Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Serangan Balik
Alya bergerak seperti bayangan, sepatu ketsnya yang basah menapak lembut di tanah berkerikil. Otaknya kosong dari ketakutan, hanya dipenuhi oleh instruksi dingin yang muncul dari naluri bertahan hidup. Ia bukan lagi istri dokter yang rapuh; ia adalah produk dari lingkungan kejam yang telah memaksanya bertahan sejak lama. Kunci inggris di tangannya terasa seperti perpanjangan tangannya, berat dan mematikan.
Pria bertopeng yang menjaga pintu belakang van itu tampak bosan. Ia bersandar ke mobil, senapan otomatisnya disampirkan di bahu. Matanya fokus ke dalam kegelapan tempat Rayhan melarikan diri, tertarik pada suara tembakan yang kini meredup.
Alya mencapai jarak satu meter. Ia menarik napas, napas yang tersembunyi di balik deru angin. Tidak ada ruang untuk kesalahan.
Ia melompat. Kunci inggris itu berayun ke bawah dengan seluruh berat tubuhnya, bukan ke kepala—terlalu berisiko—tetapi ke tangan kanan pria itu, tepat di pergelangan tangan yang memegang senapan.
KRAK!
Suara tulang patah terdengar nyaring, diikuti oleh jeritan teredam yang segera berubah menjadi raungan. Senapan itu terlepas, jatuh ke tanah.
Penyerang yang satunya, yang menjaga di sisi pengemudi, berbalik, terkejut. "Apa-ap—"
Alya tidak memberinya kesempatan. Ia berputar, menendang keras ke lutut pria pertama yang kesakitan di tanah, sebelum melompat ke pria kedua. Tanpa kunci inggris, ia menyergap, menggunakan beratnya yang ringan sebagai pengungkit untuk mendorong pria itu ke van.
BRAK!
Kepala pria kedua membentur keras badan van. Ia terhuyung, topengnya sedikit miring.
"Dasar jalang!" raungnya.
Alya mundur dua langkah. Rasa ngeri mulai menjalari tangannya, tetapi ia menahannya. Ia harus segera mendapatkan senjata. Ia menendang senapan yang jatuh dari tangan pria pertama, menjauhkannya.
Pria kedua menerjang, tinjunya mengarah ke wajah Alya. Alya merunduk, gerakan yang terkoordinasi secara mengejutkan, dan menyelinap di antara kaki pria itu. Ia berbalik dan menggunakan sisa tenaganya, mendorong pria itu dari belakang.
Pria bertopeng itu tersandung, jatuh ke tanah dengan keras. Alya melompat, kakinya mendarat di dada pria itu. Ia membungkuk, dengan cepat menarik topeng hitam itu. Di bawahnya, wajah seorang pria asing, tetapi matanya penuh kebencian yang familiar.
Saat Alya mencari senjata lain, ia mendengar suara gemeretak di belakangnya. Pria pertama, dengan tangan patah, berhasil meraih radio komunikasi di pinggangnya.
"Soni! Van diserang! Dia menyerang kami!"
Sementara itu, Rayhan dan Soni saling berhadapan di antara bayang-bayang pepohonan.
"Aku akan merobekmu menjadi potongan-potongan kecil, Dokter!" raung Soni, pisau di tangannya memantulkan cahaya redup.
"Kau terlalu banyak bicara," balas Rayhan, napasnya terkontrol meskipun jantungnya berdentum kencang.
Soni menyerang. Pisau itu menyayat udara. Rayhan mengelak ke samping. Ia telah mempelajari pola serangan Soni bertahun-tahun yang lalu saat pertama kali melindungi Alya. Soni kuat, tapi lambat.
Rayhan mengambil jarak, lalu melompat ke gundukan akar pohon pinus. Ia menggunakan ketinggian itu sebagai keuntungan, membalas serangan dengan tendangan keras ke perut Soni.
Soni mendengus kesakitan, terhuyung mundur. Rompi antipelurunya melindungi dari peluru, tetapi tidak dari kekuatan tumpul.
"Kau semakin cepat, Dokter! Penjara mengajarimu sesuatu!" gerutu Soni.
Rayhan tidak menjawab. Ia tahu ini adalah pertarungan untuk hidupnya, untuk Alya, dan untuk ibunya. Ia tidak bisa mengandalkan baku tembak. Ia harus menggunakan lingkungan.
Tiba-tiba, teriakan dari radio di ikat pinggang Soni memecah konsentrasi pria itu.
