Naura

65. Lembaran Kehidupan

Hidup itu berputar, seperti roda yang terus berjalan dengan lingkaran dengan sudut yang berbeda. Kadang ada sudut lingkaran berada di bawah dan kadang dia akan berada di atas. Setiap orang akan mengalami saat dia tersenyum, kemudian ada kalanya dia menangis.

Hal ini adalah kehidupan, dimana ada orang yang awalnya kaya kemudian menjadi miskin dan sebaliknya. Saat ada orang yang tak memiliki apa-apa kemudian, dia menjadi kaya.

Itulah makna kehidupan, pada hakikatnya tidak ada yang perlu disombongkan dari dunia ini ketika seseorang mendapatkan kekayaan yang melimpah. Pada akhirnya dia akan meninggalkan semua itu dan tidak membawa apa-apa ketika kematian.

Jadi, kali ini. Orang kaya yang merebut Naura dari Adam beberapa tahun lalu. Kini dia datang lagi dan mengatakaan untuk menebus hutang Naura dan keluarganya dengan uang sebanyak Lima Milyar?

Jadi sebenarnya, Naura menikah dengan Sandi dan meninggalkan Adam karena uang Lima Milyar. Tidak, uang lima ratus juta rupiah.

”Lima Milyar?” Suara Adam bertanya kepada Sandi, benarkah hutangnya juga memang lima milyar? Artinya, selama ini Naura menjadi seorang tumbal bagi hutang senilai lima milyar.

”Sebenarnya tidak sebanyak itu, utang keluarga mereka hanya lima ratus juta. Namun, aku menggandakannya menjadi 10 kali karena aku kini akan membebaskan Naura. Bukankah sepadan wahai saudaraku untuk seorang wanita yang kamu cintai senilai 5 milyar? Heh...”

Seringai Sandi membuat Adam semakin kesal, namun Adam mati – matian menahan perasaannya tersebut. Emosi yang memuncak di tahannya baik – baik, orang di depannya itu benar – benar menganggap cinta dan manusai sekedar budak atau mainan semata. Orang seperti ini layak dikasihani.

”Bagaimana anda bisa menjual seorang wanita yang pernah menempati hatimu Sandi?” Adam merasa sangat marah pada Sandi, tak lagi sopan dengan memanggilnya tuan. Orang ini tak layak mendapatkan penghormatan. Bagaimana bisa seseorang memiliki hati yang dzalim seperti itu? Adam benar – benar tidak mengerti.

”Sudahlah Saudaraku..., tidak usah basa basi. Aku tak butuh ceramahmu, aku butuh uang 5 Milyarmu dan aku akan menceraikan Naura,” nada suara di ujung kata dibuat seberat mungkin untuk menekankan betapa Naura itu penting bagi Adam.

”Aku sudah melupakannya Tuan, jadi aku dan Naura tidak berhubungan lagi. Meskipun kami pernah mencintai, tapi itu dahulu. Waktu berubah dan cinta juga bisa berubah. Jadi, tak ada gunanya kau memprovokasi diriku.”

Adam berusaha tegar, meskipun di hati yang paling dalam, hatinya tersayat dengan penderitaan Naura dan beban yang ditanggungnya.

Sandi mulai gelisah, kesabarannya mulai habis, ”Ooo, jadi itu maksudmu Saudaraku. Maka, mulai hari ini dan ingatlah! Akan aku buat dia menderita dan aku akan membuatnya menjadi babu. Aku akan siksa dia dan aku akan hancurkan keluarga Naura karena hutang mereka padaku! Itulah janjiku, Hee. Ha... ha..” 

Sandi membuka kedua tangannya ke sisi masing – masing dan tertawa menghina.

”Manusia laknat!”

Bug!

Entah kecepatan apa yang digunakan Adam. Seperti tak lagi bisa mengontrol dirinya, dia menerjang Sandi dan memukulnya dengan kepalan tangannya ke pipi Sandi.

Bruuk!

Sandi terhuyung jatuh menyamping dan menabrak meja di bawahnya. Meja itu sampai bergeser setengah meter. Pegawai di kantor itu sampai kaget, dua orang nampak masuk ke ruangan dimana Adam dan Sandi berada.

