Padang Sajadah

Hari-hari Indah (2)

Deg! Hatiku goyah dari setiap pijakan yang ada. Angin yang kencang seolah meniupkan kekuatannya, hatiku sempurna tergetar.

“Ke..., kenapa kau melakukannya demi aku Fit?” airmataku hampir menyembul.

“Karena aku mencintaimu karena Allah. Kau pintar, kamu cantik, hatimu sebenarnya cepat tersentuh, aku tahu kau memiliki dua orang anak asuh yang kau sekolahkan. Inilah yang bisa kulakukan sebagai sahabat, aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah selalu menunjuki jalanNya padamu. Hanya itu yang bisa kulakukan.”

Tidak adakah alasan lain wahai sahabatku? Kenapa alasannya hanya seringan itu? Selama ini aku telah lama terkubang dalam kesesatan ya Allah. Hingga, aku tak bisa menguak rahasiaMu, kau berikan begitu banyak orang-orang yang mencintai dan memerhatikanku. Mungkinkah? Sebenarnya hidayah yang Kau berikan hanya lantaran doa-doa orang yang dekat denganMu, mereka berdoa untuk hamba sebagimana doa Rasulullah saw yang mendoakan hidayah untuk Umar bin Khattab ra.?

“Tapi Fit, aku telah banyak melukaimu selama ini. Aku selalu mengejekmu dan menghinamu. Kenapa kau melakukan semuanya demi aku?”

“Sudah kubilang bahwa aku mencintaimu karena Allah, tidak butuh alasan yang lain. Untuk perlakuanmu padaku itu hanyalah masa-masa lalu, Allah telah mengganti setiap dosa-dosa orang yang bertaubat lantaran kebodohan dan ketidaktahuannya dengan kebaikan-kebaikan. Setiap manusia tidak pernah terlepas dari setiap salah dan khilaf dan yang terbaik adalah mereka yang segera bertaubat dari kesalahan tersebut bukan?”

“Bolehkah aku memelukmu?”

Fitri membentangkan kedua tangannya, kami berangkulan. Airmata kami menyatu dalam cinta dan kesyukuran padaNya.

“Maafkan aku karena selama ini telah melukaimu Fit.”

“Aku sudah memaafkanmu tanpa kau minta sekalipun. Kapan-kapan kamu harus bercerita kepadaku, bagaimana kau mendapat karunia hidayah ini. Aku akan mendengarkannya.”

“Insyaallah, kau juga harus mengajariku untuk selalu mendekatkan diri padaNya. Selalu. Kita harus saling mendoakan dan menguatkan saudariku. Karena aku..., aku juga mencintaimu karena Allah. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla mencintai kita juga lantaran kita saling mencintai karenaNya, amiin,” airmataku tak bisa kubendung lagi, menetes sebagai rasa syukur atas segala karuniaNya.

“Amiin,” Fitri mengamini begitu khusyuk.

Hari terus beranjak, satu persatu teman-teman sefakultas datang dan mulai mencari tempat duduknya masing-masing. Dan betapa bahagianya hatiku, kala Ratih dan Rini masuk. Hatiku kembali mendengungkan tahmid , lisanku pun tergetar tak mau diam dan bertasbih padaNya. Bagaimana tidak, Ratih masuk dengan memakai jilbab warna biru laut. Tadi malam, dia mengatakan ingin memakai jilbab dan aku memberinya sedikit nasehat tentang manfaat berjilbab.

Hati ini, detik ini, Kau membayarnya lunas ya Allah. Lihatlah wahai Rabbku, Ratih begitu anggun kini dengan balutan jilbab itu, wajahnya bersinar indah. Tinggal Rini yang belum kumintai maaf, aku telah menyakitinya hingga dia membuat makar waktu itu. Itu semua hanya karena kesombonganku, Allah..

Ratih tersenyum kearah kami, dia melangkah mendekati kami dan mengucapkan salam. Aku memeluknya erat, tak peduli beberapa teman melihat kami.

“Semoga Allah selalu menunjuki kita akan kebenaran saudariku.”

“Amiin,” senyumnya merekah.

Ratih memeluk Fitri, mataku melihat kearah Rini. Dia tidak menuju kesini, melainkan langsung duduk di barisan yang agak jauh dari kami. Langkah kakiku hendak menujunya, namun pak Bennadi datang dan mengucapkan salam dari pintu masuk.