"Soni! Van diserang! Dia menyerang kami!"
Wajah Soni memucat, matanya melebar karena marah. "Bajingan! Kau mengirimnya untuk mengalihkan perhatianku!"
"Aku tidak perlu mengirimnya. Dia tidak selemah yang kau kira," cibir Rayhan.
Soni berbalik, amarahnya kini diarahkan ke van. Ia mulai berlari.
"Jangan harap bisa lari!" teriak Rayhan.
Rayhan mengambil sebatang dahan pinus yang tebal dari tanah dan melemparkannya seperti tombak. Dahan itu mengenai punggung Soni yang besar. Pria itu tersandung, tetapi tidak jatuh. Namun, itu cukup untuk mengulur waktu.
Rayhan menginjak gas, mengejar Soni. Jantungnya berdebar antara cemas dan lega. Alya... dia sedang berjuang.
Alya kini memegang senapan otomatis yang baru saja ia rebut. Pria kedua masih merangkak di tanah, mengumpat. Pria pertama, yang pergelangan tangannya patah, mundur ke mobil.
"Alya, kau baik-baik saja?" bisik Rio dari dalam van, matanya lebar karena terkejut.
"Ya. Siapkan mobil!" jawab Alya, tangannya memegang pelatuk dengan erat.
Saat ia akan menembak untuk melumpuhkan pria kedua, ia mendengar deru langkah kaki yang familiar.
Soni kembali.
Alya mengangkat senapan, mengarahkan moncong senjata itu tepat ke dada Soni yang muncul dari kegelapan hutan.
"Mundur, Soni," kata Alya. Suaranya dingin, seolah ia memegang kendali penuh.
Soni berhenti mendadak. Ia melihat Alya memegang senapan, dengan Rio mengintip dari van, dan dua anak buahnya yang terluka. Kekuatan Soni runtuh. Ia melihat gadis yang selalu ia anggap lemah, kini berdiri tegak, memegang senjata.
"Kau tidak akan menembakku, Alya. Kau tidak punya nyali," Soni menyeringai, mencoba menakut-nakuti.
"Aku mungkin tidak," balas Alya. "Tapi aku akan menembak ban mobilmu. Dan mobil itu. Dan itu. Kemudian aku akan menyerahkanmu kepada polisi. Rayhan dan aku, kami akan baik-baik saja. Kau yang akan kembali ke penjara."
Saat itu, Rayhan muncul dari kegelapan. Ia berdiri di belakang Soni. Ia tidak bersenjata, tetapi kehadirannya memberikan bobot pada ancaman Alya.
"Dia benar, Soni. Game over," kata Rayhan.
Soni terperangkap. Ia melihat ke belakang ke arah Rayhan, lalu ke depan ke arah Alya. Di matanya, kebencian bercampur dengan kekaguman yang aneh.
"Kalian pikir ini sudah berakhir? Ini baru permulaan!" raung Soni.
Tiba-tiba, pria pertama, dengan tangan patah, mengambil senapan cadangan dari mobil hitam dan menembak. Bukan ke Alya, bukan ke Rayhan. Tetapi ke arah ban van yang tersisa.
DOR! DOR!
Dua ban van itu pecah, membuat mobil itu miring.
"Sekarang, kalian tidak ke mana-mana!" Soni tertawa gila, lalu menghilang ke dalam hutan, diikuti oleh dua pria bertopeng yang terluka.
Rayhan bergegas ke Alya. "Alya! Kau tidak terluka?"
Alya menjatuhkan senapan itu, yang menimbulkan bunyi dentingan keras, dan berlari ke pelukan Rayhan. Air mata akhirnya tumpah.
"Aku takut, Rayhan," bisiknya.
"Aku tahu. Kau berani. Kau sangat berani," bisik Rayhan, mencium rambutnya.
Saat mereka berpelukan, Rio keluar dari van dengan wajah pucat.
"Bos," Rio menunjuk ke belakang van, tempat Ibu Wiryawan terbaring. "Dia berhenti batuk. Tapi..."
Rayhan segera berlari. Ibu Wiryawan terbaring diam. Dadanya naik-turun dengan sangat lambat. Rayhan menyentuh dahi ibunya.
"Dia kedinginan," kata Rayhan.
Kemudian, Alya melihat sesuatu di samping Ibu Wiryawan. Selembar kertas dilipat rapi.
Alya mengambilnya. Di sana, tertulis dengan tinta merah darah: "Santoso mengirim salamnya. Permainan kita, baru dimulai."