Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Pertandingan
"Tapi tetap saja, kalah ya kalah, Kak," gumam Tulus.
"Di atas kertas, iya. Tapi di mataku? Kamu itu monster," Andreas menoleh ke arah Tegar. "Tegar, adikmu ini punya recovery otot yang gila. Tadi di meter 150, dia hampir menangkapku. Kalau saja dia punya teknik pernapasan yang benar, selisihnya mungkin cuma dua detik."
Tegar tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. "Jadi, Anda mau membantunya?"
"Aku tidak akan membiarkan bakat seperti ini dimangsa oleh orang-orang seperti Salim di Jakarta," Andreas mengambil botol air dan menyiram kepalanya. "Lima detik itu bukan kutukan, Tulus. Itu adalah utang yang harus kamu bayar di seleksi Nasional nanti. Aku akan pastikan dalam dua minggu, lima detik itu akan menguap."
"Terima kasih, Kak! Terima kasih banyak!" Tulus menjabat tangan Andreas dengan penuh semangat.
"Jangan berterima kasih dulu. Latihan denganku akan membuat latihan Coach Hendra terasa seperti taman bermain," Andreas beralih menatap Tegar. "Dan kamu, Tegar. Aku butuh matamu. Aku butuh analisismu dari pinggir lapangan. Kursi roda itu bukan penghalang untuk jadi otak di balik kemenangan adikmu."
Tegar mengangguk mantap, harga dirinya sebagai seorang kakak dan mantan mekanik handal kembali menyala. "Apapun untuk Tulus, Kak Andreas."
Sore itu ditutup dengan diskusi teknis yang intens di teras rumah. Andreas membongkar semua kesalahan posisi raga Tulus, sementara Tegar mencatat setiap detail di buku kusamnya. Ibu memperhatikan dari balik jendela, tersenyum melihat rumah yang biasanya sunyi kini dipenuhi energi harapan.
Namun, kedamaian itu terusik saat sebuah motor sport berhenti di depan pagar. Seorang pemuda berseragam sekolah mahal, dengan jaket klub lari ternama di Jakarta, turun dan melepas helmnya. Wajahnya sangat mirip dengan pria berjas hitam yang menyerang Tegar di sawah tempo hari.
"Jadi ini tempatnya? Calon lawan yang katanya hebat itu tinggal di kandang kambing?" ujar pemuda itu dengan nada menghina, matanya menatap sinis ke arah Tulus.
Andreas berdiri, langkahnya tenang namun auranya mengancam. "Siapa kamu, bocah?"
"Aku Revan. Putra Salim. Dan aku ke sini cuma mau bilang... jangan buang-buang waktu latihan di debu. Karena di lintasan tartan Jakarta nanti, aku akan membuat kalian merangkak kembali ke desa ini."
Revan menyeringai, lalu memacu motornya pergi, meninggalkan kepulan asap hitam yang menyesakkan dada. Tulus mengepalkan tangannya, menatap sisa debu di jalanan dengan sorot mata yang kini tak lagi takut, melainkan penuh dengan tekad yang dingin.
Pertarungan sebenarnya bukan lagi soal medali atau kontrak Pelatnas, melainkan tentang kehormatan sebuah nama yang selama ini diinjak-injak oleh kuasa uang. Di bawah naungan rembulan yang mulai naik, Tulus bersumpah bahwa aspal desa ini akan menjadi saksi kehancuran kesombongan Revan di garis finish nanti.
***
Stadion Madya Senayan di bawah guyuran lampu sorot nampak angkuh, jauh berbeda dari lintasan tanah desa yang penuh kerikil dan debu. Di sini, aroma lintasan tartan yang dipanaskan lampu stadion bercampur dengan ketegangan yang kental di udara. Ribuan pasang mata, kamera televisi, dan tatapan dingin para petinggi asosiasi atletik, termasuk Salim yang duduk di tribun VIP dengan senyum kemenangan yang belum pudar.
"Gugatan status domisilinya memang belum ketuk palu, tapi Tulus sudah tamat malam ini secara psikologis," bisik Salim pada asistennya, matanya tertuju pada monitor besar yang menampilkan profil para peserta final 100 meter putra Seleksi Nasional.
Di pinggir lintasan, Coach Hendra, yang mengenakan setelan jas formal namun dengan lengan kemeja digulung, terlihat gelisah. Matanya tak lepas dari Tulus. "Ingat, Tulus. Jakarta ini kolam hiu. Jangan biarkan mereka mencium bau ketakutanmu."
