Naura

19. Pernikahan Sang Suami

Sudah jelas sekarang bagi Naura. Cinta Sandi suaminya selama ini hanyalah cinta yang semu dan tidak dari hati.

Sandi seolah sudah menemukan pengganti hati isterinya sendiri dan mencari sosok yang lain untuk bisa merajut cinta yang lain. Berbagai alasan dilontarkan hanya untuk bisa mendapatkan cinta yang lain. Alasan anak adalah alasan pertama yang dilontarkan suaminya tersebut.

Alasan kedua, akhirnya muncul. Cinta itu hanya sekedar pemanis bibir karena hutang keluarga Naura yang membuat semuanya adalah cinta palsu. Cinta sejati tidak akan membiarkan pasangannya bahkan menangis atau meneteskan satu pun airmata. Kini, Naura seperti hancur hatinya.

Perih!

Hatinya hancur sehancur-hancurnya. Suaminya akan menikahi wanita yang lain. Dan itu semua terjadi tanpa ada keraguan dan pertimbangan lagi. Jika Naura menolak hal itu, dia bisa menggugat cerai dan pastikan untuk melunasi hutang keluarganya.

Darimana uang sebanyak itu akan didapatkan keluarga Naura. Namun, lebih dari itu semua. Naura ingin menjadi seorang isteri yang baik dan mencintai suaminya. Tapi apa daya, suaminya hanya menganggapnya jaminan hutang, sampah tak berguna.

”Hiks! Hiks! Hiks!” tangis Naura pecah, di keheningan malam yang sunyi bahkan tangisnya di hatinya lebih keras lagi. Hancurnya hati wanita adalah ketika dikhianati oleh pasangannya sendiri.

’Ya Allah, jika ini adalah takdirku. Maka, aku akan menerimanya meski hatiku teriris-iris duka mendalam. Ya Allah, jika memang aku telah membuat orang lain terdzalimi, maka ini adalah balasan bagiku. Maka, aku akan menerima ini sebagai penghukumanku.’

Dalam hal ini, Naura jadi teringat akan Adam. Tubuh kurus dan pesakitan terakhir kali dia melihatnya. Sungguh miris, luka yang diderita Adam pastilah dalam sehingga dirinya kini harus ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Adam.

Apapun yang terjadi, Naura akan berusaha untuk tegar. Demi keluarga dan juga demi hidupnya, biarlah dirinya hancur, seperti hancurnya Adam saat ditinggalkan olehnya.

Sayangnya, saat dirinya meninggalkan Adam. Adam tidak tahu bahwa dirinya meninggalkan Adam untuk menjadi tumbal bagi keluarganya dalam hal hutang piutang. Jika bukan karena hutang keluarganya itu, dia tidak akan meninggalkan Adam.

Wajah Adam membayang kembali dalam pikiran Naura, Naura pun beristighfar berkali-kali. Dia sudah menjadi isteri Sandi, tidak boleh baginya memikirkan lelaki lain dalam pikirannya.

Itu dosa!

’Ya Allah, ampunilah hamba. Tapi, perasaan itu tak bisa dibohongi ya Allah. Cinta pertamanya adalah untuk Adam. Cinta yang mampu membuatnya tersenyum setiap hari di antara mekarnya bunga-bunga di Danau Cinta.’

Dan kini, takdir juga yang mempermainkan kehidupan Naura. Takdir itu juga yang membuatnya kini menangis dan tersakiti hatinya. Masihkah dia berharap bahwa Sandi akan berubah dan sadar, sehingga kehidupannya kembali normal seperti awal-awal pernikahannya?

Apakah itu mungkin?

Entahlah, suaminya kini seperti pribadi yang benar-benar berbeda dengan suaminya saat pertama kali menikah. Dulu begitu manis dan sekarang hanya terisi kasar dan sikap keras.

Tak ada lagi romantisme dan tidak ada lagi kalimat sayang. Seolah orang lain yang hidup satu rumah, cinta seolah sudah tidak ada lagi. Kesepian hati Naura selalu dirasakan dan hidup seolah berjalan tanpa mengajaknya lagi untuk tersenyum. Tertinggal hanya duka yang mengiringi kehidupannya.

***

”Pak Fandi,” suara Diandra mengagetkan Fandi yang tengah berdiskusi penting dengan Syarif. Namun hal itu langsung ditinggalkan Fandi karena Syarif sudah mulai bisa melakukan banyak hal dan sudah lebih mampu untuk ditinggal sendiri. Kecuali hanya beberapa hal saja yang ditemukannya memang tak bisa diselesaikan sehingga meminta bantuan pak Fandi.

