Naura

17. Tertawan dalam Cinta

Senyum Diandra merekah, wajah yang ditatapnya itu demikian menyejukkan bahkan lebih sejuk dari angin sepoi di Danau Kenanga tersebut. Meskipun pandangannya kosong menatap air di danau dan hanya tersenyum namun entah kenapa Diandra begitu menikmati melihat wajah tersebut.

”Kau bahagia Adam?”

Suara Diandra begitu lembut, wajahnya teramat dekat dengan wajah tirus Adam. Adam tak menjawab, hanya senyuman ekspresi jawabnya dan matanya yang berkedip semata.

”Hmm... Kau tak bosan Adam?”

Lagi-lagi, Diandra bertanya pada Adam dan dia tak peduli apakah Adam menjawabnya atau tidak. Dia seperti ingin membayar janjinya, bahwa dia akan menjadi orang yang akan membersamainya. Adam yang terluka cintanya dan dirinya yang bebas dari kegelapan dunianya.

Mungkin mereka berjodoh. Benar, Diandra yakin bahwa semua sudah diatur oleh Allah yang menciptakan dunia ini.

Tak peduli apapun, entah kenapa Diandra mulai menyukai lelaki kerempeng dan sakit itu. Malaikat yang membawanya untuk bisa melihat indahnya dunia.

Satu lagi. Diandra sudah berjanji untuk menemani Adam hingga sembuh dari sakit karena ketidakberdayaan cintanya.

”Adam...,” Diandra semangat dan duduk di sebelah Adam, ikut serta memandangi Danau Kenanga dan juga membuat imajinasinya kini berputar-putar. Dulu, saat masih tak bisa melihat imajinasinya adalah membayangkan apa yang didenarnya. Kini, dia membayangkan apa yang dipikirkannya dan mata yang melihat untuk mendeskripsikan.

Sekarang, gambaran imajinasinya terasa lengkap dan dia bisa membayangkan dengan baik saat melihat arakan awan yang bergerak dan berbentuk indah di langit sana.

”Tak apa kau tak menjawabku. Aku mungkin orang asing bagimu Adam, tapi kau seperti Tuhan dunia bagiku. Darimu juga, aku mendapatkan kehidupan yang baru yang penuh dengan warna dan cahaya. Hmm ...,” Diandra berkata seolah sendiri dan dia tak peduli, dia pun mendesah lagi.

Seperti sedang bicara sendiri, tak ada tanggapan dari Adam. Tapi, Diandra tak peduli dia hanya ingin bercerita dengan bebas, sebebas perasaannya yang kini sudah bisa menikmati indahnya pemandangan.

”Tapi, bagaimana dengan sumpahku saat aku akan berobat dengan airmatamu Adam. Aku bersumpah, kalau Aku akan menikah denganmu. Bagaimana kalau kita di masa depan menikah, apa kau akan membiarkanku bercerita seorang diri?”

Entah apakah Adam mendengarnya dari tadi atau bahkan tidak sama sekali. Diandra merasa nyaman bercerita apa saja.

Kaki Diandra bergoyang ke depan dan ke belakang bergantian sambil duduk di sebelah Adam. Dia sudah memahami kisah Adam, jadi dia tak terlalu berharap untuk setiap ucapannya akan dijawab oleh Adam. Meskipun, Ibunya juga bercerita bahwa Adam meskipun diam, dia sebenarnya mendengarkan apa yang orang katakan kepadanya.

”Adam ..., apakah kau tahu, selama ini aku hidup dalam kegelapan. Aku hanya mendengarkan cerita dan aku mengira bagaimana bentuk dari cerita tersebut. Kadang, Ibuku bercerita tentang manusia. Lalu, aku meraba diriku sendiri, seperti apa bentuknya manusia. Selama itu, Aku hanya memikirkannya dengan imajinasiku.

Lalu; binatang, langit, laut, awan, warna. Kini, aku bisa melihat semuanya. Semua ini berkat kamu Adam. Kau adalah penolong bagiku, kau seperti malaikat bagi kehidupanku.

Jika aku sembuh, maka kaupun harus sembuh. Aku akan membantumu sembuh, dan biarlah aku menikah denganmu, dengan demikian. Aku akan menjagamu dan membantumu untuk sembuh.”

Diandra seperti tidak memiliki malu. Itu semua adalah hal baru baginya. Dekat dengan seorang lelaki yang selama ini tidak pernah terbayangkan sama sekali. Bercerita dan bahkan berterus terang membuat Diandra meluapkan kebahagiaannya. Tak peduli apakah Adam akan menerimanya atau tidak.

