Liburan di Dunia Fantasi

Perjalanan Bersama Minagiri

Air tak lagi bisa mengikuti aura yang telah hilang, bergantian mengikuti gaya tarik bumi. Hujan lokal pun terjadi di sekitar Daisy dengan pantulan cahaya senja yang memukau mata.

“Sy, kau cepat juga belajar. Ikutlah Kakek untuk malam ini saja,” Gusti mendekat pada gadis kecil.

“Makasih. Pi, akyu gak bisa tidur di dalam air,” tolak Daisy.

“Hahaha, pemikiranmu jauh juga. Minagiri memang tidur di dalam air tapi aku ada ruang kosong untuk makhluk darat.”

Para pengguna aura unsur air membubarkan dir kembali pada kediaman masing-masing. Daisy pun mengikuti langkah sang kakek ke tepi sungai.

Sang minagiri menjatuhkan tubuh ke dalam air, Daisy pun mengikutinya. Mereka mengarungi kedalaman sungai di kala mentari telah bersembunyi di belahan barat. Cahaya dari bunga sungai menjadi bantuan untuk penglihatan mereka berdua.

Mereka menuju ke sebuah lubang di dasar sungai. Di sana vegetasi malah lebih beragam walaupun tempat itu hanya sedikit lebih lebar dari tubuh sang minagiri. Daisy memetik salah satu bunga yang mekar di sana. Sayang, bunga itu langsung padam. Ia pun membuangnya.

Ujung terowongan terlihat lebih terang. Daisy ingin sekali cepat menggapai tempat itu. Namun ia mengurungkan niatnya karena tak berani mendahului sang kakek.

Gusti dan Daisy disambut oleh beberapa minagiri dari berbagai ukuran. Sayang, gadis itu sama sekali tidak bisa mendengar apa percakapan yang mereka lakukan. Namun yang pasti ia paham saat mereka mengajak Daisy ke sebuah tempat. Ia pun mengikuti mereka berenang menuju ke atas.

Terdapat sebuah terowongan udara di ruangan paling atas pada gua yang terukir indah di tempat itu. Di sana juga terdapat beberapa vegetasi dua alam yang menjadi sebuah sumber cahaya di tempat yang gelap itu. Daisy hendak memetiknya tapi tak jadi karena ingat selalu saja pada saat memetik yang lain. Ia mendaratkan tubuh bersama dengan beberapa minagiri dan membuat air yang melekat pada pakaian.

“Daisy, mereka anggota keluargaku. Inilah cucuku yang paling besar, namanya Masia,” Gusti menunjuk pada minagiri berambut seperti api.

“Salam kenal Kak, nama saya Daisy,” sapa gadis manusia.

“Kak? Akulah yang seharusnya bilang Kakak kepadamu. Engkaulah nara manusia yang paling aku kagumi,” kata Masia.

Malam semakin larut ,udara yang terperangkap malah menciptakan kehangatan tersendiri. Daisy dan para minagiri saling berbicara penuh keceriaan. Baru Daisy tahu jika tidak semua minagiri memiliki kemampuan untuk mengendalikan aura unsur meskipun itu keturunan langsung dari pengguna aura unsur. Ia pun menceritakan kehidupan manusia yang membuat para minagiri tercegang.

Di pagi itu, hujan turun dengan deras. Keadaan di dalam air pun menjadi keruh. Namun hal ini tidak menghalangi Daisy untuk kembali ke daratan dan mengikuti kompetisi yang telah didaftarkan oleh sang kakek minagiri. Ia mengalirkan aura unsur ke samping sehingga menciptakan sebuah cerobong air yang mengarah ke atas. Aura di kaki sangat besar dan menyedot air sangat banyak. Ia melayang bersama dengan beberapa minagiri berukuran kecil. “Yuhuy!” teriaknya kegirangan.

“Kamu hebat juga, kapan belajar membuat ini?” tanya Masia.

“Baru aja, hehehe,” Daisy mengarahkan air ke tepi sungai sehingga mereka bisa mereka bisa mendarat dengan mulus di sana. Aura dibentuk ulang menyerupai sebuah tameng air tameng sehingga ia bisa melindungi beberaapa orang dari terpaan air hujan.

