Naura

51. Mencari Pak Firman

Diandra masih belum datang ke Mata Air Surga. Sepertinya, Adam merasakan kalau percakapan terakhir lalu melukai hati Diandra. Jika demikian, maka obat dari itu semua adalah waktu untuk berpikir.

Benar, waktu akan membuat seseorang mampu merenungi sesuatu sehingga mereka akan mendapatkan pencerahan. Dan, Adam membiarkan beberapa waktu itu untuk Diandra memikirkan pembicaraan sebelumnya soal cinta dan sumpah.

Sudah hampir dua minggu Diandra tidak terlihat di Mata Air Surga. Entahlah, mungkin ada urusan penting yang dilakukannya di rumahnya sana. Adam lebih fokus pada urusan di Mata Air Surga dan ingin menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Jika Diandra tak ada maka Adam juga menghandle semua hal yang menjadi tanggung jawab Diandra.

Rumah Sakit dan Hotel, keduanya harus beres dan tidak ada kendala dan bahkan harus semakin maju.

Kali ini, Adam setelah dari Rumah Sakit menuju hotel. Ya, itu adalah hotel yang dibawahi langsung oleh Diandra bagaimana pengelolaanya memang Adam tak pernah ikut campur di dalamnya.

Hotel sekarang juga sangat ramai, Adam melihat daftar pesan dan kesan yang ditinggalkan oleh orang yang pernah menginap disana, pelanggan bahkan juga orang yang baru sekali saja menginap disana.

Sebelum mereka pergi, mereka akan diminta mengisi kesan dan pesan. Diandra memang sangat berbakat dalam mengelola usaha. Tentu saja, itu pasti dia diajarkan dengan baik dari keluarganya yang memang pengusaha besar. Setiap hal kecil akan diperhatikan dengan baik karena hal itulah awal mula kesuksesan besar.

Adam menyapa di pelayanan pertama, dia langsung meminta sebuah kotak kardus besar yang dihias menarik. Itu adalah pesan dan kesan para tamu yang menginap. Setiap hari selalu ada kertas baru dan ada penanggalan disana.

Adam pun membukanya di ruang depan hotel, ada ruangan khusus untuk bersanti di depan dan itu juga dipenuhi dengan hiasan bunga dan akuarium besar. Orang akan betah berada disana. Adam mulai membuka satu persatu kertas yang ditulis oleh tamu hotel.

Adam pun merasa senang, itu semua karena pesan – pesan itu  semua memiliki penilaian yang baik dimana mereka betah karena kamar yang ditempati bersih dan tak ada bau dari kamar mandi. Di samping itu, di setiap kamar itu juga disediakan alat shalat lengkap, mereka bisa beribadah dengan nyaman meskipun di dalam hotel.

Keseluruhan bahwa pelayanan hotel juga baik dan mereka sangat ramah, seolah mereka memiliki asisten pribadi sendiri seperti di rumah mereka. Untuk pengisian saran, Adam lebih melihat ada sekitar 90 persen mereka semua meminta bahwa fasilitas dan pelayanan hotel untuk dipertahankan.

Adam tersenyum, Diandra memang tahu bagaimana mengelola sesuatu dengan baik. Jika dia ada, tentu apapun usaha akan maju di tangannya. Mungkin... tiba – tiba pikiran Adam merasa dari tadi dia selalu memikirkan Diandra. Kenapa dengan perasaan aneh yang tiba – tiba menusuknya itu.

Usianya sudah tak lagi muda, mungkin ini fase dimana dirinya membutuhkan seorang wanita yang melengkapi hidupnya. Adam menghela napasnya dengan berat dan panjang. Dia pun kembali berdzikir dalam bibir dan hatinya untuk menenangkan dirinya.

Dia pun menutup semua pesan – pesan itu kembali dalam kotak tersebut.

”Pak Adam,” seorang wanita berjilbab mendekati Adam dan dia masih berdiri, sepertinya ada yang hendak disampaikannya.

