Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Konsekuensi dari Kemenangan
"Lihat ke papan skor, Salim. Lihat dan telan semua kesombonganmu!"
Suara Coach Hendra menggelegar di tengah keheningan stadion yang mencekam. Ribuan pasang mata terpaku pada layar digital raksasa yang masih memproses data mikrosekon dari garis finis. Tegar masih terjerembap di atas lintasan, napasnya memburu seperti mesin yang kehabisan oli. Bau logam terbakar menguar dari balik celana atletiknya.
Di sampingnya, Salim Wijaya berdiri mematung. Wajahnya yang semula merah padam karena amarah kini berubah pucat pasi. Tangannya gemetar.
KLIK.
Layar berubah. Nama di urutan pertama muncul dengan cahaya kuning keemasan.
1. TEGAR SATRIA – 10.88 detik
2. SALIM WIJAYA – 10.89 detik
"TIDAK MUNGKIN!" teriak Salim histeris. Ia berbalik ke arah juri, menunjuk-nunjuk layar. "Periksa sensornya! Itu kaki sampah! Tidak mungkin kaki rongsokan itu bisa melampaui sistem Jerman milikku! Ini sabotase!"
Tegar tidak mendengar makian itu dengan jelas. Telinganya berdenging. Ia mencoba bangkit, namun saat ia memberikan tumpuan pada kaki kanannya, sebuah suara patahan logam yang tajam terdengar.
KRETEK!
"Tegar, jangan bergerak!" Pak Bramantyo melompat pagar pembatas, berlari secepat yang ia bisa, disusul Laras dan Ibu Tegar.
"Pak... kakinya..." bisik Tegar. Ia melihat ke bawah. Garuda-02 yang gagah itu kini tampak mengerikan. Rangka titaniumnya tidak patah, namun pneumatic actuator-nya meledak di detik terakhir. Cairan hidrolik berwarna hitam bercampur biru menyembur keluar, membasahi lintasan lari yang suci itu.
"Kau memaksanya terlalu keras, Gar," suara Pak Bramantyo bergetar saat ia memeriksa kerusakan itu. "Kau mendorong katupnya hingga 200 persen dari kapasitas beban."
"Tapi saya menang, Pak," sahut Tegar dengan bibir pucat. Ia menatap ibunya yang kini sudah memeluknya sambil menangis sesenggukan. "Bu, Tegar bukan pengemis lagi. Tegar atlet."
"Iya, Nak... kamu hebat. Kamu hebat," isak Ibunya.
Laras berlutut di sisi lain, matanya berkaca-kaca menatap sisa-sisa mesin di paha Tegar. "Tegar, lihat ke tribun. Mereka meneriakkan namamu."
Perlahan, gemuruh itu mulai terdengar. Satu stadion berdiri. Bukan untuk Salim yang masih mengamuk di depan ofisial, tapi untuk pemuda desa yang baru saja melakukan mukjizat dengan mesin yang kini hancur total.
"TE-GAR! TE-GAR! TE-GAR!"
Di tengah euforia itu, Salim mendekat dengan langkah kasar. Ia menepis tangan pengawalnya. "Kau pikir kau menang, hah? Lihat kakimu! Itu sampah! Kau menang sekali, tapi kau menghancurkan alatmu sendiri. Besok, di final nasional bulan depan, kau tidak akan punya apa-apa lagi untuk lari!"
Tegar menatap Salim dengan ketenangan yang mematikan. "Aku menang dengan kaki yang hancur, Salim. Bayangkan apa yang bisa kulakukan kalau aku punya kaki yang utuh."
"Cukup, Salim!" Coach Hendra menengahi, tubuh besarnya menghalangi pandangan Salim. "Pergi dari sini sebelum keamanan menyeretmu karena tidak sportif. Kau kalah oleh nyali, bukan oleh teknologi."
Salim meludah ke samping, wajahnya penuh kebencian. "Ini belum selesai. Aku akan pastikan bengkel tua itu ditutup karena malpraktik alat medis. Nikmati kemenangan singkatmu, Tegar."
