Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Menolak Kendali dari Luar

Pagi itu, ketenangan Desa Bojong Kenanga terus terusik oleh suara mesin kendaraan yang tidak biasa. Bukan hanya motor bebek warga, melainkan mobil-mobil SUV hitam mengkilap dengan pelat nomor ibu kota yang mulai berderet di sepanjang bahu jalan menuju lintasan desa. Di kaca depan salah satu mobil, tertempel stiker logo stasiun televisi nasional yang cukup ternama.

"Tulus, sepertinya kita harus mulai membiasakan diri dengan lampu kamera," gumam Revan sambil menyesap kopi di teras rumah. Ia menunjuk ke arah gerbang lintasan di mana beberapa kru sedang menurunkan tripod besar dan kabel-kabel hitam yang melingkar.

Berita tentang "Akademi Tunas Desa"—tentang anak-anak berbaju merah yang berlari di tengah sawah, tentang sepatu baru Gani, dan tentang dua bersaudara yang kembali ke akar—telah menjadi viral di media sosial. Video amatir yang direkam warga saat latihan perdana telah ditonton jutaan kali, memicu gelombang kekaguman dari seluruh penjuru negeri.

Tegar keluar dari pintu rumah, mendorong kursi rodanya dengan wajah yang sedikit tegang. Di pangkuannya, terdapat tumpukan map dan beberapa kartu nama yang ia terima sejak kemarin sore. "Ini bukan cuma media, Van. Ini adalah gelombang 'kesempatan' yang datang bersamaan dengan kepentingan."

Di lintasan, suasana latihan sore itu terasa berbeda. Anak-anak tampak sedikit canggung karena setiap gerakan mereka kini dibidik oleh lensa kamera. Gani, yang kini sudah lincah dengan sepatu birunya, sesekali melirik ke arah wartawan yang mencoba mewawancarainya di pinggir lapangan.

"Ayo, fokus! Jangan lihat kamera! Kamera tidak akan membantumu di garis finis!" teriak Tulus, mencoba mengembalikan konsentrasi anak-anak didiknya.

Setelah sesi latihan usai, seorang pria berpakaian rapi dengan jam tangan emas yang mencolok menghampiri Tegar. Ia memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari sebuah perusahaan investasi olahraga besar di Jakarta.

"Mas Tegar, kami sudah melihat potensi akademi ini. Luar biasa. Kami ingin menawarkan kerjasama strategis," ujar pria itu sambil menyodorkan sebuah dokumen tebal bersampul kulit. "Kami siap menyulap lintasan desa ini menjadi stadion mini bertaraf internasional. Kami juga akan menyediakan asrama atlet, tim medis khusus, dan kontrak eksklusif untuk anak-anak berbakat di sini."

Tegar menerima dokumen itu, membolak-baliknya sebentar, lalu menatap pria itu dengan tenang. "Syaratnya apa, Pak?"

Pria itu tersenyum diplomatis. "Tentu saja, kami akan mengelola manajemennya secara profesional. Nama akademinya akan berubah menjadi nama perusahaan kami. Kami juga yang akan menentukan siapa saja yang boleh masuk ke sini melalui sistem seleksi ketat yang kami buat. Kita akan komersialkan ini, Mas. Bayangkan berapa banyak sponsor yang akan masuk."

Tegar menutup dokumen itu perlahan dan meletakkannya kembali di meja kayu kecil di samping kursi rodanya. "Terima kasih atas tawarannya, Pak. Tapi jawaban saya adalah tidak."

Pria itu tertegun, senyumnya sedikit memudar. "Maaf? Anda menolak dana miliaran rupiah? Dengan uang ini, Mas Tegar bisa membeli peralatan tercanggih dan tidak perlu lagi repot-repot menggalang dana sendiri."

"Masalahnya bukan di uangnya, Pak," sahut Tegar tegas. "Akademi ini didirikan untuk anak-anak yang selama ini tidak punya 'jalan'. Kalau Bapak menerapkan seleksi ketat dan mengomersialkan tempat ini, anak-anak seperti Gani yang ayahnya buruh panggul tidak akan pernah bisa masuk. Tempat ini akan berubah menjadi klub eksklusif untuk anak-anak orang kaya yang sanggup membayar iuran bulanan. Dan itu adalah pengkhianatan terhadap alasan awal saya membangun ini."

Penolakan Tegar tidak berhenti di situ. Sepanjang sore, ia bergantian menemui beberapa perwakilan investor lain. Ada yang ingin menjadikan akademi sebagai konten reality show, ada yang ingin memonopoli hak siar latihan harian, hingga perusahaan perlengkapan olahraga yang ingin mengganti semua jersey merah dengan merk mereka secara paksa.

