Padang Sajadah

Ketulusan Hati karena Iman

Suara salam dari arah pintu menghentikan aktivitas kami. Apakah permintaan bu Nisa sudah saatnya kupenuhi? Permintaan yang aneh, benarkah laki-laki itu sudah datang?

“Wa’alaikumsalam warahmatullah,” bu Nisa berdiri hendak mendekati pintu. Namun, wajahnya kembali menengok kearahku, “Aku memercayakan permasalahan ini padamu anakku,” bu Nisa membuka pintu. 

Seorang lelaki berkisar tiga atau lima tahun di atas usia bu Nisa masuk dengan mengenakan kopiah haji dan memakai baju takwa. Lelaki itu tersenyum dan mengecup kening bu Nisa.

“Masuk Bi, Umi buatkan minuman hangat dulu,”

“Iya Mi.”

Bu Nisa berjalan di depan seolah menuntun lelaki yang ternyata suaminya itu. 

Bu Nisa melewatiku dan terus menuju kearah dapur, “Kita ada tamu Bi. Namanya Salwa Salsabila, panggilannya Salwa. Dia sekarang masih kuliah di STAIN Kota Metro dan dia juga mulai bekerja untuk membiayai kuliahnya.”

“Hebat itu,” lelaki itu sedikit menoleh kearahku lalu menatap kearah dapur, dia duduk di kursi yang agak jauh dariku.

“Semester berapa sekarang? Siapa tadi namamu Nak? Saya lupa lagi, maklum Bapak sudah tua.”

“Nama saya Salwa. Alhamdulillah, sekarang semester lima Pak.”

“Iya-iya,” Lelaki itu manggut-manggut, “Anak pertamaku juga alhamdulillah baru saja diwisuda seminggu yang lalu di Universitas Malaya. Mungkin, seminggu lagi baru pulang ke Indonesia, aku sangat kangen padanya.”

Bu Nisa datang membawa nampan dan berisi tiga gelas minuman yang terlihat sedikit menciptakan asap, “Sepertinya ramai sekali, apa yang diobrolkan?” wajah bu Nisa memerhatikan suaminya, senyumnya tulus.

“Tadi kuceritakan tentang anak pertama kita dan mungkin seminggu lagi dia akan pulang. Benar kan Bu?”

“Insyaallah. Benar Anakku, tadi Ibu lupa menceritakan tentang anak pertamaku. Tapi biarlah, nanti jika sudah pulang kau bisa berkenalan dengannya.”

Aku manggut-manggut, “Insyaallah.”

Siti keluar dari kamarnya, senyumnya merekah dan segera berlari kearah kami, “Abi sudah pulang! Abi sudah pulang!” Siti mendekati ayahnya dan duduk di sebelahnya.

“Maaf, saya belum tahu nama Bapak,” aku menatap Siti yang kini telah berpindah di pangkuan Abinya.

Lelaki itu tersenyum, “Panggilan nama bapak Samsul, lengkapnya Samsul Hadi,” lelaki itu menggerakkan tangan kanannya dan merogoh sesuatu di saku bajunya. Dadaku berdetak lebih cepat, benarkah ini yang dimaksud bu Nisa? Tentang permintaan yang aneh itu? Sekarangkah saaatnya?

Tangan pak Samsul keluar dan memegang satu bungkus rokok kretek, beliau melihat dan membuka penutup segelnya, masih baru. Tangannya segera bergerak ke dalam wadah rokok tersebut, dan kedua jemarinya, telunjuk dan ibu jarinya hendak memungut satu batang rokok. Inikah saatnya?

“Pak,” bibirku kembali bergerak tanpa seolah kupersiapkan. Lelaki itu menatapku dan kedua jemarinya memasukkan kembali batangan rokok itu ke wadahnya, ada keheranan yang terlihat dari raut wajahnya.

“Ada apa Salwa?”

“Tidak apa-apa Bi, Cuma tadi saya sudah masak, bagaimana kalau kita makan dulu saja? Soalnya kami sedari tadi belum makan karena menunggu Abi pulang,” bu Nisa menatap suaminya meyakinkan, “Ayo Bi, si Siti juga belum makan karena ingin makan bersama-sama.”

