Naura
30. Diandra Sakit
Saat pembangunan dimulai di hari Ahad, Diandra tak terlihat untuk hari itu. Adam merasa biasanya gadis itu sangat bersemangat. Kenapa tiba-tiba tidak ada, mungkin dia sedang melakukan sesuatu yang lain.
Adam penasaran dan mengambil ponselnya, dia menelpon Diandra. Siapa tahu, Diandra terlupa untuk melihat dimulainya proyek mereka untuk membuat desain hijau dan bisnis di Danau Kenanga.
Sambungan didapatkan dan ada suara yang serak dari seberanag. Suara Diandra terlihat berat, apakah dia habis menangis?
”Ada apa dengan suaramu, Diandra?” tanya Adam penasaran.
Hening sejenak, ”A ..., Aku sedang tak enak badan Adam. Mungkin, terlalu lelah sehingga tubuhku menggigil dan suaraku sangat berat.”
”Sudah minum obat? Sudah ke dokter belum? Atau aku akan mengantarmu?”
Suara tawa kecil meskipun berat terdengar di balik seberang telepon, ”Kamu Adam, seperti ibu-ibu yang menghkhawatirkan anaknya saja. Apa kamu sekarang sudah menjadi ibu-ibu asuh yang sibuk ketika anaknya sakit?”
Masih terdengar suara tawa serak dan lucu milik Diandra. Adam merasa sedang diledek. Memang Diandra, hidupnya selalu penuh dengan keceriaan. Meskipun pernah merasakan hidup yang tak berdaya sama sepertinya.
”Aku akan datang ke hotel,” Adam menutup teleponnya, dia sudah merasa ada sesuatu dengan Diandra. Entah kenapa, seolah dia terhubung begitu saja. Baik dengan nasib yang sama dan atau berbagi takdir yang sama.
Adam meninggalkan proyek sejenak dan menuju ke hotel, dia naik kendaraan motornya dan sesampainya di hotel dia menuju ke kamar dimana Diandra berada. Ada bi Jamilah di sana. Dan Adam pun sudah membawa beberapa buah untuk diberikan pada Diandra.
Bi Jamilah diminta oleh Adam tetap di tempat dan jangan pergi, tidak baik bagi seorang lelaki dan perempuan bersama hanya berdua. Diandra duduk di ruang tamu hotel, ruangan hotel yang mereka sewa besar dan ada ruang tamunya.
”Kamu sudah sehat? Kamu pasti kecapekan bukan?”
”Kamu ini, aku ini sudah besar Adam. Aku bisa menjaga diri dengan baik. Besok juga sudah baikan karena aku sudah minum obat.”
”Semoga lekas sembuh, karena pembangunan bisnis kita membutuhkanmu untuk menjaganya agar sesuai dengan apa yang kita rencanakan.”
”Kenapa kamu bisa begitu percaya padaku Adam. Bukankah aku selama ini tak bisa melihat dan berjalan. Aku hanya sedang berimajinasi semata,” Diandra penasaran karena seolah Adam membuat alasan semata.
”Tidak Diandra. Kamu sangat penting di proyek kita. Kamu yang belum melihat dunia ini pasti imajinasimu akan bersih dari pencemaran, jadi kamu pasti akan membuat hasil yang menakjubkan!” Adam bersemangat sambil tersenyum.
”Kamu menghinaku atau sedang memujiku Adam? Leluconmu itu tidak lucu!”
Diandra merasa terhibur dan bahkan seolah sakitnya tidak terasa dengan kedatangan Adam dan leluconnya yang sebenarnya tak lucu.
Dari sudut kuris, bi Jamilah hanya tersenyum melihat keduanya mengobrol seru. Dia hanya berdoa semoga keduanya suatu hari akan menikah dan bahagia. Semoga saja, takdir tidak ada yang tahu bagaimana akan dijalani oleh manusia. Karena Tuhan yang mengatur segala urusan.
”Sudah sarapan pagi?” tanya Adam lagi, entah kenapa dia merasa sangat protektif ketika melihat orang lain sakit. Dia tak ingin ada orang yang sakit dan mengalami rasa seperti yang pernah dirasakan beberapa tahun. Meringkuk karena sakit dan tidak berdaya melakukan apapun.
”Aku sudah minum obat Adam, tentu saja sudah sarapan. Kamu ini seperti dokter saja.”