”Ada apa Non?”

Saat itu, Diandra meninggalkan Adam sendirian lagi di hari Ahad itu. Dia berbalik dan menghampiri Fandi yang tengah bertemu dengan Syarif di bawah pohon yang lain. Namun, disana sudah dibuatkan semacam gazebo. Gazebo itu dibuat agar ada orang yang bisa berteduh nyaman termasuk Syarif ketika menunggui dan melihat Adam. Gazebo itu dibangun dengan uang dari hasil simpanan Adam selama ini.

Mereka agak menjauh dari Syarif.

”Aku ingin kamu melakukan sesuatu pak Fandi. Jadi, kamu tidak usah ikut pulang bersama kami hingga Ahad depan. Kamu tinggal disini dan cari informasi untuk saya Pak.”

”Informasi apa yang Nona butuhkan dari saya?” tanya pak Fandi penasaran dengan permintaan tiba-tiba dari non Diandra tersebut.

Sinar mentari masih mulai beranjak, panasnya masih belum menyengat dan masih menyegarkan.

”Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang Naura, wanita yang pernah dicintai Adam.”

Fandi diam, dia paham apa yang diinginkan Nonanya itu. Mencari informasi dan menjadi intel juga pernah dilakukannya saat mendapat perintah dari pak Hamid berkaitan dengan alasan salah satu perusahaannya mengalami kemunduran. Saat itu, Fandi melaksanakan tugasnya dan menemukan kalau ada orang dari perusahaan lain yang memang menyusup sebagai rekan kerja dan menggerogoti perusahaan dari dalam.

Kali ini, Fandi mendapatkan tugas khusus dari Nonanya hanya untuk menyelidiki seorang wanita biasa dan waktunya juga cukup panjang. Satu minggu.

”Baiklah Non, besok saya akan investigasi dan mendapatkan seluruh informasi tentangnya.”

Diandra pun kembali berbalik dan menuju Adam dan kembali menemaninya. Dia juga membawa makanan khusus untuk dimakannya saat siang nanti. Jika mau, dia akan menyuapi Adam, tentu saja dengan sepenuh ketulusan. Mungkin, ada juga perasaan kasihan pada Adam, karena kondisinya tak jauh beda dengan kondisinya dulu yang kala sendirian pasti terpuruk.

Ya benar! Setiap orang memang memiliki ujian dan masalah kehidupannya masing-masing dan bagaimana kita menghadapinya itulah yang berbeda.

***

Saat itu juga, hari pernikahan Sandi dan Firla. Pernikahan mereka cukup megah dan bahkan terkesan untuk masyarakat desa super megah. Apalagi, Sandi adalah penerus usaha Bapaknya yaitu pabrik penggilingan sawit yang menampung panenan sawit dari para petani.

Meski usahanya tak semaju dulu karena kini banyak pesaing. Namun, tetap saja pabrik itu memiliki karyawan yang cukup banyak.

Firla sendiri merupakan anak dari sahabat Rodin yang merupakan ayah Sandi. Dia diminta bekerja sebagai asisten langsung Sandi untuk keperluan mengurusi catatan bon dan juga pembayaran serta keuangan. Sandi merasa pekerjaannya lebih mudah dengan adanya Firla karena dia bisa bersantai-santai saja dan menyerahkan urusan uang pada Firla dan dia tak perlu susah-susah lagi.

Ditambah, wajah wanita itu sangat cantik sehingga mau tak mau, Sandi pun tergoda dan menyampaikan niatnya pada Rodin Ayahnya. Ayahnya setuju dan kemudian meminta izin pada orangtua Firla. Ternyata Firla juga mencintai Sandi dan pernikahan itupun terjadi juga.

Jadi, Naura tahu kini bahwa alasan soal tidak punya anak hanyalah alasan yang dibuat-buat semata. Pada intinya, suaminya lebih mencintai Firla daripada dirinya. Hari itu, Naura hanya mengurung dirinya di kamarnya, dia tak mau hadir dalam pernikahan kedua suaminya. Cukuplah sengsara menjadi teman baiknya.

”Assalamu’alaikum Non.”

Suara dari luar pintu kamar, suara bi Fatma. Buru-buru Naura segera mengusapi seluruh airmatanya yang sudah luruh jatuh hingga ke dagunya.

