Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Rahasia di Balik Janji
Satu minggu berlalu sejak malam dimana Alya mengungkapkan perasaannya. Suasana di apartemen Rayhan berubah dingin dan canggung. Keheningan yang dulu terasa nyaman, kini terasa seperti jurang yang memisahkan mereka. Alya mulai fokus pada pekerjaannya sebagai desainer grafis. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor, tenggelam dalam tumpukan proyek dan tenggat waktu. Seolah-olah, dengan menyibukkan diri, ia bisa menekan perasaannya terhadap Rayhan.
Di sisi lain, Rayhan juga tenggelam dalam pekerjaannya. Ia sering pulang larut, terkadang bahkan tidak pulang, dan Alya tahu, ia pasti menginap di rumah sakit. Ketika mereka bertemu, interaksi mereka hanya sebatas pertukaran kata yang singkat dan formal. “Sudah makan?” atau “Kau butuh sesuatu?” Percakapan yang dulu mengalir ringan, kini terasa berat dan terpaksa.
Suatu sore, Alya pulang lebih awal dari kantor. Apartemen itu gelap dan sunyi. Ia tahu Rayhan belum pulang. Alya berjalan ke kamarnya, melemparkan tas ke atas tempat tidur, lalu berdiri di depan jendela, menatap ke luar. Hujan mulai turun, membasahi kaca jendela dan membuat pemandangan kota di bawahnya terlihat buram. Alya menghela napas, hatinya terasa kosong.
Ia merindukan kehangatan yang dulu ada di antara mereka. Ia merindukan tatapan Rayhan yang menenangkan, senyum tipisnya yang langka, bahkan keheningan yang dulu nyaman. Alya tahu, ia telah merusak semuanya dengan mengungkapkan perasaannya. Tapi, ia tidak menyesal. Ia hanya ingin tahu, mengapa Rayhan menolaknya dengan cara yang begitu dingin?
Tiba-tiba, ponsel Alya berdering. Sebuah pesan dari Rio, asisten Rayhan. “Alya, apa kau bisa ke rumah sakit sekarang? Rayhan… dia kecelakaan.”
Jantung Alya berdebar kencang. Ia segera mengambil tasnya, berlari keluar dari apartemen, dan memesan taksi. Selama perjalanan, tangannya gemetar. Ribuan pikiran buruk memenuhi kepalanya. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Rayhan? Bagaimana jika ia tidak bisa melihatnya lagi? Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tidak peduli jika sopir taksi menatapnya dengan aneh. Yang ia pedulikan hanyalah Rayhan.
Sesampainya di rumah sakit, Alya langsung berlari ke lobi. Ia melihat Rio sedang menunggu di sana, wajahnya terlihat tegang. “Rio! Di mana Rayhan? Apa dia baik-baik saja?” tanya Alya, napasnya tersengal.
“Dia sudah di ruang operasi, Alya,” jawab Rio, suaranya pelan. “Ada tabrakan beruntun di jalan tol. Rayhan sedang dalam perjalanan pulang, dan… dia terlibat di dalamnya.”
Alya merasa lututnya lemas. Ia bersandar pada dinding, mencoba menenangkan diri. Ruang tunggu di luar ruang operasi terasa dingin dan mencekam. Alya duduk di salah satu kursi, menatap pintu operasi yang tertutup rapat. Berjam-jam berlalu, dan tidak ada kabar. Alya terus berdoa, berharap Rayhan baik-baik saja. Rio duduk di sebelahnya, tidak berkata apa-apa. Ia tahu, Alya membutuhkan waktu untuk memproses semuanya.
Akhirnya, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar, wajahnya terlihat lelah. Alya dan Rio segera bangkit. “Bagaimana dok? Bagaimana keadaan Rayhan?” tanya Alya.
Dokter itu menghela napas. “Operasinya berhasil. Tapi… dia mengalami cedera parah di kepalanya. Kami belum bisa memastikan apakah ada kerusakan saraf. Kita harus menunggu sampai dia sadar.”
