Naura
18. Roda Takdir, Entah Kemana
Roda kehidupan terus berputar, detik berputar dan menit mengikutinya. Hari berganti hari dan kehidupan Diandra sudah normal seperti orang-orang lain. Dia kini mulai belajar membaca meskipun usianya kini seperti anak kuliah, namun dia tak henti ingin belajar.
Diandra kembali pada kehidupannya di kota besar. Dia seperti anak kecil yang ingin tahu segalanya, dia mengundang guru untuk privat di rumahnya. Dia belajar apa saja dan dia sangat cepat mempelajari sesuatu karena dia sangat senang ingin belajar. Orangtuanya mendukungnya untuk belajar apapun, terutama kemampuan berbahasa dan kemampuan teknologi.
Tetap saja, ada yang berbeda dari pasca kesembuhan mata dan kakinya. Diandra, setiap hari sabtu maka dia akan menunggu hari itu. Dia akan pergi ke desa pelosok, pergi hanya untuk berbincang dengan seorang lelaki desa yang masih pesakitan di sana, Adam namanya.
Kehidupan baru yang diperoleh oleh Diandra adalah dari sosok pemuda itu, dan dialah pemuda yang bisa membuatnya bahagia hidup di dunia ini. Entah kenapa, cinta begitu saja hadir dari ketakjubannya dan juga cinta begitu saja bersemi. Entah namanya apa cinta atau bukan bagi Diandra, Diandra merasa begitu nyaman berada di dekat Adam. Itu saja.
Dan, hari sabtu itu datang juga. Hari itu, Diandra pergi lagi ke kampung dimana Adam tinggal. Orangtuanya pun mengizinkan dengan syarat bahwa bi Jamilah dan Fandi ikut serta menemaninya dan menjaganya disana. Diandra setuju akan hal itu, dan dia pun pergi menggunakan pesawat seperti biasa dan ketika di bandara mereka menyewa sebuah mobil untuk mencapai rumah Adam.
Sudah berapa kali Ahad terlewati, Diandra akan betah menemani Adam di bawah pohon dan duduk di kursi kayu, di hadapan Danau Kenanga yang tetap indah. Di sisi lain, Fandi dan Syarif akan ngobrol bersama seperti biasanya. Bahkan, ada kemajuan pada Syarif soal mengelola uang yang dipercayakan Adam dan Ibunya padanya.
Syarif meminta izin pada bu Halimah soal uang yang didapatkan dari pengobatan orang yang datang. Bu Halimah terserah uang itu mau diapakan, dan jumlahnya juga sangat besar namun bu Halimah tak peduli akan hal itu. Halimah hanya memikirkan puteranya saja, soal uang mungkin suatu saat akan berguna untuk Adam. Maka, Syarif meminta izin untuk mengelola uang itu dengan membangun sebuah usaha di kota kecil yang dekat dengan rumah Adam.
Syarif setiap sabtu dan Ahad akan dibantu Fandi, Fandi sendiri selalu mengikuti Hamid yang merupakan bos beberapa perusahaan besar, dan 5 diantara usaha yang dikelola Ayah dari Diandra itu sudah masuk ke Bursa Efek Indonesia. Dari analisis yang dilakukan Syarif dan Fandi, mereka pun mempersiapkan usaha yang tepat untuk didirikan demi usaha ke depan bagi Adam nanti.
Usaha yang tepat untuk di kembangkan setelah melihat potensi kota tersebut adalah toko bangunan. Toko bangunan yang lengkap karena di tempat sekitar banyak pembangunan namun toko bangunan masih tak ada kecuali ada namun belum lengkap atau hanya sekedarnya. Hal itu diputuskan, uang yang dimiliki Adam dan Ibunya sungguh besar bahkan Miliaran jumlahnya, lebih dari 20 Miliar karena ada orang yang kaya berobat dan sembuh mereka memberikan uang yang sangat besar.
