Liburan di Dunia Fantasi

Pertemuan

“Sy, kuakui kamu hebat. Tapi bukan ini rencananya. Kita bendung air dengan es dan batu,” Sarita mengelus anak manusia yang menangis sembarai marah.

Setelah beberapa saat Daisy tersadar akan apa yang dilakukannya. Ia mengendalikan air membentuk sebuah tongkat panjang menuju ke atas terowongan. Air dibekukan Sarita, Ia mundur sedikit demi sedikit sambil menjaga agar permukaan air tersebut tidak membasahi terowongan.

Semua penghuni terowongan telah berada di posisi yang ditentukan. Saciwa menutup terowongan dengan sebuah batu besar. Daisy Menggerakkan air yang di bawahnya ke Batu itu dan dibekukan oleh Sarita. Terbentuklah sebuah tembok yang bisa menahan air dari luar.

“Di mana kau menemukan naga?” tanya si wiwera.

Anak manusia itu menuding ke atas.

Cahaya dari kristal menjadi sebuah tanda ada sesuatu hal di sana. Si archidMasih terlihat tentang sebuah terowongan. Ia mulai memanjat dinding dengan sangat cepat, meninggalkan rombongannya. Kecepatannya memanjat masih kalah jauh dengan anak manusia yang mengendalikan air menuju ke puncak terowongan itu.

Ingatan gadis itu terhadap tempat yang menakjukan begitu kuat. Ia berlari ke sebuah kristal dan mengambil benda itu. Sebuah mata berwarna kuning menyala berada di dekatnya. Gadis itu tak takut lagi, ia malah memanggil yang lain. “Cepat kemari!” teriaknya.

Saciwa sang wiwera Berlari ke sumber suara. Seorang yang lama tak dilihat ini berada di hadapannya. Sebuah pelukan pun dilakukan dengan begitu erat. Air mata pun menetes membasahi sisi indah keduanya. “Mas, aku kira tak bisa bertemu denganmu lagi.”

“Yang, ini aku milikmu yang dahulu.Aku pun tak menyangka bisa padamu denganmu.” Lelaki yang memiliki bentuk mirip dengana Saciwa mengibaskan ekor ke samping. Dia mengajak istrinya berputar-putar sambil menari wilayah seekor ular. Beberapa kristal indah pun dilewati.

Pertemuan yang sangat-sangat tersebut membuat Daisy meneteskan air mata. Dia duduk menyembunyikan wajah dengan kedua tangannya.

“Sy, ngapain kamu nangis?” tanya Saciwa.

“Siapa mereka?” tanya sang suami.

“Merekalah yang membantuku untuk bisa sampai ke sini.” Saciwa Bergerak ke arah gadis yang menang situ. Ia pun mengelus punggungnya.

“Badon, Maafkan aku yang tak bisa menyelamatkan mau waktu itu. Aku kurang sikap dan tidak bisa menggali lebih keras.” Si archid Berlari menuju ke sahabatnya yang telah lama tak dilihat.

“Sudahlah ini memang takdir kita. Aku tak menyalahkanmu.Justru akulah yang tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Terima kasih, kawanku.” Badon Malah rendahkan tubuh sehingga bisa berinteraksi dengan makhluk yang hanya setinggi setengah meter.

Kedua sahabat yang beda jenis itu kembali bersalaman. Mereka bisa akrab seperti dahulu kala.

Semua orang yang berada di dalam terowongan Indah itu saling berkenalan. Pengecualian buat si anak manusia yang belum bisa menghentikan tetesan air mata. Badon pun mendekat pada gadis itu. “Kamu kenapa?” tanyanya.

“Awal mula dari mengira kalian itu naga dan dia sangat takut pada naga. Bahkan kau pernah menemuinya sebelum aku menemukannya. Dia bercerita bahwa menemukan naga,” jawab Sarita.

“Oh waktu itu. Sebenarnya aku hanya ingin bertanya kepadamu tentang jalan keluar. Maafkan penampilanku yang kurang enak dilihat anak kecil.” Badon mundur beberapa meter.Sebatang kristal merah muda dicongkel dari dinding terowongan dan diberikan kepada gadis itu.

