Liburan di Dunia Fantasi

Persiapan Lomba

“Iya, tapi kita naik kalamekar.” Sukma menyalurkan aura unsur ke tanah berumput.

Tak lama kemudian muncullah makhluk berbentuk seperti harimau dengan loreng putih dan biru kehijauan. Kepala hewan itu miripdengan sebuah bunga yang sedang mekar, lengkap dengan beberapa taring tajam yang bisa melukai siapasaja ynag menjekat. Cakar di keempat kalinya juga terlihat sangat mematikan. Ia mendekat pada Sukma dan merundukkan tubuhnya.

Ingatan Diasy masih kuat akan hewan yang pernah menyerangnya ketika ia tak bisa berjalan. Aura unsur di kedua telapak tangan telah siap. Ketiadaan air membuat gadis itu harus mencari sumber air.

Sebuah aliran air kecil didekati Daisy. Aura unsur menyedot air yang ada di sana. Ia mengendalikan air dan dibawa lari menuju ke hewan buas. Air diarahkan ke depan, sayangnya tertahan oleh tunbuhan yang dikendalikan Sukma.

“Daisy, kenapa kau menyerang hewanku?” Sukma beranjak dari tunggu hewan yang ditungganginya.

“Bahaya, Nek. Izinin akyu tuk basmi doi.” Daisy mengumpulkan air lebih banyak dan bersiap untuk menyerang hewan yang telah bersiaga.

“Bahaya apanya? Dia hewan jinak dan penjaga yang baik. Kitik kitik.” Sukma menggelitik leher hewan yang dianggap buas oleh Daisy. Hewan itu malah merasa senang dan tampak tak membahayakan siapa pun.

“Oh!” Aura unsur di telapak tangan Daisy memutar sehingga air membasahi bumi. Gadis itu berlari ke tempat tunggangan Sukma.

Rasa takut masih tersemat di dalam sanubari Daisy. Ia bergemetaran mendekatkan tangan pada hewan itu. Tangan memegang bulu putih, kalamekar meraum. Daisy terkejut dan langsung menyemburkan air yang terkumpul dari tempat yang lembab.

Wajah hewan seperti bunga mekar terkena percikan air. Hal inilah yang menyebabkan hewan itu marah dan memasang mata pada Daisy. Namun ia mengurungkan tindakan tersebut karena sang majikan telah mengendalikannya.

“Pus, dia bukan penyusup. Merunduk!” perintah Sukma.

Hewan yang sempat mengancam Daisy menuruti perintah Sukma dan langsung menempelkan perutnya pada tanah. Keempat kakinya ditekuk.

“Jadi?” Daisy kebinguan akan situasi di sana.

“Dia hewanku dan jinak. Anggap saja sebagai kendaraan. Ayo naik,” ajak Sukma.

Rasa takut di dalam hati Daisy masih belum bisa dihilangkan. Gadis itu kembali mendekat pada hewan tersebut dan menyentuh dengan tangan kiri. Reaksi pada hewan berkurang, Daisy ikut naik ke punggung hewan tersebut.

Tiada alat untuk mengendalikan laju si loreng. Namun hal ini takmenyulitkan sukma untuk mengendalikan hewan itu. Aura di tangan dikeoneksikan pada bulu loreng hingga sampai ke oragna pengendali tubuh. Dia bisa menggerakkan hewan itu sesuka yang dimaunya.

Sebuah sungai hewan dilewati si lorenga hanya dalamsekali lompat. Kegaguman pun tersirat di dalam hati Daisy. Namun gadis itu yang bisa memanfaatkan dengan mengambil air yang mengalir. Terlebih lagi hewan itu berlari dengan kecepatan tinggi memasuki sebuah hutan yang lehat.

Di balik sebuah hutan, terdapat sebuah pemukiman seperti kota dengan bahan baku kayu. Bentuknya seperti hunian tradisional tetapi tertata rapi bak komplek perumahan. Sukma menghentikan si loreng dan turun di sana, begitu juga dengan Daisy yang mengikuti narasima itu.

“Manis, disinilah tempat tinggal para narasima. Tak hanya narasima saja tetapi juga beberapa nara lainnya.” Sukma berjalan di sambil kala mekar. Meskipun tanpa tali pengendali, hewan itu tak menunjukkan sifat buasnya.

“Trus, rumah Nenek mana?” tanya Daisy.

