Naura

64. Lima Milyar

Adam mulai mengingat wajah tamu yang datang tersebut, dia melihat dengan seksama adakah dia benar-benar ingat.

Namun, kekuatan ingatan Adam tidak salah. Dia mengingat wajah itu, wajah yang pernah membawa rembulan di hatinya. Kali ini, dia datang dengan senyuman dan seolah memiliki hubungan persahabatan dengan dirinya.

Adam mulai bertanya dalam hatinya, ada apa sosok yang sangat dia ingin lupakan namun muncul di hadapannya, saat ini.

Adam mempersilakan tamunya itu untuk duduk. Pegawai pun datang dan memberikan minuman kepada mereka, Adam minum air putih dan tamunya itu dihidangkan secangkir teh.

Beberapa saat mereka terdiam, Adam mengingat betul siapa lelaki tamunya tersebut dan yang jadi pertanyaan kenapa dia datang kemari dan ada perlu apakah orang yang telah lama hilang dari ingatannya itu.

”Maafkan saya saudaraku Adam, aku datang tanpa memberitahu terlebih dahulu,” ucapannya penuh percaya diri dan ada senyuman khas yang muncul dari lelaki tersebut.

Adam masih diam sejenak, lalu mencoba menjawabnya, ”Angin apa yang membawa anda kemari Tuan?”

Lelaki itu adalah Sandi, sosok yang menjadikan Naura menghilang beberapa tahun yang lalu dari kehidupan Adam. Adam mencoba melupakan itu semua kini, dia harus menjalani hidupnya kembali. Hidup yang sudah diberikan Tuhan untuk tidak disia – siakan lagi.

”Entah angin apa yang membawaku kesini saudaraku, yang jelas mungkin ini adalah suratan takdir yang menuntunku menemuimu,” Lelaki itu, Sandi masih terlihat tenang dalam duduknya. Dan, seolah dia sedang memainkan sebuah drama tertentu, tak ada mimik mukanya ada kecewa, sedih atau bahagia. Hanya datar dan tanpa ekspresi yang bisa ditebak.

”Kamu benar Tuan Sandi, hidup itu penuh rahasia. Aku pun tak bisa melawan takdirku dan hanya bisa mengikuti alurnya saja,” Adam menatap Sandi sejenak, sedikit terlihat dalam wajah itu ada beban berat yang sedang ditanggungnya. Pasti ada sesuatu sehingga orang yang dulu mengambil Naura darinya itu datang begitu saja di siang hari ini. Itu pun sangat tiba – tiba.

Namun, bicara takdir dari seorang yang pernah mengambil sesuatu yang paling berharga dalam diri Adam dengan cara yang menyakitkan. Itu merupakan salah satu pembenaran dari perlakukan dzalimnya.

Adam sendiri tidak tahu, dulu sekali dia tak memikirkan apakah Naura meninggalkannya karena memang Sandi yang memiliki banyak uang. Atau, karena memang dia terpaksa menikah dengan Sandi.

Adam tak tahu dan tak mau tahu saat itu, bahkan apakah benar bahwa Naura tidak mencintainya lagi dan menemukan tambatan hati yang lain yaitu Sandi.

Adam hanya mengetahui kalau dia harus dipisahkan dari Naura. Entah atas kesalahan siapa dan Adam tak pernah mencari tahu. Dia yakin, bahwa cinta akan datang dengan sendirinya dan bukan karena paksaan.

Cinta itu adalah keikhlasan.

”Minum tehnya dulu, anda terlihat haus.”

Adam mempersilakan Sandi untuk meminum minumannya. Sandi pun agak kaget, benar saja mungkin pikirannya masih memikirkan sesuatu yang cukup berat. Dia mengambil cangkir dan meminum sedikit tehnya. Cukup manis.

”Semenjak hari itu Saudaraku..., aku merasa sangat bersalah. Namun, nasi sudah menjadi bubur dan kita hanya tinggal menjalani takdir kita. Jadi untuk kejadian tempo dulu saya benar – benar minta maaf.”

Entah apa yang diucapkan Sandi barusan. Seolah membuka luka lama pada diri Adam, kenapa malah semakin mengingatkan kejadian di masa lalu? Namun, Adam sudah terbiasa dengan hal itu dan mencoba untuk bersikap biasa. Adam pun tersenyum.