Kisah panjang dan lebar Diandra yang berbicara sendiri itu, entah Adam mendengar atau tidak. Hal itu membuat kaget Syarif, dan tentu saja membuat kaget keluarganya yang berdiri agak jauh dari mereka. Mereka tak bisa berbuat banyak soal kebahagiaan Diandra, dialah yang menentukan kehidupannya sendiri.

Diandra terus saja berkisah dan semua orang mendengarnya dengan seksama dan tak berani menghentikan atau menahan ucapan Diandra. Dia tak peduli dan seolah sedang berbincang dengan santai dan tak peduli apapun.

Hingga, cukup lama tak ada suara, sebuah suara menghentikan ucapan demi ucapan Diandra.

”Tidak!”

Suara tegas itu dari suara parau Adam. Diandra terkaget mendengar suara Adam, ternyata dia mendengarkannya, seperti perkiraannya bahwa lelaki itu merasakan apa yang ada di sekitarnya. Hanya seolah, jiwanya terperangkap dan terbelenggu dalam ketidakberdayaan menghadapi cintanya.

”Adam hanya akan menikah dengan Naura. Itu adalah janji cinta,” suara lirih dari Adam itu dapat didengarkan oleh semua orang di sana.

Setelah mengucapkan kata itu, Adam kemudian tersenyum kembali dan menatap air yang mencipak karena hembusan semilir angin. Pandangannya hanya menyisa dan fokus kepada wajah yang sedang tersenyum dari khayalan Adam semata. Senyuman Naura yang begitu indah dan membuat bibirnya tersenyum dengan sendirinya.

Bukannya kecewa, Diandra malah merasa tertantang. Adam adalah lelaki yang menarik menurutnya. Cinta Adam adalah seperti lautan tanpa batas dan bukan karena ketidakberdayaan tapi karena besarnya cinta yang dimilikinya.

”Ayah..., Ayah dan Ibu pulang ke hotel dulu atau hendak pergi kemana. Diandra akan disini sebentar menemani Adam.”

Diandra tak mau mereka semua hanya terdiam disana dan mendengarkan dirinya bercerita seorang diri dan Adam yang tak peduli padanya. Jadi, dia berpikir untuk tidak membuat orangtanya sedih karena melihat anak mereka tidak dianggap oleh Adam.

Hamid mengerti apa yang diinginkan Diandra, dia pun mengiyakan, ”Baiklah Puteriku, nanti kami akan menjemputmu.”

Hamid menganggukkan kepalanya pada Isterinya, pertanda bahwa itu isyarat agar membiarkan Diandra melakukan apa yang diinginkannya. Namun, dia meminta Fandi menjaga Diandra dan memenuhi apa yang diinginkan Diandra. Hamid, Sarah dan bi Jamilah pun masuk mobil dan Hamid mengemudikan kendaraan dan meninggalkan mereka.

Di sisi lain, Fandi mencoba berakrab dan berbincang dengan Syarif di bawah pohon lainnya yang ada disana. Mereka terlibat obrolan yang seru dan saling berbicara sambil menunggu dua sejoli yang tengah duduk di bawah pohon, di kursi kayu dan keduanya tersenyum dengan imanjinasinya masing-masing menatap air Danau Kenanga.

”Kau terlalu dalam mencintai wanita yang bernama Naura itu Adam. Kau terperangkap dalam cinta semu. Hmm..., setidaknya itu yang sering aku dengar dari kisah-kisah cinta di buku yang dibacakan bi Jamilah ketika Ibuku pergi. Dan, kini aku baru mengetahui kenyataannya dengan melihat kisahmu.

Apakah kamu tidak ingin membuat kisah yang baru Adam? Apakah kamu tak ingin mencoba membuka lembaran baru seperti sebuah buku baru yang masih putih, lalu kau menuliskan kisahmu dengan baik?

Ah! Itu terserah padamu saja.”

Masih saja, Diandra tak peduli dan terus bercerita. Berharap Adam masih bisa mendengarnya dan akan tergugah motorik dalam pikirannya meskipun sedikit demi sedikit. Diandra jadi teringat kisah tentang batu yang kuat namun lama kelamaan akan bisa hancur dengan tetes demi tetes air yang terus jatuh di atas batu tersebut.

Diandra menganggap dirinya sedang bermain seperti bermain dengan boneka dan bicara sendiri. Ya, bisa dibilang Diandra menganggap Adam sebagai boneka itu sehingga dia tidak perlu merasa sedih ketika ucapannya tidak didengar dan tidak ditanggapi.

