Merhaba Aisyah
Masa Lalu Kembali Mengetuk
Langit Istanbul sore itu seperti kanvas yang dilukis perlahan, biru pucat memudar menjadi jingga, lalu turun ke ungu yang tenang. Aisyah berdiri di dekat jendela apartemen, memeluk secangkir teh hangat yang uapnya naik pelan. Hari itu melelahkan rapat organisasi, membaca jurnal, dan diskusi yang tak terasa menyedot energi namun ada kepuasan kecil yang membuatnya tetap tersenyum.
Ponsel di meja bergetar, nama Raya menyala di layar.
Aisyah tersenyum dan segera mengangkatnya.
“Halo?”
“AISYAHH!” suara Raya langsung memenuhi telinga. “Akhirnya bisa nelpon kamu!”
Suara lain menyusul, lebih lembut. “Assalamu’alaikum, Aisyah.” Itu Fatimah.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Aisyah hangat. “Kalian bareng?”
“Iya,” kata Raya cepat. “Habis kelas, terus kepikiran kamu. Terus ya udah, kita nelpon.”
Aisyah tertawa kecil, lalu duduk di sofa. “Aku baru nyampe apartemen. Kalian gimana?”
Fatimah menyahut, “Capek, tapi alhamdulillah. Kamu kelihatan sibuk banget ya belakangan ini. Jarang update.”
Raya langsung menimpali, “Iya! Kita pengin denger cerita kamu. Hidup anak rantau internasional tuh kayak apa sih?”
Aisyah menghela napas ringan. “Bukan internasional banget juga,” katanya sambil tersenyum. “Cuma… hari-hariku lumayan padat.”
“Ceritain dong,” desak Raya. “Dari bangun tidur sampai tidur lagi.” Raya tertawa dia sungguh penasaran dengan kehidupan Aisyah di Turki.
Aisyah tertawa. “Pagi kuliah, siang baca jurnal atau ke perpustakaan, sore rapat organisasi. Kadang ada seminar. Kadang ada acara budaya. Malamnya ya… belajar lagi.”
“Buset,” Raya bersiul. “Kamu hidup apa kuliah doang?”
“Aku masih makan,” jawab Aisyah cepat, membuat mereka tertawa. “Aku masih harus banyak belajar dan beradaptasi dengan lingkungannya.
“Iya betul, kamu harus hati-hati ya di sana, jaga diri baik-baik," kata Raya, dia melihat perubahan Aisyah yang semakin kurus namun tetap anggun.
Fatimah ikut tertawa. “Tapi kamu kedengaran lebih tenang sekarang.”
Aisyah terdiam sejenak. “Mungkin karena aku mulai terbiasa.”
“Berarti kamu sudah menikmati kehidupan disana,” kata Fatimah.
“Iya,” jawab Aisyah pelan. “Aku nggak lagi sekaget awal-awal.”
Raya terdengar antusias. “Teman-temanmu di sana gimana? Kamu kan ikut organisasi.”
“Baik,” jawab Aisyah. “Aku banyak belajar dari mereka. Kerja timnya bagus, diskusinya serius tapi santai.”
“Dan…” Raya menggantungkan kalimatnya. “Ada yang spesial nggak?”
Aisyah tertawa kecil. “Kamu selalu ke sana.”
“Ya wajar,” sahut Raya santai. “Kita sahabatmu. Pengen tau.”
Fatimah menimpali lebih halus. “Kalau kamu belum mau cerita, nggak apa-apa.”
Aisyah menggeleng pelan. “Bukan begitu. Aku sudah… nyaman dengan keadaan sekarang.”
“Berarti ada yang bikin nyaman,” Raya menggoda.
Aisyah tersenyum dia memilih mengalihkan topik. “Ngomong-ngomong, kalian gimana? Raya, Rafael?”
Suara Raya sedikit berubah masih ceria, tapi lebih tertata. “Kami masih sama. Banyak diskusi. Banyak debat juga.”
“Berat?” tanya Aisyah hati-hati.
“Kadang,” jawab Raya jujur. “Beda keyakinan itu nggak bisa pura-pura nggak ada, tapi sejauh ini kami saling jujur.”
Fatimah menyahut lembut, “Yang penting kamu jaga dirimu, Raya.”
“Iya,” jawab Raya. “Aku belajar pelan-pelan.”
Aisyah tersenyum. Ia tahu Raya selalu berani mengambil jalan yang tidak sederhana.
Hening sejenak, lalu Fatimah bertanya, “Aisyah, kamu masih kontak sama Ilham?”
Aisyah mengangguk, meski tak terlihat. “Kadang, dia suka nanya kabar, ngingetin makan.”
Raya tertawa kecil. “Abang satu itu emang dari dulu begitu.”
“Iya dia baik,” kata Aisyah. “Kayak abang sendiri.”
Fatimah mengiyakan. “Dia juga sahabat dekatnya Raka, kan ya?”
Aisyah menarik napas. “Iya.” tidak semua tahu jika Ilham yang selama ini sudah bantu hubungannya dengan Raka.
