Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Motivasi Pelatnas

"Dan satu lagi," Coach Hendra menatap Tulus dalam-dalam. "Tuan Salim sudah mulai bergerak di Jakarta. Dia mencoba menggugat status domisilimu agar kamu didiskualifikasi dari Pelatnas. Kamu hanya punya waktu dua minggu sebelum seleksi akhir. Kamu harus jadi yang tercepat, sampai mereka nggak punya alasan lagi untuk membuangmu."

Tulus berdiri tegak, rasa sakit di kakinya kini justru menjadi pengingat bahwa ia masih punya jalan untuk ditempuh. "Saya akan lari sampai mereka nggak bisa melihat punggung saya lagi, Coach."

Coach Hendra mengangguk tipis—sebuah pujian langka dari pria itu—lalu berjalan menuju mobilnya. "Besok jam empat. Telat semenit, latihan batal dan aku pulang ke Jakarta selamanya."

Setelah mobil Coach Hendra menghilang di tikungan, Tegar mendekati adiknya. Ia merangkul bahu Tulus yang basah kuyup oleh keringat.

"Sakit, Lus?"

"Sakit banget, Mas. Tapi rasanya enak."

Tegar tertawa kecil, tawa pertama yang terdengar tulus sejak kejadian di sawah kemarin. "Itu namanya rasa kemenangan. Ayo pulang, Ibu pasti sudah bikin nasi jagung."

Mereka berjalan pelan menuruni bukit. Tulus memapah Tegar, dan Tegar menjadi tumpuan bagi langkah Tulus yang masih agak pincang. Di bawah sinar matahari pagi yang mulai menghangat, bayangan mereka memanjang di atas aspal—dua bersaudara yang kini tidak lagi hanya sekadar bertahan hidup, melainkan mulai menyerang balik takdir.

Namun, di kejauhan, di balik rimbunnya pohon jati yang membatasi jalan desa, sebuah lensa kamera pengintai memantulkan cahaya matahari, menangkap setiap gerak-gerik mereka dengan dingin. Seseorang di dalam mobil lain yang terparkir tersembunyi sedang melaporkan sesuatu melalui telepon genggamnya, mengirimkan pesan singkat yang akan mengubah ketenangan desa itu sekali lagi.

Tulus belum tahu, bahwa lari tercepatnya justru akan dimulai bukan di atas lintasan lari, melainkan saat ia harus menyelamatkan apa yang paling ia cintai.

Bab 28: Bayang-Bayang Sang Legenda

"Lima detik, Tulus! Lima detik itu jarak antara medali emas dan namamu yang dilupakan sejarah!"

Suara itu asing, berat, dan penuh wibawa. Bukan suara serak Coach Hendra atau teriakan melengking Tegar. Di ujung lintasan tanah yang baru saja diratakan warga desa, berdiri seorang pria dengan postur tubuh yang nyaris sempurna—tinggi, tegap, dengan kaki-kaki yang tampak seperti pahatan tembaga di bawah sinar matahari sore.

"Siapa Anda?" tanya Tulus, napasnya masih memburu setelah menyelesaikan sprint 100 meter.

"Andreas. Tapi dulu orang memanggilku 'Si Kilat Senayan'," pria itu melepas kacamata hitamnya. Matanya tajam, namun ada bekas luka operasi yang melintang di lutut kirinya.

Tegar, yang kini duduk di kursi roda baru pemberian warga, memajukan rodanya. "Andreas? Andreas Silitonga? Pemegang rekor nasional yang hilang sepuluh tahun lalu?"

Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang getir. "Hilang karena hancur, Tegar. Lututku menyerah sebelum mimpiku selesai. Tapi hari ini, aku datang bukan untuk bernostalgia. Aku datang karena Hendra bilang ada berlian kasar di pelosok desa yang perlu diamplas."

"Coach Hendra yang mengirim Anda?" Tulus menyeka keringatnya, menatap kagum pada sosok yang dulu hanya ia lihat di kliping koran lama milik kakaknya.

"Dia bilang kamu cepat. Tapi bagiku, kamu cuma lari karena takut, bukan karena haus," Andreas melepas jaket parasutnya, menampakkan kaos ketat yang menonjolkan otot-otot atletisnya. "Pakai sepatumu, Tulus. Aku ingin lihat seberapa cepat 'berlian' ini kalau dikejar pemangsa."

"Maksud Anda?"

