Kembalinya Magic Assassin

Pertarungan Sengit, Pembunuh yang Diburu

”Pemuda yang berani. Jadi ..., sebelum aku membunuhmu. Katakan padaku, siapa kamu sebenarnya?” Regard berusaha tenang. Bocah di depannya, tetap saja seorang bocah. Pengalamannya masih sangat jauh. Namun, dia penasaran. Siapa sebenarnya bocah tersebut.

”Pertanyaanmu itu salah, Regard. Seharusnya, kamu bertanya setelah berhasil melubangiku dengan senjata di balik pinggangmu itu. Seorang pembunuh tidak akan terlalu banyak bicara, karena ketika kamu bicara maka musuhmu sudah lebih dulu mengincarmu!”

”Bocah sialan!”

Wosh!

Tangan Regard bergerak, mengambil pistol di balik pinggangnya. Dia sudah kesumat, memutar pistol itu ke arah Bagas yang masih berjalan ke arahnya. Kali ini, dia tak akan selamat.

DOOOR!

Sepersekian detik, peluru itu dihindari oleh Bagas. Arah peluru itu di kanan Bagas.

Tidak mungkin! Dari jarak yang hanya 7 meter, pemuda itu masih bisa menghindar.

DOOOR!

Kali ini pasti kena.

Bagas menggeser dengan cepat kepalanya ke kanan, peluru itu mengenai dinding di belakang Bagas. Bagas melangkah lagi dengan tenang.

Dua kali gagal, dan Regard mulai khawatir. Keringat dingin mulai mengalir dari wajah Regard. Tidak mungkin pemuda itu bisa menghindari peluru dari tembakan dengan jarak dekat. Regard mengamuk dan mengarahkan senapan itu berkali-kali ke arah pemuda itu. Dia menajamkan matanya dan menembak berturut-turut.

DOOOR!

DOOOR!

DOOOR!

DOOOR!

Sebanyak peluru yang dilepaskan, sebanyak itu pula Bagas menghindari dengan kecepatannya. Tidak mungkin bagi seorang menghindari beberapa peluru dengan jarak dekat, kecuali dia adalah seorang assassin.

HIIAAAAAA!

Clak! Clak!

Peluru Regard habis, dia pun mengambuk dan mengambil senjata dari belik bajunya. Regard memencet alat itu dan tongkat itu memanjang, senjata tajam keluar dari alat yang dikeluarkannya.

Tring!

HIIIIAAA!

Bagas melihat dengan tajam, dia maju ke depan. Regard bukanlah lawan yang bisa dianggap enteng, dia adalah salah satu assassin dengan level nomor satu. Itu hanya satu tingkat di bawah VIP, di mana James berada saat dia masih menjadi assassin.

”Matilah, Bocah!”

Senjata itu diarahkan dengan cepat, kekuatan seorang pembunuh dilatih tidak hanya dengan menggunakan senapan. Mereka juga mahir menggunakan senjata apapun, dan itu sudah menjadi latihan ketat mereka sebelum bertugas sebagai pembunuh bayaran.

Wooosh! Wooosh! Wooossh!

Pedang di arahkan Regard menyerang Bagas; ayunan atas, menusuk tengah, sabetan atas, memutar dan mengayunkan pedang. Bagas menghindari serangan itu, dia mundur dan meliuk ke kanan dan ke kiri. Regard menajamkan matanya, dia kaget karena serangan cepatnya mampu dihindari dengan baik oleh remaja itu.

Wooosh!

Tusukan ke samping kiri, Bagas menghindari serangan itu. Namun, Regard memutar tubuhnya dengan cepat. Tendangan masuk ke arah perut Bagas, Bagas menahan tendangan itu dengan cepat menggunakan tangan kirinya.

Brush!

Bagas terpental ke belakang, dia mundur beberapa langkah dan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Bagas bersiap kembali. Serangan datang lagi, serangan seorang assassin seperti biasanya. Cepat dan tidak memberikan kesempatan bagi musuhnya untuk bersiap.

Slap! Woooshh!

Tusukan cepat mengarah ke perut Bagas saat Bagas masih mencoba untuk bersiap kembali.

