Liburan di Dunia Fantasi

Sidang Untuk Manusia

“Itu sepasang boneka yang kami buat khusus untukmu. Anggap aja sebagai sepasang kekasih,” jawab duyung berwarna keperakan.

“Hei, kita nih masih anak-anak. Gak selayaknya mikir macam gitu,” bentak Daisy.

“Terserah kamu aja deh. Anggap aja kenangan dari kami bila kamu gak balik.” Si duyung berbalik arah dan melanjutkan permainan bersama dengan anak lain.

“Nak, cepatlah,” ajak seorang prajurit.

Lambaian tangan kembali dilakukan Daisy kepada teman-teman sepermainan, tentu saja dengan membawa boneka kayu. Ia membalikkan tubuh walau pandangan masih ke teman-teman berbagai nara. Kaki melangkah mengikuti arah dari para prajurit.

Daisy tak hanya berjalan bersama prajurit saja. Beberapa mentor dan orang dewasa lainnya turut menemani menatapkan jejak di tempat yang dipenuhi makhluk nan eksotis. Hal ini membuat anak manusia itu menoleh ke kanan dan kiri tanpa adanya rasa kekhawatiran. Ia sempat melompat kegirangan tetapi dihentikan serang prajurit. Daisy pun berjalan seperti semula.

Para prajurit berbelok ke sebuah lubang di pohon yang sangat besar. Mereka menjaga tempat itu dengan sangat baik. Tak semua orang diperbolehkan masuk ke dalam tempat itu, bahkan bagi para mentor. Hanya Daisy dan prajurit yang diperbolehkan ke dalam sana.

Cahaya dari bunga yang bermekaran membuat tempat itu menjadi indah. Daisy melihat dengan penuh kekaguman sampai ia ditarik seorang prajurit karena tak mau berjalan cepat.

“Nak, pilih nurut apa kami paksa?” tawar seorang prajurit dari jenis narasima.

“Maaf Pak, akyu cuma kagum aja.” Daisy mempercepat langkah kakinya.

Sekuntum bunga berhasil diraih gadis itu. Tak seperti yang sudah-sudah,bunga itu tak juga kunjung padam. Ia pun menyematkan pada rambutnya berharap bisa mempercantik diri.

Daisy diangkut oleh prajurit merikusuma. Mereka terbang ke atas di rongga pohon yang besar. Beberapa tangkai bunga hendak dipegang tetapi tak mampu diraih. Daisy menghelakan napas.

Sang prajurit penerbanng menempatkan Daisy ke sebuah ruangan berlantaikan kayu utuh. Di sanalah beberapa tetua dari berbagai jenis sudah berkumpul. Merekaduduk di sebuah kursi menghadap pada satu titik yaitu anak manusia.

“Benarkah kamu bisa menggunakan aura unsur air?” tanya byaka yang terlihat sudah tua.

“Iya. Akyu duduk ya,” jawab Daisy.

“Silahkan,” kata Gusti si nara minagiri.

Sebuah kursi menjadi tempat bersandar bagi Daisy. Boneka kembar digeletak pada pangkuan, kedua tangan direntangkan ke atas.

“Apa tujuanmu ke sini dan mengapa kamu berlatih penggunaan aura unsur?” tanya si byaka lagi.

“Akyu cuma nyasar aja. Kalau bisa ngendaliin air tanya aja pada Kakek Gusti. Akyu tuh gak da niat tuk bisa itu, hehehe,” tawa kecil Daisy.

“Jangan tertawa, jawba yang sejujurnya!” Sang tetua byaka mendebrak meja dengan keempat cakar tangan kanan. Hal inilah yang membuat anak di sana kaget.

“Kyuwala, jangan begitu terhadap anak kecil. Ia masih polos dan tak ada sesuatu yang disembunyikan,” cegah sang tetua duyung, Ansari.

“Tapi ia manusia, nara yang bisa membasmi kita semua. Kau tak ingat cerita itu?” Kyuwala sang byaka menatap tajam ke mata duyung.

Sang tetua yang berukuran setengah meter melompat ke tubuh Daisy. Setiap bagian dari tubuh gadis itu diperiksa, kecuali yang tertutup kain. “masih polos dan lembut, tak ada apapun yang menjadi ancaman,” katanya.

“Itu?” Kyuwala menunjuk pada benda yang berada di pangkuan Daisy.