Sandi seolah menjelaskan pada Adam bahwa dia menikahi Naura tanpa mengetahui kisah cinta mereka. Jadi, setelah terjadi kejadian dimana Adam sakit dan mereka menjenguknya dan itu adalah permintaan terakhir dari Naura maka seolah Sandi baru menyadari kisah cinta mereka?

Apakah itu benar? Adam pun tak berani berspekulasi dalam pikirannya. Dia sudah melupakan hal itu, dan menyadari bahwa memang Naura itu memilih Sandi daripada bersama dirinya yang saat itu adalah pemuda yang miskin harta.

Mungkin itulah yang dipikirkan Adam, jadi dia tidak akan menyalahkan siapapun lagi karena itu  merupakan kelemahan dirinya sendiri.

”Tapi... saudaraku Adam. Apakah kamu tahu soal Naura selama menjadi isteriku?” lagi – lagi, entah apa yang diceritakan Sandi kepada Adam. Apakah Sandi memang ingin mengungkit kisah sakit Adam di masa lalu agar selalu ingat rasa sakit itu. Lalu, apa tujuan Sandi sebenarnya?

Adam pun berusaha tegar dan tetap mendengarkan apa yang menjadi tujuan lelaki itu datang ke tempatnya. Adam akan mengikuti alur cerita dari Sandi, entah apa yang akan diucapkannya. Meski tak penasaran berlebihan tapi Adam ingin mendengar dari Sandi apa sebenarnya kepentingannya menemui Adam.

”Aku seperti memiliki seorang isteri tetapi hatinya aku tidak memahaminya. Aku hanya memiliki tubuhnya semata tapi tidak hatinya. Naura memang patuh, tapi dia seperti sulit melupakanmu Saudaraku.”

Adam diam sejenak, namun dia merasa hal ini sudah terlalu jauh. Jauh – jauh Sandi datang dan berbincang dengannya hanya untuk urusan hati isterinya, dan itu sudah terlalu lama diceritakannya. Kenapa sekarang, dan kenapa harus saat dirinya akan memulai hidup baru dengan lembaran baru?

”Tuan Sandi, kenapa anda menceritakan hal ini. Saya tidak akan membahas hal itu lagi dan juga saya sudah mengikhlaskan Naura untuk Anda. Jadi, anda bisa meneruskan hidup anda dengan bahagia tanpa harus merasa bersalah pada saya,” Adam tegar mengatakan hal itu pada Sandi. Dia tak ingin berlarut – larut dalam kenangan masa lalu.

Sandi pun mengerti kode penjelasan dari Adam barusan, dia pun mengusap kepalanya perlahan, ”Baiklah Saudaraku, aku tidak akan membahas soal itu lagi. Artinya bahwa kamu sudah move on. Tapi..., bagaimana jika aku memberikan isteriku kepadamu Saudaraku?”

Apa – apaan penjelasan dari Sandi itu? Adam sendiri sampai kaget mendengarnya, benar – benar seperti ribuan duri menancap sekaligus dalam tubuhnya. Keterkejutan Adam bahkan sampai membuatnya berdiri cepat.

”Apa maksud perkataan anda Tuan!” Adam berdiri sambil menunjuk kearah Sandi, entah kenapa tiba – tiba Adam menjadi emosi karena pernyataan dari tamunya itu. Tidak seperti biasanya, Adam kali ini hampir tak bisa menahan dirinya lagi.

”Tenang dulu saudaraku, duduklah dulu baru aku akan jelaskan. Jadi.., saya mohon dengarkan baik – baik,” Sandi mengangkat dan menghulurkan kedua tangannya dan membuka kedua tangannya seolah kode bahwa Adam jangan emosi dulu. Kedua tangannya yang menghulur mencuba menurun memberi kode Adam untuk duduk terlebih dahulu dan baru dia akan meneruskan kata – katanya.

Adam pun berdzikir pelan dari lisannya, dia meminta kepada Tuhannya ketenangan. Dia pun menyibak bajunya ke belakang dan duduk kembali dan mengatur napasnya perlahan.

Mau tak mau, kata – kata Sandi soal memberikan Naura seperti sebuah ajakan perang bagi Adam. Emosinya meluap tiba – tiba, Sandi sangat keterlaluan mempermainkan kata – katanya sehingga seolah seorang isteri tak berharga dalam pikiran Sandi.

