Padang Sajadah
Hari-hari Indah (1)
Pagi yang menyenangkan, segalanya penuh keindahan dalam dekapanNya. Beburung bernyanyi merdu, ditimpali angin pagi yang mendesau menyayikan kidung dzikirnya. Mentari yang bersinar di tepian langit sebelah timur, menerpa wajahku. Aku menjejakkan kakiku, bismillah. Saatnya berangkat kuliah, senyumku terukir diantara kesyukuran yang kusemai.
Ratih dan Rini masih menyetrika bajunya, mereka telah terbiasa dengan jilbab yang kukenakan. Kostku di sebelah baitul’ilmi ini masih enam bulan. Rencanaku pindah setelah masa habis disini, karena disini lebih mahal dari yang lain, walau memang fasilitasnya sangat lengkap. Tapi, kini aku harus berusaha keras menghadapi hari depanku. Aku akan berusaha sekuat tenaga wahai Ibu, semasa hidupmu aku telah menyakiti dan mengecewakanmu. Kini, aku tak akan mengecewakanmu lagi, aku hanya ingin kau tersenyum Ibu.
Langkahku mantap berjalan, hidup ini adalah perjuangan. Saat melewati garasi, semua bayangan berkelebat cepat memehuhi memoriku. Ingatan ketika aku berjalan meminum juice dengan tangan kiri, dan tiba-tiba kak Faza menegurku pelan. Hingga aku gemetaran ketika beliau meninggalkanku gemetaran dan es juice itu tumpah sempurna jatuh. Hingga aku melihat kelebatnya hilang dengan sepedanya. Kini, kutatap kosong gerbang tempatnya dulu menghilang dan membiarkanku gemetaran dalam berdiriku.
Ingatan itu begitu kuat, seolah aku berada di tengah-tengah kejadian itu. Seolah aku orang masa depan yang melihat sekilas masa laluku. Allah..., alangkah cepat Kau membolak-balikkan hati dan menentukan kehidupan ini sekehendakMu.
Aku tepat melewati baitul’ilmi, kemarin ketika mengantar kak Faza pulang. Kami sempat melihat keadaan Hafidz, dia masih seperti orang yang linglung. Cahaya di wajahnya memang bersinar, namun kedua matanya seolah buram dan tak tentu arah sasaran pandangnya. Pandangan yang kosong. Tubuh Hafidz menggigil, dan satu hal yang aneh dengan Zulfa, wajahnya berubah aneh serta sorot matanya terlihat sedih. Apakah ada yang disembunyikannya? Masyaallah, tidak boleh berprasangka, bukankah sebagian prasangka adalah dosa.
Saat berada melewati pintu, kulihat kak Faza keluar rumah dan menuntun Hafidz yang tubuhnya sangat kurus. Bibir dan wajahnya sangat pucat, kak Faza benar-benar menyayanginya hingga tak mempedulikan kondisinya sendiri.
“Assalamu’alaikum Kak,” aku memberanikan diri menyapa ketika kak Faza sudah berhasil mendudukkan Hafidz di kursi kayu depan.
“Wa’alaikumsalam Warahmatullah, Salwa mau berangkat kuliah?”
“Iya Kak, bagaimana keadaan kak Hafidz. Sudah lebih baik Kak?”
“Alhamdulillah, tadi sudah mulai mau makan dengan lahap. Biasanya dia selalu berteriak ketika diajak pergi, tapi sekarang lihatlah dia sudah mau kuajak duduk disini,” wajah kak Faza tersenyum ceria, kebahagiaan saudara seiman adalah kebahagiaan bagi saudara seiman lainnya. Melihat Hafidz yang mulai ada perkembangan lebih baik tentu saja akan menjadikan hatinya bahagia.
Senyumnya yang menawan telah mampu menghilangkan kesombongan setiap orang. Allah..., salahkah aku jika mengharapkan pendamping hidup kelak sepertinya? Salahkah jika hamba mengharapkan seorang suami yang shaleh? Tapi, aku hanya optimis satu hal padaMu. Kau akan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-hambaMu. Itulah janjiMu, dan tidak ada sesuatupun di dunia yang lebih menepati janjinya kecuali Engkau.
