Padang Sajadah

Keputusan yang Diambil (2)

Malam ini begitu hening. Aku, Azizah, Zulfa dan Nabil menunggu kak Faza. Tadi sore dia tersadar dan bangun, dia meminta air untuk berwudhu. Saat air didatangkan ke hadapannya, dan tangannya hendak mengambil air, dia mengaduh kesakitan dan pingsan kembali.

Kami berempat khusyuk dalam shalat dan doa kami, aku yakin, mereka semua berdoa juga untuk kesembuhan kak Faza.

Doa-doa di sepertiga malam terakhir adalah doa-doa yang mustajab dan dijawab Allah ‘Azza wa Jalla. ‘Setiap malam, Rabb kita selalu turun ke langit dunia saat malam tinggal sepertiga terakhir. Lalu Dia berfirman, “Barangsiapa yang memohon kepadaKu, Aku akan mengabulkannya. Barangsiapa yang meminta kepadaKu, Aku akan memberikannya. Dan barangsiapa yang memohon ampunan kepadaKu, Aku akan mengampuninya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra.). 

Saat doa-doa dari seluruh hambaNya terangkat itulah, kami berdoa semua untuk kesembuhan kak Faza ya Allah.

Waktu hampir mendekati waktu subuh. Aku mengambil mushaf pemberian Siti, kuambil dari tas. Aku membuka lembarannya dan melafadzkannya dengan pelan, ada resapan halus yang menggetar dalam dadaku, teramat lembut menyisiri setiap poriku, teduh dan meneduhkan. Pleasant, freshness. 

Aku teringat kata-kata Sir William Muir, seorang cendekiawan yang memiliki kadar antagonisme tinggi terhadap agama Allah ini, Dia secara jujur mengungkapkan pendapatnya tentang Al-Quran, “Sesungguhnya tidak ada di dunia ini satu buku pun (kitab) kecuali al-Quran. Dimana dalam kurun waktu 14 abad lamanya dia tetap menampilkan keorisinalitasnya dan keakuratannya.”

Benarlah, dialah Kalamullah sebagai petunjuk manusia agar tak salah jalan dan salah dalam setiap mengambil keputusannya, decide? Bukankah setiap keputusan memiliki resikonya, dan setiap keputusan tentu saja keputusan yang diambil berdasarkan pilihannya sendiri dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Pemilik seluruh kehidupan.

Allah yang Maha Perkasa berfirman, ‘Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah (Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat  yang mencatat amal-amalannya. Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazah as.). Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.’ (QS. Ar Ra’d : 11).

 

Allah...

Hidupku telah banyak melalui segalanya

ketatapanMu berlaku atas segala perjalananku

Dan semuanya baik musibah maupun kemulyaan

Telah Kau perjalankan

Semua yang telah berlaku atasku

Semakin membuatku yakin

Bahwa kemulyaan terindah

Adalah menggelar sajadah hatiku

 

Hal terindah dalam hidup ini adalah menerimaMu dengan setulus hati dan sepenuh jiwa. Telah lama jiwa ini terkungkung dalam dosa dan kealpaan terhadapMu, Allah di pikiranku kini terbersit hal paling aneh dalam pikiran yang pernah masuk dalam otakku. Apakah ini juga karena ketetapanMu?

Aku mencoba menyalami segala kemungkinannya, ya, inikah yang terbaik dariMu? Seluruh organ dalam tubuhku telah banyak melakukan keburukan dan kemaksiatan. Apakah pahalaMu akan kuraih dengan ketulusan hatiku jika ginjalku kudonorkan pada kak Faza? Bukankah Engkau mencintainya ya Allah? Dan bukankah dia juga yang Kau kirimkan untuk menolongku kala Kau tak ingin hamba terhina dan semakint tersesat?

Decide. Allah, tunjukanlah pada hamba jalanMu yang terbaik karena hamba tidak tahu mana yang terbaik untuk kehidupan hamba. ‘... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,  dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.’ (QS. Al-Baqarah : 216). Boleh jadi inilah yang terbaik untuk kehidupan kak Faza dan diriku. Allah, turunkan pertandaMu agar hamba melangkah dalam ridha dan naunganMu, agar hamba dapat mengambil keputusan.

©     ©     ©

Aku melihat airmata Nabil mengalir, wajahnya menerawang tak tentu.

”Kau mencintai kak Faza Nabil?” naluriku sebagai seorang wanita tak lagi bisa menahan tanyaku. Aku melihat airmata cinta dalam wajahnya.

Nabil memiliki wajah yang lembut dengan lesung pipi yang sempurna. Balutan jilbabnya menambah keanggunan wajahnya yang menawan. Sungguh, jika disandingkan dengan kak Faza, mereka akan menjadi pasangan yang ideal. Dan rasa yang tersimpan di hatiku kepada kak Faza, aku juga tak tahu perasaan apa itu. Tapi, dia adalah lelaki yang menjadi perantara dari Allah untuk menjawab doa alhmarhum ibuku tentang kebaikanku.

