Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Akademi Tunas Desa

Sabtu pagi itu, desa tidak lagi terbangun hanya oleh kokok ayam atau deru mesin traktor. Sejak pukul lima subuh, keriuhan sudah pecah di sepanjang jalan menuju lintasan atletik desa yang baru saja selesai direnovasi. Bukan keriuhan pasar, melainkan suara tawa dan derap langkah kecil yang tak sabar.

Di teras rumah kayu, Tulus sedang sibuk membantu Tegar merapikan tumpukan jersey berbahan dry-fit yang baru tiba semalam. Revan benar-benar menepati janjinya. Kaos-kaos itu berwarna merah menyala dengan garis putih di bahu—warna yang melambangkan keberanian dan kesucian tekad. Di dada kiri, terdapat logo kecil bergambar siluet orang berlari dengan tulisan sederhana: Akademi Tunas Desa.

"Van, ini terlalu bagus untuk ukuran latihan di desa," gumam Tulus sambil mengelus kain jersey yang halus.

Revan, yang matanya tampak sedikit merah karena kurang tidur—ia sendiri yang mengawal pengiriman jersey ini dari kota—hanya menyeringai. "Anak-anak itu butuh identitas, Lus. Kalau mereka merasa seperti atlet profesional, mental mereka akan ikut terbangun. Percayalah, pakaian itu pengaruhnya besar bagi kepercayaan diri bocah-bocah itu."

Tegar mengangguk setuju sambil memasukkan daftar hadir ke dalam map. "Benar kata Revan. Hari ini bukan cuma soal lari, tapi soal menghargai diri sendiri. Ayo, matahari sudah mulai naik. Kita tidak boleh terlambat di hari pertama."

Sesampainya di lintasan, pemandangan yang menyambut mereka sungguh luar biasa. Bukan hanya tiga puluh anak dari pendaftaran kemarin, tapi jumlahnya membengkak menjadi hampir lima puluh anak. Mereka datang dari empat desa berbeda, beberapa bahkan diantar menggunakan mobil bak terbuka oleh para bapak mereka.

Warga desa sudah memenuhi pinggiran lintasan. Ada yang membawa payung, ada yang menggelar tikar, bahkan ada yang membawa jualan gorengan dan es lilin. Suasananya persis seperti pesta rakyat atau perlombaan tujuh belas agustusan.

"Wah, Mas Tulus datang! Mas Tegar datang!" teriak anak-anak itu girang.

Tegar memberikan komando. Ia meniup peluit panjang—peluit perak yang kini kembali melingkar di lehernya. "Semuanya, baris berdasarkan kelompok yang sudah dibagikan kemarin! Yang belum terdaftar, baris di sisi kanan!"

Dengan sigap, Tulus, Revan, dan beberapa pemuda desa yang menjadi relawan membagikan jersey merah tersebut. Suasana berubah menjadi haru saat anak-anak itu mengenakan seragam mereka. Ada seorang anak dari Desa Bakti yang terus mengelus logo di dadanya, matanya berkaca-kaca karena seumur hidupnya ia belum pernah memiliki baju olahraga baru yang sebagus itu.

"Terima kasih, Om Revan! Terima kasih, Kak Tulus!" teriak mereka bersahutan.

Latihan resmi pertama dimulai dengan pemanasan statis. Tulus berdiri di depan, gerakannya diikuti secara serempak oleh lima puluh anak berbaju merah. Dari kejauhan, mereka tampak seperti hamparan bunga bakung yang bergerak mengikuti arah angin.

"Angkat kakimu lebih tinggi! Rasakan ototmu tertarik!" instruksi Tulus dengan suara lantang namun tetap ramah.

Para bapak yang menonton dari pinggir lintasan tidak henti-hentinya berkomentar bangga. "Lihat itu si Bagas, baris paling depan. Biasanya kalau di rumah susah sekali disuruh gerak, sekarang tegak begitu," ujar salah satu warga sambil memotret anaknya dengan ponsel jadulnya.

"Iya, Pak. Rasanya bangga ya, anak desa kita dilatih langsung sama juara dunia. Gratis lagi," timpal yang lain.

Tegar berkeliling dengan kursi rodanya, memantau dari sisi lintasan. Ia tidak hanya melihat fisik, tapi juga karakter. Ia memperhatikan mana anak yang egois ingin mendahului teman, dan mana anak yang sabar menunggu instruksi. Bagi Tegar, mencetak atlet bukan hanya soal otot, tapi soal otak dan hati.

