Liburan di Dunia Fantasi

Prahara di Ujung Lomba

Air sungai mengering akibat terserap aura unsur yang dikeluarkan Daisy. Ikan dan hewan air lainnya pun ikut tersedot ke sana. Hal inilah yang membuat para pencari ikan sedikit kebingungan. Mereka pun mendatangi tempat air berkumpul yang merupakan bola besar.

Bola bergejolak sebagai tanda ketidakstabilan. Permukaan sering bergelombang tak rata yang membuat para pencari ikan waswas dan menjauh dari tempat itu. Gelombang semakin besar dan bola semakin tak stabil, sebuah ledakan pun terjadi. Terbentuklah sebuah ombak besar yang merendam area sekitar.

Tersisa hanya satu anak saja yang ada di sana, Daisy. Gadis kecil yang masih meneteskan air mata terus mengeluarkan aura unsur yang membuat air bergerak tak karuan. Tangan kanan memegang area yang terasa sakit. Ia mengusapnya, tangan didekatkan pada wajah. Darah yang dilihatnya membuat tangisan semakin menjadi. Gelombang lebih besar terjadi lagi.

Tetes air mata Daisy telah usai. Gadis itu kembali melanjutkan perlombaan dengan membawa rasa sedih. Aura unsur kembali dikeluarkan dengan membentuk sebuah pola layaknya sebuah kipas angin.

Tanpa disadari, ia telah mendahui beberapa nara lain yang ikut berlomba. Es besar yang menghadang perjalanan sama sekali tak berefek. Bahkan Daisy bisa mematahkannya dalam sebuah sapuan gelombang air. Beberapa es pun berhasil dikendalikan walaupun tak rapi seperti air biasa.

Daisy sudah sampai di urutan ketiga. Di depannya ada dua nara yang sedang berdesakan untuk menjadi juara satu. Ia kembali melihat Maron si byaka melakukan kecurangan dengan menghempaskan sebuah angin ke peserta yang lain. “Kadal!” teriaknya dengan penuh kemarahan saat peserta yang lain harus keluar dari lomba karena keluar dari jalur.

“Manusia, jangan anggap kau bisa menang!” Maron berbalik arah dan menembakkan bola angin.

Serangan dari Maron menambah rasa sedih dan benci di dalam hati Daisy. Gadis kecil itu sudah mulai khilaf dan tak sadar membuat permukaan air semakin tidak stabil. Tangan digerakkan ke depan, sebuah tembok air tanpa arah pun terbentuk.

Maron menganggap itu sebagai serangan balasan yang membahayakan. Bola demi bola ditembakkan tetapi membuat Daisy semakin marah dan mengeluarkan aura yang sangat kuat. Badai besar dibuat dan diarahkan ke Daisy. Gadis yang berada di depannya pun lenyap. “Hore! Rasakan itu, manusia!” teriaknya dengan riang gembira.

Si byaka merasa telah menang karena peserta yang lain masih jauh. Perjalanan kembali dilakukan dengan santai. Sebuah garis batas akhir tertandingan pun dilewati dengan senang hati. Ia melompat kegirangan tetapi diurungkan karena ada anak manusia yang sudah sampai lebih dahulu dengan mata memerah membawa dendam yang besar. Di samping itu ada Sarita sang mentor yang terus membisikkan kata kesabaran.”Apa nih? Gak percaya kalau kau menang.” Maron tak terima begitu saja kalah dengan manusia.

“Kadal, amu curang! Amu gak layak menang!” teriak Daisy di dalam tangisan. Gelombang besar hampir saja terjadi.

“Sadar Sy,” Sarita menghadang tatapan si anak manusia kepada byaka.

“Emangnya napa? Protes? Sini kalau berani!” tantang Maron.

Gelombang air besar menenggelamkan byaka yang sombong tersebut. Itu bukan dari Daisy yang sedang marah tetapi dari peserta lain yang dendam akan permainan Maron. Mereka mengelilingi byaka dengan membawakan unsur alam yang bisa dikendalikan masing-masing nara.