Napas Adam memburu, dua pegawai itu diberi tanda oleh Adam dengan tangan kanannya, ”Tidak apa – apa. Kalian bisa kembali bekerja,” pinta Adam. Para pegawai itu penasaran tapi segera mengerti. Baru kali ini mereka melihat bos mereka, Adam sampai marah kepada orang lain. Pasti itu masalah yang penting.

”He.. he.. ha... ha.., aku terima pukulanmu saudaraku Adam. Tapi, Naura juga akan merasakannya juga!”

Sandi menekan suaranya dan matanya membulat besar.

”Tidak! Jangan lakukan itu. Aku akan siapkan 5 Milyar untukmu. Tapi ingatlah untuk melepaskannya dan jauhi Naura dan keluarganya dengan uang itu,” Adam mengatur napasnya perlahan, emosinya mereda.

”Baiklah,” nada suara Sandi memelan, dia bangun dan duduk kembali. Satu pukulan tak masalah baginya, yang terpenting adalah uang untuk menyelamatkan kehidupannya sendiri.

”Aku akan menunggu sekarang juga Saudaraku,” tangan Sandi mengelap pipinya yang dipukul Adam tadi. Cukup nyeri, tapi itu tak mengapa ketimbang kehancuran hidupnya.

Adam mendekati laptop di dekat ruang itu, dia mengetik beberapa kata dan sekaligus print kertas tersebut. Untuk berjaga – jaga, surat perjanjian. Adam tidak ingin tertipu oleh Sandi.

”Silakan dibaca dan ditandatangani, setelah itu semuanya akan saya kirimkan. Aku minta kamu memenuhi janjimu dan lepaskan Naura,” Adam meletakkan pena di atas kertas itu.

Sandi melihat sekilas kertas itu, ”Tentu saja! Aku juga tidak mencintainya, untuk apa wanita seperti Naura yang hatinya hanya untuk dirimu seorang.”

Sandi menegaskan dan melihat poin perjanjian, sudah ada materai. Perjanjian dengan poin melunasi hutang keluarga Naura senilah 5 milyar, poin kedua Sandi akan melepaskan Nuara dan menceraikannya.

Sandi langsung menandatangani lembaran dan mengenai materinya. Adam pun tanda tangan.

Adam lalu meminta rekening milik Sandi, saat itu juga Adam mengirimkan uang 5 milyar kepada rekening Sandi. Berhasil.

Sandi berdiri dan menyalami Adam, Adam ragu sejenak tapi dia menjabat tangan Sandi juga.

”Apakah engkau akan menikahi Naura setelah aku ceraikan Saudaraku?” Sandi sedikit nyengir, dia puas karena sudah menang.

”Aku akan menjalani hidupku sendiri dan Naura juga akan menjalani jalannya sendiri. Tapi ingatlah, uang ini adalah uang karena aku membalas budi bahwa Naura pernah mau menemaniku sebagai seorang teman bukan hal lain. Ingat itu.”

”Baik – baiklah, kalau begitu nikahilah Naura atau tidak. Itu terserah padamu, aku sudah bosan padanya. Ha.. ha...” Sandi berjalan penuh kemenangan meninggalkan Adam.

Kepalan tangan Adam bergetar hebat, ingin sekali dia menghancurkan lelaki bernama Sandi itu. Tapi, Tuhan meniupkan perasaan tenang dalam hati Adam. Adam pun langsung beristighfar

Dia terduduk di kursi dan melapaskan semua kegelisahannya dengan menghembuskan napas kuat – kuat.

Lalu, pikirannya langsung terbang dan memikirkan Naura. Wajah itu, senyum itu, dan sorot mata Naura saat dulu mereka sering bertemu di danau terbayang sekarang. Kenangan itu membayang lalu tiba – tiba wajah Diandra juga melintas.

Adam bersandar sejenak pada sandaran kursi kayu tersebut, Adam memejamkan matanya untuk menenangkan hati dan pikirannya.

Tuhan, tuntun langkah hambamu ini. Begitu doa Adam dalam hatinya.

***

Rumah itu tampak sepi. Rumah Naura.