Aku pamit pada kak Faza, kulenggangkan mesra kakiku. Ringan, bismillaahi tawakkaltu ‘alallaah laa hhauwla walaa quwwata illaa billaah (HR. Imam Ahmad). Kini, aku mulai belajar ridha kepadaMu. Kau yang mangatur rizki dan urusan seluruh makhlukMu, hamba tinggal menjemput setiap peluang yang Kau hamparkan di hadapan hamba.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya salah seorang kalian diciptakan di perut ibunya empat puluh hari berupa air mani, lalu ia akan menjadi segumpal darah (dalam waktu) seperti itu, lalu ia akan menjadi segumpal daging (dalam waktu) seperti itu. Lalu akan diutus padanya malaikat, maka akan ditiupkan ruh padanya, dan diperintah dengan empat kata: dengan menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau bahagia.” (HR. Bukhari dan Muslim). Setiap hal telah Engkau tetapkan, namun kita sebagai seorang hamba tidak boleh diam saja. Seperti yang Zulfa katakan kemarin ketika aku bertanya tentang rezeki.
Zulfa berkata, ‘Rezeki itu sudah diatur olehNya, namun harus dijemput dengan segenap kesungguhan dan kerja keras. Contoh mudahnya adalah air hujan. Allah menurunkan air hujan kepada manusia yang berdoa mengharapkan air karena kekeringan. Jika dia mau berusaha maka dia harus mengambil wadah untuk menampung air sehingga dia akan mendapat bagiannya, namun jika dia berdiam saja dan menyaksikan hujan yang turun semata, maka air itu akan meresap ke bumi dan menghilang dan akhirnya manusia itu kehilangan momentum yang telah diberikan Allah ‘Azza wa Jalla padanya.’
Maka, teringatlah cerita tantang Abdullah bin Mas’ud ra. saat menghadapi ajalnya di zaman khalifah Utsman bin Affan ra., Khalifah datang menjenguk Ibnu Mas’ud, dan berkata, ‘Wahai Ibnu Mas’ud, kami akan memberimu harta.’ Ibnu Mas’ud bertanya, ‘Mengapa?”. Khalifah menjawab, ‘Bukankah kau punya tiga anak perempuan?’ Ia bertanya, ‘Apakah kamu takut mereka akan (menjadi) fakir?’ Khalifah menjawab, ‘Ya, wahai Ibnu Mas’ud, aku takut anak-anakmu akan menjadi fakir.’ Ibnu Mas’ud berkata, ‘Tidak, demi Allah,’
Ibnu Mas’ud ra. teramat sadar akan keterbatasan manusia, dan bukankah Allah lebih tahu segala keperluan setiap makhlukNya? Allah yang menciptakan dengan kekuatanNya, tentu Dia yang akan memberinya rizki dan memenuhi setiap keperluan setiap hambaNya. Keyakinan yang kuat adalah keimanan yang menancap, karena Allah-lah sebaik penolong dan pelindung.
Hp-ku berdering. Dari siapa? Kubuka tasku, mbak Lala? Ada apa? Astaghfirullah, aku memenuhi permintaannya kemarin untuk mengajarinya shalat.
“Assalamu’alaikum Mbak.”
“Wa’alaikumsalam Salwa, sudah ketemu yang dicari sekarang tidak pernah main lagi ke toko ya?”
“Bukan begitu Mbak, nanti insyaallah jika longgar Salwa main ke tempat mbak deh. Oya, ada apa Mbak tumben telpon pagi-pagi?”
“Aku butuh kamu buat bantuin Mbak, setiap pulang kuliah juga tidak apa-apa. Sesempatnya kamu saja, nanti aku kasih insentif. Bagaimana?”
“Mengajari shalat ya mbak?” aku penasaran.
“Itu tambahan saja Salwa, sebenarnya begini. Sekarang toko Mbak sudah mempunyai pelanggan yang begitu banyak, mbak butuh tenaga administrasi. Ya setidak-tidaknya membantu mbak, mbak akhir-akhir ini kewalahan. Jika kerjamu bagus, nanti kita bisa hitung-hitungan untuk gajimu, bagaimana? Bukankah terakhir ketemu, kamu butuh pekerjaan?”
Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan? (HR. Ar-Rahmaan : 13).
Tidak ada ya Allah, baru saja aku mulai bertawakkal, Kau langsung memberi kabar gembiraMu. Baru saja hamba menaruh kepercayaan padaMu, namun Engkau langsung membayarnya lunas. Alangkah engkau dekat ya Allah, lebih dekat dari urat leher sekalipun. Kau berada di hati hamba-hambaMu yang beriman. Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah : 186).
“Insyaallah mbak,” senyumku terasa nikmat, seolah aku berhadapan dengan mbak Lala dan dia tersenyum pula menyambutku.
