya. Aku memeluknya dan memberikan pundakku sebagai penyangga kesedihannya, aku mengelus kepalanya yang berbalut jilbab. Dia tersedu dalam pelukanku.

”Bersabarlah, kau ingat pesanku padaku dulu. Semua ketetapan dariNya adalah yang terbaik untuk hamba-hambaNya, dan bukankah Allah ’Azza wa Jalla lebih mengetahui mana yang terbaik untuk kita? Bukankah itu juga yang dipesankan kak Faza kepadamu?”

”Iya, tolong kuatkan aku.”

©     ©     ©

“Ada yang bisa ke ruangan saya?” bu Anita menatap kami, “Siapa diantara kalian yang merupakan keluarganya?”

“Saya Dok,” Azizah sudah terlihat mulai bisa mengendalikan perasaannya. Dia wanita yang sangat tabah dan aku beruntung di dunia ini bisa berteman dengannya.

“Ayo Azizah ke ruangan Ibu. Cukup kamu saja, atau satu orang lagi,” senyumnya terukir meneduhkan. Dia sudah sangat kenal dengan Azizah, namun karena kerumunan kami tadi begitu banyak sehingga bu Anita bertanya keluarga kak Faza.

“Temani aku Salwa,” Azizah menatapku dalam-dalam.

“Aku?” bukankah disana ada yang lain.

“Iya, kumohon temani aku.”

Aku ragu hendak berdiri dari kursi memanjang itu, “Baiklah,” dia menungguku sampai di tempatnya. Aku berjalan melewati wanita berjilbab, dia Naurah, wajahnya demikian cantik. Dialah yang menjadi tambatan hati Zilul dan Lutfi, hingga terjadi kesalahpahaman. Dia memang pantas diperebutkan, lihatlah wajahnya teramat cantik dan senyumnya begitu tulus.

Aku tersenyum padanya sambil melewatinya.

Aku melewati seorang wanita yang kurasa mencintai kak Faza. Sebagai wanita aku tahu bagaimana perasaan seorang wanita ketika mencintai seorang lelaki. Dialah Nabil, aku banyak tahu tentangnya ketika dia membela kak Faza saat pertama dulu masuk Rumah Sakit ini. Dan dia seorang wanita yang shalihah, aku pun tersenyum kepadanya. Kak Faza pantas mendapatkan salah satu diantara mereka, dan aku tidaklah pantas untuk berharap lebih kepadanya.

Biarlah, biarlah ketetapan Allah yang akan berlaku untukku.

Aku sampai di tempat Azizah berdiri, aku mensejajarinya dan kami berjalan menuju ruangan bu Anita bersama.

“Kenapa aku Iza?” aku berkata lirih tanpa menoleh kearahnya.

“Aku membutuhkanmu,” pandangannya pun tak menoleh kearahku.

Jemari tangan kanannya mendekati tanganku, kurasakan sentuhan itu, bergetar. Dia menggenggam jari-jari tangan kiriku. Azizah menggenggam tanganku sedikit menguat, aku membalas genggamannya pelan, mencoba menguatkan. Aku akan selalu bersamamu untuk membantu mengobati lukamu sahabatku. Aku mencoba menyalurkan semangat padanya, aku yakin Allah ‘Azza wa Jalla akan menyalurkan rasa sayangku padanya, rasa persaudaraan ini, rasa sehati bagai satu tubuh.

Dan, jalan lorong di depan kami seolah terasa sejuk, udara yang berhembus seolah melingkupi kami dengan ketentraman. Inilah kekuatan hati ketika menyatu dalam iman kepadaNya, semua jalan yang kau lewati akan terasa bagai sedang menyusuri jalanan penuh bunga diantara air yang berkemericik. Demi sinarMu, ini adalah benar dan bukan fatamorgana.

©     ©     ©

“Jadi...,” Azizah sempurna menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Ya, kak Faza harus transplantasi ginjal, kini fungsi ginjalnya telah terganggu. Kak Faza ginjalnya telah kronik (PGK), jalan satu-satunya adalah cangkok ginjal. Kini, hemodialisis sudah tidak bisa membantu banyak lagi. Dulu, ketika kak Faza memaksa pulang sebenarnya fungsi ginjalnya masih bisa terjaga dengan cara hemodialisis secara bertahap dua minggu sekali atau sebulan dua kali. Namun, kak Faza ternyata tak menuruti kata-kata Dokter.