Pelajaran dimulai, Allah belum memberi izin padaku untuk mendekati Rini. Mungkin nanti, setelah perkuliahan ini, semakin cepat semakin baik untuk meminta maaf padanya.

Materi kali ini sumber-sumber hukum.

“Sumber hukum itu dibagi menjadi dua,” pak Bennadi mencopot penutup spidol boardmarker dan mulai menulis di white board, “Yang pertama yaitu sumber hukum materil dan yang kedua adalah sumber hukum formil.

Yang termasuk dalam sumber hukum materil adalah dilihat dari aspek sosiologi dan aspek ekonomi, sedangkan yang termasuk sumber hukum formil adalah sumber hukum secara formal. Hukum itu diperlukan manakala ada kebiasaan dan masalah di masyarakat, itulah yang menjadi sumber hukum dibuat dan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat yang ada.”

Aku terus menyimak, sambil jemariku menulis hal-hal terpenting dan point-point penting yang dijelaskan pak Bennadi.

“Hukum dibuat tujuannya adalah kepastian dalam menjamin, demi keadilan dan menjaga keamanan serta ketentraman. Misalnya dalam transaksi di bidang ekonomi, ada hukum yang dibuat berupa pasal 1320 tentang terjaminnya perdagangan dan transaksi. Dalam pasal tersebut dijelaskan ada empat hal yang harus dipenuhi sehingga transaksi tersebut tidak batal demi hukum atau dapat dibatalkan demi hukum. Diantaranya syarat itu adalah,” pak Bennadi menulis point-point di white board, aku mengikuti menuliskannya di dalam buku. Sekarang, aku mulai mencintai ilmu, aku harus lebih berprestasi dari sebelumnya. Harus!

“Point pertama adanya kesepakatan diantara kedua belah pihak, yang kedua orang yang melakukan transaksi harus cakap, maksudnya sudah cukup umurnya. Yang ketiga hal tertentu yaitu obyek yang diperdagangkan itu harus jelas bentuknya, dan yang keempat adalah suatu sebab yang halal, barang tersebut haruslah terjamin kehalalannya ditinjau dari moral dan hukum negara tentang barang-barang haram dan merugikan masyarakat pada umumnya.”

Seolah tenggelam dalam lautan ilmu yang begitu luas, aku terbuai dan seolah berenang di dalamnya. Hingga, perkuliahan selama dua jam pelajaran itu selesai. Tanpa terasa begitu cepat. Pak Bennadi pamit, beberapa orang berhamburan keluar.

Aku melangkah keluar. Rini? Dia masih terduduk membenahi buku-bukunya, keadaan sepi, tinggal aku dengannya saja.

Aku menepuk pundaknya, “Rin, belum keluar?”

“Belum Salwa.”

“Boleh aku duduk di sebelahmu?”

Dia mengangguk.

“Rin,” aku menatapnya.

Rini menghentikan kegiatannya, dia diam dan wajahnya menatap wajahku.

“Maafkan segala salahku padamu, maafkan segala kekhilafanku selama bersamamu, maafkan kesombonganku, maafkan karena aku tidak bisa menjadi teman yang baik untukmu, maafkan aku Rin. Sungguh, maafmu lebih aku harapkan dari apapun. Aku...,”

Aku menghentikan ucapanku, Rini meletakkan telunjuknya tepat di depan bibirku. Aku terdiam, hening.

Kulihat kedua mata Rini berair, dan sedetik kemudian airmatanya tumpah.

“Aku yang harus minta maaf padamu Salwa, tapi karena kesombonganku aku tak berdaya melakukannya. Aku yang menyeretmu ke dalam musibah sehingga kau hampir diperkosa Romi, dulu, aku memang membencimu karena keberadaanmu telah membuat Romi berpaling dariku. Tapi, aku sadar persahabatan denganmu lebih indah daripada Romi yang ternyata suka mempermainkan hati wanita.”

“Kamu tidak salah Rini, ini semua karena ketidaktahuan kita saja. Jadi, kau mau memaafkanku”

Rini mengangguk.

Aku memeluknya, tiada kebahagian yang turun bertubi-tubi dariMu kecuali hanya karena kecintaanMu ya Allah. Hidup ini penuh keindahan, asalkan kita percaya dan yakin padaNya, sungguh.