”Ada apa Bi?” Naura berusaha menutupi suara paraunya karena tangis, namun tetap saja ada serak yang masih menyisa dari suaranya itu.

”Ada bu Santi dan pak Hasan datang. Mereka menunggu di ruang tamu.”

Naura kaget mendengar itu, kedua orangtuanya datang. Tak biasanya mereka datang, biasanya Naura yang datang untuk menjenguk orangtuanya. Apakah karena pernikahan suaminya ini?

Naura segera membersihkan wajahnya agar tak terlihat bersedih dan memakai kerudung birunya. Dia menuruni tangga dan menuju ruang tamu dimana ada Bapak dan Ibunya disana.

Perlahan memasuki ruang tamu, Naura melihat Ibu dan Bapaknya. Mereka pun langsung menengok kearah datangnya Naura dan pandangan mereka pun bertemu dan sejenak saling tak bisa berkata-kata.

Naura tak bersuara, dia perlahan mendekati kursi di sebelah Bapak dan Ibunya. Namun, hendak mendekati mereka itulah Hasan tiba-tiba langsung menghambur dan memeluk puterinya itu.

”Maafkan Bapakmu Nak?” tiba-tiba pula, ada isak lirih dari lelaki yang dulu memaksanya menikah dengan Sandi. Semua itu memang dilakukannya karena hutang keluarga mereka namun dulu Sandi juga berjanji akan membahagiakan Naura dan hanya mencintai Naura semata.

”Bapak yang menjerumuskan kamu dalam kehancuran Puteriku,” Hasan merasa sangat bersalah dia pun teringat kisah dimana dirinya memaksanya untuk memutuskan Adam dan jangan lagi berhubungan dengannya. Hasan sangat merasa bersalah pada Naura sekarang.

Pada hari pernikahan kedua suaminya, Naura hanya di rumah dan pastinya meratapi nasibnya.

”Nasi sudah menjadi bubur Pak, biarlah Naura akan selalu menjadi isteri mas Sandi karena memang pernikahan itu sudah digariskan Tuhan. Bukankah Naura juga melakukannya demi keutuhan keluarga kita?” kalimat lemah itu seolah sudah menegaskan kalau tindakan Hasan selama ini salah untuk kebahagiaan puterinya.

”Bapakmu ini memang tak tahu diri, menimpakan segala kesusahan pada puterinya dan tak peduli kebahagiaanmu Nak. Sungguh, Bapak tak punya perasaan padamu Nak.”

Hasan melorotkan tubuhnya ke bawah, hatinya luluh karena sebelumnya telah berbincang dengan isterinya, Santi. Mereka bisa saja terlepas dari jerat hutang dengan keluarga Rodin, dengan meniahkan Naura dengan Sandi. Pada intinya, mereka telah mengorbankan kebahagiaan puterinya sendiri demi uang.

Santi pun tak bisa berkata banyak, airmatanya juga sudah menetes begitu saja. Perih puterinya itu tentu saja dirasakannya. Dulu, suaminya yang memaksanya untuk membujuk Naura mau menerima pinangan Sandi dan meninggalkan Adam. Hal itu juga dilakukan oleh Santi mengingat hutang keluarga dan ekonomi mereka hancur karena hutang mereka.

”Ibu juga minta maaf ya Nak, kami selalu berdoa akan kebahagiaanmu. Kami telah mengakui bahwa kami salah padamu. Kami sekarang berharap kamu menerima hal ini dan semoga Sandi tetap tak berubah cintanya padamu meskipun dia memiliki isteri keduanya Nak,” suara pelan Santi sebagai ibunya itu tak bisa mewakili apapun kecuali hanya sekedar bualan kebahagiaan. Karena, Naura tahu persis bagaimana suaminya yang sudah banyak berubah.

Bahkan, ancamannya adalah perceraian, itupun jika dia bisa mengembalikan hutang keluarga mereka yang teramat besar jika akan dibayarkan.

”Sudahlah Bu, mungkin memang inilah jalan yang harus kulalui. Aku kehilangan cintaku, dan dia sakit hingga disebut gila. Sedangkan aku sekarang menerima penghakiman Tuhan sehingga aku harus menjalani nestapa sebagaimana aku menestapakan Adam dulu.”

Kini, Hasan dan Santi tak lagi bersuara kecuali keheningan yang tercipta.

