Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Ancaman dalam Krisis

Rayhan berlutut di samping ibunya, udara dingin hutan yang lembap menusuk hingga ke tulang. Wajah Ibu Wiryawan keriput dan kebiruan, napasnya hampir tidak terdeteksi. Jeritan batinnya, yang tadi teredam oleh adrenalin, kini menyentakkan kesadaran Rayhan. Ia bukan lagi pejuang; ia kembali menjadi seorang dokter.

"Ambil selimut dari dalam van, cepat!" perintah Rayhan, suaranya tajam dan otoriter. Ia sudah memeriksa nadi di pergelangan tangan ibunya—lemah, melompat-lompat tak beraturan. Syok.

Alya sudah lebih dulu bergerak. Ia menyambar kertas yang bernoda darah itu, melipatnya, dan menyelipkannya ke saku jaketnya, seolah benda itu adalah racun yang harus disembunyikan. Tubuhnya masih bergetar hebat, tetapi gerakannya efisien. Ia merangkak masuk ke dalam van yang miring, menarik keluar selimut tebal yang biasa mereka gunakan di perjalanan panjang.

"Ini," kata Alya, menyerahkan selimut itu.

Rayhan mengambilnya dan membungkus tubuh ibunya dengan hati-hati. Ia menoleh ke Rio yang masih berdiri mematung di sampingnya.

"Rio, ada sisa air panas di termos? Ibuku butuh kehangatan internal," ujar Rayhan, matanya memancarkan urgensi yang dingin.

Rio tersentak, lalu mengangguk. "Ada, Bos. Saya akan coba keluarkan."

Sementara Rio berjuang untuk menuang air panas dari termos yang terguling di dalam van, Rayhan menggunakan teknik pijatan sederhana di dada dan leher ibunya, mencoba menstimulasi sirkulasi darah.

"Bu, dengar aku. Jangan menyerah," bisik Rayhan, suaranya tercekat. Di matanya, bayangan wajah Ibunya yang tersenyum di hari pernikahannya berkelebat. Bertahun-tahun dipenjara dan bersembunyi, satu-satunya penyesalan terbesarnya adalah tidak bisa menjaga wanita ini.

Beberapa menit kemudian, Ibu Wiryawan terbatuk. Mata tuanya terbuka sedikit.

"Ray... aku kedinginan..." bisiknya lemah, bibirnya bergerak-gerak.

"Aku tahu, Bu. Bertahanlah," kata Rayhan, memeluknya dari luar selimut. Rio menyodorkan cangkir kecil berisi air hangat. Rayhan membantu ibunya meminumnya seteguk demi seteguk.

Alya berdiri menjauh, memandang ke dalam kegelapan hutan tempat Soni menghilang. Ia masih memegang senapan otomatis. Keheningan hutan kini terasa mengancam, seolah menunggu mereka lengah.

"Van ini tidak bisa dipakai lagi," ucap Alya, suaranya serak. Ia menendang ban yang sobek, yang kini tergeletak tak berdaya seperti luka terbuka. "Kita harus jalan kaki."

"Tidak mungkin. Ibuku dalam kondisi kritis. Dia butuh rumah sakit," balas Rayhan, frustrasi.

Alya membalikkan senapan, mengecek magasin. "Jalan kaki atau mati di sini, Rayhan. Pikirkan. Jika Soni kembali—atau Santoso mengirim bala bantuan—kita tidak punya tempat bersembunyi. Kita tidak punya kendaraan, dan kita berada di tengah antah berantah."

Dia benar. Kebenaran yang keras itu menusuknya. Rayhan memejamkan mata sesaat. Mereka sudah berhasil melepaskan diri dari lubang cacing ini hanya untuk jatuh ke lubang lain yang lebih dalam.

"Rio, kita tinggalkan van ini. Bawa semua perbekalan yang bisa kau bawa. Fokus pada obat-obatan dan air," instruksi Rayhan. "Alya, kau di depan. Tetap waspada."