“Loe semua berani sama aku. Bapakku pemilik tempat ini dan aku menang dengan membawakan buah yang menjadi syarat.” Maron mengeluarkan buah yang diambilnya. Namun buah itu disambar hewan penerbang. “Hei, kembalikan itu!” teriaknya dengan penuh kemarahan.

“Peduli amat sama bapakmu!” seorang nara remaja hendak mengeluarkan energi listrik tetapi tertahan gelombang air.

Sarita yang semula menenangkan Daisy kini beralih ke tengah kalangan para pengguna aura unsur. Di setiap anggota tubuhnya telah siap untuk mengeluarkan aura. “Bukannya aku membela Maron, tetapi berpikirlah yang jernih. Hentikan dendam ini dan berikan hukuman yang lain,” katanya.

“Bu, aku minta kadal gak boleh ikutan lomba lagi. Kasihan yang lain.” Daisy berjalan menghapus air matanya. Aura unsur telah stabil dari dalam diri gadis itu.

“Idemu bagus juga. Tapi kamu juga gak menang.” Seorang nara muda merangkul Daisy, begitu juga dengan yang lainnya.

“Hei, jangan panggil aku kadal!” Maron kembali marah dan siap untuk menyerang Daisy.

“Nantang ya!” Daisy mengangkat sebuah bola air berukuran besar.

“Hentikan kawan, kita main yang lain saja. Kamu manusia, nyerang byaka bisa memicu perang.” Duyung yang baru menang bertandingan secara adil langsung berbelok ke tempat Daisy. Tangan si kecil dipegangnya dengan penuh kelembutan, bola air dilemparkan ke tempat yang aman.

Daisy meredam segala amarahnya dan menuruti nara remaja lain. Mereka berpaling dari byaka yang dianggapnya tidak bisa diajak untuk bersenang-senang. Begitu juga dengan Sarita dan beberap orang dewasa lain.

Teriak Maron berkali-kali tak digubris oleh Daisy dan nara yang lain. Ia merasa kesal, sejumlah tenaga pun dikumpuilkan pada kedua telapak tangan. Terbentuklah angin besar di sekitar tempat itu dan diarahkan pada Daisy. Namun usahanya gagal dikarenakan ada sebuah tembok es. “Bu, jangan halangi aku. Biar...,” katanya terpotong karena ancaman beberapa unsur yang dikendalikan para mentor.

“Tenangkan dirimu atau yang lain akan mengamuk kepadamu, Maron,” kata seorang mentor.

***

Daisy bergabung dengan anak-anak dari berbagai jenis. Kecurangan yang dilakukan Maron membuatnya kecewa dan mau diajak bermain boneka tanpa menggunakan aura unsur sama sekali. Boneka kayu yang dirangkai anak merikusuma. “Makasih, ini namanya capa?” tanyanya kepada si pemberi.

“Terserah kamu saja. Dia sama sepertimu, nara manusia. Kalau aku yang ini.” Si merikusuma memamerkan boneka bersayap daun.

“Akyu kasih nama Insian aja deh. Doi kan lemah antara anak monster yang lain, hehehe,” tawa Daisy dengan maksud tertentu.

“Kok kaya nama laki-laki. Tuh boneka cewek yang antingnya aku buang. Kamu aja gak pakai anting.”

“Cewek ya? Sisi aja deh.” Daisy menggerakkan boneka itu bersama dengan anak perempuan lainnya. Mereka bermain seolah dengan menjalani hidup seperti biasa.

Permainan baru saja dimulai, para prajurit pun datang ke tempat itu. Pandangan tertuju pada anak perempuan yang paling beda di kalangan itu. “Manusia, mari ikut dengan kami,” kata salah satu dari mereka.

“Maaf, apa salah akyu?” Daisy memberikan mainan pada teman terdekat.

“Tidak tahu, kami hanya diperintahkan untuk membawamu saja.”

Daisy menoleh ke teman-teman yang baru dikenalnya pada hari itu. “Manteman, akyu pamit dulu, ya. Nti kita main lagi,” katanya sambil melambaikan tangan.

Anak duyung yang menjadi idaman anak manusia mendekat pada Daisy. Dua buah boneka yang terbuat dari kayu pun diberikan kepadanya. Bentuknya seperti sepasang laki-laki dan perempuan.

“Ini?” tanya Daisy.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!