Tulus tidak menjawab. Ia berdiri kaku di samping blok start lorong lima, mengenakan seragam lari Pelatnas yang masih terasa sedikit asing di tubuhnya. Sepatu larinya, pemberian Andreas, mencengkeram erat permukaan tartan. Matanya lurus menatap garis finish yang terasa begitu jauh, terhalang oleh bayang-bayang trauma kekalahannya sepuluh tahun lalu di stadion yang sama. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena adrenalin, tapi karena beban harapan desa, impian kakaknya, dan tatapan meremehkan dari pria di tribun VIP.
"Lus," suara Tegar memecah lamunannya. Tegar duduk di kursi roda di area penonton khusus, didampingi Andreas yang berdiri tegak seperti patung tembaga. "Hembuskan napas. Buang semua kotoran di kepalamu. Bayangkan kamu sedang berlari di jalan setapak menuju sawah, mengejar layangan putus dengan kaki telanjang. Ringan, Lus. Jadikan kakimu sayap."
Tulus menoleh, menatap mata kakaknya yang penuh keyakinan, lalu beralih ke Andreas yang mengangguk samar, tatapannya seolah berkata, 'Tunjukkan pada mereka utang lima detik itu sudah lunas.'
Tulus menghela napas panjang, membiarkan udara malam Jakarta memenuhi paru-parunya. Ia mengingat setiap rintangan yang telah dilaluinya: sawah yang terbakar, cedera kaki, ancaman Salim, tantangan Andreas. Semua itu bukan lagi beban, melainkan bahan bakar yang membakar jiwanya. Ia tidak berlari untuk medali, bukan untuk Pelatnas, bukan untuk pengakuan. Ia berlari untuk harga diri kakaknya, untuk air mata ibunya, dan untuk membuktikan bahwa takdir tidak bisa dibeli dengan uang.
Di lorong tiga, Revan, putra Salim, berdiri dengan sombong, melakukan pemanasan dengan gerakan yang dipoles teknis sempurna. Kostum larinya terlihat mahal, sepatunya model terbaru yang didesain khusus untuk meningkatkan performa. Ia menoleh ke arah Tulus, menyeringai meremehkan. "Selamat tinggal, anak desa. Kembali saja ke kandang kambingmu."
Tulus tidak bergeming. Ia tidak lagi melihat Revan. Ia hanya melihat lintasan tartan yang membentang di depannya, garis finish yang memanggil namanya, dan bayangan dirinya sendiri yang berlari bebas di bawah sinar matahari pagi di desa.
"Sedia...!" Suara wasit bergema, memecah keheningan stadion. Delapan pelari, termasuk Tulus dan Revan, mengambil posisi di blok start. Napas serentak tertahan. Dunia seakan berhenti berputar.
"Awas...!"
DUARR!
Dorongan kaki Tulus pada blok start meledakkan debu-debu tak kasat mata di lintasan tartan. Ia melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya, bukan dengan ketakutan, tapi dengan amarah yang terkendali, dengan tekad yang membaja, dengan kerinduan akan kebebasan.
Dalam lima puluh meter pertama, Tulus sudah memimpin, langkah-langkahnya begitu stabil, kepalanya tegak, tangannya mengayun dengan presisi yang diajarkan Andreas, setiap hentakan kakinya mengirimkan gelombang energi yang terasa hingga ke tribun. Revan, yang berada di lorong tiga, tertinggal jauh di belakang, wajahnya yang tadi sombong kini berubah menjadi topeng keterkejutan dan keputusasaan.
"Tulus! Tulus!" Sorakan penonton, yang awalnya skeptis, kini bergema memanggil namanya. Bahkan para petinggi asosiasi atletik di tribun VIP mulai berdiri, mata mereka melotot tak percaya menatap sosok pemuda desa yang berlari bagaikan dewa kecepatan.
Tulus tidak mendengar sorakan itu. Di telinganya hanya ada detak jantungnya sendiri, deru napasnya, dan suara Andreas yang menggema, 'Dua detik, Tulus! Jadikan lima detik itu menguap!'
Sepuluh meter terakhir. Tulus melakukan transisi kecepatan yang halus namun mematikan, persis seperti yang dilakukan Andreas saat tantangan di desa. Ia bukan lagi sekadar berlari, ia terbang di atas lintasan tartan, meninggalkan lawannya jauh di belakang, bagaikan bayangan yang melesat di kegelapan malam.
WUSSS!
Tulus melewati garis finish, tidak dengan tumbang seperti saat tantangan Andreas, tapi dengan elegan, napasnya terkendali, matanya lurus menatap papan skor digital yang menampilkan hasil perlombaan.
ANGKA DI PAPAN SKOR:
9.89 DETIK