”Duduklah dulu Mbak,” Adam mempersilakan wanita itu duduk di sekitarnya juga ada banyak kursi. Wanita itu terlihat rapi dan pipinya pun agak tembam dan wajahnya putih. Wanita itu pun agak ragu, namun dia sudah paham karakter Adam sehingga dia mulai duduk perlahan.

”Ada laporan apa Mbak?”

Itulah yang dilakukan Diandra, inspeksi dan apapun saran dari mereka yang bekerja sebagai rekan. Semuanya sama, jika ada masalah segera sampaikan agar segera selesai dan juga itu untuk ketenangan dalam bekerja tentunya.

”Begini Pak, soal makanan yang ada di hotel,” nama wanita itu Amira, itu terlihat dari kotak nama yang ditempel di bajunya. Dia memulai cerita dengan makanan yang disediakan di Hotel, katanya itu masih menurutnya kurang dalam rasa dan juga penampilannya.

Selama ini, hotel memang memesan makanan pada rumah makan, namun itu baru satu rumah makan. Menurut Amira, rasanya terkesan sama sehingga kalau bisa dia usul agar ada rumah makan lainnya lagi sehingga memiliki rasa yang berbeda akan membuat pelanggan merasa bahwa hotel itu memiliki kreatifitas. Meskipun dalam urusan makanannya, karena biasanya orang menginap memang hanya untuk kenyamanan dalam istirahat.

”Kamu betul mbak Amira,” Adam membenarkan ususl Amira, hal itu belum pernah dibicarakan dalam rapat dengan Diandra. Mencari rumah makan yang higienis dan selalu bisa menjaga rasa itu adalah hal penting sehingga hanya baru bertemu dengan satu rumah makan saja.

”Saya akan pikirkan baik – baik saran anda Mbak. Saya akan segera mencari alternatifnya sehingga memang hotel kita menjadi tempat tujuan mereka yang ingin mencari penginapan. Selain itu, soal rasa yang berbeda itu menurut saya juga sangat bagus. Karena, setiap orang memasak pun biasanya memiliki rahasia sendiri dalam resep makannya.”

Masakan memang menjadi hal kedua dalam penginapan, namun jika lidah seseorang menyukai suatu masakan. Maka, mereka bisa ketagihan dan mencari makanan itu. Apalagi hotel, mereka akan langsung ingat jika makanan yang mereka makan disana memiliki keunikan tersendiri dalam hal rasa.

Amira pun pamit pada Adam. Sepertinya Amira, Adam mulai berpikir untuk menyelesaikan hal sederhana itu sehingga jika Diandra datang hal itu sudah selesai dan tak perlu diselesaikan lagi oleh Diandra.

Berpikir sejenak, setidaknya ada dua rumah makan sehingga rasa bisa berganti. Dan kini, pikiran Adam langsung melayang kepada pak Firman, koki masakan di rumah makan lesehan yang beberapa hari lalu dirinya makan disana bersama ibunya.

Benar!

Bahkan, ketika memikirkan makanan enak pun, Adam langsung berpikir pada masakan pak Firman dimana rasa makanannya malam itu masih terasakan enak dan nikmatnya. Harus cepat diselesaikan!

Adam pun tak jadi masuk ke Hotel dan hanya di ruang tamu itu, dia berpamitan pada pelayan hotel dan izin undur diri dan memberi mereka pesan motivasi untuk terus semangat dan jadikan bekerja sebagai ibadah kepada Tuhan sehingga perasaan ikhlas akan tertanam.

Adam berlalu, dia mengendarai mobilnya dan menuju ke toko tempat biasanya pak Firman membuka tokonya. Itu adalah toko elektronik, tentu saja pak Firman belum buka karena dia membuka dagangannya sore hari.