”Baiklah.., saya sudah tenang, jadi katakan padaku apa sesungguhnya yang anda inginkan agar saya bisa memahaminya dengan baik,’ Adam mengatur ritme ucapannya dan kini sudah mulai tenang dan seperti Adam biasanya.

”Begitulah seharusnya Adam, orang yang bisa mengontrol semua usahanya di proyek Mata Air Surga. Tentu, semua kebaikan yang orang sebutkan pada diri anda adalah benar. Kamu adalah orang yang baik dan tekun.”

Adam tak menanggapi pujian dari Sandi itu, pastilah ada sesuatu yang membuat Sandi datang dan menemuinya. Namun, Adam belum menemukan apa maksud dan tujuan dari Sandi saat ini. Dia hanya menunggu saja, karena sedari tadi Sandi hanya berkata basa basi dan masih belum jelas kemana arah pembicaraannya.

”Saya akan langsung ke intinya Adam. Sepertinya, saudaraku ini sudah mulai tidak sabar. Jadi..., harus saya katakan dengan jujur agar anda mengerti dan anda tidak salah paham lagi dengan saya.”

Adam mulai mendengarkan dengan seksama dan Sandi mulai menata bicaranya, dia membenahi rambutnya yang tergerak ke depan di dahinya. Sandi menatap kedua mata Adam, kini adalah saatnya bagi  Sandi untuk menyelesaikan misinya dan hidupnya akan terbebas dari jeratan belenggu yang menghimpitnya.

”Aku tidak mencintai Naura, Saudaraku. Jadi, kau bisa memilikinya sekarang, aku akan melepaskannya untukmu Adam.”

Bergetarlah seluruh tubuh Adam saat ini. Ada apa dengannya saat ini, dia sendiri seolah tidak percaya ini kenyataan. Bagaimana bisa setelah semua yang terjadi padanya dan dia mulai bahagia dengan lepasnya tanggung jawab sumpahnya. Namun, tiba – tiba harus kedapatan kalimat yang malah akan menghancurkan kehidupannya untuk kedua kalinya.

Kenapa Tuhan memberikannya ujian bertepatan dengan hal dimana dirinya sudah bisa melupakan soal Naura?

Dan apa kesalahan Adam hingga ujian keyakinannya bertubi – tubi datang. Datang pada saat selesai, ujian pun terulang lagi. Apakah memang Tuhan ingin membuatnya menjadi sangat kuat sehingga harus mendapatkan masalah yang berat.

Apakah nantinya akan ada keindahan di balik semua hal yang menimpanya dan jika dihadapinya dengan kesabaran dan keikhlasan?

”Jadi apa maksud anda tuan Sandi?” Adam masih berusaha setenang mungkin.

Sandi menghembuskan napasnya perlahan, ”Jadi..., selama kami menikah. Jujur saja aku tidak bisa bersamanya. Aku juga memperhatikan bahwa dia selalu termenung, di hatinya Cuma ada kamu dan itupun dia rapat menyembunyikannya. Aku tahu bagaimana dia karena aku sering bersamanya.

Dia terpaksa meninggalkanmu saat itu demi menyelamatkan keluarganya dari hutangnya kepada keluargaku, yaitu hutang kepada ayahku,”

Sandi pun menambahkan bahwa ayahnya Rodin, menyelamatkan pak Hasan yang merupakan ayah dari Naura dari jeratan hutang dan datangnya orang – orang yang menagih hutang pada Hasan. Hutang itu karena kebangkrutan usaha milik pak Hasan, dan Rodin membantu menyelesaikan hutang – hutang Hasan. Adam mendengarkan dengan seksama.

Sandi melanjutkan kisahnya, ”Saat itu, aku memang sudah menyukai Naura sejak lama. Dan, setelah hutang itu aku meminta kepada ayahku untuk melamarkan Naura kepadaku.”

Sandi ingin memiliki Naura, meski dia tak memahami apa artinya cinta. Saat itu, Naura pernah dilihatnya dan kecantikan Naura membiusnya. Sayangnya, Sandi adalah tipe orang yang suka bermain perempuan dan dia juga merasakan kalau Naura selama ini mencintai orang lain.