“Bagaimana kalau kau mulai kerjanya hari ini setelah kuliah?”
“Insyaallah,” dan hidupku terus berjalan bersama seluruh kehendakNya.
Aku memasuki gerbang Universitas Muhammadiyah Metro. Sedari dulu, aku tak pernah memerhatikan betapa nikmatnya karunia Allah, memberiku kesempatan untuk bisa kuliah dan belajar disini. Di Republik ini, dari semua lulusan SLTA dan sederajat yang bisa melanjutkan ke jenjang kuliah adalah sebanyak 13%. Subhanallah, aku termasuk diantaranya. Termasuk diantara orang-orang yang dipilihNya, ini bukanlah kebetulan, ini adalah ketatapan Allah.
Jika manusia bersyukur, sesungguhnya hidup ini seluruhnya adalah kenikmatan. Dengan bersyukur, manusia akan mempersembahkan yang terbaik untuk Rabbnya, kenapa? Karena dia tidak akan menyia-nyiakan setiap waktu yang diberikan kepadanya untuk hal-hal yang sia-sia dan tak bermanfaat. Menyia-nyiakan waktu sama artinya dengan menganggap diri adalah ciptaan yang biasa dan kebetulan, hidupnya unbenefit. Apa yang kita usahakan jika tidak bermanfaat untuk orang lain bukanlah sebuah karya.
Aku terus berjalan, kulihat lalu-lalang Mahasiswa, seolah mereka asyik dengan dunia belajarnya. Menenteng map, kertas, tas dan lain sebagainya. Ada yang tergesa-gesa berjalan demikian cepat dan ada yang santai dan melangkahpun seolah tak bergairah. Dari cara berjalanpun, seseorang sudah bisa dilihat semangat dan kesungguhan menjalani hidupnya. Makanya, Umar bin Khattab membenci seorang pemuda yang berjalan begitu loyo dan lemah serta yang berjalan dengan dada membusung kecuali di medan perang.
Taman-taman di sekeliling kampus memang indah, aku naik tangga ke Fakultas Hukum. Di Fakultas Hukum tidak ada ketegasan untuk memakai jilbab, sama seperti Fakultas Ekonomi. Di dalam kelas saja, kini hanya ada dua orang yang memakai jilbab, Aku yang baru memulai dan seorang lagi bernama Fitri. Fitri? Dulu, aku pernah mengejeknya sebagai orang yang aneh dan kolot. Masyaallah, aku harus meminta maaf padanya. Biasanya dia berangkat pagi, mungkin sudah di dalam. Aku bergegas menaiki tangga dan segera masuk ke pintu.
Benar saja. Dia tengah membaca buku.
“Assalamu’alaikum,” aku terus menatapnya dan ingin melihat ekspresinya.
Wajahnya yang sedikit tembam mendongak dan melihat kehadiranku, wajahnya segera cerah secerah pagi ini, “Wa’alaikumsalam Warahmatullah, masuk Salwa,” Tubuh Fitri memang sedikit gemuk, namun dia tidak pernah terlihat canggung dengan tubuhnya. Dulu, aku selalu mengejeknya.
Aku duduk di sebelahnya, “Sedang belajar mata kuliah atau umum?” kulihat buku yang dibacanya disampul gelap.
“Sedang baca buku, ‘Sumber-Sumber Hukum’, tidak biasanya kamu berangkat sepagi ini?”
“Memangnya tidak boleh aku sekarang berubah?”
“Bukan begitu maksudku.”
“Lalu?” aku menatapnya, dia menutup bukunya dan menaruhnya di atas meja.
“Salwa,” dia menatapku agak lama.
“Kenapa?” aku heran, seolah ada yang ingin disampaikannya.
“Kamu semakin cantik dengan jilbab itu, sungguh.”
Deg! Tak kukira sedikitpun kata-kata itu yang keluar dari lisannya. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, hendak bergerakpun lisanku seolah terkunci, seolah dalam pengadilan Tuhan yang membuat lisan kita terkunci dan tak bisa berujar kecuali amal-amal yang telah dikerjakannya di dunia.
“Sungguh, Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan doa hamba-hambaNya. Tahukah engkau Salwa?” ada airmata yang mengalir di pipinya yang gempal, “Aku selalu berdoa padaNya agar memberimu hidayah dan melihatmu dekat dengan Allah. Dan..., Allah benar-benar mengabulkan doaku selama ini.”