“Cuma mainan anak perempuan saja. Apa kamu mau?” Si archid mengambil boneka lelaki dan membawanya ke tempat tetua yang lain.

“Hei, jangan ambil punya akyu.” Daisy hendak mengambil mainannya tetapi malah berikat tumbuhan yang mengelilingi tubuhnya. Boneka perempuan terjatuh, ia pun dipaksakan duduk kembali.

Sukma, sang tetua narasima mendekat pada gadis manusia. Ranting tumbuhan merambat dimasukkan ke dalam kain yang dikenakan Daisy dan dia pun bisa merasakan segala sesuatu yang ada di dalam sana.

“Nek, geli. Singkirin cepat,” pinta Daisy.

“Tenanglah manis, aku hanya memeriksa bagian dalam bajumu. Mau kamu disuruh buka baju?” tatap Sukma dengan penuh senyuman.

“Gak deh, akyu malu diliatin banyak kakek di mari, hehehe,” tawa kecil Daisy bersamaan dengan tubuh merasakan kegelian. Ia menerima apasaja yang dilakukan tetua di sana

Sulur tumbuhan menyelimuti segala tubuh Daisy dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tubuhnya terangkat dan terbungkus rapi selayak kepompong. Ia ditempatkan di tengah area.

Cahaya muncul dari dalam tubuh Daisy. Sebuah ledakan pun terjadi yang menyebabakan bagian tumbuhan itu terbang ke segala arah. Si gadis manusia kembali turun dengan baju sedikit koyak.

“Dia masih polos dan kekuatannya masih tertutup. Aku penasaran dengannya, kita perbolehkan saja untuk mengikuti kompetisi.” Suksa si narasima duduk dalam keadaan tubuh kelelahan. Mulut dibuka lebar untuk menghirup napas sebanyak mungkin, keringat pun membasahi tubuh.

“Bukankah ituakan membahayakan yang lain? Bagaimana jika dia mengamuk?” tanya Kyuwala.

“Ini kompetisi tentang keindahan bela diri, bukan tentang pertarungan konvesional. Area terbatas, keluar sedikit saja sudah didiskualifikasi,” kata Gusti si minagiri.

Voting diadakan di dalam tempat tersebut. Suara yang menginginkan Daisy tetap ikut dalam perlombaan lebih banyak daripada yang melarang gadis tersebut. Mereka yang tak setuju pun memilih untuk keluar dari tempat itu.

Daisy berjalan menuju ke mainan yang tergeletak di atas lantai. Tangan kanan memungutnya tetapi tertahan oleh tumbuhan yang dikendalikan Sukma si narasima. Ia merundukkan kepalanya sambil berkata, “Mohon balikin mainan akyu.”

Sukma sang tetua narasima mengendalikan lantai hingga bisa terkoneksi dengan dua buah boneka sekaligus. Kedua mainan menari sangat indah diharapan si kecil dan para tetua yang lain. Dia menggerakkan boneka ke dekat Daisy dan menghilangkan pengendaliannya. “Sudah paham, Manis?” tanyanya.

“Paan, Nek? Akyu malah bingung.” Daisy meraih kedua mainannya.

“Seni dan teknik merupakan penilaian tertinggi dalam kompetisi ini. Sekaligus itu adalah hal yang berhasga di dalam pertarungan. Utamakan kedua itu dan jangan menggunakan kekuatan secar berlebihan.” Sukma membentuk sebuah kursi dan duduk di sana.

“Akyu reti. Pan lomba dimulai lagi?” Daisy duduk di kursi yang dibentuk Sukma secara mendadak.

“Lomba ditunda hingga besok pagi. Kamu tidak perlu mendaftar lagi karena kamu satu-satunya anak manusia di sini,yang bisa menggunakan aura unsur.” Gusti berjalan mendekat pada Daisy.

“Trus, akyu ama capa? Rumah Kakek jauh dari sini?” tanya Daisy.

“Ikutlah denganku.” Sukma sang narasima berdiri.

Daisy dibawa keluar dari tempat yang berada di rongga sebuah pohon itu. Ia dikawal oleh tetua narasima langsung. Hal inilah yang membuat gadis itu yang bisa berbuat banyak. Niat untuk kembali bermain dengan teman-teman yang baru dikenalnya pupus begitu saja. Hanya boneka kayulah yang menjadi kenangan akan teman-teman di sana. “Nek, apa masih jauh?” tanyanya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!