Nilam (Rahasia)

Yang Tertinggal

Kembali ke Singapura

Terlepas dari awan mendung politik yang mengintai di Jakarta, di Singapura, malam melarutkan dua jiwa dalam perpisahan yang tak terhindarkan.

Satria dan Nilam berjalan menyusuri Gardens by the Bay. Cahaya supertrees menjulang di atas kepala, berkilau dalam harmoni warna—ungu, biru, hijau—seolah alam dan teknologi sedang berpadu merayakan keindahan yang tak akan terulang.

Mereka berjalan dalam diam, bergandengan tangan, membiarkan setiap langkah menjadi penanda waktu yang terus berjalan tanpa belas kasih.

“Aku akan merindukan ini,” bisik Satria, suaranya tenggelam di antara gemuruh lembut angin laut dan denting musik dari kejauhan.

Nilam menoleh, menatap wajah Satria yang diterangi cahaya lembut. “Aku juga.”

Ia tahu, kalimat itu tak sekadar tentang tempat atau waktu—tetapi tentang mereka. Tentang dua manusia yang dipertemukan oleh ambisi, disatukan oleh rahasia, dan kini terpisah oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari cinta.

Satria berhenti di bawah pohon cahaya tertinggi. “Kau tahu, selama ini aku mencoba memisahkan antara dunia kerja dan perasaanku. Tapi bersamamu, semuanya kabur. Aku kehilangan batas itu.”

Nada suaranya berat, nyaris seperti pengakuan dosa.

Nilam menatap tanah, lalu wajahnya. “Mungkin memang tidak ada batas itu, Satria. Tidak saat kau mencintai seseorang dengan cara yang benar-benar tulus.”

Ia tahu, ini perpisahan yang akan datang, meskipun Satria belum sepenuhnya menyadarinya.

Di balik keputusannya untuk melangkah sendiri, Nilam merasakan beratnya dendam dan janji masa lalu yang harus ia selesaikan. Sebuah misi untuk membersihkan hidupnya dari bayangan lama yang tak pernah pergi.

Rencananya untuk menghilang telah matang. Ia akan menghapus jejak, meninggalkan semua hal yang pernah melekat padanya, termasuk cinta yang tumbuh di hati.

Namun genggaman tangan Satria terasa begitu nyata, begitu hangat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nilam ingin egois. Ia ingin tetap berada di sisi pria ini. Pria yang melihatnya bukan sebagai alat politik, bukan pula sebagai bayangan masa lalu, melainkan sebagai seseorang yang utuh.

Tapi ia tahu, ia tak bisa. Tidak sebelum misinya selesai. Tidak sebelum ia menyingkap nama-nama yang membuat ibunya hilang dari dunia dengan cara tak wajar.

“Apapun yang terjadi, Satria,” kata Nilam, suaranya nyaris berbisik. “Jangan pernah menyesali pilihanmu untuk mencintaiku.”

Satria menatapnya lama, sebelum menariknya ke dalam pelukan erat.

“Aku tidak akan pernah menyesal, Nilam. Bahkan jika malapetaka itu benar-benar datang.”

Pelukan itu lama. Dalam keheningan itu, mereka tahu waktu sedang menulis garis terakhir dari kisah mereka malam itu.

Suara riuh pengunjung di kejauhan terasa jauh, seperti dunia lain yang tak berhak mereka masuki.

Di antara supertrees yang menjulang tinggi, mereka berbagi pelukan terakhir yang sarat janji, penyesalan, dan keheningan yang akan mereka bawa seumur hidup.

Esok, Satria akan kembali ke Jakarta, ke medan pertempuran politik yang semakin kotor.

Badai sudah di depan mata.

Dan mereka berdua tahu, tidak ada jalan untuk kembali.

Semuanya sudah terjadi.

Sudah sejauh ini.

Mereka bukan hanya jatuh, tetapi terperosok ke palung terdalam tanpa bisa menghentikan langkah.

Menyesal bukan lagi kata yang bisa diucapkan saat ini.

***

Malam setelah rapat tim, Nilam dan Mia bertemu untuk makan malam yang tak pernah dijadwalkan. Restoran itu sepi, sengaja dipilih untuk menjamin privasi. Mia tampak tenang, namun di matanya tersimpan ketajaman yang tak bisa disembunyikan.

"Pidato besok sudah final, Bu Mia. Pak Satria sudah membaca dan setuju," Nilam memulai, memecah keheningan setelah pelayan pergi.

Mia mengangguk tipis. "Bagus. Aku percaya kau punya kemampuan meramu kata." Ia menyeruput tehnya, lalu menatap Nilam. "Kau tahu, Nilam, aku dengar banyak hal tentangmu. Bukan hanya dari lingkaran kampanye."