Bi Fatma membawa segelas minum teh kepada Naura yang masih duduk di kursi dan sedang membaca kitab suci al Quran.

Saat bi Fatma menaruh minumannya di meja, Naura menyelesaikan bacaannya dan menaruh Quran itu di meja.

”Terima kasih bi Fatma,” Naura tersenyum pada bi Fatma. Bi Fatma pun duduk di samping Naura. Naura baginya bukan orang lain lagi, mereka hidup berdua dan itu menjadikan hubungan mereka selayaknya ibu dan anaknya.

Naura menyeruput tehnya dan mengucap basmallah. Rasanya sangat hangat, tenggorokannya pun menjadi lega.

Sebuah klakson berbunyi dari depan rumah. Bi Fatma buru – buru bangkit dan keluar. Biasanya suara mobil itu adalah tuan Sandi. Naura juga merasa bahwa suaminya pulang.

Bi Fatma membuka pintu gerbang, mobil masuk. Sandi dengan tenang seperti biasanya keluar dari mobil dan menyapa bi Fatma. Sandi menanyakan kabar Naura apakah sehat, bi Fatma pun menjawab bahwa Naura sehat.

Sandi masuk ke rumah, di ruang tamu itu ada Naura dan Naura berdiri hendak menyalami suaminya.

Namun, Sandi menolak dengan memajukan tangannya kearah Naura. Naura pun kaget dan menarik tangannya kembali.

”Duduklah Naura..., ada yang harus kita bicarakan,” suara Sandi pelan namun tegas. Bi Fatma masuk ke rumah dan segera masuk ke dalam.

Mereka berdua pun duduk dari masing – masing kursi. Naura sangat penasaran ada apa gerangan karena Sandi tiba – tiba pulang dan ingin bicara serius. Adakah sesuatu? Naura penasaran.

”Ada apa Mas?” Naura berkata lembut, ”Kalau soal Firla, Naura sudah...” Naura menghentikan ucapannya. Dia hendak mengatakan kalau dirinya ikhlas meski dimadu. Namun, tangan Sandi memberi isyarat dengan membuka telapak tangannya. Naura pun berhenti dan menunggu Sandi.

Sandi membuka tasnya, seperti tas laptop. Sandi membuka resleting tas dan mengambil sebuah map lalu menyodorkannya di meja, ”Ambil dan bacalah.”

Naura kebingungan, pasti ada sesuatu, sesuatu itu pengtingkah?

”Apa ini Mas?” wajah Naura terlihat bergurat, dia sangat penasaran.

”Buka saja.”

Naura tak berani bertanya lagi, dia pun membuka map tersebut. Beberapa detik matanya tertuju pada surat cerai yang sudah ditandatangani oleh Sandi.

”Mas..., apa ini Mas. Kenapa Mas melakukan ini pada Naura?” ada kesedihan di mata Naura, hampir jatuh airmata Naura. Dia sudah berusaha mempersembahkan hidupnya, jiwa raganya untuk bersama Sandi. Tapi ini...

”Sudah Naura, bersiaplah kemasi barangmu dan pergilah. Aku tak bisa mengantarmu. Aku akan kembali ke rumah Firla dan rumah ini segera kosongkan untukmu Naura.”

Gemetar seluruh tubuh Naura, dia hendak memegang kaki Sandi namun Sandi menghindar.

”Aku mohon Mas, jelaskan padaku apa salahku Mas?” ada linangan airmata di mata Naura.

Sandi mengusap janggutnya dan menatap sejenak ke atap rumah, ”Dengarkan aku Naura. Aku tak mencintaimu lagi dan kamu juga tak bisa bohong bahwa kamu masih mencintai Adam bukan?”

”Mas... Mas Sandi harus mengerti, itu adalah masa lalu Naura.”

Naura mencoba menjelaskan.

”Aku katakan sekali lagi Naura. Aku akan jujur padamu, seluruh hutang keluargamu sudah ditanggung oleh Adam. Dia membebaskanmu dari ikatan pernikahan kita ini, aku menganggapmu selama ini tak lebih sebagai budakku! Ingatlah ini, kamu sudah tak memiliki hutang lagi dengan keluargaku. Dan kamu sekarang bebas.

