Liburan di Dunia Fantasi

Tarian Aura Unsur Air

“Setiap nara ada kelebihannya masing-masing. Kelebihan tanggang wasesa adalah bisa berjalan di atas air walaupun tidak bisa menggunakan aura unsur sama sekali. Sekarang ikuti gerakanku.” Sarita kembali menari dengan lebih sederhana dengan sedikit menggunakan aura unsur.

Setiap pergerakan dari sang mentor selalu diusahakan oleh si anak manusia. Namun, gadis yang bernama Daisy itu sering melakukan gerakan yang salah. Bahkan ia kerap mengganggu nara lain dan menyiram mentornya sendiri.

“Sy, fokuslah dan ikuti aku. Kompetisi tinggal besok,” marah Sarita.

“Maaf Bu,” Daisy tak sengaja menciptakan sebuah gelombang setinggi tiga meter. Ia tidak terkena gelombang tetapi Sarita ikut terbawa gelombang karena kurang siap.

“Sy,” pembuluh darah di tepi lensa mulai membesar, mata pun berubah menjadi merah. Segenap energi disalurkan pada ujung tubuh, aura yang dihasilkan pun sangat besar. Air yang berada di sekitar tersedot sebelum melaju sedikit memadat. Dia pun menenggelamkan apa saja yang ada di depannya.

Tiada apapun dipermukaan air. Hanya Sarita yang masih berada di sana sendirian. Dia melirik di sekitar mencari si anak yang ingin dilatih. “Mana kamu, manusia!” teriaknya.

Permukaan yang menjadi tumpuan kaki Sarita bergerak ke atas secara mendadak sehingga sang mentor pun tak bisa untuk menghindar. Di balik itulah si gadis yang dicarinya sedang mengendalikan air. Sedikit demi sedikit sang mentor memecah arus sehingga bisa mendekat pada Daisy. Ingin rasanya memberikan sebuah pukulan tapi dia sadar yang dihadapi hanyalah anak kecil walapun tubuhnya sendiri tidak sampai setinggi tinggi Daisy. Dia melompat sambil memberikan sebuah sentuhan sayang. “Hati-hatilah, tahan diri atau aku marah besar,” katanya dengan nada tinggi.

“Maafkan daku ini. Aku akan lebih hati-hati,” Daisy merundukkan kepala. Raut wajah ceria berubah menjadi penuh penyesalan.

“Mungkin kamu akan membahayakan jika berlatih di air. Kita latihan di darat saja.”

Sarita dan Daisy tak lagi berada di atas air. Di tempat nan kering itu, sang mentor memberikan latihan dasar berubah menyesuai gerakan dan aura yang dikeluarkan. Namun anak yang dilatih masih saja belum bisa menuruti apa yang diinginkan sang mentor. Akhirnya, Sarita hanya bisa menghela napas dikarenakan baru belajar.

Awan putih berkumpul di langit menutupi menutupi cahaya mentari yang menyinari dunia. Awan hitam menyusul membawa menurunkan air dengan jumlah tak terkira. Angin dan petir itu meramaikan suasana di sana. Para nara dan hewan bersembunyi di balik sebuah pohon untuk melindungi diri dari terpaan air langit. Hal ini juga berlaku bagi Sarita si tanggang wasesa. Dia berteduh bersama dengan si murid di sebuah pohon besar.

“Sy, aku maklumi kekuranganmu dalam latihan ini. Aku butuh waktu dua tahun lebih, sedangkan kau hanya punya waktu dua hari. Lakukan yang terbaik dan jangan lukai yang lain,” kata Sarita.

“Makasih Bu. Akyu emang gak ada niat buat menang. Akyu penasaran aja soal aura unsur,” senyum manis si gadis kecil.

Kilatan cahaya mematikan berpadu dengan bunyi yang sangat keras di sela hujan yang semakin deras. Hati Daisy tumbuh rasa takut akan suara mengirikan itu. Ia menutup telinga dan mendekam di dekat sang mentor.

“Sy, ada apa denganmu?” tanya Sarita.

“Akyu akut petir,” Daisy memandang wajah sang mentor.

“Jangan takut. Walaupun terdengar dekat sebenarnya itu jauh dan tidak membahayakan,” Sarita mengusap tubuh Daisy.