Dua jam kemudian, di ruang medis stadion yang lebih tenang.
Tegar duduk di atas brankar. Kaki bionik Garuda-02 sudah dilepas. Yang tersisa hanyalah komponen logam yang hangus dan bengkok di beberapa bagian. Pak Bramantyo duduk di kursi plastik, kepalanya tertunduk lesu sambil memegang obeng.
"Bisa diperbaiki lagi, Pak?" tanya Laras pelan, mewakili rasa penasaran semua orang di ruangan itu.
Pak Bramantyo menghela napas panjang. Ia mengangkat rangka titanium itu ke bawah lampu. "Rangka intinya mengalami metal fatigue yang sangat parah. Panas dari ledakan hidrolik tadi mengubah struktur molekulnya. Ini... ini sudah jadi rongsokan, Laras."
Hening menyergap.
"Maksud Bapak, saya tidak bisa lari lagi?" suara Tegar terdengar retak. "Final Nasional tinggal tiga minggu lagi. Nama saya sudah masuk daftar."
"Untuk membuat yang baru, aku butuh bahan yang sama, dan uangnya..." Pak Bramantyo tidak melanjutkan kalimatnya. Semua tahu, biaya pembuatan Garuda-02 berasal dari tabungan terakhir Pak Bram dan sumbangan warga desa.
"Kita bisa galang dana, Pak!" seru Andre yang baru masuk membawa botol air minum. "Video lari Tegar tadi sudah viral di media sosial. Semua orang membicarakannya!"
"Masalahnya bukan cuma uang, Andre," Pak Bramantyo menatap Tegar dengan tatapan sedih. "Waktunya tidak cukup. Mencetak titanium grade dirgantara butuh waktu berminggu-minggu di pabrik besar. Aku mengerjakannya di bengkel kecil kita dengan bantuan keberuntungan. Dan kali ini, keberuntungan itu sudah habis digunakan untuk kemenangan sepuluh detik tadi."
Tegar mengepalkan tinjunya ke kasur brankar. Rasa nyeri di pahanya tidak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. Ia baru saja menyentuh langit, hanya untuk dijatuhkan kembali ke bumi dengan begitu keras.
"Jadi ini akhirnya?" bisik Tegar. "Satu kali lari, lalu kembali ke kursi roda?"
"Tidak akan ada kursi roda lagi untukmu, Gar," Coach Hendra masuk dengan wajah serius, memegang sebuah map hitam. "Baru saja, perwakilan dari Federasi Atletik mendatangiku."
"Mereka mau mendiskualifikasi saya karena kaki saya rusak?" tanya Tegar getir.
"Sebaliknya," Hendra memberikan map itu kepada Tegar. "Mereka melihat potensimu. Tapi ada syaratnya. Mereka menawarkan kontrak pelatihan di pusat olahraga nasional. Mereka akan membiayai pengobatanmu dan... mereka ingin kau menggunakan kaki bionik standar federasi."
Tegar terdiam. Ia menatap Pak Bramantyo.
"Kaki standar federasi?" tanya Pak Bramantyo. "Maksudnya buatan perusahaan besar? Seperti milik Salim?"
"Ya," jawab Hendra pendek. "Tapi itu berarti Tegar harus meninggalkan tim ini. Dia harus berlatih di bawah pelatih nasional, dan alatnya harus disuplai oleh sponsor resmi mereka. Garuda-series milik Pak Bram harus dipensiunkan."
Suasana ruangan itu mendadak dingin. Ini adalah pilihan yang mustahil. Maju ke depan namun meninggalkan orang-orang yang telah mengangkatnya dari lumpur, atau tetap setia namun terkubur dalam keterbatasan.
"Pak Bram yang menghidupkan saya lagi," ucap Tegar, suaranya berat. "Tanpa dia, saya hanya orang cacat yang meratapi nasib di pinggir sawah."
