Merhaba Aisyah

Tiket ke Pameran Seni

Musim gugur mulai benar-benar terasa di Istanbul. Daun-daun kecoklatan gugur perlahan di halaman kampus, berderak halus setiap kali terinjak langkah mahasiswa yang berlalu-lalang. Aisyah berjalan cepat menuju gedung fakultas, tas ransel tergantung di bahunya, tablet dan buku-buku kuliah memenuhi tangannya, jadwalnya hari itu padat kelas pagi, diskusi kelompok siang lalu revisi tugas hingga sore.

 

Sejak beberapa minggu terakhir, Aisyah menenggelamkan dirinya dalam kesibukan. Bukan sekadar ingin produktif, melainkan karena ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin ia diamkan. Sesuatu yang kembali muncul tanpa permisi rindu.

Rindu yang tidak berisik.

Rindu yang tidak menuntut.

Rindu yang hanya hadir di sela-sela diam.

 

Ia tidak pernah menghubungi Raka, tidak mencari kabar lebih jauh selain apa yang pernah ia dengar dari Raya dan Fatimah. Tidak membuka media sosial dengan niat tertentu. Namun, rasa itu tetap ada seperti bayangan yang mengikuti dari kejauhan.

 

Di ruang kelas, Aisyah duduk berdampingan dengan Zehra dan Mariam. Diskusi kelompok hari itu membahas teori sosial kontemporer. Zehra terlihat bersemangat, sementara Mariam lebih banyak mencatat dengan rapi.

 

“Aisyah, bagian kamu tentang literatur Timur Tengah sudah siap?” tanya Zehra sambil mencondongkan tubuh.

 

Aisyah mengangguk. “Sudah. Aku kirim semalam di grup.”

Mariam menoleh. “Aku sudah baca, bagus seperti biasa.”

 

Aisyah tersenyum kecil. “Terima kasih.”

 

Namun, Mariam menangkap sesuatu dari sorot mata Aisyah ada lelah yang bukan berasal dari tugas.

 

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya pelan, cukup untuk mereka bertiga saja.

 

Aisyah terdiam sesaat. “Baik. Cuma… capek mikir.”

Zehra mengangkat alis. “Mikir tugas atau mikir hal lain?”

 

Aisyah tertawa ringan, berusaha mengalihkan. “Dua-duanya, mungkin.”

 

Percakapan itu terhenti ketika dosen masuk. Aisyah kembali fokus, mencatat, menjawab pertanyaan, dan terlibat diskusi. Ia selalu terlihat hadir sepenuhnya di kelas. Namun, hanya ia yang tahu, betapa pikirannya kadang melayang pada hal-hal yang tidak ia undang.

 

Ketika dosen mengajukan pertanyaan, Aisyah menjawab dengan tenang, suaranya stabil, argumennya jelas beberapa mahasiswa menoleh mengangguk setuju.

“Good point,” ujar dosen sambil tersenyum.

 

Zehra melirik Aisyah sambil berbisik, “Kamu makin kelihatan kayak mahasiswa semester atas.”

Aisyah tersenyum kecil. “Terpaksa naik level.”

 

Mariam yang duduk di sisi lainnya hanya mengamati. Ia mengenal Aisyah cukup baik untuk tahu ada lelah yang tidak terlihat di balik senyum itu.

 

Siang harinya, Aisyah menghadiri rapat organisasi. Arman sudah duduk di salah satu kursi, berdiskusi dengan dua temannya, Yusuf dan Kemal, ketika Aisyah masuk, Arman menoleh dan tersenyum singkat.

 

“Aisyah,” sapanya.

“Iya, Kak,” jawab Aisyah sambil duduk di kursi agak berjauhan.

 

Rapat berjalan lancar, mereka membahas evaluasi acara sebelumnya dan persiapan agenda seni bulan depan. Seperti biasa, Arman melibatkan Aisyah dalam diskusi, meminta pendapatnya, dan menanggapi dengan serius.

 

“Menurut kamu, konsep pameran ini perlu narasi tertulis atau cukup visual?” tanya Arman.

 

Aisyah berpikir sejenak. “Narasi singkat tetap perlu, supaya pengunjung paham konteks, tapi jangan terlalu panjang.”

Arman mengangguk. “Setuju.”

 

Namun, ketika rapat selesai dan suasana mulai cair, Arman mencoba mendekat sedikit lebih personal.

 

“Kamu akhir-akhir ini kelihatan sibuk sekali,” katanya sambil membereskan laptop. “Kalau kamu butuh bantuan…”

 

“Tidak apa-apa, Kak,” potong Aisyah cepat, tapi nadanya tetap sopan. “Aku bisa atur sendiri.”

 

Arman terdiam sejenak bukan tersinggung, hanya menangkap jarak yang sengaja dibuat. “Oke,” katanya akhirnya. “Kalau begitu.”

 

Aisyah menunduk, kembali merapikan kertas-kertasnya. Ia tahu, Arman hanya berniat baik dan justru karena itulah ia memilih menjaga batas.

 

Beberapa hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Aisyah selalu hadir, selalu berkontribusi, tetapi selalu menarik diri ketika percakapan mulai melewati ranah pekerjaan. Arman, yang peka, mulai merasakannya.