Bedanya, Adam mendengarkan dirinya hanya saja dia tidak bisa menjawab apapun pertanyaannya. Hal itu karena cinta yang terlalu dalam sudah merasuk hingga ke dasar hatinya. Cinta yang kuat telah membuat pikirannya dipenuhi oleh nama Naura. Naura, wanita yang sama sekali tidak terbayangkan oleh Diandra bagaimana wajahnya. Mungkinkah, wanita itu lebih cantik dari dirinya?

Tidak mungkin! Diandra menyanggahnya. Bukan karena dirinya sombong, tetapi karena kecantikan itu sebenarnya bukan yang membuat seseorang itu mencintai hingga sakit seperti Adam yang terluka karena cinta.

Cinta Adam kepada Naura adalah cinta yang bukan karena fisik. Diandra tahu akan hal itu, perasaannya yang dalam mampu menyelami bagaimana Adam mencintai Naura terlalu dalam.

Kenyamanan di dalam hati Adam saat bersama Naura itu yang dirasakan oleh Diandar membuat Adam begitu mencintai Naura dengan sangat.

”Cintamu pada Naura memang bukan karena dunia dan kecantikan. Aku bisa menyelami apa yang kamu rasakan, Adam. Cinta yang tulus dan hatimu merasa bahwa kebahagiaan sejatimu ada pada Naura.

Cinta itulah yang telah membunuhmu karena perasaanmu yang menganggap bahwa kebahagiaanmu hanya terletak pada Naura. Kamu hanya belum membuka hatimu pada hal lainnya. Kedalaman cintamu yang membuatmu terperosok terlalu dalam di jurang cinta. Aku yakin, ada waktu dimana kamu akan bangkit dari ketidakberdayaanmu terhadap cinta. Kamu akan bangkit dan membuka mata dan hatimu, bahwa sesungguhnya Tuhan adalah cinta sesungguhnya. Sedangkan kita semua, manusia hanyalah makhluk yang lemah dan tidak berdaya.”

Diandra masih sabar dan tak peduli, apakah ucapannya dipahami oleh Adam atau tidak. Namun, matanya tertawan oleh sebuah hewan yang terbang dan memiliki sayap berwarna-warni. Hewan itu hinggap pada bunga di dekat mereka yang berada di dekat danau.

Hewan itu masih mengepakkan sayapnya yang indah meskipun dia berdiri dengan kaki-kakinya pada bunga tersebut. Bunga itu demikian indah, dengan kelopak yang banyak jumlahnya dan warnanya pun sempurna tertimpa hijau dedaunan rumput itu. Hal itu memaksa Diandra untuk bangkit dari duduknya.

Dia mendekati hewan itu, itu pasti kupu-kupu. Benar, itu pasti kupu-kupu, begitu Diandra meyakinkan dirinya. Dia pun duduk di sebelah kupu-kupu itu, sayapnya mengepak pelan meskipun dia tengah berada di bunga yang mekar. Kedua sungutnya bergerak-gerak, dia seperti sedang makan. Begitukah cara kupu-kupu makan, mereka memakan bunga?

Diandra tertawa kecil, ditimpali sinar matahari senyumnya itu seperti senyumnya bidadari.

Kupu-kupu itu seperti kaget dengan manusia di dekatnya, dia pun terbang keatas. Diandara tak bisa diam, dia mengikuti kupu-kupu itu terbang, dia terus mengikutinya kesana kemari dan bahkan mengelilingi pohon dan kursi diman Adam tengah duduk dan Adam tetap diam saja dalam duduknya.

Diandara kelelahan mengikuti kupu-kupu yang terbang itu, Kupu itu pun terbang menjauh hingga. Diandra membiarkan kupu-kupu itu pergi, dia pun melambaikan tangannya kearah kupu-kupu itu terbang sambil mengucapkan selamat tinggal.

Diandra agak kelelehan, dia pun duduk kembali di sebelah Adam. Napasnya sengal satu satu agak cepat sambil menghembuskan napasnya kuat dan dia tersenyum karena saking bahagianya melihat dan mengejar kupu-kupu tadi.

”Kamu pasti sangat bahagia Nona?”

Suara itu membuat Diandra kaget, ya itu suara Adam tapi dia tak melihatnya namun matanya masih kosong melihat air danau. Diandra pun tersenyum dan pandangannya kembali lurus ke depan di air danau. Sinar matahari menimpali air danau tersebut, pantulannya sedikit memias wajah mereka berdua.

Takdir sedang terjadi pada mereka, tulisan takdir itu yang mempertemukan mereka dengan jalan yang aneh dan ajaib. Seperti kehidupan itu sendiri yang memang sejak awal penuh keajaiban.