Setelah menikah dengan Naura, Sandi bercerita bahwa Naura memintanya untuk menemui Adam. Meskipun Sandi menolaknya namun Naura meminta ini adalah pertemuan perpisahan semata.

Barulah saat itu, Sandi mengetahui bahwa isterinya mencintai lelaki lain sebelum menikah dengannya.

”Saat mengunjungimu, aku kesal pada Naura. Karena dia masih menyimpan perasaannya kepadamu. Pernikahan pun kami jalani sebagaimana mestinya, namun aku merasakan kalau Naura belum bisa menerimaku sepenuhnya. Hatinya sudah terkunci padamu Saudaraku.”

Jiwa Adam terguncang mendengar kisah dari Sandi tersebut. Tubuhnya menggigil tiba – tiba dan itu terjadi begitu saja. Sebuah kisah yang cukup epik dalam hidup Adam. Dia merasa siluet kisah kebersamaannya dengan Naura membayang seperti layar demi layar yang diputar di depannya.

Kisah Adam dan Naura, seperti kisah yang tak ada habisnya. Bayangan di Danau Kenanga tempat segala cinta bermula dan segenap perasaan dah kehancuran jiwanya saat Naura meninggalkannya.

Naura yang meninggalkan dirinya karena menyelamatkan keluarganya, dia berkorban untuk keluarga di ambang kehancuran mereka dan mengorbankan cintanya yang suci. Sungguh sebuah cerita yang sangat dramatis menurut Adam, korban dari cinta Adam dan Naura bukan hanya Adam ternyata bahkan dia merasa bahwa selama ini Naura juga terpenjara dengan cintanya sehingga harus menanggung hidup tanpa cinta.

Ada bening yang tiba – tiba luruh di pipi Adam. Tangisannya kembali setelah sembuh dari sakitnya. Apa yang dirasakannya kini bertubi – tubi menderanya dan meremukkan jiwanya kembali.

Tentang cinta, tenang naura, tentang Ibunya, tentang Diandra. Semua berputar dan membuat kepalanya terasa sakit memikirkannya.

Apa yang diinginkan Tuhan kepada takdirnya? Adam mengusap airmatanya, mencoba menyibak misteri dalam kehidupannya. Lagi – lagi, Dia merasa bahwa Tuhan sedang mengujinya lagi, kuat atau tidak Adam berdiri dalam kecamuk pikirannya dan masihkah dia kuat berpijak dengan kedua kakinya.

”Lalu..., apa yang akan tuan Sandi lakukan saat ini? Kalian sudah menikah dan itu takdir dari Tuhan. Jadi, lanjutkan saja kehidupan kalian dan berusahalah saling mencintai dan aku akan menjalani hidupku sendiri,” Adam mempertegas ucapannya meskipun pelan namun ada ketegasan yang teguh disana.

”Tidak Saudaraku...” Adam menghentikan ucapannya sejenak dan fokus menatap Adam, ”Aku tidak sebaik dan selugu yang kau pikirkan. Aku bukan pahlawan seperti yang kamu pikirkan. Aku tak punya anak dari Naura, sehingga aku menikah lagi dan sudah memiliki anak.”

Wajah Sandi agak condong kearah Adam, Adam pun membulat matanya. Ada keterkejutan di wajah Adam hingga wajahnya agak terlihat urat – uratnya. Entah apa yang dipikirkan Adam saat ini, yang jelas dia mendapatkan banyak kisah yang berbarengan dan semuanya sangat mengejutkannya.

Berarti, beberapa hari yang lalu. Lelaki yang dilihatnya  di Rumah Sakit dan membawa seorang wanita yang tengah hamil tua adalah benar bahwa itu adalah Sandi. Suami dari Nuara, saat itu Adam heran kenapa Sandi bersama seorang wanita yang hamil tua.

Kini..., semuanya terjawab lewat penjelasan Sandi sendiri. Adam mengerti sekarang kisah dari Sandi dan Naura dan kini pikirannya mampu menebak apa yang ada di benak Sandi.

Kedatangan Sandi, menceritakan kisahnya dengan Naura dan apapun yang diceritakannya menuju sebuah target dimana hal itu mungkin adalah jalan yang diambil oleh Sandi untuk menyelesaikan hubungannya dengan Naura.