Hari itu merupakan hari kesadaran dan mereka terpekur bersedih bersama dan saling menguatkan. Semuanya tak berdaya menghadapi takdir, menghadapi kenyataan bahwa mereka tertawan oleh musibah itu.

Naura dapat memahami perasaan orangtuanya, namun menjalani ujian ini memang terlalu berat dan dia kini merasakan betapa berat Adam menjalani siksaannya hingga bertahun-tahun menjadi pesakitan dan hanya bisa menangis di kamarnya. Dialah yang menghancurkan hidup Adam. Maka, pantas baginya juga untuk mendapatkan penghakiman Tuhan.

Dan. Naura akan menjalani penghakiman Tuhan ini dengan lapang dada.

***

Beberapa ratus meter dari toko bangunan (TB) Adam Barokah. Ada acara cukup megah karena itu adalah hari pernikahan seseorang.

Syarif menengok toko bangunan itu, semuanya lancar dan banyak konsumen yang datang karena barangnya lengkap. Toko Bangunan Adam Barokah itu cepat buka karena Syarif dan Fandi sebelumnya melihat ada barisan ruko yang mau dijual. Pemiliknya butuh uang, setelah kesepakatan akhirnya rumah itu dibeli dan direhab untuk menjadi toko bangunan seluruhnya.

Kelengkapan toko bangunan dibuat selengkap mungkin, dari barang yang kecil remeh dalam hal bangunan hingga yang besar dan mewah. Pembangunan di pasar dan di pelosok desa juga sudah sangat cepat sehingga toko bangunan seperti menempati peringkat atas pencarian pembelian seperti toko kelontong saja.

Pengelolaan dan standar dibuat maju dan modern, Fandi membantu banyak hingga mencarikan software modern dengan laporan yang benar serta membantu mencarikan karyawan yang baik sehingga pembeli akan betah nantinya jika membeli di toko bangunan itu.

Ada seorang yang membeli paku, dia lelaki tua. Syarif pun membantu karyawan dan menimbang paku untuk orang tua itu.

”Tidak ikut ke acara pernikahan dari anak Rodin itu Mas?” Lelaki tua itu melakukan obrolan basa-basi pada Syarif yang tengah memasukkan plastik sebelumnya, di double karena lelaki tua itu membeli paku cukup banyak.

”Memang pernikahannya siapa Pak? Sepertinya ramai dan mewah sekali?” Syarif jadi penasaran juga, Fandi yang juga berada di dekat mereka dan melakukan pengecekan pada penempatan barang ikut mendengarkan tanpa sengaja.

”Lha itu, si Sandi yang menggantikan Bapaknya mengurusi pabrik penggilingan sawit di ujung selatan pasar.”

”Ooo jadi si Sandi menikah,” Syarif seperti tidak menduga awalnya dan terkesan mengiyakan percakapan semata. Namun, tiba-tiba matanya langsung terbelalak dan mengingat memori lagi di kepalanya, ”Tunggu Pak, si Sandi yang memiliki pabrik penggilingan sawit, maksud saya yang dulu menikahi wanita bernama Naura?”

Syarif pun jadi penasaran, tak beda dengan Fandi yang agak jauh sambil mengecek barang. Naura? Benar, bukankah itu nama yang meninggalkan Adam? Fandi semakin penasaran, itu berkaitan dengan tugasnya dari nona Diandra agar memeriksa soal Naura.

Lelaki tua itu tersenyum menatap Syarif, ”Nah kamu tahu itu, iya dia menikah lagi dan ini pernikahan keduanya.”

Syarif pun mengucapkan terimakasih atas informasi lelaki tua itu. Dan, lelaki tua itu pamitan setelah membayar uang pada kasir. Syarif berdiri dan melihat arah kemana lelaki tua itu pergi. Perasaannya entah berbicara apa, namun dia menyadari bagaimana Naura dulu meninggalkan Adam begitu saja.

Di sisi lain, Fandi pun meminta izin keluar sebentar kepada Syarif dan meminta Syarif untuk terus memperbaiki kinerja toko bangunan itu. Syarif mengiyakan dan pak Fandi keluar untuk jalan-jalan. Misinya dimulai saja, bukankah mulai hari ini tugasnya cukup menegangkan untuk mengupas informasi seperti seorang detektif.

Kali ini, hanya data seorang wanita dan itu hanya orang biasa tentunya sambil santai pekerjaan itu juga akan terselesaikan.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!