Alya merasa seperti ada beban berat yang menimpa dadanya. Ia ingin berteriak, menangis, tetapi tidak ada suara yang keluar. Rio menepuk pundaknya. “Tenang, Alya. Rayhan adalah seorang pejuang. Dia akan baik-baik saja.”
Rayhan dipindahkan ke ruang ICU. Alya tidak diizinkan masuk, jadi ia hanya bisa melihatnya dari balik kaca. Rayhan terbaring tak berdaya di atas ranjang, wajahnya pucat, dan ada perban di kepalanya. Air mata Alya mengalir tanpa bisa ia kendalikan. Ia merasa seperti ada ribuan pisau yang menusuk hatinya.
Rio kemudian mengajak Alya ke ruang kerja Rayhan yang ada di rumah sakit. "Rayhan sempat memberikan ini sebelum masuk ruang operasi," kata Rio, menyerahkan sebuah amplop cokelat. "Dia bilang, amplop ini untukmu, jika terjadi sesuatu padanya."
Alya mengambil amplop itu, tangannya gemetar. Amplop itu terasa berat. Ia membukanya perlahan, menemukan beberapa lembar dokumen di dalamnya. Akta kelahiran, sertifikat adopsi, dan sebuah surat yang ditulis tangan oleh Rayhan. Alya menahan napas saat membaca tulisan Rayhan.
“Alya… Jika kau membaca surat ini, itu artinya aku tidak bisa lagi melindungimu. Aku minta maaf. Ada begitu banyak hal yang tidak bisa aku katakan padamu. Ada begitu banyak rahasia yang aku simpan. Aku tidak ingin membebanimu dengan masalah-masalahku.”
Alya terus membaca, air matanya menetes di atas kertas. Rayhan menjelaskan, bahwa ia tidak bisa mencintai Alya karena ada trauma masa lalu yang begitu dalam. Rayhan menjelaskan bahwa ia bukan anak kandung orang tuanya. Ia diadopsi, dan orang tua angkatnya, yang adalah orang tua Rayhan yang ia kenal selama ini, sangat ketat dan protektif. Mereka tidak mengizinkan Rayhan untuk menjalin hubungan dengan siapa pun, dan mereka selalu mengancam akan menghancurkan hidup orang yang dekat dengannya.
“Orang tua angkat saya adalah mafia, Alya. Mereka adalah orang-orang yang sangat berkuasa dan berbahaya. Mereka menggunakan nama dokter dan pengusaha untuk menutupi kejahatan mereka. Mereka adalah orang yang membuat saya menjadi seperti ini. Dingin, tanpa emosi. Saya takut jika saya mencintaimu, mereka akan menyakitimu, seperti mereka menyakiti semua orang yang saya cintai.”
Alya menatap dokumen adopsi itu. Ada nama lain di sana, nama asli Rayhan: Rafa Dwi Prayoga. Itu adalah nama yang berbeda dari nama yang ia kenal selama ini.
“Aku mencintaimu, Alya. Tapi aku tidak bisa bersamamu. Aku tidak ingin kamu menderita karena aku. Tolong, lupakan aku dan mulailah hidup baru. Kamu berhak mendapatkan pria yang lebih baik, pria yang bisa mencintaimu dengan bebas, tanpa rasa takut. Aku harap kamu akan bahagia.”
Alya tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia memeluk surat itu, hatinya hancur berkeping-keping. Sekarang ia mengerti mengapa Rayhan begitu dingin. Mengapa ia menolaknya. Mengapa ia merasa tidak pantas untuk dicintai. Rayhan telah mengorbankan perasaannya sendiri untuk melindunginya.
