Liburan di Dunia Fantasi

Pembuktian

“Amu jangan hina makanan. Kalau nggak mau biar akyu aja ya makan,” Dari sini mengambil makanan yang berada di dekat Skyda. Gadis itu memasukkan makanan ke dalam tubuh dengan lahap tanpa memperhatikan keadaan sekitar.

“Bukan begitu, sayang. Kamu juga jangan rakus.” Karina menarik makanan dari Daisy dan dikembalikan ke Skyda.

“Tidak apa-apa jika dia suka. Kan aku ambilkan yang lain.” Sang pemilik tempat bersayap sepasang itu kembali ke dapur.

Kekenyangan membuat hawa mengantuk yang sangat besar. Daisy ingin mempertahankan kesadarannya, Terlebih lagi ia berada di kalangan yang ramai. Namun kemampuan dirinya sudah di ambang batas. Mata dipejamkan, ia pun terlelap di dalam malam mimpi. Sebuah meja pun dijadikan sebagai sandaran kepala.

Hari masih saja gelap, tetapi gadis kecil itu sudah membuka matanya. Tempatnya berbaring jauh berbeda dari apa yang diingat. Ia berada di sebuah ranjang yang empuk, Bertanding dengan nara yang berkulit hitam. Selimut dibuka, kaki digerakkan ke samping. Daisy ingin beranjak dari tempat tidur tetapi malah terjatuh. “Aw!” teriaknya kesakitan.

Karina si rinasa yang mendengar teriakan itu membuka mata. Tangan kirinya meraba ke samping, gadis yang diajak tidur itu telah hilang. Dia segera bangun dan membuang selimut, Lalu menengok ke arah samping. Ternyata anak perempuan yang bersamanya itu terjatuh dengan kepala membentur ranjang. “Ada apa, Sy?” tanyanya.

“Gapapa kok, Aku cuma nggak bisa jalan aja. Bangun dengan merambat pada ranjang. Gadis kecil itu mencoba berjalan dan terjatuh lagi. Ini wajahnya yang membentur lantai, “Huhuhu!”

Karina langsung beralih dari tempat tidur dan menolong anak kecil itu. Tubuh Daisy diangkat dan ditaruh pada ranjang, luka yang terbuka pun dibalutnya. “Kamu tak ingat kalau kakimu terkena duri tajam?” Sang wanita dewasa itu menyelimuti tubuh Daisy dengan sebuah kain.

“Lupa,” Anak kecil itu menghapus air matanya sendiri.

Sang ibu yang telah menolong Daisy keluar dari tempat tersebut. Gadis itu hanya seorang diri berada di dalam sebuah kamar. Suara yang terdengar dari luar membuatnya penasaran. Namun apa daya, pakaian terluka dan juga bisa membuatnya berjalan. Iya hanya bisa berdiam diri sambil menunggu rinasa datang.

Tak lama kemudian, datanglah wanita dewasa seperti yang diharapkan. Sesosok berkulit tebal dengan warna hitam itu membawakan tumpukan kain dan diletakkan di samping Daisy. Dia mengambil salah satu kain dan membentangkannya di hadapan gadis itu. “Kamu suka ini?” Tanyanya sambil menunjuk pada kain berwarna hitam dengan lengan panjang.

Lakukan kepala menjadi sebuah jawaban dari gadis itu. Ia segera mengganti pakaian yang tak layak dengan kain itu.

Kini, Daisy telah berganti pakaian dengan warna hitam sampai setengah bagian kaki atas. Sebuah perhiasan dipasangkan pada telinga kiri dan kanan. Sebuah pita dengan warna selaras pun diikatkan pada kepalanya. Sedangkan untuk bagian bawah terdapat beberapa kain pembalut luka. Telapak kaki pun dibiarkan begitu saja menyentuh udara dingin.

Mentari telah berjalan sedikit tinggi dari sebuah gunung. Di saat itulah para nara berkumpul di sebuah tanah lapang. Mereka bukannya tidak mau bekerja atau sedang berlibur, Tetapi mereka ingin menyaksikan kebenaran tentang yang disampaikan oleh Badon.

Di tengah kalangan mereka, datanglah seorang rinasa dengan membawa anak manusia. Ia meletakkan gadis kecil itu pada sebuah kursi.