“Ayo kalau begitu, kita makan,” pak Samsul berdiri dan menghulurkan tangannya lalu menuntun Siti menuju ruangan dalam.

“Ayo kita makan sekarang?” bu Nisa berdiri dan tersenyum padaku. Aku sempurna heran, padahal tadi waktunya hanya tinggal mengingatkan suaminya. Namun, lagi-lagi aku belum mengerti dengan segala sikapnya, aku tidak tahu tentang misi yang sedang kukerjakan. Dan, saat hampir mengerjakannya, tiba-tiba bu Nisa seolah berujar dan kita tunda dulu ujarannya. Suatu hari aku pasti tahu kunci jawabmu, bu Nisa, dan tentu saja ini semua adalah ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Ada banyak makna yang belum kutemukan dari kedua sorot mata bu Nisa, dari ketulusan hatinya.

©     ©     ©

“Bagaimana masakan Umimu?” walau makan dengan lahap, kedua mata pak Samsul memainkan matanya naik-turun kearah puterinya Siti.

“Seperti biasa Bi, setiap hari selalu saja bertambah enak.”

“Kamu benar. Umi memang jago masak nomor satu di dunia.”

Bu Nisa pipinya menjadi merah bersemu sedan, “Gombal! Wong Umi masaknya ya pakai bumbu biasa seperti biasanya.”

Alangkah bahagianya keluarga seperti ini, aku benar-benar iri ya Allah. Astagfirullah, tidak boleh sedikitpun kecewa akan segala ketetapanNya. Sekejap sekalipun. Brief, concise. Allah, ampuni karena sebersit hati ini merasakan iri dan kecewa akan ketetapanMu. Hati kecil ini belum bisa mengenalMu dengan sebenar-benarnya.

Kami bercanda bersama, keluarga ini amat cepat akrab. Aku pun cepat menyesuaikan diri, seolah kini merekalah keluargaku. Kepenatan hidup sirna ketika berbicara dengan mereka, obrolannya pun juga berbobot. Pak Samsul ternyata adalah seorang manager di BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah) Madani di Kota Metro, tadi pulangnya agak malam karena ada meeting untuk beberapa kebijakan Bank tentang permodalan yang akhir-akhir ini banyak pengajuan dari masyarakat dan para nasabah.

“Oya, berapa IP-mu Nak? Jangan bilang jelek, aku sudah sangat sering kecewa dengan muslimah hari ini yang nilai kuliah dan sekolahnya jelek. Malu dengan jilbab yang dipakainya jika itu terjadi.”

Aku tersenyum, “Alhamdulillah, menurut saya sudah cukup Pak.”

“Boleh Bapak tahu berapa?” wajah pak Samsul terlihat sangat penasaran.

Aku melihat bu Nisa, dia mengangguk.

“Alhamdulillah, IP saya kemarin 3,78 Pak.”

“Hebat! Itu baru hebat!” wajah pak Samsul kini cerah, “Harusnya begitulah generasi Islam saat ini. Harus bangkit!” wajahnya sangat bersemangat.

Bu Nisa keluar sejenak dan kembali dengan membawa nampan berisi minuman hangat dan menaruhnya di depan kami, lalu membuka penutup setiap gelas dan menyorongkan kepada kami satu persatu.

“Ini diminum Bi, masih hangat.”

Pak Samsul menerimanya dan menyorong kearahnya. Tangan kananya bergerak kembali meraih saku di bajunya dan sekotak bungkus rokok terkuak dan diangkatnya di depan wajahnya. Diambilnya sebatang dari dalam kotak tersebut lalu mengambil sebuah korek dari kantong celananya.

Dua detik kemudian korek menyala dan segera asap mengepul dari mulut pak Samsul.

“Kau tahu anakku, kenapa saya sampai sekarang merokok?” mata pak Samsul sekilas menatapku.

Aku menggeleng. Dadaku berdegup sepersekian detik lebih sedikit, inikah saatnya tugas dari bu Nisa?