Nabil melihatku sejenak, dia merebahkan kepalanya di pundakku.

Sunyi, tak ada suara darinya. Dan itupun sudah cukup bagiku untuk mewakili dan memenuhi pertanyaanku.

©     ©     ©

“Huff!”

Azizah duduk di sebelahku.

Aku melihat Azizah menaruh plastik hitam yang terlihat penuh berisi. Entah apa isinya, mungkin sarapan. Dia menaruhnya diantara tempat dudukku dan dirinya. Terlihat berat hingga menimbulkan suara agak keras.

“Sarapan?” tak seperti biasanya jika makanan. Biasanya, Zulfa selalu membawakan sarapan dari rumah.

”Bukan,” nadanya sedikit datar.

”Aku boleh tahu isinya?”

Azizah terdiam, hingga menimbulkan hening, hanya desau angin pelan yang membelai kami di koridor Rumah Sakit itu.

”Kau ingin tahu?”

Aku menganggukkan kepalaku.

”Bukalah, aku juga belum melihatnya. Tapi, aku sudah mengetahui isinya.”

Aku jadi penasaran, kugerakkan tanganku sedikit ragu mendekati plastik hitam itu. Kubuka pelan timbul suara gesekan dengan plastik. Sebuah kotak yang dibungkus dengan bungkus warna coklat muda polos.

Aku mengangkatnya dari plastik, berat. Kutaruh di pangkuanku. Dan aku mulai membuka bungkusan itu satu – persatu dari setiap solasi plastik bening yang menempel di setiap celah sudutnya. Hatiku semakin penasaran bersama dengan lembaran-lembaran pembungkus yang terkuak.

Dan ...

Isinya adalah setumpuk buku yang masih disegel kuat dengan plastik tiap-tiap bukunya. Buku berwarna biru dengan sampulnya bergambar seorang lelaki yang sedang berdiri di tengah ilalang hijau membentang setinggi perutnya. Lelaki itu sedang menatap langit dan matahari sedang bersinar begitu terang di atasnya serta daun-daun berguguran di terpa angin menghiasi dan mengiringi senyumnya. Sebuah gambar yang indah dan menarik.

Judul buku itu adalah ’Langit Masih Biru.’ Sebuah novel. Dan di atas kanan ujung buku tertulis. Faza Arfani Al-Barraq. Di depan buku tersebut tertulis kata-kata komentar dari ketua Dewan Kesenian Metro, Kota Metro.

”Novel inpiratif,  penuh semangat. Novel Penggugah Motivasi, iniah mungkin yang tepat buat menamai karya Penulis ’Faza Arfani.’ Penuh imajinasi, alur yang Fantastis, penuh percaya diri. Membacanya bagaikan berteduh di rindangnya sungai keindahan yang sejuk nan damai. Menyelami makna hidup, kelengkapan isi begitu renyah diterima setiap kalangan. Dan mengajarkan kearifan untuk memberikan yang terbaik untuk yang dicintainya.”

”Ini buku kak Faza?”

Azizah mengangguk sambil matanya tetap menekuri tembok di depannya.

”Novel kak Faza sudah terbit Iza,” wajahku ceria menatap Azizah, aku mencoba mencari ceria pula di wajah Azizah. Namun tak kutemukan.

”Kau tak bahagia?” aku menepuk pundaknya.

”Sangat bahagia. Tapi, kau lihat sendiri tokoh utama dalam novel itu kini terkulai di ruangan sebelah kita. Kau lihat undangan itu?”

Mataku tertuju pada amplop yang berada di dalam plastik hitam, ”Ya, sebuah surat. Kenapa?”

”Itu surat permohonan agar kak Faza datang ke Jogyakarta untuk launching novelnya. Jadwalnya seminggu lagi, dan uang telah ditransfer bersama royalti penulisan novelnya.”

Aku tahu kesedihannya kini, wajahnya tetap menerawang ujung segitiga bawah tembok di hadapannya.

”Kau tahu Salwa,” hening kembali, Azizah menatapku dalam-dalam, ”Inilah yang dicita-citakan kak Faza sejak sekian lama. Dia sangat optimis dan terobsesi untuk menulis karya yang dapat bermanfaat untuk manusia. Dia ingin mencontoh Imam Syafi’i rahimallah, dia ingin mencontoh Imam Nawawi rahimallah, dia ingin mencontoh Ibnu Qayyim al Jauziyah rahimallah, dia ingin mencontoh Ibnu Taimiyah rahimallah, dia ingin mencontoh Imam ahmad rahimallah.

Tapi, kini dia terbaring dan tidak menikmati kemenangannya. Apakah aku yang harus menikmatinya? Tidak Salwa, ini adalah kemenangannya. Dia harus bangun, dia harus kuat dan optimis seperti tokoh utama dalam novelnya. Dia harus berusaha bangkit, karena cintanya masih tertinggal di setiap jiwa-jiwa orang yang mencintainya. Dia harus bangun!”

