Nilam (Rahasia)

Raffles Hotel

Satria mengambil tempat di sampingnya, duduk lebih dekat. "Kamu tahu aku tidak bisa hidup tanpa kamu."

"Kamu bisa. Dan kamu akan," jawab Nilam tanpa gentar.

"Kalau kamu pergi sekarang, aku tidak akan pernah bisa percaya siapa pun lagi."

"Kalau aku tetap tinggal, aku akan kehilangan diriku."

Satria menunduk, suara seraknya terdengar berat. "Kamu bahkan tidak memberiku waktu untuk memproses ini."

"Aku beri kamu bertahun-tahun, Sat. Tapi kamu tetap memilih diam. Menyimpanku di balik layar. Mengatur segala hal, tapi tidak pernah memelukku di depan dunia."

Air mata menetes di pipi Nilam. Pelan. Tanpa suara. Tapi pedihnya seperti badai.

Satria menatapnya, seolah baru melihat betapa rapuhnya perempuan itu di balik semua kecerdasan dan kekuatannya. "Kamu pernah menyesal?" tanya Satria.

"Setiap hari. Tapi kalau diulang dari awal, aku tetap akan jatuh cinta padamu."

Satria menggenggam tangan Nilam. Dingin. Getarannya terasa. "Kalau aku siap meninggalkan semuanya, kamu akan tetap di sini?"

"Sat..." suara Nilam patah, "kamu tidak akan pernah siap."

"Berikan aku satu alasan untuk bertarung demi kamu."

"Aku tidak ingin kamu bertarung demi siapa pun. Terlambat. Pertarungan itu seharusnya dimulai sejak dulu, saat aku bilang ‘jangan sembunyi’. Tapi kamu diam. Dan sekarang, aku sudah menyiapkan pintu keluar."

Diam. Hanya detak jam dan napas berat di antara mereka.

Satria berdiri, menahan emosi yang hampir meledak. "Kamu pergi ke mana?"

"Aku tidak bisa bilang."

"Kamu akan tetap hidup di balik nama palsu?"

"Aku akan hidup sebagai diriku sendiri."

"Dan aku?"

"Kamu akan terus hidup sebagai Satria Raja. Calon presiden, atau mungkin seorang presiden. Suami Mia. Ayah bangsa. Tapi tidak pernah jadi priaku."

Kata-kata itu seperti tamparan.

Satria mundur, punggungnya menyentuh dinding. Ia menatap ke luar jendela. Cahaya pagi Singapura terasa dingin mendadak. "Aku tidak akan bisa hidup dengan ini, Nilam."

"Kamu akan. Sama seperti aku yang akan belajar hidup tanpa kamu."

Mereka berdiri. Hanya beberapa langkah yang memisahkan.

"Boleh aku memelukmu kamu?"

Tanpa kata, Nilam mengangguk. Satria memeluknya erat, seolah ingin menahan waktu. Ia menundukkan wajah ke rambut Nilam, menghirup aroma yang ia hafal. Mereka tidak berbicara. Karena kata-kata tak lagi bisa menjelaskan apa pun.

Saat mereka melepaskan, mata Satria merah. Tapi ia tidak menangis. Dan itulah yang membuat Nilam nyaris menangis.

"Sampai jumpa, Sat."

"Ini bukan selamat tinggal, kan?"

Nilam tersenyum samar. Tapi ia tidak menjawab.

"Aku ingin mencium kamu," ucap Nilam dengan lirih, nyaris seperti doa.

Dan Satria, yang selama ini hidup dalam batas ketakutan, kali ini tidak berpikir. Ia hanya menunduk dan mencium Nilam. Lembut. Dalam. Dan sangat lambat. Seolah mereka sedang membaca satu sama lain lewat rasa. Ciuman itu bukan ledakan. Tapi seperti nyala lilin di ruangan gelap. Kecil, hangat, tapi mengubah segalanya. Bibir mereka menyatu, tidak terburu-buru, tidak penuh nafsu. Tapi penuh makna.

Satria memeluk pinggang Nilam dan Nilam membiarkan dirinya larut untuk terakhir kalinya tanpa pertahanan. Saat akhirnya mereka melepaskan, dahi mereka masih bersandar satu sama lain.

"Aku akan mengenang ini," bisik Nilam. "Bukan karena sedihnya. Tapi karena indahnya."

"Kenapa semua yang indah harus disembunyikan?" Satria bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.

"Karena kamu memilih jalan yang butuh wajah, bukan hati. Dan aku memilih mencintaimu dengan hati, bukan wajah."