"Tegar," Pak Bramantyo memegang tangan pemuda itu. Matanya yang tua kini berkaca-kaca. "Jangan bodoh. Tujuan kita membuat kaki itu adalah agar kau bisa lari. Bukan agar kau setia pada sepotong besi tua. Ambillah tawaran itu."
"Tapi Pak—"
"Dengar!" potong Pak Bramantyo. "Aku ini montir, bukan egois. Keberhasilanku bukan saat kaki buatanku menang, tapi saat aku melihatmu berdiri di podium tertinggi, tidak peduli apa merk kaki yang kau pakai."
Tegar menatap Laras. Gadis itu hanya mengangguk pelan, memberikan dukungan meski matanya menyiratkan kesedihan. Ia menatap Coach Hendra yang menunggu jawaban.
Tegar mengambil napas panjang, lalu ia melihat ke arah kaki bioniknya yang hancur di atas meja. Di sana, di bagian bawah rangka, masih ada goresan kecil bertuliskan: Garuda - Milik Bangsa.
"Saya tidak akan mengambil kontrak itu," ucap Tegar tegas.
"Apa?!" Coach Hendra terkejut. "Tegar, ini kesempatan sekali seumur hidup!"
"Saya akan tetap lari di Final Nasional," lanjut Tegar, matanya menyala dengan tekad baru. "Tapi saya tidak akan menggunakan kaki buatan sponsor. Dan saya tidak akan menggunakan kaki standar mereka."
"Lalu kau mau pakai apa? Pak Bram baru saja bilang kakimu tidak bisa diperbaiki!" Andre menyela bingung.
Tegar menatap Pak Bramantyo dengan senyum misterius. "Pak, ingat desain awal yang Bapak tunjukkan di komputer? Yang Bapak bilang terlalu berisiko karena sistemnya murni mekanik tanpa bantuan motor elektrik? Yang Bapak sebut sebagai 'Desain Tulang Belalang'?"
Pak Bramantyo ternganga. "Itu... itu desain gila, Tegar. Itu tidak punya sensor saraf. Kau harus mengendalikan setiap gerakannya dengan murni kekuatan otot paha dan pinggulmu. Itu akan sangat menyakitkan. Kau akan merasa seperti menarik beban seratus kilo di setiap langkah."
"Sakit adalah teman lama saya, Pak," sahut Tegar. "Jika kita tidak punya waktu untuk mencetak titanium atau membeli sensor mahal, maka kita gunakan apa yang ada. Besi tua, pegas baja, dan keringat saya sendiri."
Coach Hendra terdiam sejenak, lalu tawa kecil keluar dari mulutnya. "Kau memang gila. Kau ingin melawan mesin tercanggih di dunia dengan sebuah pegas raksasa?"
"Bukan pegas raksasa, Coach," Tegar mengoreksi. "Tapi tekad manusia yang tidak mau didikte oleh teknologi."
Tegar menatap ke arah jendela ruang medis yang menghadap ke arah lampu-lampu kota Jakarta. Di luar sana, Salim Wijaya mungkin sedang merayakan kekalahannya dengan rencana baru, namun di dalam ruangan sempit ini, sebuah rencana yang jauh lebih berbahaya sedang lahir.
Besok, ia akan pulang ke desa. Bukan sebagai pemenang yang puas, melainkan sebagai prajurit yang akan menempa senjatanya sendiri untuk perang yang sesungguhnya. Ia tahu, Final Nasional nanti bukan lagi soal siapa yang paling cepat, tapi soal siapa yang paling mampu bertahan saat tubuhnya menjerit minta berhenti.
Tegar memejamkan mata, membayangkan dirinya berlari di lintasan nasional tanpa suara desis hidrolik, hanya suara detak jantungnya yang beradu dengan dentang besi tua yang ia percayai.
Di kegelapan malam Jakarta, sebuah babak baru telah dimulai; sebuah pertaruhan nyawa di mana Tegar tidak lagi bertumpu pada keajaiban mesin, melainkan pada kerapuhan tulang dan ototnya sendiri yang dipaksa melampaui kodrat manusia.