Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Akademi yang Mulai Bertumbuh

Seminggu telah berlalu sejak peresmian akademi, dan keriuhan di lintasan desa mulai menemukan ritmenya. Namun, di antara lima puluh pasang kaki yang berderap setiap sore, ada satu pasang kaki yang mencuri perhatian Tegar. Bukan karena kecepatannya yang fenomenal—meski ia memang cepat—melainkan karena bunyi seretan alas kakinya yang berbeda.

Namanya Gani, bocah kelas lima SD dari pelosok Desa Sukamaju. Gani selalu datang paling awal, bahkan sebelum Tulus mengeluarkan tiang pembatas. Ia mengenakan jersey merah kebanggaan akademi, namun di bawahnya, ia memakai sepatu kets kain yang bagian depannya sudah menganga seperti mulut buaya, diikat paksa dengan karet gelang agar tidak lepas saat berlari.

"Gani, kemari sebentar," panggil Tegar dari pinggir lintasan saat sesi pemanasan berakhir.

Bocah itu menghampiri dengan nafas terengah-engah, wajahnya yang legam terbakar matahari tampak ragu. "Iya, Kak Tegar? Apa lari saya salah lagi?"

Tegar menggeleng, lalu matanya turun ke arah sepatu Gani yang kotor oleh debu tanah. "Sepatumu itu... apa tidak sakit kalau dipakai lari sprint?"

Gani menarik kakinya sedikit ke belakang, mencoba menyembunyikan lubang di ujung sepatunya. "Tidak kok, Kak. Malah enak, ada ventilasinya," candanya dengan tawa getir yang dipaksakan. "Hanya saja, kalau tikungan tajam, jempol saya suka keluar sedikit."

Tulus yang baru saja selesai memberikan instruksi pada kelompok lain, mendekat dan ikut memperhatikan. Ia berjongkok di depan Gani, memegang sepatu itu pelan. Hati Tulus mencelos. Ia teringat dirinya sepuluh tahun lalu—berlari tanpa alas kaki hingga telapaknya kapalan dan berdarah, menganggap sepatu adalah barang mewah yang hanya ada di mimpi.

"Bapakmu kerja apa, Gani?" tanya Tulus lembut.

"Bapak buruh panggul kelapa di pasar, Kak. Ibu jualan gorengan di depan sekolah," jawab Gani jujur. "Bapak bilang, kalau panen kelapa bagus bulan depan, saya mau dibelikan sepatu baru. Tapi untuk sekarang, yang ini masih bisa dipakai kok."

Tegar dan Tulus saling lirik. Mereka tahu persis bahwa untuk pelari berbakat seperti Gani, sepatu yang salah bukan hanya soal kenyamanan, tapi soal risiko cedera permanen. Gani punya stride (langkah) yang lebar dan pendaratan kaki yang sangat efisien, sebuah bakat alami yang jarang ditemukan.

Sore itu, setelah latihan usai dan anak-anak lain pulang, Tulus tidak langsung kembali ke rumah. Ia mengajak Revan pergi ke kota kabupaten, menempuh perjalanan satu jam dengan mobil.

"Kita cari yang paling bagus, Van. Tapi jangan yang modelnya terlalu mencolok. Aku tidak ingin dia merasa rendah diri di depan teman-temannya karena barang mahal," ujar Tulus saat mereka memasuki toko perlengkapan olahraga.

Revan mengangguk, ia mengerti maksud Tulus. "Kita cari yang fungsional. Bantalan yang kuat untuk melindungi tumitnya. Anak itu punya explosive power yang luar biasa, kalau sepatunya tidak mendukung, lututnya bisa kena."

Mereka akhirnya memilih sepasang sepatu lari berwarna biru gelap dengan teknologi cushioning terbaru. Tulus juga membeli beberapa pasang kaos kaki atletik yang tebal. Namun, mereka tidak ingin memberikan barang itu begitu saja sebagai "hadiah kasihan".

"Kita harus buat dia merasa bahwa dia mendapatkan ini karena usahanya," saran Tegar lewat sambungan telepon saat Tulus bertanya bagaimana cara memberikannya.

Keesokan harinya, di akhir sesi latihan, Tegar mengumpulkan semua anak. Suasana sore itu sedikit mendung, namun semangat anak-anak tidak surut.