"Tunggu," sela Rio, tangannya gemetar saat ia memegang senter. "Kalian yakin? Ini terlalu berbahaya. Hutan ini... gelap dan asing."

"Pilihan apa lagi yang kita punya, Rio?" tanya Alya, tanpa basa-basi. Ia menyampirkan senapan itu di bahunya, gerakan yang mendadak terasa alami, dan menyalakan senter. Cahaya kuning yang lemah memotong tirai kegelapan, memperlihatkan jalan setapak kecil yang tidak beraspal, dikelilingi oleh pepohonan pinus yang menjulang tinggi.

Rayhan dengan hati-hati mengangkat ibunya, yang hanya seberat setumpuk tulang dan kulit. Ia membawanya seperti bayi, kepala ibunya bersandar di bahunya.

"Ayo," katanya.

Mereka berjalan selama hampir empat jam. Malam dingin dan sunyi. Rayhan tidak berani menyalakan GPS di ponselnya—sinyal mungkin terlacak. Mereka hanya mengandalkan insting Alya untuk bergerak menjauh dari tempat kejadian.

Ketika fajar mulai menyingsing, mewarnai langit timur dengan warna ungu pucat dan oranye, mereka mencapai jalan raya utama. Di sana, di pinggir jalan yang sepi, berdiri sebuah kedai kopi lusuh dengan papan nama berkarat. Sebuah truk tua diparkir di depannya, asap tipis mengepul dari cerobong kecil.

"Kita istirahat di sana," putus Rayhan. "Ibuku perlu tempat yang hangat. Rio, kau awasi keadaan."

Mereka memasuki kedai itu. Aroma kopi yang baru diseduh, dicampur dengan bau rokok basi dan minyak goreng, menyambut mereka. Hanya ada satu pelanggan—seorang sopir truk bertubuh besar dengan topi baseball—dan seorang wanita tua yang bertugas sebagai pelayan sekaligus kasir, membersihkan meja dengan gerakan lesu.

Rayhan meletakkan ibunya di salah satu bangku panjang di sudut terjauh, menutupi wajahnya dengan syal untuk menyembunyikan identitasnya. Ia lalu mendekati konter.

"Kopi hitam, tiga. Dan segelas air panas," katanya, suaranya pelan.

Wanita tua itu menatap mereka dengan tatapan ingin tahu. "Kalian dari mana? Kelihatan berantakan sekali."

"Mobil kami mogok di tengah hutan," jawab Alya, tangannya yang memegang senapan ia sembunyikan di balik punggung, di bawah jaket tebalnya. Ia memberikan tatapan mengancam yang diam kepada wanita itu.

Wanita itu tampaknya mengerti. Ia mengangguk kaku, tanpa bertanya lebih lanjut. "Dua puluh ribu. Segera kubuatkan."

Ketika kopi dihidangkan, Rayhan memaksa ibunya minum sedikit lagi. Kehangatan kopi itu sepertinya memberikan sedikit tenaga.

"Alya, aku akan ke belakang sebentar. Telepon rumah sakit yang jauh. Kita tidak bisa mengambil risiko di sini," bisik Rayhan, lalu ia pergi ke kamar mandi yang letaknya di luar.

Alya duduk di seberang ibunya, menjaga jarak, matanya terus menyapu kedai. Rio mengambil posisi di dekat pintu, berpura-pura merokok.

Saat itu, pintu kedai terbuka, dan seorang pria dengan jas kulit hitam panjang memasuki ruangan. Ia tidak terlihat seperti sopir truk atau penduduk setempat. Ia tinggi, memiliki potongan rambut rapi, dan matanya dingin.

Pandangan pria itu langsung tertuju pada Alya, lalu pada Ibu Wiryawan yang terbungkus selimut. Ekspresinya tidak menunjukkan apa-apa. Ia berjalan lurus ke konter.

"Kopi pahit," katanya kepada wanita tua itu.