“Jujur Salwa, aku juga ingin sepertimu, aku ingin seperti Ratih. Tapi..., mungkin ini semua karena ketidakberdayaanku. Aku terlalu lemah untuk memulai segalanya menjadi lebih baik. Apakah karena dosa-dosaku yang begitu banyak?”

“Tidak Rin, sama sekali tidak. Kau pasti bisa melewati semuanya, aku dan Ratih akan selalu menjadi sahabatmu apapun yang terjadi. Kami akan selalu mendoakanmu agar Allah selalu memudahkan jalanmu.”

“Apa Allah masih mau menerima taubatku?”

“Dan Allah ‘Azza wa Jalla hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.  Allah menginginkan taubat kita sehingga dia menunjukkan kita keraguan terhadap dosa-dosa yang telah kita lakukan, terhadap keingkaran kita yang meninggalkan Dia dan meninggalkan perintah-perintahNya.”

“Tapi Salwa, dosaku begitu banyak. Aku terlalu kotor,” airmatanya melewati dagu dan menetes. Kuambil sapu tanganku dan menggunakannya untuk menghapus airmatanya.

“Pernah datang Seorang badui datang menghadap Nabi saw dan berkata, ‘Aku telah melakukan dosa, apakah Allah akan menerima taubatku?’ tanyanya.

‘Tentu,’ jawab Nabi saw.

‘Jika aku kembali melakukannya?’ tanya si Badui lagi.

‘Akan ditulis dalam catatan kejahatan,’ ujar Nabi saw.

‘Kemudian jika aku bertaubat kembali?’ Badui kembali bertanya.

‘Allah akan menghapuskan dosa atasnya.’

‘Kemudian aku melakukan dosa lagi?’ Badui terus bertanya.

‘Dicatat sebagai amal kejahatan.’

‘Jika aku kembali bertaubat?’

‘Akan dihapus kembali.’

‘Sampai kapan akan dihapus?’

‘Allah tidak akan pernah bosan memberikan ampunan, hingga hambaNya bosan meminta ampun padaNya,’ jelas Nabi saw. Tak ada kata terlambat selama kita masih hidup di dunia untuk selalu membenahi diri kita. Karena Allah melihat usaha kita, Allah Maha Melihat kesungguhan kita.”

“Salwa,” suaranya teramat pelan.

Aku menatapnya dalam-dalam.

“Tolong ajari aku bertemu dengan Allah, tolong antarkan aku bertemu denganNya. Aku ingin bertaubat.”

Kata-kata cinta bertalu-talu di setiap ruang dalam tubuhku, mengalir berdzikir di kidung setiap irama lagu detak jantung dan detak nadiku, mengaliri setiap degupan yang tercipta dari setiap urat syaraf yang bertasbih padaNya. Tiada lagi kemustahilan dariMu, tiada lagi keraguan akan kebesaranMu, tiada lagi alasan untuk menolak bersujud padaMu, tiada lagi alasan untuk sedetik juapun jauh dariMu. Allah, aku tidak punya alasan lagi untuk meninggalkanMu.

Sungguh..., aku bahagia dengan kehidupan yang Kau anugerahkan kepada hamba. Hamba tidak akan menyia-nyiakannya, tunjukanlah selalu jalanMu. Amiin.

Aku memegang dan menggenggam kedua tangan Rini, aku menyalurkan kekuatan padanya. Tunjukilah dia ya Allah..., tunjukilah sebagaimana Engkau menunjuki orang-orang yang telah Engkau beri nikmat berupa keyakinan iman yang kuat di hatinya.

“Aku mencintaimu karena Allah, sungguh,” kalimat indah itu meluncur begitu saja dari bibir Rini. Dunia berisi hanya cinta, segalanya..., semuanya...

“Aku juga mencintaimu karenaNya, dan semoga Allah mencintaimu karena lantaran kau mencintaiku karena Allah semata.”

Tak ada kata kecuali diriMu, tak ada tujuan kecuali kepadaMu, tiada kekuatan kecuali padaMu. Allah..., ketetapanMu sudah mulai dapat kukuak sedikit demi sedikit. Dan perjalanku akan terus berlanjut. Karena hidup tak pernah berhenti sedetik maupun sekejap. Tuhan tidak pernah berhenti berbuat. Mengapa kita sebagai ciptaanNya berhenti berbuat?

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!