"Anak-anak, hari ini Kakak punya tantangan khusus," seru Tegar sambil memegang sebuah kotak yang dibungkus kertas cokelat biasa. "Ini bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling disiplin menjaga kebersihan lintasan dan paling rajin datang paling awal selama seminggu ini."

Anak-anak saling berbisik. Gani hanya berdiri di barisan belakang, tidak berharap banyak. Baginya, bisa memakai jersey merah dan dilatih Tulus saja sudah merupakan anugerah.

"Penghargaan 'Atlet Teladan Minggu Ini' jatuh kepada... Gani dari kelompok B!"

Gani tertegun. Teman-temannya bersorak dan mendorongnya maju ke depan. Dengan tangan gemetar, ia menerima kotak itu.

"Buka sekarang, Gani," ujar Tulus sambil menepuk bahunya.

Saat tutup kotak dibuka, mata Gani membulat. Aroma sepatu baru yang khas menyeruak keluar. Ia menyentuh permukaan sepatu itu dengan ujung jarinya, seolah takut barang itu akan menguap jika disentuh terlalu keras.

"Ini... untuk saya, Kak?" suara Gani bergetar.

"Itu upah kedisiplinanmu, Gani. Sepatu itu punya 'sayap'. Kalau kamu rajin berlatih, dia akan membawamu terbang melewati garis finis," kata Tegar dengan senyum hangat.

Tanpa membuang waktu, Gani melepas sepatu "mulut buaya"-nya dan memakai sepatu biru itu. Pas sekali. Saat ia berdiri dan mencoba melompat kecil, wajahnya berubah menjadi sangat cerah. "Wah! Rasanya seperti menginjak awan, Kak!"

Namun, kejutan tidak berhenti di situ. Sore itu, Bapak dan Ibu Gani datang ke lintasan dengan motor tua mereka. Ternyata Tulus diam-diam sudah mengundang mereka.

"Pak, Bu," Tulus menghampiri orang tua Gani yang tampak sungkan berdiri di pinggir lintasan. "Gani punya bakat yang sangat langka. Kami ingin meminta izin, bolehkah Gani kami masukkan ke program intensif? Kami akan menjamin semua perlengkapan dan nutrisinya."

Bapak Gani, seorang pria dengan tangan kasar penuh kapalan, memandang anaknya yang sedang berlari-lari kecil dengan sepatu barunya di lintasan. Mata pria itu berkaca-kaca. "Mas Tulus... kami ini orang kecil. Kami tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan Mas."

"Bapak tidak perlu membalas apa-apa," sahut Tegar yang mendekat dengan kursi rodanya. "Melihat Gani berlari dengan kepala tegak adalah balasan yang lebih dari cukup bagi kami. Kami hanya ingin dia punya kesempatan yang sama dengan anak-anak di kota."

Ibu Gani hanya bisa menyeka air matanya dengan ujung kerudung. Suasana haru itu merambat ke warga lain yang masih menonton. Mereka sadar bahwa akademi ini bukan sekadar tempat latihan lari, tapi merupakan jembatan bagi anak-anak desa untuk menyeberangi jurang keterbatasan ekonomi.

Malam itu, saat perjalanan pulang, Tulus mendorong kursi roda Tegar menyusuri jalan setapak di antara sawah.

"Kak, ingat tidak waktu aku pertama kali dapat sepatu lari dari Kakak dulu?" tanya Tulus memecah keheningan.

Tegar tertawa kecil. "Ingat. Kamu memakainya tidur selama tiga hari karena takut sepatu itu hilang."

"Rasanya sama, Kak. Melihat Gani tadi, aku seperti melihat diriku sendiri yang baru saja diberi harapan," ujar Tulus pelan. "Ternyata benar kata Kakak, memberi jalan bagi orang lain itu rasanya jauh lebih manis daripada memenangkan medali emas untuk diri sendiri."

Di langit Desa, bintang-bintang tampak bersinar lebih terang malam itu. Di sebuah rumah kecil di pelosok desa sebelah, seorang bocah bernama Gani tidur dengan sepatu biru diletakkan tepat di samping bantalnya, bermimpi tentang lintasan besar dan bendera merah putih yang berkibar.

Satu lagi benih telah ditanam, dan di bawah bimbingan Tegar dan Tulus, benih itu mulai menumbuhkan sayapnya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!