Alya kembali ke ruang ICU, menatap Rayhan dari balik kaca. Ia tahu, ia tidak bisa meninggalkan Rayhan. Ia tidak bisa melupakannya. Ia tidak bisa memulai hidup baru tanpa dia. Alya memutuskan, ia akan menunggu Rayhan, sampai kapan pun. Ia tidak peduli dengan bahaya yang mengancam. Ia tidak peduli dengan orang tua angkat Rayhan yang kejam. Ia hanya peduli pada Rayhan.
Beberapa hari kemudian, Rayhan akhirnya sadar. Alya segera masuk ke ruangannya. Rayhan menatapnya, matanya memancarkan rasa bersalah. “Alya… kau sudah tahu, bukan?” tanyanya, suaranya serak.
Alya mengangguk. “Aku tahu. Tapi itu tidak mengubah apa pun. Aku tidak peduli dengan siapa kamu sebenarnya. Aku hanya peduli pada Rayhan yang aku kenal. Rayhan yang melindungiku, yang percaya padaku, dan yang mencintaiku.”
Rayhan menatap Alya, matanya berkaca-kaca. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia tidak bisa menolak. Ia hanya bisa mengangguk, lalu meraih tangan Alya. “Alya… kau terlalu baik untukku,” katanya, suaranya bergetar.
“Aku tidak peduli,” jawab Alya. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan menghadapi ini bersama. Aku akan melindungimu, seperti kamu melindungiku.”
Rayhan tersenyum, senyum yang tulus, yang Alya belum pernah lihat sebelumnya. “Terima kasih, Alya.”
Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Keesokan harinya, orang tua angkat Rayhan datang ke rumah sakit. Mereka adalah pasangan paruh baya yang terlihat elegan dan berkuasa, namun mata mereka memancarkan aura dingin dan berbahaya. Berbeda dengan mama kandungnya yang lembut. Mereka menatap Alya dengan tatapan mengejek, seolah-olah Alya adalah serangga yang menjijikkan.
“Jadi, ini wanita yang kau cintai, Rayhan?” kata wanita paruh baya itu, suaranya dingin. “Wanita yang tidak tahu diri ini?”
Alya merasa takut, namun ia mencoba untuk tetap tenang. “Saya tidak akan membiarkan Anda menyakitinya,” kata Rayhan. “Saya akan melindunginya.”
“Kau berani melawan kami?” kata pria paruh baya itu, suaranya mengancam. “Kau akan menyesal, Rayhan. Kau akan menyesal karena telah melindunginya. Kami akan pastikan, hidupmu hancur.”
Rayhan tidak gentar. Ia menatap mereka dengan tatapan dingin. “Saya sudah tidak peduli. Saya sudah tidak takut lagi. Anda bisa melakukan apa pun yang Anda mau. Saya akan tetap melindunginya.”
Orang tua angkat Rayhan tidak berkata apa-apa lagi. Mereka hanya tersenyum sinis, lalu meninggalkan ruangan. Alya memeluk Rayhan, tubuhnya gemetar. Ia tahu, ancaman mereka tidak main-main. Mereka adalah orang-orang yang berbahaya, dan mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang mereka mau.
“Jangan khawatir, Alya,” kata Rayhan, suaranya meyakinkan. “Kita akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu.”
Namun, Alya tahu, ancaman itu tidak hanya ditujukan untuk Rayhan, tetapi juga untuk dirinya. Ia tahu, hidup mereka akan berada dalam bahaya. Apakah ia bisa menghadapi bahaya itu? Apakah cinta mereka akan cukup kuat untuk bertahan dari badai yang akan datang? Dan apa yang akan terjadi selanjutnya? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Alya menatap Rayhan, hatinya berperang. Ia sadar, kini hidupnya terancam. Pilihan ada di tangannya: bertahan demi Rayhan atau meninggalkannya untuk menyelamatkan diri sendiri. Tapi ia tahu, ia tidak akan pernah bisa meninggalkan Rayhan. Ia akan berjuang, apa pun risikonya.