“Tapi, saya heran. Pasien dapat bertahan lama dengan keadaan tanpa hemdialisis, dia dapat masih bekerja dengan baik hingga saat ini. Biasanya yang terkena PGK akan bisa bertahan sehat jika dia mengatur pola makanannya dan juga menghindari obat atau zat yang kemungkinan dapat memperburuk ginjal. Saya yakin, pasien benar-benar menjaga kesehatan tubuhnya dengan baik.”

Aku dan Azizah terdiam mendengarkan. Kak Faza memang selalu menjaga pola makannya. Bahkan, untuk makan saja beliau terlalu menjaga terutama dari makanan yang haram dan subhat. Dia juga selalu puasa Daud, tentu saja kami tak heran.

“Lalu, bagaimana jika cangkok ginjal itu dilakukan Dok. Apa saja persyaratannya?” Azizah menatap dokter Anita penuh pengharapan.

“Bukankah kau dulu sudah menanyakannya. Namun, ginjalmu tidak bisa Azizah, ginjalmu lemah, itu akan bisa memperburuk keadaanmu dan keadaan Kakakmu setelah operasi selesai. Pada dasarnya transplantasi dapat dilakukan dengan syarat pendonornya memiliki ginjal yang sehat, diutamakan anggota keluarganya. Golongan darahnya harus sama dengan pasien.”

Azizah terlihat berfikir keras. Mereka telah tidak lagi memiliki keluarga nasab, mereka hanyalah dua manusia yang ditinggalkan ayah dan ibunya ke sisiNya. Aku memegang pundaknya pelan, “Pasti ada jalan jika kita menggantungkan segalanya pada Allah. Yakinlah itu Iza,” aku menatapnya, mencari semangat yang masih tersisa di kedua bola matanya yang bening.

“Lalu, bagaimana mencari ginjal yang bisa digunakan untuk Kakakku Dok? Tolong usahakan yang terbaik untuk Kakakku Dok. Dia adalah satu-satunya milikku di dunia ini dok,” bening air menetes mengalir di pipi Azizah, aku merasakan apa yang dirasakannya. Allah..., kuatkanlah dia.

“Organ tubuh manusia tidak merupakan barang dagangan. Belum ada yang daftar untuk mendonorkan ginjalnya. Seorang pasien mesti mencari seorang donor ginjalnya sendiri. Pendonor harus sukarela.”

“Apa bahayanya bagi pasien dan pendonor Dok?” aku mewakili pertanyaan Azizah yang pastinya juga ingin ditanyakannya.

“Cangkok ginjal dilakukan dengan donor yang masih hidup. Pada dasarnya pendonor harus sehat, terutama darahnya sama. Prinsipnya dari satu orang yang sakit ginjalnya atau pasien bila dilakukan transplantasi menjadi dua orang sehat, artinya pasien menjadi sehat seperti sedia kala dan pendonor ginjal itupun tetap sehat. Tentu itu harus dilakukan persiapan baik dari pasien dan calon donor. Serta ketentuan dan aturan yang harus dipatuhi untuk kelancaran berjalannya operasi.”

“Bagaimana tingkat keberhasilannya Dok?” aku melihat secercah harapan baru dari wajah Azizah.

“Keberhasilan transplantasi umumnya sama di seluruh negara di dunia. Yang perlu diketahui keberhasilan cangkok ginjal bukanlah hanya berhasil atau tidaknya operasi tersebut, melainkan seberapa lama ginjal cangkok tersebut dapat bertahan hidup di tubuh si pasien. Jika pendonor mempunyai ginjal yang sehat, dia akan terus hidup tanpa mengalami sakit atau apapun efek setelah operasi. Insyaallah, tingkat keberhasilan cangkok jika sesuai prosedur bisa dipastikan berhasil.

Ketika transplantasi dilakukan ada efek samping yang mungkin terjadi bagi si pasien. Yaitu, pengeroposan pada tulang, kencing manis, peningkatan kadar lemak dalam darah dan gampang terkena infeksi. Maka, prosedur yang tepat harus dapat dipatuhi demi lancarnya operasi tersebut.”

“Dok,” Azizah menatap dokter Anita kembali.

“Ada apa Iza?”

“Berapa biaya untuk melakukan transplantasi?”