“Aku sudah bertanya kepada beberapa orang yang penampilannya islami, namun sampai sekarang belum ada yang memberi jawaban yang sempurna padaku tentang larangan merokok. Beberapa dari mereka hanya mengatakan larangan itu karena termasuk mendzalimi orang yang berada di dekatnya. Aku tidak terima, bukankah Allah jika melarang sesuatu tentu itu bermanfaat secara keseluruhan sedangkan bagaimana jika aku merokok di dalam kamar dan sendirian tentu aku tidak akan mendzalimi orang lain.

Lalu ada yang menjawab bahwa itu berarti menyakiti diri sendiri, merokok katanya membuat banyak kerugian. Itu menurut mereka, tapi bagi saya merokok adalah penghilang stress dari kerjaanku yang begitu menumpuk di kantor, belum lagi ketika harus mengisi beberapa pelajaran di kuliah sebagai seorang Dosen serta ketika aku kelelahan. Allah telah memberikan obat bagiku dari kelelahan itu, yaitu rokok. Jadi, menurutku maslahat rokok lebih berguna daripada kerugiaannya.”

Aku diam mendengarkannya.

“Lalu, ada lagi yang mengatakan bahwa sama saja merokok adalah perbuatan bunuh diri dengan beralasan bahwa dalam label rokok tersebut tertulis bahwa merokok dapat menyebabkan serangan jantung, kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan lain sebagainya. Namun, bagiku bahwa kematian dan akhir hidup setiap insan manusia telah ditentukan Allah, tidak dapat dimajukan sedikitpun dan dimundurkan sedikitpun. Apapun yang terjadi, bukankah Allah berfirman, ‘Katakanlah, ‘Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) maka kamu uga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.’ (QS. Al-Ahzaab : 16).

Serta firman Allah, ‘Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.’ (QS. An-Nisaa’ : 78). Lalu, apakah nak Salwa punya penjelasan lain tentang larangan merokok dalam Islam? Sungguh sebenarnya saya ingin berhenti merokok, namun aku menunggu ada orang yang benar-benar memberi alasan yang sesuai dengan keinginanku dan mampu meyakinkanku.”

Mata pak Samsul menatapku, aku mengambil segelas air di depanku dan meminumnya. Kulihat wajah bu Nisa, tanpa reaksi apapun. Benar kata bu Nisa tentang suaminya, tak ada yang meleset sama sekali. Kini, sekaranglah saatnya tugas kujalankan.

“Saya baru belajar tentang Islam Pak, jika ilmu tentang hukum tentu saya akan kalah dengan pak Samsul. Tapi, saya hanya akan mencoba menguak suatu fakta keyakinan dan pengertian.”

“Maksudnya?” wajah pak Samsul semakin penasaran, keriput di dahinya membentuk garis-garisnya.

“Saya akan mencoba menilik dari korelasi antara keimanan dengan merokok. Bagaimana, apakah pak Samsul mau mendengarkannya?” aku mencoba memancing keingintahuannya.

“Berikanlah penjelasanmu, aku akan mendengarkannya.”

“Bismillah, hubungan antara keimanan dan merokok sangat erat. Kita melihat bahwa setiap orang yang beriman akan menjauhi hal-hal yang kurang bermanfaat atau perbuatan yang sia-sia sehingga dia akan menggunakan waktunya seoptimal mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat...,”

“Tapi, seperti yang kubilang tadi, bahwa bagiku merokok lebih memberikan kontribusi maslahat banyak. Ya, mungkin seimbanglah dengan kerugiannya. Itu bagi saya, bukankah kita sendiri yang tahu akan maslahat dan kerugiannya bagi diri kita sendiri?”

Sekali lagi hatiku membenarkan cerita bu Nisa tentang sifat suaminya. Bu Nisa teramat dalam menganalisa sifat dan karakter suaminya, tokoh seperti apa yang dimainkan bu Nisa? Aku semakin kagum akan sifatnya yang menurutku sangat aneh. Aku semakin salut padanya.

“Bukankah tadi Bapak bilang ingin mendengarkan penjelasan saya dulu? Jika dipotong aku akan sulit menjelaskan dari awal sampai akhir. Karena penjelasan saya ini berurutan,” aku agak sedikit menekan nada ucapanku.

“Baiklah, aku akan mendengarkannya sampai selesai,” ada nada sedikit kecewa dari nada bicara pak Samsul. Aku sedikit di atas angin kini.