Persiapan dan segala macamnya sudah dikerjakan bersama dengan baik oleh Fandi dan langsung mengajari Syarif. Sabtu dan Ahad adalah hari khusus buat Syarif belajar bisnis langsung dari sumber bisnis karena Fandi sudah sangat paham dunia bisnis. Dari Fandi, Syarif belajar manajemen mencari pekerja dan mencari sumber bahan yang grosir besar dan tepat untuk usaha.
Fandi menggunakan waktu selain menjaga Nonanya juga dapat bermanfaat bagi orang lain dengan mengajari Syarif karena uang itu juga uang milik Adam. Untuk nama, Syarif konsultasi dengan bu Halimah dan didapatkan nama Toko Bangunan Adam Barokah atau TB Adam Barokah. Toko itu dipersiapkan oleh Syarif dan Fandi, hari senin sampai jumat, Syarif mempersiapkan segalanya stepnya sudah diajarkan oleh Fandi dan sabtu serta Ahad, Fandi akan memantaunya dan memperbaiki yang kurang benar.
Di sisi lain, Diandra lebih intens membuat sedikit perubahan pada diri Adam, perlahan namun pasti, Adam sering berbincang dengannya dan lebih sering menjawab ucapan dari Diandra. Seperti luka yang ketika diolesi obat ada perubahan, seperti itu juga batu sekeras apapun akan tetap luluh meski hanya dengan tetesan air yang terus-menerus.
Itu yang dipahami oleh Diandra. Kesabaran dan ketekunan bisa mengalahkan apapun, dia telah merasa ditolong dan ditarik dari kegelapan menuju cahaya, maka dia pasti bisa menolong Adam dari ketidakberdayaannya.
Selain itu, entah kenapa dia memang benar-benar ingin selalu berada dekat dengan Adam dan bahkan merasa hampa jika jauh darinya. Apakah itu akibat dari sumpahnya sendiri?
”Kau tak bosan Adam? Kau tak ingin membahagiakan Ibumu dan membuatnya bisa tersenyum? Kenapa kau melakukan ini Adam, kau tak layak bersedih sedangkan kau tak berdaya dan Ibumu selalu menangis untukmu. Setidaknya, kau jangan menyeret Ibumu dalam kesulitan dan bersedih Adam.”
Diandra mengatakan itu sambil menghembuskan napasnya perlahan, tak peduli apa yang didengar dan dirasakan Adam. Dia harus bisa membuat Adam berubah.
Diandra kembali sibuk dengan menatap air danau, tak berharap lebih pada kemajuan Adam tapi cukuplah bagi dia kalau Adam dapat mendengarnya dan suatu hari nanti dia akan sadar kembali. Lalu memutuskan, apakah dia benar mau menikahinya atau tidak, itu urusan nanti tentunya.
Tiba-tiba ada isak lembut yang terdengar, Diandra kaget mendengarnya. Ya, itu adalah suara isak lirih Adam. Dia terenyuh, sepertinya Diandra sudah bisa mengingatkan Adam. Biasanya di Danau Kenanga, Adam hanya akan tersenyum sepanjang hari dan ketika sudah berkata soal ibunya, Adam seperti luruh dan airmatanya menetes serta isak lirihnya terdengar.
Diandra merasa tak enak karena sudah menyinggung Adam, kedua tangan Adam juga bergerak menghapus airmatanya perlahan. Tangan itu amat ringkih terlihat, tulangnya menonjol sepertinya memang dia tidak mau makan kecuali Ibunya yang menyuapinya.
Tiba-tiba sesuatu benda bersandar di pundak Diandra begitu saja, itu adalah kepala Adam ya dia bersandar mungkin dia butuh sandaran kini dan menemukannya. Diandra merasa bahwa Adam mulai memperhatikannya dan Diandra pun membiarkan pundaknya menjadi sandaran bagi Adam.
Adam mengangkat tangan kanannya lurus ke danau, seolah dia hendak menjangkau seluruh danau tersebut. Tangannya itu bergerak berputar perlahan lalu tangan itu kembali terkulai ke bawah.