Nilam menjaga ekspresinya tetap datar. “Desas-desus di musim kampanye memang biasa, Bu Mia. Terlalu banyak pihak yang ingin menjatuhkan."

"Bukan sekadar desas-desus. Tapi ada beberapa yang kurasa itu adalah fakta," Mia menyeringai kecil, ekspresinya sulit dibaca. "Misalnya, soal perceraianmu dengan Barton."

Jantung Nilam berdesir tipis, namun ia tak membiarkannya terlihat. "Saya sudah lama memutuskan jalan itu, Bu Mia. Sudah tidak relevan dengan kampanye."

"Oh, tentu saja relevan. Segalanya relevan di dunia ini," Mia menegaskan, suaranya pelan namun penuh penekanan. "Apalagi jika ada kaitan dengan orang-orang penting. Misalnya, ayahku, Sudjono."

Nama itu menggema di benak Nilam, seolah palu godam menghantam kenangan yang terkubur. Sudjono. Sebuah nama yang dulu hanya bisikan ketakutan, kini terucap begitu saja dari bibir wanita di depannya. Ini dia.

"Kau tahu, ayahku itu pria yang sangat... visioner. Dia punya banyak koneksi, bahkan dengan masa lalu yang mungkin orang lain ingin lupakan," Mia melanjutkan, pandangannya menerawang. "Dulu, ada sebuah insiden lama yang melibatkan ayahku dan beberapa rekan bisnisnya. Sesuatu tentang sengketa lahan besar di luar Jawa, bertahun-tahun yang lalu. Ada banyak pihak yang terlibat, dan salah satunya... seseorang yang punya cerita pahit dengannya."

Mia menoleh kembali ke Nilam, seolah sedang membaca pikirannya. "Kau tahu, ayahku tak pernah melupakan orang yang pernah membuatnya merasa 'terancam'. Entah itu di bisnis, atau di kehidupan pribadi. Dia punya cara sendiri untuk memastikan mereka 'diam'. Cara yang sangat sulit untuk ditebak. Bahkan aku sendiri tak pernah bisa membaca pergerakan yang beliau pilih."

Nilam merasakan dingin merayap di punggungnya. Ini bukan sekadar gosip. Ini adalah petunjuk. Sebuah kepingan puzzle yang tiba-tiba jatuh, memperlihatkan gambaran mengerikan. "Apa maksud Anda, Bu Mia?" suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam desakan adrenalin.

"Bukan apa-apa. Hanya cerita lama," Mia mengangkat bahu, berpura-pura santai. "Ayahku itu sangat ahli dalam 'menyimpan' rahasia. Begitu pula dengan orang-orang yang dia anggap 'bermasalah'. Ayahku pernah menangani sebuah sengketa yang carut marut. Aku dengar ada cerita tentang seorang perempuan yang tiba-tiba menghilang setelah sengketa itu mereda. Dia... punya seorang anak perempuan. Aku yakin, ayahku terlibat dalam kejadian tersebut. Sayang, rahasia itu sangat rapi hingga aku perlu waktu yang sangat lama untuk dapat mengendusnya."

Mia berhenti, mengamati reaksi Nilam. Ia melihat kedipan kecil di mata Nilam, tanda ia telah mengenai sasaran. Di balik tatapan datar Nilam, Mia bisa melihat badai yang baru saja terpicu.

"Sudjono tidak pernah melupakan siapa pun yang terlibat. Bahkan jika orang itu berusaha memulai hidup baru. Dan dia akan melakukan segalanya untuk melindungi kepentingan keluarganya, termasuk menjaga rahasia-rahasia itu tetap terkubur."

"Termasuk dengan mengorbankan orang lain?" tanya Nilam, suaranya nyaris berbisik.

Mia tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak ramah. "Tentu saja. Ayahku adalah pria yang sangat pragmatis." Ia menyeruput tehnya hingga habis. "Nah, cukup untuk cerita lama. Sekarang, mari kita bicara soal kampanye lagi."

Obrolan kembali ke topik pekerjaan, namun bagi Nilam, makan malam itu telah mengubah segalanya. Potongan-potongan kenangan pahit ibunya, bayang-bayang trauma masa lalu, kini terhubung dengan nama itu: Sudjono. Ayahnya, sang penguasa masa lalu yang menghancurkan ibunya, adalah Sudjono. Dan kini, Sudjono adalah ayah dari Mia, istri Satria, pria yang ia cintai. Rencana besarnya untuk menghilang dan memulai hidup baru kini berbenturan langsung dengan tujuan utamanya: mengungkap kebenaran dan mencari keadilan bagi ibunya.

***

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!