“Allah berfirman, ‘Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,  dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.’ (QS. Al-Baqarah : 216). Saya ingin kita menetralkan segala pikiran dan obyek dalam membahas setiap persoalan karena kita ingin melihat kebenaran bukan untuk saling menatuhkan.”

Pak samsul, bu Nisa mengangguk. Siti kulihat juga mengangguk sambil tersenyum kearahku seolah dia menyemangatiku.

“Maksud ayat tersebut adalah kadang sesuatu itu menurut kita baik, namun belum tentu di mata Allah. Kadang kita juga menganggap pemberianNya buruk untuk kita,  padahal itu yang terbaik untuk kita sebenarnya. Karena Allah Mahatahu dan kita tidak tahu melainkan sedikit. Korelasi antara keimanan dan merokok menurut saya begitu banyak, saya akan ambilkan beberapa contoh dan saya minta Bapak menjawab beberapa pertanyaan saya dengan jujur. Pak Samsul bersedia?”

“Ya, Insyaallah.”

“Seorang yang beriman tentu akan memperbanyak infak dan sedekahnya? Bukankah demikian Pak?”

“Ya,” kerutan di dahinya menimbulkan garis-garis yang lumayan tebal.

Diskusi ini berjalan seolah persidangan, tapi biarlah.

“Coba Bapak jawab dengan jujur, selama satu hari atau mungkin satu minggu. Pak Samsul berinfak berapa untuk Allah?”

Pak Samsul seolah berpikir sejenak, “Sekitar sepuluh ribu atau paling banyak dua puluh ribu. Memangnya kenapa?”

Aku tersenyum, “Sekarang saya tanya, Bapak merokok satu hari berapa bungkus dan kalikan harganya sampai satu minggu. Kira-kira berapa Pak?”

“Aku...,” pak Samsul tidak bisa meneruskan kata-katanya. Mungkin, jika satu hari saja satu bungkus tentu berkisar satu minggu hingga 50 ribu bukan? Aku tak mau menebak dan memintanya menjawab, “Tidak usah Bapak hitung.”

“Itu satu contoh ringan yang menurut saya sangat erat membuat hubungan iman dan rokok. Orang yang beriman akan memperbanyak amalan yang bermanfaat daripada yang tidak, atau hal yang banyak manfaat untuk orang lain daripada untuk dirinya sendiri.”

Hening sejenak. Mereka menunggu ucapanku selanjutnya.

“Selanjutnya, seorang yang beriman harus yakin akan kebenaran. Orang Mukmin bisa dipastikan akan meninggalkan hal yang meragu-ragukannya, dia akan memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan. Kulihat pak Samsul sering ragu dengan urusan merokok hingga menanyakan kesiapa saja tentang larangan merokok. Jujur, diakui atau tidak Bapak sedang merasa tidak nyaman sebenarnya dengan rokok.”

“Ya, saya mengakui itu. Lalu, kau masih punya alasan yang lain?”

Aku kembali tersenyum, “Apakah Bapak berkeinginan naik haji?”

“Tentu saja walau belum ada biaya.”

“Apa yang Bapak persiapkan?”

“Kesiapan jiwa dan finansial tentu saja.”

“Seberapa besar kesungguhan anda untuk mengunjungi Ka’bah? Itulah intinya. Seberapakah kesungguhan menabung untuk ibadah haji sebagai puncak rukun iman? Seandainya pak Samsul mengumpulkan seluruh uang yang digunakan untuk merokok, mungkin saja Bapak sudah berangkat haji saat ini. Apakah itu benar?”

Pak Samsul berpikir sejenak, “Kamu benar anakku, bahkan jika aku kumpulkan mungkin satu keluarga akan bisa naik haji,” pak Samsul menundukkan wajahnya, ini semakin menguatkanku akan semua penjelasan bu Nisa tentang suaminya yang sebenarnya mudah tersentuh walau dari luarnya tampak keras kepala.

“Sekarang saya ingin bertanya pada Bapak. Seorang yang beriman akan berusaha shalat dengan khusyu’ seperti Nabi Muhammad saw dan para sahabat. Apakah bapak sudah khusyu’ dalam shalat?”