“Itu,” Sukma menuding pada rumah besar yang ada di seberang jalan.

Sukma mengetuk gerbang pintu dengan tangan kiri. Suara tersebut memanggil beberapa penjaga dan gerbang pun dibuka. Dia memarkirkan hewan kesayangan pada sebuah kandang besar. Setelah itu, Daisy di ajak ke rumah melalui pintu belakang.

Di dalam rumah itu tiada satu pun dekorasi yang menghiasi dinding, kecuali bunga putih yang akan menyela jika malam telah tiba. Daisy melirik ke dalam dan kiri, semuanya narasima saja. Ia mempercepat langkah kakinya sehingga bisa mendahului sang tetua. “Nek, tadi bilang ada beberapa nara di mari. Kok cuma narasima aja?” tanyanya.

“Pegawai dalam memang khusus narasima karena kota ini sebenarnya untuk narasima. Baru aku izinkan nara yang lain sekitar seuluh tahun yang lalu. Itulah awalnya aku menjadi sebagai walikota sekaligus tetua.” Sang tetua melewati para penjaga dan menaiki sebuah anak tangga.

“Wow, pa semua tetua macam Nenek?” Daisy ikut menaiki anak tangga.

“Gak, cuma beberapa aja.”

Di lantai dua, terdapat beberapa kamar yang berisikan anggota keluarga Sukma yang masih kecil. Entah mengapa Daisy tidak diperkenalkan kepada mereka semua. Malah ia ditempatkan pada kamar yang paling jauh dan tanpa adanya penjagaan.

“Daisy, kamu tinggal saja di sini. Jangan khawatirkan soal makanan, sebentar lagi akan datang.” Sang narasima melemparkan gadis itu ke dalam kamar kosong tanpa oeralatan sama sekali. Telapak tangan mengalurkan sejumlah aura unsur, pintu pun tertutup rapat selayaknya bangunan tanpa sela terputus.

“Nek!” teriaknya yang tak bisa bergaung keras. Luka akibat gesekan dengan lantai dipegangnya. Ia pun menangis akibat rasa rasa sakit itu.

Tiada cahaya membuat penglihatan Daisy terasa tak nyaman. Ia hanya bisa mendengarkan sesuatu yang terjatuh. Daisy berbalik arah, ada secercah cahaya di balik boneka perempuan yang terjatuh di lantai. Ia bergegas ke sana. Boneka diambil, ternyata bunga yang diambilnya masih bersinar. “Sisi, makasih ya. Yuk kita cari Insian,” katanya.

Cahaya tak lagi terhalangi boneka, benda lain pun terlihat. Sebuah boneka kayu lelaki dan kotak berisi makanan tergeletak di lantai dengan jarak cukup jauh. Ia segera mengambil semuanya.

Kotak makanan dibuka, ia melihat berbagai jenis makanan yang tak bisa menggugah selera makan. Di sana juga terdapat minuman dalam sebuah tabung tumbuhan. Daisy meletakkan kedua boneka menghadap ke makanan itu. “Nama amu kok gak pantas ya tuk akyu ama Insian. Gini aja deh, amu Suta, amu Tasu,” katanya sambil menuding boneka satu persatu.

Rasa lapar membuatnya tak tahan lagi akan makanan yang ada di sana. Daisy mengambil salah satu makanan itu walaupun mata yang tega untuk memasukkan ke dalam mulut. “Tasu, Suta, akyu makan dulu. Amu berdua tengok aja, hehehe,” tawanya dengan wajah ada maksud tertentu.

Hampir saja rasa yang terkandung di dalam makanan itu membuat Daisy memuntahkan isi kandungan perut. Rasa yang telah beralih malah membuatnya ketagihan. Daisy mengambil segala makanan yang ada dan dimasukkan ke dalam mulut sesegera mungkin.

Perut yang telah terisi penuh membuat gadis itu merasa kekeyangan. Daisy berbaring di lantai sambil memegang bagian tubuh yang membesar secara mendadak. Ia menoleh ke kiri, terlihat dua boneka yang sedang duduk tak bergerak sama sekali. “Andai aja Suta dan Tasu bisa gerak, pasti mereka bisa bantu akyu dari nenek Lampir yang sok baik tuh. Nyesel aku ngikut doi,” sesalnya sambil menatap ke langit-langit ruangan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!