”Kumohon..., jangan tinggalkan aku...” ucapan lirih Adam itu didengar oleh Diandra, dia pun dapat merasakan kesedihan yang dirasakan Adam. Diandra pun tersenyum menatap langit, di belakang mereka bi Jamilah duduk di bawah pohon sedangkan Fandi dan Syarif seperti biasa pergi sebentar ke pasar di kota untuk cek lokasi dan akan datang lagi nanti setelah urusan mereka selesai.
Tentu saja, Diandra bahagia dengan perubahan yang terjadi pada Adam.
***
Hari pernikahan semakin dekat. Pernikahan kedua Sandi akan dilaksanakan minggu depan. Persiapan sudah dilakukan dan seminggu ini pula Sandi seolah membiarkan perasaan isterinya, Naura begitu saja. Dia tak peduli mendapat izin atau tidak, kini seolah cintanya pada Firla yang sangat cantik dan menggodanya.
Firla di satu sisi adalah wanita yang mampu membuatnya menjadi lelaki sejati, sedangkan Naura seolah wanita rumahan yang manut saja dan akhirnya Sandi memutuskan memiliki dua isteri tersebut merupakan kelengkapan bagi hidupnya.
Persiapan sudah matang tentunya, saat dia hendak keluar dari kamarnya itu Naura tiba-tiba menghentikannya dan memegang tangannya.
”Mas, tolong pertimbangkan lagi keputusan Mas Sandi ini. Naura janji akan melakukan apapun yang Mas inginkan. Aku akan menjadi seperti Firla aku bersedia dengan melakukan terapi kecantikan atau apapun itu. Tolong, jangan khianati cinta suci kita Mas. Mas harus...”
”Hentikan Naura! Kau pikir kamu siapa bagiku!” suara Sandi menggelegar mengisi ruangan kamar mereka itu.
”Apa maksud mas Sandi berkata seperti itu? Aku isterimu Mas,” Naura kaget dengan nada keras suaminya itu.
”Ingatlah, kau kunikahi karena hutang keluargamu. Saat itu, jika ayahku tak menolong keluargamu maka kalian akan menjadi gelandangan. Aku mencintamu Naura, tapi aku juga mencintai Firla sekarang. Dan apa yang aku inginkan sekarang adalah menikah dengan Firla juga. Titik!”
Petir di siang bolong kembali terjadi di hati Naura. Jadi, selama ini semuanya adalah dusta yang dilakukan oleh suaminya padanya. Dusta tentang janji dulu menikahinya akan mencintainya sepenuhnya tanpa ada embel-embel hutang, namun semuanya kini terungkap. Tak lain tak bukan, dirinya adalah tumbal hutang bagi Sandi.
Tak ada harga diri lagi pada diri Naura, nelangsa dia mengorbankan segalanya, cinta sejatinya hanya untuk dihancurkan sehancur-hancurnya oleh Sandi.
”Tapi Mas... semua bisa kita ubah. Kita menikah karena cinta, bukan karena hutang keluarga itu Mas.”
”Cukup sekali lagi cukup Naura! Jika kamu tetap tak mengizinkan aku menikah lagi dengan Firla kamu boleh mengajukan cerai padaku! Dan ingat, bayar hutang keluargamu dulu. Kurasa itu cukup dan sudahi cinta kita jika itu maumu Naura.”
Tak bisa berkata lagi, kecuali tangis pecah dan tubuhnya luruh menghantam keramik kamarnya. Hatinya hancur berkeping-keping sepertinya hancurnya gelas yang dihancurkan menghantam tembok dan berserakan di lantai. Sehancur itu pula hati Naura. Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Kini dia merupakan isteri Sandi dan juga kini dia telah memutuskan hidup bersamanya.
Kehancuran ini merupakan takdir untuknya. Naura menutup kedua matanya, tangisnya pecah dan airmata terurai begitu saja.
Ruangan itu hening dan hanya bersisa isak lirih Naura, dan suaminya Sandi sudah pergi entah kemana.