"Ingat! Lari itu bukan soal siapa yang paling depan di sepuluh meter pertama," seru Tegar saat anak-anak mulai melakukan lari pelan mengelilingi lintasan. "Lari itu soal konsistensi. Jaga napasmu, jaga iramamu. Fokus pada garis depan, jangan menoleh ke samping!"

Kalimat Tegar itu seolah-olah ditujukan juga untuk dirinya sendiri di masa lalu. Ia melihat dirinya ada pada setiap anak yang sedang terengah-engah itu.

Kejutan terjadi di tengah latihan. Sebuah mobil dinas berhenti di dekat lintasan. Andreas, sang Ketua Federasi Atletik, turun dengan kemeja batiknya. Ia datang tanpa pengawalan ketat, hanya ingin melihat sendiri "fenomena" yang sedang viral di media sosial warga lokal itu.

Tegar dan Tulus segera menghampiri. "Kak Andreas? Kenapa tidak kabar-kabar?"

Andreas tersenyum lebar, matanya memandang hamparan jersey merah di lintasan. "Aku cuma mau melihat 'kerajaan' kalian, Tegar. Dan ternyata, ini jauh lebih indah daripada stadion manapun yang pernah aku resmikan. Inilah akar atletik kita yang sebenarnya. Di sini, tidak ada politik, tidak ada titipan, yang ada cuma keringat dan harapan."

Andreas ikut duduk di pinggir lintasan, bergabung dengan bapak-bapak warga desa. Ia menolak duduk di kursi khusus yang disediakan. Ia ingin merasakan debu yang sama dengan mereka.

"Mas Tulus, apa anak saya bisa ikut seleksi nasional nanti?" tanya seorang warga dengan polosnya kepada Tulus saat jam istirahat.

Tulus tersenyum, menyodorkan air mineral kepada warga tersebut. "Semua punya kesempatan yang sama, Pak. Tapi biarkan mereka menikmati prosesnya dulu. Jangan dibebani target medali sekarang. Biarkan mereka jatuh cinta dulu sama lari. Kalau sudah cinta, medali itu akan datang sendiri."

Siang mulai menyengat, namun semangat di lintasan tidak surut. Revan mengoordinasikan pembagian nasi kotak dan susu kotak untuk semua anak dan orang tua yang hadir. Ia tampak sangat sibuk, namun wajahnya cerah. Baginya, uang yang ia keluarkan untuk semua ini terasa jauh lebih "berbunga" daripada investasi saham manapun.

"Tulus, Tegar, lihat itu," ujar Revan sambil menunjuk ke ujung lintasan.

Tampak seorang anak kecil, mungkin baru kelas satu SD, sedang membantu temannya yang terjatuh dan memar di lutut. Anak itu memapah temannya ke pinggir sambil terus menyemangati.

"Itu yang kita cari," gumam Tegar haru. "Sportivitas sejak dini."

Latihan ditutup pukul sebelas siang dengan doa bersama. Anak-anak itu berbaris rapi, menyalami Tegar, Tulus, Revan, dan bahkan Andreas sebelum pulang. Halaman rumah kayu mereka kembali menjadi tempat persinggahan bagi para orang tua yang ingin mengucapkan terima kasih secara pribadi.

Ibu dan Bapak sudah menyiapkan es buah segar di teras. Wajah Ibu tampak berseri-seri melihat keramaian yang positif itu. "Bapak, rumah kita sekarang benar-benar jadi 'rumah singgah' mimpi ya," bisik Ibu.

"Iya, Bu. Dan semoga atapnya cukup kuat untuk memayungi semua mimpi itu," jawab Bapak bijak.

Saat matahari tepat di atas kepala, dan para warga satu per satu pulang ke desa masing-masing, lintasan tartan itu kembali sunyi. Namun, sisa-sisa energi dari lima puluh pasang kaki berbaju merah itu seolah-olah masih tertinggal di sana, menggetarkan tanah Desa Bojong Kenanga.

Tulus duduk di pinggir lintasan, memandangi bayangannya sendiri. "Kak, ini baru awal ya?"

Tegar mendekat, memegang pundak adiknya. "Ini awal dari maraton yang sangat panjang, Lus. Dan kali ini, kita tidak lari sendirian. Kita lari bersama seluruh desa."

Malamnya, berita tentang "Akademi Tunas Desa" mulai masuk ke berita televisi lokal. Video anak-anak berseragam merah yang berlari dengan penuh tawa menjadi simbol harapan baru. Di bawah sinar rembulan, Tulus dan Tegar tahu, bahwa meskipun aspal desa telah berganti tartan, jiwa mereka akan selalu tetap sama: anak desa yang ingin memberikan jalan bagi orang lain agar mereka bisa mengejar mimpi mereka sendiri.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!