Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Bukit Gundul

Bab: Sisa Embun dan Benang Layangan

Udara subuh di desa itu masih membawa aroma tanah basah dan pucuk padi yang mulai berisi. Tidak ada bunyi peluit yang memekakkan telinga, tidak ada pula detak stopwatch yang biasanya menjadi irama jantung bagi Tegar dan Tulus. Pagi ini, aspal yang sudah berganti lintasan tartan itu tampak sepi.

Tulus keluar dari pintu dapur sambil merenggangkan otot-otot bahunya. Ia mengenakan kaos oblong usang yang bagian lehernya sudah sedikit melar—kaos keberuntungan milik Tegar sejak zaman ia masih mencuri-curi waktu untuk lari di pematang sawah. Di belakangnya, kursi roda Tegar berderit pelan, namun tidak ada buku catatan atau map strategi di pangkuannya.

"Lus, lupakan soal catatan waktu hari ini," ujar Tegar sambil menghirup udara dalam-dalam. "Aku bosan melihat punggungmu yang tegang setiap kali mau start."

Tulus menoleh, menyeringai lebar. "Lalu kita mau apa, Kak? Jalan santai sampai pasar?"

Tegar merogoh sesuatu dari samping sandaran kursi rodanya. Dua buah gulungan benang kayu yang besar dan bungkusan kertas minyak yang mencolok warnanya. "Kita ke Bukit Gundul. Angin tenggara lagi bagus-bagusnya. Ingat tidak, kapan terakhir kali kita adu layangan?"

Mata Tulus seketika berbinar. "Wah, Kakak masih simpan layangan 'Samber Nyawa' itu?"

"Sudah kubuatkan yang baru. Kali ini rangkanya dari bambu petung pilihan. Lebih stabil kalau kena angin kencang," jawab Tegar bangga.

Mereka pun bergerak menyusuri jalanan desa yang masih remang. Tidak ada lari cepat. Tulus berjalan santai di samping kursi roda Tegar, sesekali menendang batu kerikil atau menyapa warga yang hendak pergi ke pasar. Kehadiran mereka tak lagi memicu bisik-bisik sinis. Sebaliknya, beberapa anak kecil yang sudah bangun melambaikan tangan dengan riang.

Bukit Gundul adalah sebuah hamparan rumput luas di ujung desa yang menghadap langsung ke arah matahari terbit. Di sana, angin selalu berhembus stabil, menjadikannya surga bagi para pemain layangan sejak puluhan tahun lalu.

"Bantu aku pasang ekornya, Lus. Jangan kepanjangan, nanti berat di ekor malah sulit bermanuver," instruksi Tegar. Tangannya yang kuat dan terampil dengan cepat menautkan benang ke rangka layangan kertas berwarna merah putih itu.

Tulus menurut. Ia berjongkok di rumput yang masih basah oleh embun. "Kak, ingat tidak dulu? Kita pernah pinjam uang Ibu buat beli benang gelasan, lalu malah putus kena pohon mangga Pak Kades?" 

Saat ituTulus masih lemah karena penyakit jantung bawaannya. Setiap kali pergi Tegar akanenggendong Tulis meskipun nanti sampai rumah Tegar akan dimarahi habis-habisan karena orang tua mereka lebih sayang sama Tulus. Mereka takut Tulus kena angin. Takut Tulus kenapa-kenapa.

Tegar tertawa lepas, suara tawa yang jarang terdengar begitu ringan di tengah jadwal latihan yang padat. "Ibu marah besar waktu itu. Aku disuruh cabut rumput di halaman belakang seharian sebagai gantinya. Tapi besoknya, kamu malah minta aku manjat pohon mangga itu cuma buat ambil layangan yang tersangkut."

"Dan Kakak hampir jatuh kalau aku tidak teriak kasih tahu dahan mana yang lapuk," timpal Tulus.

Setelah persiapan selesai, Tulus membawa layangan itu menjauh sekitar sepuluh meter. Ia menunggu aba-aba.

"Tarik, Lus!" seru Tegar.

Tulus berlari kecil—bukan lari sprint Olimpiade yang memecahkan rekor, melainkan lari ceria seorang adik yang sedang bermain dengan kakaknya. Layangan itu menanjak, membelah kabut tipis, lalu menari-nari di angkasa saat benangnya ditarik-ulur oleh tangan cekatan Tegar.

"Lihat itu! Dia stabil sekali!" Tegar tampak sangat antusias. Di atas kursi rodanya, ia bergerak lincah mengikuti arah angin. Matanya yang biasa tajam menganalisis sudut tolakan kaki, kini hanya fokus pada selembar kertas yang terbang tinggi.