“Kan tuh, pi akyu ingat pada teman-teman akyu yang ngebuli cuma karena kyu gak punya ortu.” Daisy bangkit dan menghapus air matanya. Ia mendekat pada makhluk yang pernah ditakuti dan membungkukkan badan. “Maafin gadis yang gak reti sopan santun nih. Kudunya akyu gak lari jauhin amu.”

“Gak apa-apa, yang penting kamu balik nolong aku. Bolehkah memelukmu?” pinta Baron.

Daisy Menganggukkan kepala sebagai sebuah tanda persetujuan. Ia pun memeluk makhluk yang sempat ditakuti itu.

Mereka tak langsung keluar dari dalam Terowongan itu. Si anak manusia diajak beristirahat sembari memulihkan tenaga. Beberapa perubahan kristal diambil dan disusun sedemikian rupa sehingga tempat itu menjadi lebih terang. Buku kuno yang dicari pun dibaca.

“Nak, Isi buku ini menceritakan tentang ciri-ciri manusia. Mereka disebut makhluk yang paling mudah menyesuaikan segala sesuatu. Selain itu, manusia disebut sebagai pengrusak alam. Tugasmu lah untuk membuktikan bahwa manusia itu baik,” kata wiwera Saciwa.

“Kok aku? Nggak bisa yang lain kah?” tanya si gadis kecil itu.

“Sebab kekuatan itunya paling mengerikan yang pernah kulihat. Entah benar atau tidak kau melebihi atau sama dengan calon dev. Itupun kau belum bisa mengendalikan diri.” Sarita mendekat pada anak gadis yang pernah dilatihnya.

“Tahu macam gini aku nggak mau latihan aura unsur tadi kakek tua itu,” sesal Daisy.

“Kau dilatih atau tidak hasilnya sama saja, Antara menjadi perusak atau penjaga perdamaian. Mungkin pamanmu menyembunyikan segalanya darimu. Tapi apa yang ada dalam dirimu nggak bisa dibendung oleh siapapun.” Sarita ikut duduk di samping Daisy.

Istirahat dirasakan sudah cukup, Mereka bergerak menuju ke sebuah lubang masuk satu-satunya. Badon sang wiwera dewasa itu membawa Daisy dan arhid terlebih dahulu turun, baru disusun dua wanita dewasa.

Jalan yang sempit kembali dilalui. Mereka terus berjalan Hingga sampai ke sebuah balok es yang membekukan aliran air. Keretakan pun mulai terjadi, Sarita segera perlu lari menyalurkan Aura pembentuk agar air tidak masuk ke dalam. Si murid pun membantu gurunya.

Sebuah jalan dibentuk Daisy dengan menyalurkan aura unsur. Dari tanah yang membutuhkan air itu sehingga para nara bisa keluar tanpa harus masuk ke dalam Sungai. Bergerak cepat menuju ke tepi sungai. Puji syukur pun dipanjatkan di waktu yang gelap itu.

“Nak terima kasih banyak. Jika bukan karenamu, mungkin saja kami tak bisa berjumpa. Sebagai balasannya akan aku kabulkan satu permintaanmu,” kata Badon.

“Kalau boleh minta, aku sih mau balik ke rumah aja, hehehe,” tawa kecil anak manusia.

“Maafkan kami, punya manusia hanyalah kepada yang di sini. Kami tidak bisa membawamu pulang Tetapi kami bisa menjadikanmu sebagai anak. Itu pun jika kau mau.” Badon Terbaring menatap langit yang dipenuhi bintang dengan jumlah tak terhitung.

“Gampang Om, Tinggal nemuin manusia yang lain udah beres. Om akyu pandai buat kapal. Terus teman-temannya juga sama.” Daisy ikut berbaring di dekat makhluk berekor besar itu.

“Ada manusia lain? Apakah mereka sepertimu? Terus apa yang mereka kendalikan?” Sang wiwera bangkit menghadap wajah Daisy.

“Gak kok, yang lain normal aja. Itu aja akyu awalnya gak tau.” Daisy ikut bangkit dan menatap wajah wiwera. Bentuknya mirip naga tetapi tak terkesan ingin memakannya. Gadis itu pun mulai akrab dengan makhluk tersebut.

Tak jauh dari sana terdapat sebuah pergerakan tak biasa. Gadis yang bisa mengunakan aura unsur mengumpulkan air dari lembabnya hutan. Sebuah bola kecil terbentuk. Namun, tangannya dipeganng oleh Badon.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!