Karena tak tahu rumah alamat pak Firman, Adam meminta alamat pada pemilik toko elektronik. Pemilik toko pun membuatkan denah lokasi rumah pak Firman karena kebetulan juga tetangga jauh dengannya. Adam mengucapkan terima kasih dan langsung berpamitan untuk ke rumah pak Firman. Mobilnya melaju dan rumah pak Firman cukup jauh, sekitar 3 kilo meter dari tempat biasanya dia membuka dagangan makanannya.

Hingga, sampailah Adam di rumah yang cukup sederhana. Rumahnya ada di bagian dalam sebuah gang kecil. Adam agak kesulitan memasukkan mobilnya namun hal itu bisa dilakukannya dengan perlahan dan baik.

Rumah itu kecil, Adam memarkirkan mobilnya di lahan kosong di sebelah rumah yang ditunjukkan pemilik toko elektronik tadi.

Waktunya masih panjang, Adam bisa bernegosiasi dengan pak Firman nantinya cukup lama. Waktu sekitar pukul 10 siang, Adam pun melihat rumah itu terlihat sepi. Adam mengucapkan salam dan mengetuk pintu.

Satu kali, dua kali. Hingga salam ketiga kali terdengar suara jawaban salam dari dalam, dari seorang wanita.

Pintu terbuka, seorang wanita gadis berumur 20 an tahun keluar dan memakai gaun sederhana. Jilbabnya lebar berwarna hijau muda, dan wajahnya cantik meskipun tak ada polesan make up.

”Mencari siapa ya Mas?” tanya lembut wanita itu.

Adam biasa memakai peci, sehingga dia terlihat seperti santri atau ustadz, ”Apakah ini rumah pak Firman, pedagang makanan di toko elektronik di jalan Mawar?”

Wanita itu melihat sekilas Adam dan mengangguk, ”Benar Mas, bapak ada di belakang sedang menanam sayuran. Saya panggilkan dulu, Mas silakan duduk,” dia mempersilakan Adam masuk dan Adam pun duduk di kursi.

Wanita itu pergi ke dalam, Adam memperhatikan ruangan rumah itu. Sangat sederhana dan juga seperti rumah kebanyakan. Ada bingkai kaligrafi yang dipajang dan juga ada foto keluarga. Itu gambar pak Firman dan tiga wanita di sekitarnya. Pasti itu kedua puterinya.

Dan, wanita yang tadi sepertinya adalah puteri pertama pak Firman karena satu lagi masih kecil sekitar umur 10 an tahun atau sekitar akhir sekolah di SD. Adam menunggu cukup lama dan akhirnya seorang lelaki muncul sambil membersihkan tangannya. Dia pasti habis bersih – bersih.

”Assalamu’alaikum pak Firman.”

Adam berdiri dan menyalami pak Firman, pak Firman agak sedikit lupa dengan wajah Adam. Namun, dia mencoba menerka dan mengingat wajah itu lebih seksama. Dan, dia pun ingat bahwa orang yang menjadi tamunya itu adalah orang yang pernah memborong habis makanan yang dijualnya malam itu.

”Wa’alaikumsalam, iya Mas,” sambil agak ragu, Firman langsung mencoba mengingat wajah di depannya itu.

”Mas Adam ya!” pak Firman langsung ingat dan juga bahagia, Adam adalah orang yang menyembuhkan tangannya yang dulu pernah sakit hingga sembuh dan bisa berjualan makanan lagi.

”Sungguh seperti rumah saya kedatangan Malaikat ini Mas.”

Ada – ada saja pak Firman bercandanya, Adam pun tersenyum, ”Biasa saja pak Firman, saya juga ingin silaturahim ke rumah bapak, jadi saya mampir kesini.”

”Mas Adam sendirian ini?”

”Iya Pak, sekalian ada yang harus saya bicarakan dengan Bapak ini.”

”Masalah apa ya Mas?”

Wajah pak Firman jadi sedikit gelisah, apa yang akan dibicarakan dari Mas Adam, sepertinya penting!

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!