Padang Sajadah

Wajah Siti

Malam yang indah, gemintang bertebaran, sesekali ada kilatan bintang yang berkelebat dan menghilang. Metro kala malam gemerlap, lampu-lampu jalan terang menerangi setiap jengkal jalan raya. Kendaraan lalu-lalang terutama sepeda motor menderukan suaranya, saling pamer dan saling berebut mengeraskan suara.

Bulan purnama di atas sana kurang terasa indahnya karena pencahayaan di sekitaran jalan terlihat sangat terang sehingga mataku tak bisa melihatnya dengan sempurna.

Alangkah indahnya berada di puncak gunung, atau di tengah-tengah persawahan melihatmu wahai Bulan?

Aku menatap punggung wanita yang memboncengku, lakon seperti apa yang diperankannya? Aku melihat ketulusan yang luar biasa darinya. Demi tak dipandang lebih pintar dari suaminya, dia meminta bantuanku hanya untuk mengatakan penjelasan tentang merokok. Aku tak bisa menjelaskan penjelasan tersebut seandainya beliau tidak menjelaskannya kepadaku panduannya.

Aku memangku Siti, lihatlah wajahnya kurasa lebih bersinar daripada lampu di pinggiran jalan yang berjajar lurus sepanjang jalan raya.

“Mahasuci Allah, alangkah indah dunia ini ya Mbak?” Siti mendongakkan kepalanya kearahku.

“Indahnya dimana adikku?” aku memancing penalarannya, bukankah banyak orang yang setiap hari melihat segala keindahan dunia namun jarang yang mengucapkan kata-kata pujian dan kesyukurannya. Apakah Syetan memang telah menutup mata dan hatinya, sehingga tak mau memikirkan kebesaranNya yang terhampar di setiap celah semesta?

“Bisa melihat dunia ini sudah merupakan keindahan yang tak terkira, bintang gemintang bertaburan dengan aturan adalah keindahan, tentu saja bertemu dengan Mbak adalah keindahan. Allah Mahaindah dan mencintai keindahan, alangkah ruginya jika manusia yang diciptakanNya sendiri merasa hidupnya tak bermanfaat dan merasa bersedih setiap saat. Kita diciptakanNya untuk menikmati dunia dengan amalan shaleh dan beribadah kepadaNya dengan kecintaan.”

Anak sekecil ini, bisa berkata seperti itu?

“Bagaimana kamu yakin dengan adanya Tuhan adikku?” aku kembali menanyakan hal yang pastinya membuatnya berpikir lama. Bukankah pertanyaan ini yang membuat para Ateis menyebarkan pahamnya yang sesat?

Siti kembali tersenyum, wajah mungilnya bercahaya, “Saya ingin bertanya pada Mbak sebelum aku menjawab pertanyaan Mbak. Apakah Mbak bersedia?”

Masyaallah. Siti benar-benar meniru caraku saat berdiskusi dengan pak Samsul, kini aku benar-benar penasaran dengan apa yang akan ditanyakannya.

“Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu dulu.”

“Bagaimana menurut Mbak, jika ada sebuah kapal yang berlayar tanpa seorang Nahkoda yang menjalankannya sedangkan lautan teramat tinggi ombaknya, petir menyambar tak karuan dan angin membadai begitu besar. Apakah kapal itu akan bisa berlayar dengan tenang dalam kondisi demikian?”

“Tentu  saja tidak, bagaimana mungkin bisa?”

“Itulah dunia,” dia langsung menjawab singkat sebelum aku sempat penasaran, “Dunia yang begitu luas serta diantara planet di tata surya, dan seolah debu di alam semesta. Jika tidak ada yang mengaturnya, apakah bumi ini masih bisa indah seperti saat ini?”

Aku sungguh tidak percaya, bagaimana mungkin? Anak sekecil ini bisa berkata begitu dalam. Rahasia apa yang Kau sembunyikan ya Allah? Rahasia apa yang Kau sembunyikan dari Siti? Banyak hal yang belum kumengerti.

Motor berhenti di garasi depan kost, pukul 21.00. aku turun dan mengangkat Siti sehingga kini dia duduk tepat menempel pada punggung ibunya.

“Ayo Bu, mampir dulu,” aku menawari mereka mampir ke kost.