 

Suatu sore, di perpustakaan kampus, Arman duduk di meja yang sama dengan Aisyah dan Mariam. Mereka mengerjakan revisi proposal.

“Aisyah,” ujar Arman pelan. “Boleh aku tanya sesuatu?”

 

Aisyah mengangkat kepala. “Silakan.”

“Kamu… merasa tidak nyaman dengan aku?”

 

Pertanyaan itu jujur. Tidak menekan. Tidak menuduh.

Aisyah terdiam. Jarinya berhenti mengetik.

“Tidak,” jawabnya akhirnya. “Kak Arman baik, aku nyaman.”

 

“Lalu kenapa, akhir-akhir ini kamu selalu menghindar setiap kali aku ajak bicara di luar urusan organisasi?”

 

Mariam pura-pura fokus pada bukunya, memberi ruang.

Aisyah menarik napas panjang. “Karena aku takut dan belum siap.”

 

“Belum siap untuk apa?” tanya Arman lembut.

“Untuk membuka diri,” jawab Aisyah jujur. “Aku tidak ingin memberi harapan yang belum bisa aku penuhi.”

 

Arman menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Oh, karena itu, kamu jangan dengerin apa yang orang lain katakan.” 

 

Tidak ada desakan setelah itu, tidak ada perubahan sikap yang canggung, justru Arman semakin menjaga jarak dengan cara yang dewasa.

 

Malam itu, Aisyah pulang ke apartemen dengan perasaan campur aduk. Ia merasa lega karena jujur, namun juga berat karena mengakui pada dirinya sendiri bahwa hatinya belum benar-benar kosong.

 

Di kamarnya, Aisyah membuka laptop, berniat melanjutkan tugas. Namun, jemarinya berhenti di atas keyboard. Ia memejamkan mata, mengingat satu hal yang tidak pernah ia ucapkan pada siapa pun.

 

Ia masih menyimpan rindu itu bukan rindu yang ingin dimiliki kembali, hanya rindu yang diakui keberadaannya.

“Aku nggak salah, kan?” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

 

****

 

Keesokan harinya, Zehra dan Mariam mengajaknya makan siang di kantin.

“Kami boleh tanya sesuatu?” kata Zehra sambil menusuk kentang goreng.

 

Aisyah tersenyum tipis. “Aku tahu ini tentang apa.”

 

Mariam ikut tersenyum. “Kami cuma ingin tahu… kamu bahagia?”

 

Aisyah berpikir sejenak. “Aku tenang. Itu lebih penting buatku sekarang.”

 

Zehra mengangguk. “Kalau suatu hari kamu siap, kami dukung.”

Mariam menambahkan pelan, “Dan kalau kamu memilih sendiri dulu, itu juga tidak apa-apa.”

 

Aisyah menatap kedua sahabatnya dengan rasa syukur. “Terima kasih.”

Saat itu, Arman datang menghampiri meja mereka, Aisyah terkejut melihatnya karena mereka baru saja membicarakan cowok itu, Arman berdiri terlalu dekat dia juga tidak langsung bicara. Ia menyerahkan sebuah amplop kecil.

“Apa ini?” tanya Aisyah bingung 

 

“Tiket,” jawab Arman. “Pameran seni di museum kota. Minggu depan.”

 

Aisyah terdiam, “Apa maksudnya?" batinnya bertanya.

 

“Undangan pameran seni, ketua OSIS ingin divisi kita hadir untuk meliput berita di sana,” lanjut Arman cepat. “Aku gak maksa kalau kamu gak bisa datang, tidak apa-apa. Anggap saja informasi.”

 

Aisyah membuka amplop itu perlahan. Tiket masuk pameran seni kontemporer.

 

“Terima kasih, Kak,” katanya pelan. “Aku… akan pikirkan.”

 

Arman tersenyum kecil. “Apapun keputusanmu, aku hormati.”

 

Saat Arman pergi, Aisyah menatap tiket itu lama. Ia tidak tahu apakah ia akan datang atau tidak namun satu hal ia yakini untuk pertama kalinya, ia belajar jujur pada dirinya sendiri bahwa menyimpan rindu bukanlah sebuah kesalahan.

 

Naila duduk tak jauh dari mereka, tersenyum ramah. “Sepertinya itu bakal seru.”

Aisyah menoleh dan membalas senyum itu. “Semoga,” katanya.

 

"Kamu akan ikut, Syah?” tanya Mariam penasaran.

 

"Menurut aku, kamu harus ikut sih Syah, kamu kan belum pernah ikut ke pameran nah ini jadi jadi kesempatan buat kamu,” sahut Zehra dia berharap Aisyah akan ikut.

 

“Aku ragu, apalagi akhir-akhir ini aku ada kerja freelance jadi males mau keluar pengennya ngadepin leptop," ujar Aisyah, dia memang sibuk menulis novel dan kerja sampingan.

 

"Kalau kamu gak ikut, kasih ke aku ya tiketnya,” kata Naila yang masih menyimak pembicaraan mereka.

 

“Oke, semoga kak Arman juga menyetujuinya." Aisyah yakin cowok itu ingin dia yang menemaninya buktinya kenapa dia langsung memberikan tiket ini kepadanya bukan ke BPH.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!