Kehangatan sang mentor di saat petir bergejolak mengingatkan gadis itu akan kebaikan kedua orang yang merawatnya. Daisy teringat saat sedang bersama-sama berlatih sebuah tarian di bawah guyuran air hujan karena rumahnya bocor. Dia tak lagi mendekam ketakutan. Daisy berlari di bawah hujan disertai badai.

Energi disalurkan ke ujung kedua tangan dan kaki. Daisy mengatur kekuatan sesuai yang dikehendaki. Ia bergerak dengan lincah di bawah langit yang sedang menangis. Tetesan hujan pun terkumpulkan dan membetuk sebuah aliran yang mengikuti kemana pun yang diinginkan. Ia menari dengan begitu indah di bawah sambaran petir.

“Sy, bagaimana kau bisa itu?” tanya Sarita.

“Akyu dipaksain ikutan kelas tari.” Daisy melompat diikuti pergerakan air sehingga bisa lebih tinggi daripada biasanya.

“Berteduhlah, itu bahaya!” teriak sang mentor di bawah kilat yang sterus menyambar.

Daisy sama sekali tak mempedulikan sambaran cahaya dari langit yang berbahaya itu. Keyakinannya terhadap kekuatan yang dimiliki menghilangkan rasa takut yang dialami selama ini. Petir mengarah kepadanya, air malah dikumpulkan untuk menahan sambara itu.

Energi listrik yang terjebak di air menjadi sebuah main bagi gadis mengguna aura unsur air itu. Ia menggerakkan air seolah bisa menggerakkan petir ke berbagai arah sehingga menciptakan sebuah tarian berhiaskan cahaya mematikan. Cahaya telah redup, Daisy pun menghentikan pengendaliannya dan menghela napas di bawah guyuran hujan yang hampir reda. “Bu, gimana?” katanya dengan napas sedikit ngos-ngosan.

“Kamu bisa mati tersambar petir. Kelemahan air itu petir. Tapi yang kalau lakukan aku salut. Bisa ajari Ibu tarian itu?” tanya Sarita.

“Maaf Bu, akyu gak bisa sebab tadi cuma ngarang aja, hehehe,” tawa kecil Daisy.

“Kalau begitu Ibu yang bantu pergerakanmu tapi jangan main petir,” Sarita melangkahkan kaki ikut bergabung di tengah sisa aliran air hujan.

Daisy kembali melakukan sebuah tarian yang pernah dilakukan pada saat sekolah bersama dengan manusia yang lain. Pergerakan itu disempurnakan oleh Sarita di bagian aura dan tenaga.

Mentari kembali menampakkan diri di langit sebelah barang. Cahaya yang dikeluarkan pun menarik siapa saja yang melihatnya. Sayang, waktu untuk berlatih telah berakhir. Daisy memberikan sebuah penghormatan sebagai salah satu bentuk jasa kepada sang mentor yang telah melatihnya sejauh ini.

“Latihanmu juga cukup baik. Semoga besok bisa menampilkan yang terbaik,” sang mentor membalas penghormatan walau hanya sebentar.

“Terima kasih.” Daisy membubarkan formasi tangan.

Kedua wanita itu kembali ke tempat para pengguna aura unsur air berkumpul di sanalah Daisy bisa melihat kembali sang guru utama, Gusti si minagiri. Sebuah penghormatan pun dilakukan.

“Sy, tak perlu lakukan itu. Kau menjadi tanggunganku untuk sementara waktu,” sang kakek mengelus rambut gadis manusia.

“Makasih.” Daisy membubarkan formasi tangan dan berdiri tegak.

“Tolong tunjukkan kemahiranmu sebelum besok para juru menilaimu,” pinta sang Sancalawa sang baskara.

“Baiklah.” Daisy berjalan ke tempat yang banyak genangan air. Energi dipusatkan pada kedua telapak tangan, ia pun menyodot air itu dan menggerakkan dengan sebuah tarian yang dipelajari selama bersekolah bersama dengan anak manusia yang air. Aliran aura yang bergerak mengikuti tangan mungiil nan lembut menarik air sehingga membentuk sebuah aliran indah memanjakan mata. Pantulan cahaya mentari senja mengubah warna air seolah seperti api. Daisy mengakhiri gerakan itu dengan mengarahkan air ke udara.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!