“Saya masih belajar terus, kita tahu bahwa Ali bin Abi Thalib ra. tidak bisa sempurna khusyuk ketika di akhir salam teringat sorban yang akan dihadiahkan Rasulullah saw. Apakah ada hubungan antara ini semua dengan permasalah yang kita bicarakan?”

“Sangat,” aku menjawabnya dengan mantap.

“Katakan, apa itu?”

“Seorang beriman yang khusyuk dalam shalatnya akan menikmati begitu indahnya ketika dia melakukan shalat. Dia akan melalaikan dunia dan segala kepenatan serta keindahannya. Dia akan totalitas menghadap Allah dengan kemurnian jiwa dan keikhlasan dan menghadapkan wajahnya secara total. Dan itulah hiburan dan istirahat Rasulullah saw ketika merasa memiliki masalah atau ingin mengembalikan semangatnya, dan itu diikuti oleh para sahabatnya.”

“Lalu?” pak Samsul penasaran.

“Bapak mengatakan bahwa  rokok adalah penghilang stress dari pekerjaan yang begitu menumpuk di kantor, belum lagi ketika harus mengisi beberapa pelajaran di kuliah sebagai seorang Dosen serta ketika aku kelelalah. Allah telah memberikan obat bagiku dari kelelahan itu, yaitu rokok. Benar bukan?”

“Ya?”

“Kenapa Bapak tidak shalat saja? Bukankah itu yang Rasulullah saw lakukan? Itulah yang diinginkan Allah ketika sang hamba mendatangiNya setiap menghadapi persoalan apapun. Bukankah kelelahan Rasulullah saw dan para sahabat sembuh ketika mereka shalat? Bapak tentu lebih tahu itu. Dan bukankah rokok adalah kenikmatan semu yang melenakan? Ketika merokok itu hanyalah kenikmatan yang dihembuskan nafsu manusia.”

“Kamu benar anakku,” aku melihat air mata pak Samsul. Aku jadi serba salah, airmatanya tak terbiarkan jatuh, bu Nisa dengan segera menggunakan kain untuk mengelap airmata yang jatuh di pipi suaminya. Angin malam kembali menerpa kami dengan kesejukannya, Allah pasti melihat kami di ArsyNya. Dan aku pun tersenyum padaNya.

“Dan saya menemukan satu alasan lagi dalam permasalahan ini.”

“Apa itu? Katakanlah.”

“Cobalah bapak tanyakan kepada orang-orang yang mencintai Bapak tentang rokok, apakah mereka menyukai bahwa ketika Bapak merokok? Orang-orang yang mencintai Bapak tidak akan membiarkan Bapak sakit karena racun rokok, hanya mungkin mereka tidak ingin menyakiti sehingga hanya berdoa saja.”

Pak Samsul menatap kearah anak keduanya, “Anakku, apakah kamu senang jika Bapak tidak merokok lagi?”

“Iya, Siti tidak suka asap rokok membuat napas Siti jadi sesak,” Siti berkata dengan ketenangannya.

Pak Samsul mengelus jilbab kecil puterinya lalu matanya beralih menatap isteri yang berada di sebelahnya, “Apakah Umi bahagia jika aku berhenti merokok dan tidak merokok lagi selamanya?”

Bu Nisa tak bisa berkata apa-apa, namun tangisnya memberi jawaban ditimpali anggukannya yang mantap berulang-ulang.

Pak Samsul melihat jemarinya yang menjepit batang rokok, ada yang berubah di raut wajahnya. Dia mengerakkan jemarinya dan menekan bagian ujung yang mengeluarkan asap menabrak meja hingga menekannya dan asap berhenti mengepul darinya. 

Pak Samsul beralih menatap isterinya, “Aku mencintai kalian karena Allah,” lalu memeluk isterinya, Siti ikut menghambur diantaranya. Jadilah, aku saksi bersejarah yang begitu syahdu itu, begitu indah, seindah Engkau ya Allah.

Hatiku terasa teduh, seolah duduk di pinggir danau yang elok, danau yang jernih dan dedaunan jatuh membentuk figurasi kemilau di sekitarku. Ya, hidup ini indah. Sungguh..., aku merasakannya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!