Satria menggenggam tangannya lebih erat. "Kalau aku menyerah sekarang..."

"Kamu akan kehilangan segalanya."

"Aku tidak peduli."

"Tapi aku peduli, Sat. Itu bedanya kita.” Nilam menyentuh dadanya sendiri, perlahan. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak. Diriku, hidupku, bayanganku sendiri. Aku tak bisa kehilangan lebih dari ini."

Mereka berdiri dalam diam. Dalam dunia yang terasa hanya milik mereka berdua, untuk sesaat.

Lalu Nilam melepas genggaman Satria. Matanya menatap pria itu dalam-dalam, seperti ingin menyimpan wajahnya untuk selamanya. Tangannya menyentuh dada Satria sekali lagi. Di atas detak jantung yang tak akan pernah ia dengar lagi dari dekat.

***

Jakarta, Malam yang Sama

Sementara di Singapura perpisahan penuh haru melanda, badai lain mulai bergolak di Jakarta, jauh dari gemerlap Supertrees.

Tommy menatap Tumpal Dongoran yang duduk di hadapannya di sebuah kafe terpencil di Menteng. Wajah Tumpal begitu keras, matanya dipenuhi amarah.

"Jadi, kau tahu tentang perceraian Nilam?" Tumpal bertanya, tanpa basa-basi.

Tommy menghela napas. "Saya sudah tahu, Pak Tumpal. Tapi itu masalah pribadi Nilam dan Barton."

"Pribadi?" Tumpal mendengus. "Dia menantuku! Dia istri dari anakku! Dan sekarang, dia bekerja di bawah Satria Raja, yang kau tahu betul siapa dia!"

Tommy diam. Dia tahu Tumpal tidak akan mudah dibujuk.

"Aku tahu Satria terobsesi dengan menantuku," lanjut Tumpal. "Dan dia yakin Nilam adalah belahan jiwanya. Aku juga tahu, Nilam memiliki motif lain. Dia terlalu ambisius. Ada sesuatu yang dia sembunyikan."

"Pak Tumpal, saya jamin Nilam sangat profesional. Dia adalah aset terbesar tim sukses Pak Satria."

"Aset?" Tumpal tertawa sinis. "Seorang aset yang bisa jadi bumerang. Aku tahu tentang latar belakang Nilam, Tommy. Tentang ibunya. Tentang siapa ayahnya yang sebenarnya. Sudjono."

Tommy terdiam, terkejut. Ini adalah informasi yang sangat sensitif, rahasia yang tersembunyi rapat selama bertahun-tahun.

Kebenaran yang selama ini mengikat Nilam dalam bayangan dendamnya.

"Nilam adalah putri kandung Sudjono," Tumpal melanjutkan, matanya tajam menusuk Tommy. "Anak yang tidak diakui. Dan sekarang, dia bekerja untuk calon presiden yang mungkin akan membawanya berhadapan langsung dengan Sudjono. Apakah itu kebetulan?"

Tommy tahu, pertanyaan Tumpal bukanlah pertanyaan biasa. Ini adalah sebuah tuduhan. Tuduhan yang sangat serius. "Saya tidak tahu tentang itu, Pak Tumpal," Tommy mencoba berkelit.

"Jangan bohong padaku, Tommy," suara Tumpal meninggi. "Aku tahu kau dekat dengan Satria. Dan kau pasti tahu apa yang sedang dia rencanakan dengan perempuan itu. Dan apa yang perempuan itu rencanakan untuk Satria."

Tommy merasakan desakan di dadanya. Dia tahu, ada bahaya besar yang mengancam sahabatnya. Jika Tumpal Dongoran mulai mengendus hal ini, segalanya bisa meledak sebelum pemilu.

"Saya hanya bisa mengatakan, Pak Tumpal, bahwa Satria benar-benar mencintai Nilam," kata Tommy. "Dia tidak pernah terlihat sebahagia ini."

Tumpal Dongoran mendengus. "Cinta? Di tengah ambisi dan rahasia seperti ini? Itu bukan cinta, Tommy. Itu adalah bom waktu. Dan aku tidak akan membiarkan bom itu meledak di dekat keluargaku."

Tommy pulang malam itu dengan kepala pusing. Situasi menjadi jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. Satria buta oleh cintanya, Nilam menyimpan rahasia dendam yang mengerikan, dan kini Tumpal Dongoran telah mengetahui sebagian besar kebenaran.

Permainan ini akan sangat berbahaya, dengan takdir seorang calon presiden di ujung tanduk.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!