“Biasanya biaya untuk transplantasi di Indonesia bervariasi, antara 150 juta hingga 200 juta, itu apabila tidak terdapat komplikasi lain dalam tubuh si pasien. Yang perlu diperhitungkan adalah dana yang harus disediakan untuk obat imunosuresif yang harus diminum setelah transplantasi ginjal, obat itu juga harganya cukup mahal,” wajah bu Anita nampak tenang. Dia tahu keadaan kami sebenarnya, namun sebagai dokter dia harus belajar tenang menghadapi siapapun. Jika seorang dokter terlihat ikut khawatir, tidak akan ada lagi yang menenangkan pasien maupun keluarganya.

Kami terdiam. 150 juta? Bahkan bisa 200 juta. Bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu, dan lagi siapa yang akan mendonorkan ginjalnya? Pertanyaan seperti itulah yang kira-kira terfikirkan dalam-dalam dalam otak Azizah. Kulihat kerutan di keningnya menggurat was-was.

“Yakinlah padaNya, Dia pasti akan memberikan yang terbaik.”

“Iya Salwa, yang penting kita tidak boleh putus harapan padaNya. Dia pasti memberikan jalan keluar padaku, karena Dia telah mengadakan masalah ini dan tentu saja Dia yang akan menunjukkan jalanNya.”

Aku tersenyum padanya, dan kutahu dia lebih tegar dari apa yang pernah kukira, lebih tegar dari gunung-gunung yang menjulang. Buktinya, kata-kata indah menenangkan yang keluar dari lisannya. Bukankah kata-kata adalah cerminan bagaimana kondisi jiwanya.

Kami berpamitan pada dokter Anita.

“Dok, kami akan mengupayakan segalanya. Tolong berikan yang terbaik untuk Kakakku.”

“Insyaallah akan kami usahakan yang sebaik-baiknya.”

Kami tiba di depan kamar kak Faza. Kak Faza masih belum sadarkan diri, yang berada di luar begitu berdebar-debar menunggu cerita dari kami. Aku merasa Azizah tidak siap menceritakannya, maka aku memulai penjelasan tentang pembicaraan kami dengan dokter Anita.

“Kami...,”

Aku menghentikan ujaranku, sempurna aku menutupkan bibirku kembali. Azizah menoleh kearahku setelah sebelumnya tangan kanannya lembut menyentuh pundakku, wajahnya mengangguk padaku seolah berkata, ‘Biar aku saja, aku masih kuat. Percayalah.’ Dan aku pun menganggukkan kepalaku padanya.

Sempurna sudah keyakinanku, ternyata Azizah lebih tegar dari segala prasangkaku selama ini padanya setelah semua yang menimpanya. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain...  betapa bahayanya prasangka itu karena menghilangkan ketsiqah an dengan sesama muslim.

Azizah menjelaskan dengan runut dan teratur, semua mendengarkan dan dapat memahami dengan baik. Mereka benar-benar sempurna mendengarkan penjelasan Azizah yang sedikitpun tak merasa resah dan gelisah, ketenangannya sungguh menunjukkan kedewasaannya. Betapa aku masih kalah jauh denganmu saudariku, betapa aku masih jauh dari apa yang diinginkan Allah ‘Azza wa Jalla. Tapi, Dia pasti melihat setiap usahaku untuk mendekatkan diriku padaNya dengan kesungguhan, dengan syahadah.

Seluruh yang ada di dalam koridor itu setelah mendengarkan semuanya tentang kak Faza, mereka larut dalam airmata masing-masing. Dengan segera, beberapa dari mereka berkata akan mengumpulkan uang dari tabungan dan lain sebagainya, dari murid-muridnya kak Faza mereka akan mencari infak sebisanya melalui kelas-kelas karena memang semuanya telah mengenal kak Faza dengan baik serta guru-guru yang selalu meminta kak Faza untuk memberikan pelatihan dan pencerahan di setiap sekolah.

Semuanya sibuk membuat daftar kemana harus mencari uang untuk persiapan transplantasi kak Faza.

Hanya saja, dalam pikiranku masih ada yang mengganjal.

Allah..., siapa yang bersedia mendonorkan ginjalnya? Belum tentu yang bersedia sekalipun darahnya cocok serta dia sehat secara medis dan dapat melewati prosedur yang ditentukan pihak kesehatan.

Allah, jawablah doa-doa dan harapan kami, amiin.

 

Syahdu langit menggema

Lagu dzikir mengangkasa raya

Langit yang bercermin pada samudera

Memantul dalam keindahan

Tiada alasan yang bisa diterima

Satupun

Kecuali, menggelar sajadah

Dan menyerahkan sujud sepenuhnya padaMu

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!