“Sudah malam Salwa, insyaallah nanti jika waktunya lebih longgar dan lebih pas. Sekarang sudah terlalu malam.”

“Baiklah Bu, insyaallah.”

“Salwa.”

“Ada apa Bu?”

“Terima kasih atas bantuanmu, aku yakin suamiku tak akan merokok lagi. Itu merupakan kebahagiaan yang besar karena bukan aku yang mengingatkannya.”

“Ini semua hanya karena Allah. Allah yang telah mengatur kehidupan ini, Allah Yang Maha Menetapkan.”

Inilah saatnya.

“Bu.”

“Ada apa Anakku?”

“Aku ingin tahu, kenapa Ibu melakukannya? Kenapa Ibu sendiri yang tidak mengingatkannya?”

“Tapi, apakah kamu mau memenuhi syaratnya jika aku menjawab pertanyaanmu itu?”

“Saya akan berusaha memenuhi syaratnya.”

“Syaratnya mudah, ketika aku memberikan jawabannya, kamu jangan bertanya lagi tentang permasalahan ini. Apakah kamu bersedia?”

Aku mengangguk.

“Aku melakukannya karena aku mencintai Allah. Jika saat ini kau bingung, suatu saat kau akan mengetahui hakikatnya. Yakinlah itu.”

Aku tak bisa berkata-kata lagi. Ini permasalah pelik baru yang harus kukuak tentangMu. Apa hubungannya antara mencintaiMu dan permasalahan tentang mengingatkan suaminya? Dan aku telah berjanji untuk tidak menyanggah atau bertanya ulang. Ini sudah final.

“Kami pamit dulu, Insyaallah kita akan sering bertemu, seringlah main ke rumah kami atau nanti kami yang akan silarahim kesini. Kami juga belum tahu banyak tentang kisah-kisahmu.”

“Baiklah Bu.”

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam warahmatullah.”

Saat bu Nisa membunyikan starter, hatiku tidak terima, “Bu, kumohon sebentar.”

“Ada apa Anakku?” bu Nisa mematikan mesin.

“Aku ingin bertanya tentang Siti.”

“Tentang Siti, ada apa dengannya?”

“Wajahnya Bu?”

Bu Nisa terlihat bingung, “Kenapa dengan wajahnya?”

“Kenapa wajahnya bercahaya? Sejak pertama kali bertemu saat dia hampir tertabrak dulu. Aku yakin suratan takdirlah yang menuntunku menolongnya, karena saat itu aku melihat cahaya di wajahnya, teramat menyejukkan. Hingga kedatanganku tadi sore adalah rinduku pada cahaya di wajahnya. Bolehkah aku tahu, kenapa wajahnya nampak bercahaya? Kenapa bisa begitu?”

Bu Nisa tersenyum indah ditimpali lampu jalan  yang letaknya di gerbang, memantul begitu indah selayak sinar rembulan di atas danau yang airnya jernih dan bening.

“Sesungguhnya cahaya itu hanyalah milik Allah, Dia akan memberikannya kepada siapapun yang dikehendakiNya. Cahaya itu akan membuat manusia menemukan kebenaran karena cahaya itu sebenarnya adalah kebenaran. Hingga, jika ada yang berbuat kemaksiatan dan dosa sebenarnya dia sedang memadamkan cahaya Allah dalam diri dan hatinya.

Cahaya itu sebenarnya berasal dari hati yang hidup, hati yang selalu berdzikir pada Allah ‘Azza wa Jalla tanpa menyisakan sedikitpun meninggalkanNya. Seolah hatinya hanya terpaut terhadapNya, sebagaimana seorang pengembara yang merindukan orangtuanya yang jauh di tanah kelahiran, gambar desanya akan jelas tergambar dalam hatinya hingga lisannya sesekali menyebutkan nama orangtuanya, hingga seluruh organ tubuhnya teramat rindu ingin bertemu.

Itulah hati yang bercahaya, ketika hati itu bercahaya ia akan menyebar ke seluruh organ tubuh manusia. Yang terutama adalah tentu saja wajahnya, karena wajah itulah yang akan dilihat dzahir oleh manusia pertama kali.”