Ada jeda. Jeda yang tidak canggung tapi penuh kesadaran. Mereka teringat saat Raka dan Ilham pergi ke bandara untuk mengantarkan kepergian Aisyah.
Raya akhirnya bicara lagi, nadanya lebih pelan. “Ngomong-ngomong soal itu… aku ketemu Ilham kemarin.”
“Oh?” Aisyah berusaha terdengar biasa.
“Iya. Kita ngopi bentar. Terus… tanpa sengaja, dia cerita.”
Fatimah menahan napas sejenak sebelum menambahkan, “Tentang Raka.”
Aisyah menatap jendela. Cahaya sore semakin redup. “Dia kenapa?” tanyanya pelan.
“Raka sekarang kuliah di Mesir,” kata Raya penuh antusias. “Al-Azhar.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, tapi Aisyah merasakannya seperti sentuhan lama di dada. “Oh,” katanya singkat.
“Ilham cerita dengan bangga,” lanjut Raya. “Katanya Raka lolos beasiswa, kayaknya dia berhasil menemukan jalannya.”
Fatimah menimpali, “Kami nggak maksud apa-apa, Aisyah. Cuma… kepikiran kamu.”
Aisyah mengangguk kecil. “Aku senang dengarnya.”
“Beneran?” tanya Raya, dia lebih penasaran bagaimana tanggapan Aisyah tentang Raka.
“Iya,” jawab Aisyah jujur. “Dia pantas dapat itu.”
Fatimah bertanya lembut, “Kamu nggak apa-apa, aku takut kalian...”
Aisyah memotong perkataan Fatimah, dia tersenyum “Aku baik-baik saja.”
Raya terdiam sebentar. “Kalau boleh jujur… kamu masih memikirkan dia?”
Aisyah tidak langsung menjawab. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati.
“Aku nggak menunggu,” katanya akhirnya. “Aku nggak berharap. Tapi… ada kenangan yang nggak bisa dihapus begitu saja.”
Fatimah mengangguk pelan, meski hanya Aisyah yang berbicara. “Itu manusiawi.”
“Jarak ternyata nggak selalu menghilangkan rasa,” lanjut Aisyah. “Kadang cuma membuatnya lebih sunyi.”
Raya menarik napas. “Aku senang kamu jujur.”
Aisyah tersenyum. “Aku juga senang bisa bilang ini tanpa merasa lemah.”
Obrolan kemudian mengalir ke hal-hal lain, Fatimah bercerita tentang tugas akhirnya. Raya tentang rencana liburan singkatnya bersama Rafael. Aisyah mendengarkan, menimpali, tertawa di waktu yang tepat.
Namun di sela tawa itu, pikirannya sesekali kembali pada satu nama bukan untuk diraih, hanya untuk dikenang.
Tak lama, panggilan diakhiri dengan doa dan janji untuk bertukar kabar lagi. Aisyah meletakkan ponsel. Ia tidak langsung berdiri. Ia membiarkan dirinya duduk dalam diam.
“Mesir,” gumamnya pelan.
Ia mengingat Raka bukan yang kini jauh di negeri orang, tapi yang pernah berjalan sejajar dengannya dalam mimpi-mimpi sederhana. Ia tidak merasa sedih, tidak juga menyesal.
Setelah lampu kamar diredupkan, Aisyah masih duduk di tepi ranjang. Pikirannya belum sepenuhnya tenang. Ia teringat satu potongan cerita lama bukan dari Raya atau Fatimah, melainkan dari Ameera, adik Raka, yang dulu sempat dekat dengannya.
Ameera pernah bercerita, dengan nada setengah berkelakar, setengah serius, tentang mimpi kakaknya.
“Sebenarnya Kak Raka pengin ke Mesir dari dulu,” kata Ameera waktu itu. “Dia pengin belajar agama lebih dalam tapi Abi maunya Amerika. Katanya ada kenalan, jalannya lebih ‘pasti’.”
Aisyah masih ingat bagaimana Ameera menghela napas kecil saat menceritakannya, seolah memikul kegelisahan yang bukan miliknya. Ia juga ingat bagaimana Raka memilih diam, menunggu waktu yang tepat, menimbang keinginan orang tua dan suara hatinya sendiri.
Kini, takdir mempertemukan semua potongan itu pada satu kenyataan Raka berada di Mesir, di tempat yang sejak lama diam-diam ia doakan.
Aisyah menutup mata sebentar, tidak ada rasa ingin kembali, tidak pula penyesalan. Hanya pemahaman yang perlahan tumbuh bahwa setiap orang akhirnya berjalan di jalannya masing-masing.
Jika dulu jalan itu berpisah, maka itu bukan kesalahan siapa pun.
Jika kini jalan itu terasa dekat, maka jarak itu pun bagian dari rencana-Nya, semua telah digariskan, semua telah ditetapkan.
Aisyah tersenyum kecil, lebih tenang dari sebelumnya. Ia tahu hidup bukan tentang siapa yang paling dulu sampai, melainkan siapa yang paling ikhlas menerima arah yang Allah pilihkan.
Di balik jendela, malam Istanbul semakin sunyi dan di dalam hatinya, Aisyah akhirnya mengerti bahwa takdir tidak pernah salah alamat.