Jadi..., bersihkan barang – barangmu dan pergilah seperti burung yang bebas terbang kemanapun. Aku akan pergi sekarang. Jaga dirimu baik – baik, Naura.”

Naura terdiam pias tak berdaya. Adam meninggalkannya dan keluar kembali dengan mobilnya.

Perasaan Naura hancur berkeping – keping. Dan, yang lebih mengagetkan lagi baginya adalah bahwa Adam telah membebaskan hutang – hutang keluarganya. Adam melakukan hal itu untuk apa? Apakah untuk menghancurkan kehidupannya dan membalas dendam padaku? Begitu pikiran Naura saat emosi tersebut.

Namun, apakah demikian Adam? Dia adalah pemuda yang baik. Tidak mungkin dia melakukan hal itu.

Pertempuran dalam pikirannya saling menentang.

Masalah besarnya, darimana Adam punya uang sebanyak itu untuk melunasi hutang – hutang keluarganya?

 ***

Adam terbang bersama Ibunya menuju rumah Diandra. Syarif turut menemani dan sudah izin dengan isterinya untuk pergi bersama Adam.

Adam juga meminta salah satu pihak keluarga yang pandai bicara di desanya untuk ikut serta ke Ibukota. Diandra sudah menunggu di rumahnya.

Adam kaget karena rumah Diandra sangat besar, mereka pun dipandu masuk. Kakak dari Diandra yaitu Elfan juga hadir karena diminta datang oleh Diandra untuk menyambut Adam.

Pertemuan keluarga itu berjalan cukup baik. Meskipun dari sebuah kampung, Adam dan ibunya serta Syarif tak merasa minder. Sebagai orang desa, mereka memiliki sopan dan tata krama yang baik.

Halimah dan Sarah bisa langsung akrab, keduanya adalah ibu dari Adam dan Diandra.

Hingga acara ramah tamah dan hidangan makan yang lezat disediakan oleh keluarga Diandra. Diandra sendiri malu saat Sarah menyebutkan kalau menu masakan itu juga dimasak oleh Diandra sendiri dengan membantu memasak di dapur. Tak biasanya gadis itu memasak, namun dia ingin memasak untuk calon suaminya.

Sarah pun menceritakan hal itu, saat itu Adam dan Diandra saling bertatapan dan mereka saling tersenyum. Kebahagiaan mereka membuncah.

Hingga acara lamaran keluarga Adam dengan juru bicara menyatakan kedatangannya karena ingin melamar Diandra untuk Adam. Ya, Diandra Naura Elvina. Nama Naura sendiri dilakukan beberapa waktu yang lalu.

Diandra menambahkan nama Naura dan mengurusnya, itu pun dengan mengganti Kartu Keluarga dan seluruh catatan sipil tentangnya.

Acara disambut dengan baik, Hamid sendiri selaku ayah dari Diandra sebagai juru bicaranya sekaligus. Dia menerima Adam dengan baik dan bertanya sekali lagi pada Diandra apakah dia benar – benar siap dan menerima lamaran dari Adam.

Diandra yang ditanya sempat malu dan tersenyum, lalu dengan percaya diri dia menjawab, siap.

Acara ditutup dengan doa. Adam langsung yang memimpin doa agar rencana mereka dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah hingga semuanya selesai dengan baik.

Pernikahan mereka dijadwalkan dua minggu lagi. Mereka menyetujuinya, setelah itu Adam dan keluarganya langsung pulang kembali ke kampung dan mempersiapkan segala hal untuk pernikahan mereka.

Senyuman kebahagiaan demi kebahagiaan tercipta dari kedua keluarga tersebut, terutama Adam dan Diandra, keduanya larut dalam kebahagiaan. Namun, di dalam hati Adam sendiri. Ada tempat kosong dihatinya yang masih memikirkan nasib Naura yang diceraikan Sandi.

Namun, Adam segera menutupi perasaan itu. Perjalanan masih jauh, jalan yang sudah dimulai harus diselesaikan. Semoga itulah yang terbaik, itulah doa Adam saat ini.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!