“Sy, ini kurang efektif. Kau nanti akan kelelahan dan kalah. Gunakan daun lebar untuk menutupi diri,” kata sang kakek minagiri.

Selembar daun seukuran satu meter dipetik minagiri dewasa untuk diberikan kepada Daisy. Namun benda itu diambil minagiri lain untuk digunakan sebagai sebuah seluncuran. Dia kembali mengambil daun selabar tinggi Daisy dan memberikan kepada gadis manusia sambiuol berkata, “Maafkan anak-anak.”

“Paman, ada gak daun yang lebih besar?” pinta Daisy.

“Buat apa?” tanya minagiri dewasa.

“Kapal darat. Tuh loh, buat nyebrangin sungai.”

Entah mengapa para minagiri mengambil beberapa daun dan merangkainya sehingga berbentuk seperti mangkok besar dilengkapi dengan sebuah tempat untuk berteduh. Daisy dan beberapa anak minagiri di tempatkan di sana.

Segenap tenaga pada telapak tangan Daisy diubah menjadi aura unsur dan menyedot air sehingga rangkaian daun terangkat. Daisy menggerakkan kedua telapak tangan serta mengatur aura sehingga menimbulkan pusaran air. Arus dorong yang kuat memaksa rangkaian daun itu melaju dengan kecepatan tinggi.

“Aku ragu jika ayah menyebutkan ia baru belajar kecuali jika memang ia seorang dev,” komentar seorang minagiri dewasa.

“Aku juga ragu jika dia bukan dev. Ayo kita susul,” kata Gusti sang kakek minagiri.

Kapal sederhana yang ditumpangi Daisy robek akibat terkena sebuah ranting. Satu per satu bagian terlepas, para penumpang pun terlempar keluar. Aura unsur dihentikan, ia mengambil napas secepat mungkin. Daisy memandangi langit untuk beristirahat sejenak.

“Kau sudah lelah? Padahal perlombaan belum dimulai,” kata Gusti yang baru saja menyusul.

“Iya, Kek. Ngendaliin air capek juga,” jawab gadis kecil itu.

“Naiklah ke kapal Kakek. Lihatlah bagaimana sang pemenang melakukan semua ini.” Gusti menjulurkan tangan kanan.

Sebuah benda berbentuk kapal dengan ukuran lebih besar lewat di sungai yang tak jauh dari tempat Daisy berbaring. Merekalah para penonton yang akan menyaksikan siapa saja yang pantas mengikuti kompetisi yang diikuti anak-anak dengan bakat luar biasa. Daisy pun diajak untuk naik ke kapal itu.

Apa yang dilakukan Daisy ditirukan oleh Gusti dan keenam pengguna aura unsur air lain. Mereka memanfaatkan air hujan untuk membentuk sebuah gelombang yang menggerakkan kapal sehingga bisa melaju di tempat yang tak seharusnya. Pengguna unsur angin juga membantu kapal itu melaju lebih cepat dengan meniupkan angin ke layar kapal. Kendaraan itu pun melewati sela hutan meskipun beberapa kali menabrak berbagai jenis pohon.

Daisy hanya duduk sembari berteduh pada sebuah tempat di kapal. Ia ingin membantu tetapi tidak diperkenankan. Pandangan matanya mengarah para tepi kapal dan hendak mengendalikan air yang ada di sekitar.

“Ba!” gertak seorang anak laki-laki.

“Ih,” Daisy berbalik badan dan sedikit marah karena hampir terjadi. Segenap energi dikumpulkan pada tangan kiri tetapi dibatalkan. “Zain, amu ada di mari,” sapanya dengan kembali.

“Iya Sy, akyu ikut archid mau tengok kompetisi antar nara. Katanya sih, acaranya seru, pesertanya yahut. Kalau amu?” tanya lelaki yang mengenakan celana sebatas lutut.

“Akyu dimasukin ikut kompetisi, hehehe,” tawa kecil gadis yang mengenakan celana ketat setengah tungkai atas dengan baju tanpa lengan.

“Hahaha, amu ikutan lomba apa? Nyanyi aja juara ekor,” tawa Zain terbahak-bahak.

“Pi, akyu bisa renang cepat macam duyung lho. Amu ama mama amu gak ada bandingannya ama akyu. Akyu juga bisa ngendaliin air. Eh, mana mama amu?” tanya Daisy.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!