Mirna dan Kopi Motivasi

Ide Brilian, Apa yang Dia Bawa?

Seorang lelaki berjalan lunglai, dia merasa hidupnya sudah hancur karena dia baru saja dipecat dari pekerjaannya. Bukan karena dia tidak bisa bekerja dengan baik, tapi perusahaan mengalami defisit karena krisis ekonomi yang semakin menggila. Ekonomi seperti lumpuh dan banyak perusahaan harus melakukan PHK masal pada karyawannya.

Dan, termasuk Daru. Daru Mulyono, dia baru saja dipecat dari perusahaannya. Dia hanya mendapatkan pesangon tiga kali gaji dan selanjutnya, dia akan menyandang gelar sebagai pengangguran.

Susah sekali hidup di zaman sekarang, ya Allah!

Batin Daru menjerit. Mencari pekerjaan sudah sangat sulit, apalagi sekarang dia baru saja dipecat. Bagaimana dia harus melanjutkan hidupnya yang baru di kota ini? Dia teringat kampung halamannya. Apa dia harus pulang saja? Sedangkan, di kampung Daru. Dia tak memiliki lahan dan daerah perkebunan yang sangat sepi dari keramaian.

Karena semangat yang tinggi, Daru merajut asa kuliah di Manajemen Bisnis hingga meraih gelar sarjana. Namun pada akhirnya, dengan keahliannya tersebut. Dia tak bisa melakukan apapun di kampung halamannya yang sepi. Bahkan, internet belum masuk di perkebunan tempatnya. Daru hanya berharap, suatu hari mendapatkan pekerjaan yang layak dan dapat mengirimi uang untuk kedua orangtuanya.

Jika perlu, Daru ingin mengajak kedua orangtuanya bersamanya ke kota dan meninggalkan kampung halamannya. Karena sebenarnya, tanah yang ditempati kedua orangtuanya adalah tanah plasma karena mengelola perkebunan milik PT. Dan, itu bukan hak milik keluarga Daru sehingga mereka tidak memiliki hak apapun disana.

Namun, apalah daya. Semua itu hanya menjadi impian yang sulit untuk dilakukan oleh Daru. Dia selalu berusaha menjadi yang terbaik, tapi pada akhirnya hal itu sangat berat dirasakan oleh Daru.

Hidup itu tidak semudah mereka yang memiliki kekuatan, baik itu kekuatan materi maupun kekuatan jabatan. Mungkin, dunia saat ini selalu berpihak baik pada mereka yang memiliki hal itu. Sedangkan, bagi mereka yang tidak memiliki link dan uang. Mereka harus terseok-seok bahkan sekedar untuk biaya hidup.

Ya Allah, meskipun zaman ini sulit. Daru ingin berusaha hidup dengan baik dan tidak menggunakan cara-cara yang kotor untuk mendapatkan rizki. Aamiin.

Hanya itu modal yang dimiliki oleh Daru untuk bertahan hidup.

Daru melangkahkan kakinya dengan sangat berat, hal itu karena tekanan berat dalam pundaknya. Apa yang harus dilakukannya saat ini.

Saat berjalan, dia melihat sebuah kafe di pinggir jalan. Ramai sekali, itu adalah kafe kopi yang terlihat ramai. Tentu saja, pasti pemiliknya orang yang memiliki pendapatan cukup tinggi, hal itu karena tempat kafe itu terlihat ramai. Isinya kebanyakan para pemuda dan pemuda, mereka semua menikmati kopi yang dipesannya sambil tersenyum bahagia.

Apakah hidup bahagia sesederhana itu?

Daripada kepala Daru semakin berat, dia memutuskan untuk masuk dalam kafe tersebut. Dia sering lewat di sana, tapi baru pertama kali ini memasuki kafe tersebut. Setidaknya, dia ingin minum kopi untuk menenangkan pikirannya yang galau.

Daru masuk dan ada tempat kosong satu, semuanya sudah penuh. Dia memesan di kasir, kopi hitam ditambah dengan capucino. Dia kembali duduk dan menunggu kopinya, setelah dia melihat semua keramaian para pemuda. Hilir mudik bergantian datang, dan ada satu hal yang dilihatnya.

Kafe itu menyediakan wifi gratis, ada beberapa kelompok pemuda, sepertinya mereka mahasiswa. Mereka membawa laptop dan sedang mengerjakan tugas bersama. Di sana juga tertulis, bahwa wifi gratis untuk siapapun dan memblokir dengan pencarian hal-hal berbau pornografi dan juga perjudian, atau hal buruk lainnya.

Jadi, banyak juga mereka yang menggunakan wifi gratis untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.

”Kopinya, Kak!” seorang wanita berhijab, membawa kopi untuk Daru.

”Terima kasih,” jawab Daru.

Dia menyeruput kopinya setelah agak lama, dan ...

Splash!

Pikirannya seperti terbuka dengan baik, kopi itu nikmat. Kafe ini sangat baik, kenapa baru kali ini dia mampir kesini. Ternyata, kopinya membut pikirannya menjadi sedikit lebih jernih. Setelah agak lama, Daru  membayar kopinya. Kopinya terbilang murah, Daru membayar di admin senilai sepuluh ribu rupiah.

Daru pergi dari kafe tersebut, dan melewati seorang pengemis di pinggir jalan. Seorang ibu tua, nasib Daru masih jauh lebih baik dari wanita pengemis tua yang duduk di trotoar jalan tersebut. Hidup hanya butuh bersyukur.

Daru mengeluarkan dompetnya, ada uang di dompetnya. Dia berpikir untuk memberikan uang sedikit lebih banyak pada wanita tua itu. Kebaikan hanya dibalas Allah dengan kebaikan, saat dia akan menyerahkan uang itu pada pengemis. Tangannya berhenti, tepat saat tangan wanita tua itu hendak menerima uang lima puluh ribu milik Daru.

Pikiran Daru tiba-tiba memikirkan ide kreatif!

Daru tersenyum pada wanita tua itu, ”Tunggu sebentar Nenek, aku akan kembali!” kata Daru.

Wanita pengemis itu melihat Daru pergi, dia bergumam. Hampir saja mendapatkan uang lima puluh ribu, dia hanya pelit. Begitu pikir wanita pengemis tua, dia berpikir pasti pemuda itu kaget ketika melihat uang yang akan diberikan terlalu besar. Makanya dia menarik kembali uang itu setelah menyadarinya.

Matahari semakin panas, pengemis tua menutupi bagian keningnya dengan topinya. Dia memiringkan ke kanan agar matahari tak menyengat matanya secara langsung.

”Nenek!”

Pengemis tua kaget dan melihat ke depan, lelaki sebelumnya! Dia membawa sesuatu box yang cukup besar dibawa dengan kedua tangannya.

Apa yang dia bawa?

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!