Hening. Dan lenggangnya masa kembali mengambil perannya.

”Bolehkah aku membacanya Iza?”

“Boleh, bukalah salah satunya.”

Aku pun menyibak plastik yang melingkupi salah satu novel. Lumayan tebal, seperti apakah kisah kehidupan kak Faza? Azizah bercerita dulu bahwa kisah dalam novel ‘Langit Masih Biru’ adalah kisah kak Faza dan adiknya hanya dirubah nama-nama yang ada di dalamnya.

Aku membuka sedikit, namun segera kututup kembali. Mungkin, nanti malam aku akan membacanya.

©     ©     ©

Saat mentari masih berpijar panas, menyengat seluruh tubuhku. Tak kuhiraukan, Bapak dan Ibu pasti melihat kerja kerasku selama ini. Aku menatap langit luas membentang, teramat cerah dan indah. Oh, nikmatnya bersamamu mentari, bermain bersama, saling melihat dengan kesyukuran.

Aku mengambil beberapa daging kelapa lagi yang telah di copot dari cangkangnya, kuparut hingga menjadi butiran-butiran halus yang menyatu di tampah yang telah kupasang di bawah parutan. Jangan kau hina sedikitpun tentang lelah dan jatuh tiap bijinya, atau kau hina betapa sia-sianya pekerjaan ini. Mungkin jika kalian tahu, kalian akan menangis dan mengatakan pekerjaanku ini mulia. Karena dari inilah, aku membiayai sekolahku, membiayai adikku. Kami tak pernah menyerah, belajar walau dengan itu tubuh kami hancur dan lelah.

Sore menjelang maghrib, aku menyelesaikan pekerjaanku. Aku berlari menuju rumah bi Husna. Ratna menyambutku dengan senyuman terindahnya, lebih indah dari senyumnya kemarin. Aku berlari kearahnya.

”Sudah selesai Kak?” dia menyerahkan sebungkus nasi kepadaku. Inilah yang kusukai darinya, dia tahu persis kalau perutku belum terisi siang tadi.

”Iya, hari ini aku dapat memarut lebih banyak dari kemarin,” aku menampilkan wajah ceriaku.

”Berarti kita bisa menabung lagi,” wajahnya teramat bahagia.

”Iya.”

Aku mengangguk, ”Bagaimana warungnya bi Husna?”

”Ramai sekali, aku tadi diberi sepuluh ribu.”

Alhamdulillah..., dan semoga hari ke depan kami selalu cerah. Sebagaimana doa-doa kami yang selalu merajut angin, merajut langit, merajut semilir, hingga merajut kerling agar kami dapat menjadi manusia-manusia yang bermanfaat kelak.

 

Alangkah indah masa kecil kalian? Bercanda bersama matahari dan keganasan serta kerja keras. Kalian telah terbiasa menjalani segala hal yang sulit, kini, aku yakin kalian telah siap dengan segala ketatapanNya. Apapun itu, aku banyak berkaca dari kalian. Kak Faza dan Azizah...

 

”Salah satu kunci sukses adalah melakukan pekerjaan yang dinikmati  (Charles – Albert Poissant). Dalam merajut setiap duka di jalanNya, kita harus tegar. Kenapa? Karena setiap hal dalam dakwah padaNya, dalam tujuan karenaNya, dalam bekerja dalam penglihatanNya, dalam mendapatkan nilai IP Komulatif tertinggi adalah karenaNya. Hingga dahagaku kali ini yang mengering karena shaum Daud-ku adalah karenaNya. Panas semakin membara, dan aku terus melangkah bersama kuasaNya.

Aku harus segera sampai dan mengajarkan ilmu kepada mereka, ilmu yang akan memberikan mereka kebaikan, menunjukkan cahaya agar segera direngkuh demi mendapatkan kemulyaan.

Pedalan kakiku pada pedal sepeda semakin cepat, berirama syahdu untuk menghantarkan ilmu yang sudah mulai mengendap dan ingin ditularkan. Murid-muridku pasti sudah menungguku, mereka sedang menunggu sekilas bayanganku masuk dari arah gerbang. Karena mereka selalu melihatku dari depan masjid dan menunggu kedatanganku. Maka aku harus tegar dan berusaha, walau matahari memangang seluruh tubuhku.

Bukankah ini adalah kenikmatan? Aku mulai mengajak jiwa, hati, dan pikiranku untuk sharing. Mereka harus lurus ditaklukkan agar berusaha bersatu dalam menaati setiap tawakkal dan syukur padaMu. Saya tidak pernah bekerja, sehari pun, dalam seluruh hidup saya. Semuanya adalah keasyikan-keasyikan . Inilah keasyikan dan seni dakwah, menyampaikan risalahNya, meneruskan perjuangan Rasulullah saw yang kita cintai.”

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!