Bu Nisa mendekatiku dan menepuk pundakku pelan, “Kamu tahu anakku, bahwa cahaya setiap manusia itu berbeda sebagaimana dia mencintai Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana tingkat ketaatannya kepada Allah. Ada yang mendekat kepada Allah dengan kekuatannya dalam menjauhi maksiat, ada yang mendekatinya dengan cara memperbanyak dzikir dan puasanya, ada yang memperbanyak dengan hafalan Quran dan menuntut ilmu.

Allah memberikan cahaya kepada mereka semua sesuai kehendakNya. Kau pun memiliki cahaya anakku, aku melihat cahaya itu di wajahmu, wajah ceria seorang yang haus akan ilmu dan pengetahuan. Setiap cahaya itu berasal dari hati manusia, dari Rabb langsung yang mengilhamkannya. Sekeras apapun usaha menusia agar dia selalu tersenyum dan memberikan yang terbaik pada manusia selama Allah tidak memberikannya cahaya maka itu akan sia-sia belaka.

Maka dekatilah Allah, maka seluruh milikNya akan diberikan kepada kita.”

Semua penjelasannya teramat sejuk membelai hatiku, sungguh ini semua pelajaran berharga yang Allah tetapkan untukku dan nantinya harus kuberikan kepada setiap orang yang membutuhkan cahayaNya.

“Beritahukan padaku Bu, amalan apa yang dilakukan oleh Siti. Ibu minimal tahu kebiasaannya karena Ibu selalu bersamanya bukan?”

Bu Nisa menggeleng pelan, “Aku tak selalu bersamanya anakku, tapi Allah-lah yang selalu bersamanya. Namun, Ibu hanya mengetahui sedikit tentangnya. Yang Ibu ketahui darinya adalah, dia selalu menjaga wudhunya dan dia bersabar ketika menerima musibah. Dia tidak pernah mengeluh sedikitpun pada Allah, bahkan Ibunya dibuatnya menangis.”

“Musibah?”

“Anakku baru saja sembuh dari penyakit demam berdarah yang hampir merenggut nyawanya. Kami telat membawanya ke Rumah Sakit karena dia menyembunyikan sakitnya karena takut kami khawatir dan bersedih,” bu Nisa melihat puterinya dan mengelus pipinya.

“Ketika dia sakit pun dia tidak pernah mengeluh sedikitpun, bibirnya tak pernah berhenti melafadzkan dzikir padaNya, dia selalu meminta air ketika sudah batal, dan dia bahagia karena ketika sakit kedua kakek dan neneknya datang menjenguk bersamaan dan menjaganya. Dia berkata, jika Allah tidak menganugerahkan sakit padanya tentu kesempatan berkumpul seperti itu akan sangat sulit ditemukan. Dan Allah-lah yang mengatur segala urusan.”

Subhanallah, bibir dan hatiku seolah bersama menyatu dalam mengagungkan kebesaranNya.

“Dan satu hal yang dia lakukan, kadang aku menemaninya dan kadang dia sendiri melakukannya.”

“Apa itu Bu?” aku penasaran.

“Dia belajar dengan seorang guru yang sangat kami percaya kualitasnya. Kami ikhlas Siti belajar padanya, dia belajar dengannya bisa seminggu tiga kali. Dan, belajarnya di internet.”

“Di internet?”

“Ya, dengan Kakaknya yang kuliah di Universitas Malaya. Kakaknya selain kuliah, disana dia juga mendalami ilmu agama dengan seorang syaikh serta menghafalkan Quran.”

Aku mengangguk, keluarga mereka bisa dibilang adalah keluarga cahaya. Ya, karena semua anggotanya mementingkan Allah ‘Azza wa Jalla di atas segalanya. 

Pertemuan malam itu berakhir, bu Nisa dan Siti berpamitan lagi padaku. Aku melihat senyum terakhir Siti sebelum dia pergi, wajahnya yang bercahaya..., subhanallah, aku tersenyum mengiringi kepergiannya.

Aku masuk ke dalam. Banyak hal yang harus kupersiapkan besok, terutama menjemput cahayaMu ya Allah, aku berjanji padaMu akan bersemangat menjemput syahadah (Kesungguhan menjemput hidahay) cahayaMu, menjemput kemulyaan. Dan akhirnya, aku sangat rindu bertemu denganMu ya Allah. Malam semakin gelap menyapa Kota Metro.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!