Adam menggelengkan kepalanya. Diandra terduduk namun wajahnya sedikit pucat. Tentu saja dia kelelahan, entah kenapa di hati Adam dia merasa bahagia Diandra ada di desanya dan berada dekat dengannya. Meskipun, janjinya telah dia lontarkan.
Janji kepada Tuhan yang entah bagaimana dia bisa meneruskan hidupnya dengan sumpah yang pernah diucapkannya di depan Naura, di depan Danau Kenanga.
”Kamu sendiri sudah makan, Adam?” Diandra bertanya balik. Dia tahu Adam dari Syarif dan Ibunya. Adam sering lupa makan karena ketika sudah sibuk dia akan melakukan dengan sepenuh hati dan sering lupa pada kebutuhan makannya.
”Aku ..., Aku ...” Adam bingung hendak menjawab karena dia memang benar-benar lupa belum sarapan pagi karena semangatnya untuk membuat dan menyulap Danau Kenanga.
”Pasti kamu belum sarapan pagi, dasar Adam. Kamu selalu membuat orang lain agar tidak lupa dan selalu sehat. Tapi kamu sendiri lupa pada dirimu sendiri. Memang benar-benar kamu ini.”
Diandra tak habis pikir, benar kata ibu Halimah soal puteranya itu. Memang benar-benar.
”Maaf, Diandra. Aku tadi benar-benar lupa untuk sarapan.”
Diandra tertawa melihat tingkat kekanakan Adam. Meskipun dia bijaksana dan dewasa, terkadang sisi kekanakannya terlihat. Adam terlihat lucu ketika menggaruk-garuk kepalanya yang pastinya tidak gatal tersebut.
”Aku akan membuatkan makanan untukmu sebentar, sepertinya aku bisa menggoreng telur,” kata Diandra. Namun, bi Jamilah langsung berdiri ketika nonanya itu hendak berdiri.
”Tidak Non Diandra, Non sedang sakit. Biar bibi yang akan membuatkannya sebentar.”
”Tapi Bi ...,”
”Sudahlah, cuma sebentar saja.”
Bi Jamilah pamit ke ruang belakang, dia akan menggoreng sesuatu disana. Hotel yang disewa oleh Diandra memiliki ruangan yang cukup besar seperti sebuah rumah kontrakan. Ada dapur kecil di belakang ruang tamu.
”Maafkan aku, malah merepotkan saja,” Adam jadi tak enak karena bi Jamilah jadi sibuk.
”Makanya Adam, jika kamu mau menasehati orang. Kamu harus bisa menjaga dirimu terlebih dahulu. Jaga kesehatanmu Adam, itu penting. Aku melihat ...” suara Diandra berhenti sejenak, ”Aku melihat bu Halimah sangat bahagia ketika kamu sudah sehat. Dia seperti melihat surga di depan matanya.”
Mata Adam menatap mata Diandra sejenak. Benar katanya. Sungguh! Selama ini dalam ketidakberdayaan dia sudah membuat ibunya itu sedih berlarut-larut. Bagaimana tidak, dia menjaga seorang anak yang sakit bertahun-tahun dan tidak berdaya melakukan apapun.
Ibu yang membesarkan dirinya, tentu saja merasakan bagaimana sakit yang dideritanya. Sakit karena cinta, tentunya Ibunya lebih mencintai dirinya ketimbang seluruh cinta di dunia ini.
Adam seperti menjadi orang yang tega melihat ibunya bersedih atas ketidakberdayaannya menghadapi kenyataan. Dan Ibunya, hanya menjadi korban dirinya yang tidak berdaya tersebut.
”Kamu benar, Diandra. Selama ini, aku hanya menyusahkan Ibuku. Aku telah membuat hatinya sedih sampai bertahun-tahun lamanya. Itu semua, seharusnya tidak terjadi. Aku memang lemah dan bodoh!”
Ada setitik airmata yang menetes di pipi Adam, jika teringat itu semua. Dia menjadi manusia paling tidak berguna di dunia ini karena membiarkan ibunya harus bersedih setiap hari.
”Tidak apa-apa Adam, semua sudah berlalu. Kini, kita hanya menjalani hidup kita dan memberikan senyuman pada orang yang mencintai kita.”
Diandra mengangguk pada Adam sambil tersenyum, Adam pun segera menghapus airmatanya. Benar kata Diandra, semua sudah berlalu dan yang terpenting adalah hari ini apa yang bisa kita lakukan.
”Kamu benar Diandra. Kita harus menatap masa depan.”