Bukankah tadi di awal di bilang mereka saling tak mencintai dan Sandi adalah sosok yang bisa berpaling cinta sehingga dia pasti bisa melupakan dengan mudah.

”Jadi... aku paham sekarang maksudmu tuan Sandi,” Adam merapatkan kedua telapak tangannya dan menyatukan jemari – jemarinya, ”Apakah anda kesini untuk sebuah hal dan meminta bantuanku?” Tegas, Adam mencoba menakar apa yang diinginkan Sandi sehingga menceritakan hal itu.

Sandi pun menyeringai, kini segalanya jadi lebih mudah karena Adam sudah paham alur kedatangannya, ”Itulah saudaraku Adam, kamu memang layak menjadi seorang leader di Mata Air Surga yang besar ini. Jadi, aku akan melepaskan Naura dan menceraikannya. Namun, bantu dia untuk melunasi hutang – hutangnya kepada keluargaku. Maka semuanya akan impas dan aku tak akan ada hubungan lagi dengan Naura.”

Lunas sudah. Inilah maksud dari kedatangan Sandi dan bercerita kesana dan kemari. Tujuan utamanya adalah mendapatkan uang, dan Adam paham dengan karakter orang seperti itu.

Artinya, Adam paham penderitaan Naura bersama seorang yang hanya mementingkan urusan keuntungan dan uang. Jadi selama ini, Naura juga terpenjara oleh uang dan oleh perasaan tanggung jawab demi menyelamatkan keluarganya.

Naura tidaklah jahat, dia hanyalah korban. Adam adalah korban dari kerakusan Sandi yang merasa harta adalah segalanya.

”Baiklah, berapa hutang keluarga Naura? Aku akan melunasinya untukmu.”

Mata Adam membulat besar. Dia amat malu kepada orang yang mempermainkan hati seseorang demi keangkuhannya dan menginjak harga diri orang lain karena memiliki harta.

”Jadi Saudaraku...” Sandi membuka kedua tangannya masing – masing ke samping dengan agak angkuhnya, ”Kau masih mencintai Naura dan akan kembali padanya setelah ini bukan?” Sandi tersenyum puas.

”Sudah hentikan Sandi!” kali ini, Adam cukup dengan kesabarannya mendengarkan ocehan dari Sandi. Dia tak lagi memikirkan sopan santun di hadapan orang yang durjana, ”Katakan berapa hutang keluarga Naura dan aku akan melunasinya.”

”Baiklah..., hutang keluarganya memang tidak banyak namun jika kau ingin aku melepaskan Naura dari penjara pernikahannya denganku. Berikan aku 5 Miliar dan aku akan melepaskannya. Dia akan terbang seperti burung yang bebas setelah itu.”

Senyuman Sandi begitu lebar, meskipun tak bersuara hanya desis kecilnya yang menunjukkan kemenangannya. Kali ini, Sandi merasa bahwa Adam akan bertekuk lutut kepadanya.

Adam tidak akan bisa membiarkan wanita yang pernah dicintainya itu untuk menderita. Apapun yang terjadi, Adam pasti akan menebus hutang – hutang keluarga Naura.

Apapun yang terjadi, dan Sandi yakin akan hal itu sehingga kali ini dia akan selamat dari segala himpitan hutang – hutangnya dan semuanya akan kembali normal seperti semula.

Sandi pun membayangkan kini, dia akan bahagia meskipun tanpa Naura. Karena usahanya kembali berjalan dan dia memiliki Firla dan seorang bayi lelaki.

Dia akan bahagia, dia meyakinkan dirinya. Setelah mendapatkan uang itu dan tentunya itu hal yang mudah bagi Adam untuk mengeluarkan uang 5 Miliar. Dia tak akan mencampuri urusan Naura dan Adam lagi.

Kali ini, dia menang. Itu yang berdengun di pikiran Sandi kali ini, himpitan hutang sudah tak bisa dibendung lagi dan dia harus membawa uang untuk menyelesaikan hutang – hutangnya atau semuanya akan hancur dan usahanya pun akan hancur.

Dia tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya gagal. Sandi begitu kesumat dan memancing emosi Adam hingga uang 5 Miliar harus Sandi dapatkan.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!