Naura

50. Sandi dan Firla

Benar saja! Dua orang yang dilihat Adam sebelumnya memang salah satunya adalah lelaki yang pernah membuatnya kehilangan Naura dan membuatnya hancur berkeping-keping.

Lelaki itu adalah Sandi. Sosok pria kaya yang saat itu sudah merebut Naura dari Adam. Namun, itu hanyalah masa lalu, dan masa lalu hanya untuk dikenang. Lelaki bernama Sandi itu hampir dikaruniai seorang anak dari pernikahan keduanya dengan Firla.

Mereka memilih Rumah Sakit yang dekat dengan rumah mereka. Di proyek Mata Air Surga, mereka mendengar bahwa Rumah Sakit itu sangat besar dan didukung dnegan biaya yang sangat besar pula. Kawasan di ujung desa dan perbatasan itu menjadi proyek mega dengan banyaknya usaha yang berdiri di sekitar Danau Kenanga.

Maka, Sandi pun segera membawa isteri keduanya itu untuk melakukan pemeriksaan pada bayi mereka. Mereka segera ke sana dan melihat bahwa Rumah Sakit itu memang memiliki pelayanan dan peralatan kesehatan yang lengkap.

Sandi sangat bahagia dengan kehadiran buah hatinya sendiri, meskipun itu masih dalam kandungan. Hal itu tidak diperoleh dari pernikahan pertamanya dengan Naura. Naura sudah lama tidak memiliki tanda-tanda akan hamil. Ibu dari Sandi pun menyarankan bagi Adam untuk menikahi Firla, alasannya dibuat agar Sandi memang sudah ingin memiliki seorang anak.

Meskipun pada dasarnya, Sandi sudah kehilangan cinta pada Naura. Sejak awal memang dia tertarik pada Naura. Namun, berjalannya waktu, sebagai seorang lelaki yang kaya. Dia merasa kurang dengan satu wanita. Dan tiba-tiba Firla yang cantik dan menawan hatinya. Firla pun mencintai Sandi.

Mereka pun mengucap janji untuk menikah. Firla menerima dirinya menjadi isteri kedua, dan itu sangat bagus bagi Sandi. Mau tidak mau, Sandi pun memaksa Naura untuk menerima kenyataan.

Jika Naura tidak menerimanya. Maka dia bisa mengajukan perceraian padanya. Selain itu, dia juga harus membayar hutang keluarga yang dulu sudah dilakukan oleh ayah Naura.

Dengan begitu, Sandi memaksa Naura untuk menerima keadaannya. Kini, cinta Sandi sudah berpaling. Cinta yang didasari nafsu memang selalu menyengsarakan dan tidak pernah puas.

Kali ini, Sandi merasa puas dengan memiliki Firla. Namun, entah nanti di waktu yang akan datang. Tidak ada yang tahu.

Sandi menuntun Firla dengan penuh cinta dan hati-hati, buah hatinya ada di dalam perutnya. Saat melewati sebuah undakan, Firla hampir jatuh namun Sandi segera menahannya. Senyuman Firla merekah, dia merasa kini begitu dicintai oleh Sandi sepenuhnya.

Mereka pun melakukan pemeriksaan dan Sandi akan mengambil obat. Firla terlihat sedikit kelelahan, Sandi pun menenangkannya.

”Kamu tidak apa – apa Firla?” suara Sandi pelan menenangkan isterinya itu, ”Duduk dulu disini sebentar ya. Aku akan menebus obatnya dulu.”

Wanita yang sedang hamil dan dipanggil Firla itu menganggukkan kepalanya, dia juga berpesan agar suaminya itu tidak terlalu lama menebus obatnya. Lelaki itu, Sandi dia bergegas ke ruangan apotek Rumah Sakit. Rumah Sakit ini besar dan juga pelayanannya bagus, Sandi pun senang berada di sini.

Dia pun berkeingingan untuk nanti sewaktu bersalin untuk isterinya Firla, ke Rumah Sakit ini saja. Sandi semakin mempercepat langkahnya ke ruang obat, jika dia menuntun isterinya maka itu akan memakan waktu cukup lama. Dia sangat senang dengan kebahagiaan karena sebentar lagi, bayi pertamanya akan lahir.

Bahkan, dia sangat bahagia karena setelah di USG kata dokter bahwa bayinya adalah laki – laki dan kondisinya normal dan bagus. Hanya saja, kondisi Ibunya memang banyak aktivitas sehingga sempat ada kontraksi.