"Tantangan. Satu lawan satu. 200 meter di lintasan tanah ini. Kalau kamu menang, aku akan jadi asisten pelatihmu secara cuma-cuma dan membawamu ke Jakarta dengan jaminan pribadiku. Kalau kamu kalah... kamu harus berhenti mengeluh soal lecet di kakimu."

Tegar mengepalkan tangan di sandaran kursi rodanya. "Lus, ini kesempatanmu! Andreas itu legenda. Kalau kamu bisa menempelnya saja, itu sudah keajaiban!"

"Tapi Mas, lututnya—"

"Lututku sudah sembuh, Nak. Aku lebih memilih jadi pelatih sekarang, tapi untuk memberimu pelajaran, sisa-sisa kekuatanku masih lebih dari cukup," Andreas melakukan pemanasan singkat, gerakannya begitu efisien dan estetis.

Tulus menarik napas panjang, mengencangkan tali sepatunya. "Baik. Saya terima tantangannya, Kak Andreas."

"Sedia... Awas...!" Tegar mengangkat tangannya, lalu menurunkannya dengan cepat. "YAA!!"

DUARR!

Hentakan kaki Andreas di atas tanah menciptakan debu yang beterbangan. Dalam tiga langkah pertama, Tulus menyadari perbedaannya. Andreas tidak hanya lari; dia seperti meluncur di atas udara. Frekuensi langkahnya begitu stabil, kepalanya tenang, dan tangannya mengayun dengan sudut yang presisi.

"Ayo, Tulus! Jangan lihat punggungnya! Fokus pada garis finish!" teriak Tegar dari pinggir lintasan, suaranya parau hingga urat lehernya menonjol.

Tulus memacu jantungnya. Di meter ke-50, ia merasa sudah memberikan segalanya. Namun, Andreas berada dua langkah di depannya, bergerak tanpa beban seolah gravitasi tidak berlaku baginya.

"Payah! Mana amarahmu yang katanya bisa mengusir preman?!" teriak Andreas sambil menoleh sedikit, memprovokasi.

Tulus menggeram. Ia ingat pembakaran bengkel. Ia ingat ayahnya yang tertunduk. Ia ingat Tegar yang tersungkur di lumpur. Ia memaksakan kakinya bekerja lebih keras. Di meter ke-150, jarak mereka sempat menipis. Tulus bisa mendengar deru napas Andreas.

"Itu dia! Terus, Tulus! Habiskan!" Tegar memutar kursi rodanya, mengikuti arah lari mereka dari pinggir dengan penuh semangat. "Jangan kasih kendor! Sedikit lagi!"

Namun, di 20 meter terakhir, Andreas menunjukkan kelasnya sebagai mantan atlet elit. Ia melakukan transisi kecepatan yang halus namun mematikan. Seperti ada gigi tambahan yang baru saja ia masukkan.

WUSSS!

Andreas melewati garis finish yang ditandai dengan taburan kapur sirih. Tulus menyusul di belakangnya, tumbang dengan dada yang naik-turun tak beraturan.

Tegar melihat stopwatch di tangannya. Wajahnya sempat tegang sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang. "Selisih lima detik."

Tulus membenamkan wajahnya di tanah yang kering. "Maaf, Mas... aku kalah. Lima detik itu jauh banget."

Andreas berjalan kembali ke arah Tulus, tidak terlihat terengah-engah sama sekali. Ia berdiri di depan pemuda yang sedang terpuruk itu, menutupi sinar matahari sore yang mulai meredup.

"Berdiri, Tulus," ujar Andreas datar.

Tulus bangkit dengan lesu, tidak berani menatap mata sang legenda. "Saya memang belum pantas, Kak. Lima detik itu memalukan."

Tiba-tiba, Andreas tertawa. Suaranya pecah, menggema di antara pepohonan kelapa. "Memalukan? Kamu bilang kalah lima detik dari pemegang rekor nasional yang berlatih dengan teknologi terbaru selama belasan tahun itu memalukan?"

Tulus mendongak, bingung.

"Tulus, dengar aku," Andreas memegang kedua bahu Tulus, mencengkeramnya kuat. "Aku lari dengan teknik yang sudah matang. Aku lari di atas sepatu seharga jutaan rupiah. Dan aku lari dengan kondisi fisik yang sudah pulih total. Kamu? Kamu lari di atas tanah tidak rata, pakai sepatu diskonan, dan kamu baru saja pulih dari cedera kaki kemarin pagi."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!