Alya menegang. Tangannya yang dingin meremas kertas berdarah di sakunya. Kertas itu terasa seperti peringatan baru. Ia melirik Rio. Rio juga menegang, tangannya perlahan bergerak ke pinggangnya.

"Maaf, kami baru buka, Tuan. Kopinya masih panas sekali," kata wanita tua itu.

Pria itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku suka kopi yang pahit, Bu. Sama seperti hidup."

Ia mengambil cangkir kopinya, lalu berbalik. Langkahnya ringan, tetapi setiap hentakan sepatu boot-nya terasa seperti palu yang memukul lantai kayu.

Ia tidak duduk di meja. Ia berjalan lurus ke arah Alya. Ia berhenti di samping bangku tempat Ibu Wiryawan berbaring.

"Cuaca dingin sekali, ya," kata pria itu, suaranya tenang.

Alya mengangkat kepalanya. Matanya setajam ujung pisau.

"Terserah kau siapa. Pergilah. Kami tidak mau masalah," ujar Alya, suaranya nyaris berbisik.

Pria itu mengabaikannya. Matanya menatap lekat pada syal yang menutupi wajah Ibu Wiryawan. Lalu, ia mengangkat cangkir kopinya.

"Permainan Santoso memang baru dimulai, Nyonya," katanya.

Dan kemudian, tanpa peringatan, ia menuangkan seluruh isi kopi hitam panas itu ke atas syal yang menutupi wajah Ibu Wiryawan.

Jeritan tertahan lolos dari bibir Ibu Wiryawan. Alya memekik marah.

"BRENGSEK!"

Alya segera mengeluarkan senapan dan mengarahkannya. Tetapi pria itu sudah bergerak. Ia melangkah mundur, meraih Rio dalam satu gerakan cepat. Sebuah pisau perak muncul di tangannya, menempel di leher Rio.

"Tembak," tantang pria itu, seringai kejam muncul di wajahnya. "Dan temanmu ini akan menjadi yang pertama mati."

Rayhan, yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat adegan itu. Cangkir kopi yang kosong tergeletak di lantai, asap mengepul, dan Rio yang ditawan.

"Lepaskan dia!" raung Rayhan.

"Rayhan, pergi!" teriak Alya.

Pria itu memutar matanya ke Rayhan. "Santoso ingin kau datang sendiri, Dokter. Kau dan nyonya kecilmu ini." Ia menatap Alya. "Kalian berdua, ke mobilku. Atau aku memotong urat nadi temanmu. Sekarang."

Rayhan menatap Alya. Alya mengangguk kaku, matanya penuh air mata kemarahan. Ia menurunkan moncong senapan itu. Pria itu menyeringai penuh kemenangan.

"Pilihan yang cerdas," ujar pria itu. Ia mendorong Rio, yang segera jatuh ke lantai, terbatuk. "Sampai jumpa lagi, Rio."

Pria itu mundur ke pintu. Alya dan Rayhan saling pandang—kebingungan, ketakutan, dan keputusan keras tercermin dalam mata mereka. Mereka telah jatuh ke perangkap yang lebih dalam lagi.

"Ibu..." bisik Rayhan.

"Rio, urus Ibu. Kirim ambulans ke lokasi yang kurahasiakan. Jangan hubungi polisi," pinta Alya, suaranya tenang tetapi penuh paksaan.

Alya dan Rayhan mengikuti pria itu keluar. Di luar, mobil sedan hitam mengkilap—bukan van lusuh—menunggu mereka. Pintu belakang terbuka, seolah menyambut dua mangsa baru.

Saat mereka masuk, pria itu menutup pintu, dan mobil meluncur pergi. Hanya menyisakan Rio dan Ibu Wiryawan yang kesakitan di kedai kopi.

Di dalam mobil, Alya merogoh saku. Jari-jarinya menyentuh lipatan kertas berdarah. Ia tahu, di baliknya, ada sandera baru yang harus mereka selamatkan.

Sandera lain. Dan sekarang, mereka sendiri yang menjadi umpannya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!