Sang Ibu, Firla harus banyak beristirahat dari segala aktivitas baik di dalam maupun di luar rumah. Hal itu untuk menunjang agar bayinya juga sehat.

Selang ditinggal suaminya, Firla duduk santai di kursinya. Tangannya mengelus perutnya yang tertutup dengan baju panjang. Firla tersenyum meskipun ada rasa sakit, dia sendiri sebelumnya seperti belum siap hamil dan malah keluar banyak aktivitas di luar bersama teman – teman gangnya.

Kebiasaan Firla itu susah dihindari, barulah ketika sudah mendekati usia kandungan 9 bulan tiba – tiba perutnya sakit. Hal itu karena dia terlalu banyak kegiatan di luar, apalagi makanannya kurang dijaga juga.

Itu karena dia berkumpul bersama teman – temannya, dia selalu memamerkan barang baru yang dibelinya. Menikah dengan Sandi meskipun menjadi isteri kedua tak masalah, harta berapapun dia sanggup diberikannya. Firla selalu dipuji teman – temannya karena setiap bertemu selalu ada barang baru yang dibelinya.

Untuk sekelas perumahan di semi kota seperti mereka, Sandi sudah termasuk orang yang kaya raya karena memiliki pabrik yang besar dan menampung banyak karyawan.

”Kamu sebentar lagi akan keluar dari perut ibumu Anakku. Kamu akan menjadi pewaris kekayaan ayahmu, Ayah Sandi.”

Begitu kidung Firla pada bayinya dan juga memintanya untuk tenang dan tidak membuat masalah. Firla juga berpikir untuk cepat dan segera saja melahirkan, nanti bayinya akan ada yang mengurusnya dan dia bisa bebas kembali untuk jalan – jalan keluar bersama teman – teman gangnya.

Firla sudah kangen dengan mereka dan memamerkan hartanya lagi. Pasti menyenangkan, begitulah yang dipikirkan Firla. Soal bayi yang akan lahir, tentu saja itu akan membuat Sandi semakin mencintainya. Firla juga tahu bahwa Sandi sudah tak lagi memperhatikan isteri pertamanya, Naura semenjak dirinya hamil.

Firla pun tersenyum dan merasa ini menjadi kemenangannya.

Tak berapa lama, seseorang lelaki tergopoh – gopoh mendekati Firla dan membawa bungkusan plastik bening berisi beberapa obat, terlihat dari wadah itu yang transparan.

”Sudah Mas?” Firla bertanya pada suaminya itu sambil tetap mengelus perutnya.

”Iya sudah, tidak terlalu ramai jadi bisa cepat,” Sandi duduk sebentar dan mengelus perut Isterinya sambil menyapa bayi laki – laki yang sebentar lagi akan hamil itu. Sandi terlihat tersenyum bahagia dan Firla memperhatikan suaminya itu.

”Ayo Firla kita pulang, kamu juga harus banyak istirahat sekarang. Ini sudah mendekati hari kelahiran. Dokter juga tadi berpesan kan bahwa kamu harus istirahat yang banyak.”

Sandi mencoba mengingatkan isterinya pada pesan Dokter tadi, dengan begitu Sandi ingin membuat Firla Ingat bahwa sementara untuk tidak pergi – pergi bersama teman – temannya terlebih dahulu. Tunggu dan sabar sampai beberapa waktu dan kelahiran bayi mereka.

Sandi ingin bayinya lahir dalam kondisi sehat dan tidak ada masalah apapun, sehingga dia harus mengawasi aktivitas Firla mulai sekarang.

”Kalau begitu, ayo pulang sekarang,” Sandi berdiri dan siap membantu Firla untuk berdiri dan menuntunnya.

”Baik Mas,” Firla menyambut tangan suaminya itu, dia pun tersenyum karena merasa bahagia. Semua perhatian suaminya kini sepenuhnya padanya, Naura seolah sudah dilupakannya. Bahkan, semua tertuju sekarang pada bayi yang sedang dikandung Firla.

Jika bayi ini lahir segera, maka segalanya akan dimiliki oleh Firla. Begitu pikiran Firla. Juga, bayinya itu akan menjadi pewaris kekayaan ayahnya. Tentunya, karena sudah hampir empat tahun  Naura juga tak bisa memberikan Sandi keturunan.

Mereka pun melangkah pergi, menyusuri lorong – lorong rumah sakit dan menuju tempat parkir dimana mobil mereka diparkirkan. Mereka langsung pulang ke rumah yang dibangunkan khusus untuk Firla. Rumah itu kini besar dan bagus, bahkan melebihi besarnya rumah yang ditempati oleh Naura.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!