Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Rekor di Tanjakan
"Bangun, Tulus! Aspal ini bukan kasur busa di Jakarta, ini guru yang bakal ngajarin kamu cara berdiri!"
Suara Tegar menggelegar di antara kabut tipis jam empat pagi. Tulus tersedak udara dingin, paru-parunya serasa disayat sembilu saat ia mencoba bangkit dari posisi sujudnya di jalan tanjakan menuju Bukit Menoreh.
"Mas... perih. Paru-paruku mau pecah," rintih Tulus, keringatnya bercampur embun.
"Bagus! Berarti kamu masih hidup! Kalau nggak mau pecah, napas lewat hidung, buang lewat mulut. Atur ritmenya, jangan kayak ayam mau dipotong!"
Dari kegelapan di bawah pohon beringin tua, sebuah bayangan muncul. Langkah kakinya berat namun mantap. Ia mengenakan jaket tracksuit kusam dengan logo Garuda yang sudah retak-retak.
"Tekniknya salah, Tegar. Kamu mau bikin adikmu jadi pelari atau jadi pasien rumah sakit?"
Tegar menoleh, matanya menyipit. "Coach Hendra? Bapak benar-benar datang?"
"Aku nggak akan menempuh perjalanan tiga jam dari kota cuma buat lihat anak kecil nangis di pinggir jalan," ujar Coach Hendra dingin, matanya menatap tajam ke arah Tulus. "Berdiri, Tulus. Tunjukkan padaku kenapa aku harus peduli sama kamu."
Tulus merangkak berdiri, kakinya gemetar. "Saya... saya siap, Coach."
"Siap? Jangan sombong. Jalan ini tanjakannya 15^{\circ}. Di ujung sana, ada batu besar. Lari ke sana, balik lagi ke sini. Sepuluh kali. Tanpa henti."
"Sepuluh kali? Coach, itu hampir lima kilometer di tanjakan ekstrem!" potong Tegar kaget.
"Tegar, kamu bilang mau dia jadi tak terkalahkan, kan? Jangan jadi kakak yang cengeng sekarang. Tulus, lari! Sekarang!"
KRAK.
Bunyi itu kecil, tapi di kesunyian subuh, terdengar seperti patahan ranting kering yang keras.
"ARRGGHH!" Tulus tumbang di putaran ketujuh. Ia berguling di aspal kasar, memegangi pergelangan kaki kanannya. Wajahnya pucat pasi, giginya bergeletuk menahan nyeri yang menghujam.
"TULUS!" Tegar mencoba berlari dengan kaki pincangnya, namun Coach Hendra menahan bahunya kuat-kuat.
"Diam di tempat, Tegar!"
"Tapi kakinya, Coach! Itu pasti terkilir!"
"Aku bilang diam!" Coach Hendra berjalan mendekati Tulus yang mengerang kesakitan. "Manja. Baru kena lubang kecil saja sudah teriak seperti kena peluru."
"Ini sakit sekali, Coach... Saya nggak bisa... saya nggak kuat lagi," isak Tulus. Air matanya pecah, bukan hanya karena nyeri, tapi karena rasa frustrasi yang menumpuk. "Tuan Salim benar, saya cuma anak desa yang nggak punya apa-apa. Saya nggak akan bisa menang di Jakarta!"
Tegar berteriak dari jarak lima meter, suaranya parau. "Tulus! Lihat aku! Lihat kaki kiriku yang mati ini!"
Tulus menoleh perlahan dengan mata basah.
"Kamu pikir aku nggak sakit setiap kali melihatmu lari sementara aku cuma bisa duduk? Kamu pikir hatiku nggak hancur waktu bengkel kita dibakar? Sakitmu itu cuma sementara, Lus! Tapi kalau kamu berhenti sekarang, malunya bakal kita bawa sampai mati!"
"Tapi Mas, kakiku... kayak ada pisau di dalamnya..."
Coach Hendra berjongkok. Tangannya yang kasar mulai meraba pergelangan kaki Tulus dengan cekatan. "Diam. Jangan gerak. Ini cuma sprain tingkat satu. Ototmu kaget karena kamu ragu-ragu saat menginjak."
"Bisa sembuh, Coach?" tanya Tulus gemetar.
"Tentu saja bisa. Tapi mentalmu yang cacat itu yang susah sembuh." Coach Hendra mengambil botol air mineral dingin dari tasnya, menyiramkan ke kaki Tulus, lalu dengan gerakan tiba-tiba—KREK!