Satu per satu, Tegar menolak mereka dengan sopan namun tanpa kompromi.

"Tegar, kamu yakin?" tanya Revan saat mereka duduk di teras setelah para tamu itu pulang dengan wajah kecewa. "Beberapa tawaran tadi sebenarnya bisa sangat membantu operasional kita dalam jangka panjang."

Tegar memandang ke arah lintasan yang kini mulai sunyi. "Van, kalau kita menerima uang mereka, kita kehilangan kendali. Mereka akan menuntut prestasi instan. Mereka akan mengatur jam latihan anak-anak hanya untuk keperluan promosi. Aku tidak ingin akademi ini menjadi sirkus. Aku ingin ini tetap menjadi rumah bagi mimpi-mimpi yang jujur."

Tulus yang sedari tadi mendengarkan sambil duduk di tangga teras, mengangguk mantap. "Aku setuju sama Kak Tegar. Kita sudah pernah merasakan bagaimana rasanya ditekan oleh sistem yang hanya peduli pada hasil. Aku tidak mau anak-anak itu merasakan hal yang sama. Biarkan mereka berlari karena mereka suka, bukan karena mereka dikejar target investor."

Ibu keluar membawa sepiring singkong rebus hangat. Ia telah mendengar sebagian pembicaraan mereka dari balik jendela. Wajahnya tampak tenang, tidak ada sedikit pun gurat kekecewaan karena anak-anaknya menolak tumpukan uang.

"Ibu senang kalian tidak silau," ujar Ibu sambil meletakkan piring itu. "Dulu kita hidup susah, tapi kita tetap rukun karena kita punya prinsip. Kalau kalian ambil uang itu dan kehilangan jati diri kalian, Ibu justru yang paling sedih. Medali emas yang paling berharga itu adalah kejujuran kalian sendiri."

Bapak yang baru pulang dari sawah, duduk bergabung. Ia mengambil sepotong singkong. "Tadi di jalan, Bapak ketemu Pak RT. Katanya ada orang kota yang menawari uang untuk menyewa lahan sawah kita buat parkiran stadion mereka. Bapak bilang, sawah itu untuk menanam padi, bukan untuk menanam mobil. Kita ini petani mimpi, bukan pedagang mimpi."

Mereka semua tertawa mendengar analogi Bapak. Suasana kembali menghangat, jauh dari ketegangan negosiasi bisnis yang sempat terjadi sore tadi.

Malam itu, berita tentang penolakan Tegar terhadap investor besar justru menjadi kabar yang lebih viral lagi. Publik terbelah; ada yang menyebut Tegar bodoh karena menyia-nyiakan kesempatan, namun jauh lebih banyak yang memberikan dukungan moral.

Di sebuah warung kopi di desa sebelah, para bapak yang anaknya berlatih di akademi berkumpul. Mereka merasa lega. "Untung Mas Tegar tidak terima uang itu. Saya sempat takut kalau nanti anak saya disuruh bayar mahal kalau ikut latihan," ujar salah satu warga.

Esok paginya, kejutan lain datang. Bukan dari investor kaya, melainkan dari warga desa sendiri. Satu per satu warga datang membawa sumbangan seadanya. Ada yang membawa sekarung beras untuk konsumsi latihan, ada yang menyumbangkan beberapa pasang sepatu bekas layak pakai, hingga tukang kayu desa yang menawarkan diri memperbaiki pagar lintasan secara cuma-cuma.

"Ini sumbangan dari kami, Mas Tegar. Kecil memang, tapi ini dari hati. Kami ingin akademi ini tetap milik desa kita, bukan milik perusahaan mana pun," kata salah satu perwakilan warga.

Tegar merasa matanya panas karena haru. Ia memandang Tulus dan Revan yang berdiri di belakangnya. Ternyata, dengan menolak intervensi luar, mereka justru mendapatkan dukungan yang jauh lebih kuat dari dalam.

"Inilah modal kita yang sebenarnya, Lus," bisik Tegar. "Solidaritas."

Di bawah langit yang cerah, latihan kembali dimulai. Tanpa lampu kamera yang berlebihan, tanpa logo perusahaan besar di dada. Hanya anak-anak berbaju merah yang berlari mengejar bayang-bayang mereka sendiri di atas tanah desa. Mereka berlari dengan ringan, tanpa beban harus memuaskan investor manapun. Karena di sini, bakat dan kejujuran tetap menjadi hal yang utama, persis seperti yang selalu ditegaskan oleh Tegar dan Tulus sejak hari pertama aspal desa berganti menjadi tartan.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!