Tulus duduk di samping kursi roda Tegar, menyandarkan punggungnya di kerangka besi kursi itu. "Kak, rasanya aneh ya. Biasanya jam segini paru-paruku rasanya mau pecah karena latihan interval."

Tegar mengulurkan salah satu gulungan benang ke tangan Tulus. "Pegang ini. Rasakan tarikannya. Kadang hidup itu seperti layangan, Lus. Kamu tidak perlu terus-menerus menariknya dengan keras. Ada kalanya kamu harus memberi uluran, membiarkan angin membawanya setinggi mungkin, tapi tetap pastikan tanganmu kuat memegang kendali."

Tulus merasakan getaran di benang itu. "Tinggi sekali... hampir hilang di balik awan."

Menjelang siang, Revan datang menyusul dengan membawa bungkusan nasi uduk dan kerupuk kaleng. Ia tidak lagi memakai kemeja rapi seperti saat membawa proposal pembangunan rumah sakit. Hari ini ia hanya memakai celana pendek dan kaos jersey bola.

"Hei! Curang sekali kalian tidak mengajakku!" teriak Revan dari bawah bukit.

"Kamu kan anak kota, mana bisa main layangan?" goda Tulus saat Revan sampai di puncak bukit dengan napas terengah-engah.

"Sembarangan! Begini-begini aku pernah juara di komplek rumahku dulu," balas Revan sambil duduk di atas rumput, membuka bungkusan nasi uduk.

Mereka bertiga makan dengan lahap di bawah pohon rindang. Tidak ada pembicaraan soal target medali, tidak ada perdebatan soal anggaran federasi, dan tidak ada drama masa lalu yang pahit. Yang ada hanyalah tiga pemuda yang sedang menikmati sisa masa muda mereka.

"Van, bagaimana rasanya jadi orang yang punya rumah sakit?" tanya Tegar sambil mengunyah kerupuk.

Revan terdiam sejenak, memandang ke arah desa di bawah sana. "Rasanya... seperti akhirnya punya tempat untuk pulang. Selama ini aku lari dari bayang-bayang Ayah. Tapi sekarang, aku merasa setiap bata yang disusun di rumah sakit itu adalah caraku meminta maaf pada dunia. Dan sejujurnya, melihat kalian berdua tertawa begini jauh lebih menyenangkan daripada melihat laporan laba-rugi."

Tulus melempar kulit kacang ke arah Revan. "Jangan terlalu puitis, Van. Nanti nasi udukmu dingin."

Mereka tertawa bersama. Di atas mereka, layangan merah putih itu masih gagah berkibar, menjadi satu-satunya benda yang 'berlari' di langit pagi itu.

Sore harinya, saat mereka berjalan pulang, mereka melewati sungai kecil yang jernih. Tulus tiba-tiba berhenti.

"Kak, airnya sepertinya segar," ujar Tulus dengan mata jahil.

Tegar sudah tahu apa yang ada di pikiran adiknya. "Jangan berani-berani, Tulus. Kita tidak bawa baju ganti."

Byur!

Tulus sudah melompat lebih dulu ke dalam air, menyisakan cipratan besar yang mengenai Revan dan Tegar.

"Woi! Celanaku basah semua!" teriak Revan, tapi tak lama kemudian ia pun ikut menceburkan diri, ditarik oleh tangan kuat Tulus.

Tegar hanya bisa tertawa dari pinggir sungai, namun Tulus dengan sigap menggendong kakaknya, membawanya ke bagian sungai yang dangkal agar Tegar bisa merasakan dinginnya air di tangan dan kakinya.

"Ingat ya, besok pagi jam empat kita kembali ke lintasan," kata Tegar di sela-sela tawa mereka saat mereka saling menyiram air.

"Besok adalah besok, Kak," sahut Tulus sambil menyeka wajahnya yang basah. "Untuk hari ini, kita cuma Tulus, Tegar, dan Revan. Bukan atlet, bukan pelatih, dan bukan direktur."

Matahari terbenam dengan warna jingga yang hangat di cakrawala desa. Tidak ada medali emas yang berkilau lebih terang daripada kebahagiaan sederhana di wajah mereka sore itu. Di jalanan desa, aspal mungkin sudah berganti tartan, namun di hati mereka, mereka tetaplah anak-anak yang hanya ingin berlari menuju cahaya tanpa beban di pundak.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!