"Aaaaaakkhhhh!" Tulus memekik, suaranya mengguncang pepohonan.
"Sudah. Berdiri."
"Sakit, Coach! Masih sakit!"
"Tentu saja masih sakit, bodoh! Kamu pikir ini sulap?" Coach Hendra berdiri, menatap Tulus dengan pandangan menghina yang dibuat-buat. "Kalau kamu mau menyerah, silakan. Pulang sana ke rumah. Temani ibumu goreng pisang. Biarkan Tuan Salim beli tanah kalian, biarkan Mas-mu jadi tukang tambal ban selamanya. Kamu memang bukan atlet. Kamu cuma anak kecil yang kebetulan bisa lari cepat."
"Coach, jangan bicara begitu ke adikku!" protes Tegar.
"Kenapa? Memang benar, kan? Lihat dia. Menangis karena kaki terkilir kecil. Lawanmu di Jakarta nanti, Tulus, mereka itu hiu! Mereka akan menginjak kakimu, mereka akan menyikut rusukmu, mereka akan menghina orang tuamu di garis start. Kalau sekarang saja kamu sudah minta ampun, lebih baik surat pengunduran diri itu ditandatangani Tegar sekarang juga!"
Tulus terdiam. Kata-kata Coach Hendra terasa lebih perih daripada urat kakinya yang ditarik tadi. Ia melihat kakinya, lalu melihat Tegar yang berdiri gemetar menahan amarah dan harapan di atas tongkatnya.
"Mas Tegar..." bisik Tulus.
"Jangan panggil aku Mas kalau kamu mau menyerah! Aku nggak punya adik pecundang!" Tegar membuang muka, meski matanya berkaca-kaca.
Tulus mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah yang kemarin ia rasakan saat melihat anak buah Salim mengepung kakaknya kembali mendidih. Ia teringat wajah Ibunya yang ketakutan. Ia teringat ayahnya yang merasa gagal.
"Saya... saya bukan pecundang."
"Buktikan! Berdiri!" tantang Coach Hendra.
Perlahan, dengan tumpuan pada kaki kiri, Tulus mencoba berdiri. Saat kaki kanannya menyentuh tanah, rasa nyeri menusuk hingga ke pangkal paha. Ia meringis, tapi tidak lagi berteriak. Ia mencoba satu langkah. Sakit. Dua langkah. Masih sakit.
"Lagi!" perintah Coach Hendra.
Tulus mulai mencoba berlari kecil. Langkahnya pincang, tidak beraturan.
"Gunakan otot perutmu! Kurangi beban di pergelangan kaki! Jaga keseimbangan!" instruksi Coach Hendra mulai melunak, namun tetap tegas.
Tegar memperhatikan dari pinggir jalan, tangannya meremas gagang tongkat kayu hingga buku jarinya memutih. "Ayo, Lus... sedikit lagi. Fokus ke depan, jangan lihat kakimu!"
Tulus mulai menambah kecepatan. Ajaibnya, seiring dengan aliran adrenalin dan panas tubuh yang meningkat, rasa sakit itu mulai teredam oleh rasa panas yang menjalar. Ia mulai menemukan ritmenya kembali.
"Tiga putaran lagi, Tulus! Selesaikan apa yang kamu mulai!" teriak Coach Hendra.
Tulus melesat. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Setiap hentakan kakinya ke aspal seperti sebuah pernyataan perang. Bum! Ini untuk Mas Tegar. Bum! Ini untuk Ibu. Bum! Ini untuk Tuan Salim yang menganggap kami sampah.
Satu jam kemudian, matahari mulai mengintip dari balik bukit. Tulus ambruk di garis yang ditentukan, namun kali ini ia tersenyum di tengah napasnya yang memburu.
Coach Hendra mendekat, memberikan sebotol minuman elektrolit. "Berapa putaran tadi, Tegar?"
Tegar melihat stopwatch-nya dengan tangan gemetar. "Putaran terakhirnya... dia memecahkan rekor pribadinya sendiri, Coach. Di tanjakan ini."
"Bagus. Berarti kakimu nggak patah, kan, Tulus?"
Tulus menggeleng, menyeka keringat di dahinya. "Terima kasih, Coach. Maaf saya sempat cengeng tadi."
"Simpan maafmu untuk lawanmu di lintasan nanti. Kamu punya bakat, tapi bakat tanpa mental itu sampah. Tegar, mulai besok, menu latihannya ditambah. Beri dia beban di pergelangan kaki saat lari sore."
"Siap, Coach."