“Kami bukan ingin jual beli hewan tanpa bulu. Janganlah kau pamerkan boneka hidup itu,” protes salah satu nara.

“Ini bukan boneka hidup tapi calon dev,” jawab Karina.

“Kalau calon dev, ngapain pula pakai kayak gitu? Tuh pakaian Buat nggak cocok buat bertarung di medan berat. Cocoknya buat pekerjaan yang ringan,” protes yang lain.

“Nggak bagus bilang gitu, Om. Tengok nih.” Tangan kiri dari sih berada di depan tubuh menurunkan rok pendek yang dikenakan sehingga menutupi area vital. Tangan kanannya menyalurkan aura unsur untuk menarik air di sekitar sana.

Setelah beberapa saat, tiada reaksi apapun yang terjadi di tempat itu. Hal inilah yang membuat Orang yang berada di sana tertawa kecil. Tak sedikit dari mereka yang mencemooh rombongan itu, Termasuk juga kepada gadis yang terluka.

Daisy merasakan ada sesuatu hal yang salah. Sumber air dirasakan terlalu jauh dari tangannya. Ia sengaja merobohkan diri dan menyentuh tanah. Tawa para nara pun semakin keras.

Karina merasa kasihan kepada gadis yang ditertawakan itu. Ia berjalan mendekat tetapi dilarang terlebih dahulu.

“Dan aku nggak apa-apa. Tolong mundur aja, nih bahaya banget,” kata Daisy.

“Baiklah.” Permintaan gadis itu pun dipenuhi rinasa.

Sejumlah aura unsur telah berada di tangan kanan dan kiri. Air yang berada di dalam lapisan bumi itu naik ke atas akibat tertarik pada aura. Seketika tempat itu menjadi basah dan mengeluarkan air yang tak sedikit. Para penduduk pun keheranan menyaksikannya.

Daisy kembali bangkit dengan memanfaatkan air yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Kaki yang terluka bisa digunakan untuk berdiri walaupun masih terasa sakit. Aura unsur dibagi rata ke empat telapak, ia mulai mengendalikan benda cair itu.

Apa yang dipelajari dari mentor, diterapkan dengan sangat baik oleh gadis yang bisa mengendalikan air itu.Ia bergerak sambil mengendalikan benda cair mengikuti sebuah bola tarian yang sangat indah. Beberapa lompatan seperti lumba-lumba pun dilakukan. Aurat dikumpulkan menjadi satu, air tersedot dengan sempurna dan membentuk sebuah bola besar. Ia melebarkan ke atas sebelum bola itu pecah dan menjadi sebuah hujan kecil. Sebuah pelangi pun terbentuk menghiasi indahnya di tempat itu.

Masyarakat yang sempat terheran menjadi tambah kehilangan lagi atas aksi yang dilakukan Daisy. Apalagi penutupan yang sempurna membuat mereka semakin terkesima. Tepuk tangannya meriah pun diberikan kepada gadis yang duduk di atas tanah basah itu.

Pertunjukan dianggap telah usai, para pekerja kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Kini, Hanya tinggal rombongan pencari manusia itu yang masih berada di desa para penambang. Selain itu hanya ada anak-anak dan wanita yang tak ikut kandungan perut bumi.

“Janjiku hanya kalian bisa makan dan menginap dengan gratis. Tapi pertunjukan yang kau lakukan itu melebihi angan-anganku. Sebagai hadiahnya, kamu boleh meminta satu permohonan. Mohon sebutkan secepat mungkin,” Perempuan bersayap sepasang itu mendekat pada Daisy dan mengangkatnya.

“Aku cuma mau minta bisa kumpul lagi sama manusia, trus balik ke rumah,” kata Daisy.

“Manusia? Tidak, nara itu sangat berbahaya.Aku tak akan menerima kalian ganti saja kalian itu dewasa. Aku nggak mau bantu,” tolaknya sang wanita bersayap sepasang. Sebuah kecupan diberikan kepada anak kecil itu sebelum menurunkannya. Dia menjauh dari Daisy.

“Kenapa? Kan tadi bilang boleh minta apa aja,” tanya Daisy.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!