***

Dalam lamunannya yang melihat air yang berkilau karena timpahan sinar matahari, membias silau meski sedikit. Saat matanya mengimajinasikan wajah Naura di air bening Danau Kenanga, sosok wanita lain yang ceria tengah berlari mengelilinginya  mengejar kupu-kupu.

Diantara ketidakberdayaan dirinya dan kehancuran hati dan jiwanya. Ada wanita yang perhatian padanya. Diandra namanya, iya Adam mencoba mengingatnya tentang wanita itu yang meminta keikhlasan untuk menerima airmatanya.

Wanita itu amat sopan sehingga dialah satu-satunya orang yang ingin menggunakan airmatanya sebagai obat namun harus meminta izin langsung padanya dengan mengharpkan keikhlasannya. Wanita itu kini mengejar kupu-kupu, keindahan kupu-kupu yang ditimpali semburat sinar matahari masih tak kuasa mengalahkan wajah pualam milik Diandra.

Jika dibandingkan dengan wajah Naura, Diandra masih lebih cantik dari sisi keindahan wajah. Namun, Naura sudah menempati seluruh hati dan jiwa Adam. Saat Diandra meliwati pandangan lurus Adam, Adam memperhatikan wajah ceria dan bening tanpa noda itu. Wajah yang jika dilukiskan seperti bidadari bermata lentik yang turun ke bumi.

Apakah ini obat dari Allah untuk Adam yang telah sekian lama bertahan dalam rasa sakit dan ketidakberdayaan terhadap tubuhnya sendiri?

Adam masih tak mengerti. Tubuhnya seolah terkunci dengan semua hal bernama Naura, demikian inginnya dia ingin sadar dari belenggu cinta itu. Namun, seolah ada dinding tebal yang menutupi seluruh pergerakan tubuhnya.

Dia benar-benar terpenjara.

Namun, semenjak wanita itu, Diandra berada dalam pandangannya. Seolah, salah satu rantai pengekang tubuhnya ada yang lepas. Dia merasa ada harapan bagi ketidakberdayaannya.

Namun tetap saja, Naura menempati seluruh jiwanya. Janjinya pada Naura, janji yang disaksikan Tuhan. Bahwa, Adam tidak akan pernah menikah kecuali dengan Naura karena Adam tercipta untuk Naura.

***

”Naura, kamu lihat bunga indah ini?” Adam memetik bunga yang ada di pinggir Danau Kenanga dan mendekatkannya pada Naura.

”Jangan dipetik Adam, kamu akan merusaknya,” Naura seperti tak terima.

Adam pun tersenyum menatap bunga itu, ”Naura, dalam cinta itu ada pengorbanan. Tanpa pengorbanan cinta itu tak ada nilainya. Seperti kupu-kupu, dia harus berjuang berpuasa menjadi kepompong untuk bisa berubah menjadi kupu-kupu. Oleh karena itu,” Adam menatap Naura, ”Aku siap berkorban apapun untuk dapat mencintaimu selamanya.”

Naura tersipu malu, ”Jangan katakan hal seperti itu Adam. Kamu membuatku malu.”

Keduanya sama-sama tersipu malu. Matahari menimpali mereka dengan sinar hangatnya di hari Ahad itu.

Adam kembali duduk di dekat Naura, ”Naura, kamu tahu dunia ini jika dikumpulkan menjadi seikat bunga maka hal itu tetap tak bisa mengalahkan keindahan wajahmu Naura.”

”Adam!” Naura menjerit dan memukul bahu kiri Adam. Adam pun tertawa dan kemudian tersenyum menatap air danau kembali.

Keduanya lalu kembali menatap air Danau. Naura masih tersipu malu dan Adam masih tersenyum bahagia.

”Adam, maukah kamu berjanji untukku?” Naura memberanikan diri berkat pada Adam.

”Katakanlah Naura, aku akan menyanggupinya untukmu,” Adam masih menatap danau.

”Simpanlah namaku di dalam hatimu selamanya Adam, jangan pernah lupakan aku Adam meskipun apapun yang terjadi.”

Hening tercipta, Adam pun mengangguk meski tak menatap Naura, ”Aku janji Naura. Adam hanya tercipta untuk Naura, dan dia tak akan menikah dengan siapapun kecuali Naura. Itu sumpahku Naura!”

Sejak itulah, Adam seperti tersihir dengan nama Naura hingga Naura meninggalkannya sekalipun. Meski Naura berubah seperti apapun, Adam tetaplah bertahan dengan janjinya, meskipun pengkhianatan itu sakit baginya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!