”Matilah, Bocah sombong!”

Tring!

Regard kaget, remaja itu bukannya menguatkan pijakannya. Namun, dia memutar kaki kirinya dengan cepat, berputar dan kakinya langsung menendang tangan kanan Regard yang sedang menyerang dengan senjata.

Brush!

Tring!

Senjata Regard terpelanting ke atas, genggaman Regard terlepas dari senjatanya. Melihat bahwa senjata terlepas. Regard segera menarik pukulan tangan kirinya dan mengarahkan pukulan tangan kiri ke arah pemuda itu.

Wooosh!

Bagas melihat arah pukulan, dia menapak kakinya menjejak kuat ke belakang, tangan kanannya bersiap dan dua pukulan hampir bertemu.

Krak!

Brush!

AAAAAAAAAAAAHHHHHH!

Regard kaget, sepersekian detik pemuda itu menggeser pukulannya. Pukulan itu sangat cepat, seperti memiliki mata sendiri. Dia memutar dan menggeser arah target. Melewati pukulan Regard dan masuk ke wajah Regard dengan cepat. Pukulan kuat mengenai pipi Regard dan pukulan Regard hanya mengenai samping telinga Bagas.

Brug!

Regard terdorong dan bergulingan di lantai, samping gedung. Tubuhnya membentur dinding dan berhenti. Dia meringis kesakitan. Senapan panjang di punggungnya terjatuh di sampingnya. Pukulan yang sangat kuat, Regard tak menduga bahwa remaja itu mampu memukulnya sangat kuat. Kepalanya terasa pusing.

”Sialan! Aku akan melumatmu, Bocah!” teriak Regard dan hendak bangun.

Namun sayang, kerah baju atasnya sudah dicengkeram kuat oleh Bagas, lehernya tertarik ke atas dan menimbulkan rasa sesak di para pernapasannya. Tarikan Bagas sangat kuat, Regard terbatuk-batuk.

”Katakan, siapa yang membayarmu untuk membunuh Mahmud?” tanya Bagas, menguatkan tarikan baju itu hingga Regard kesakitan.

”Siapa ..., siapa dirimu sebenarnya?” tanya Regard balik.

Bagas tahu, seorang pembunuh memiliki salah satu rahasia. Jika mereka gagal, mereka akan siap untuk mati. Itu adalah jalan yang diambil seorang pembunuh. Mereka bertugas dan bersiap mati, tapi mereka juga punya kehidupan di belakang itu semua.

”Apa kamu tidak ingat pada puterimu di Kota Bunga?”

Mata Regard kaget mendengar suara remaja itu. Dia bukan orang sembarangan, darimana dia tahu tentang puteri yang dilindunginya dengan baik. Regard menyembunyikan puterinya itu, dan hanya mengenang puterinya dari jauh. Dia bahkan tak pernah bertemu puterinya secara langsung kecuali mengamatinya dari jauh.

”Siapa kamu sebenarnya?” suara Regard tercekat sambil memegangi lehernya.

”Katakan padaku, siapa yang membayar pembunuhan?”

Regard berpikir sejenak, dia sudah diancam hingga ke puteri yang dicintainya.

”Baiklah, tapi kumohon satu hal. Jangan lukai puteriku setu helai rambut pun.”

”Baiklah, aku janji. Katakan saja siapa yang membeli?” tanya Bagas.

”Dia adalah Romi, putera Mahmud sendiri.”

Bagas sudah menduga, bahwa pamannya yang melakukan hal itu. Dia ingin semua harta milik Mahmud menjadi miliknya.

Regard merasakan bahwa pemuda itu sedikit longgar memegang kerahnya, dia sedang memikirkan sesuatu. Kesempatan baginya. Tangan Regard bergerak, sebagaimana kecepatan pergerakan assassin. Di pinggang belakang, masih ada satu senapan. Dan, dia mengambil senapan itu dengan cepat. Berharap bisa membunuh remaja itu dengan cepat.

Woooosshh!

[Bahaya, Magic Assassin diaktifkan]

Mata Bagas menajam, Regard mengambil senapan pendeknya. Dia memutar tubuhnya dan mengarahkan pistol itu ke arah Bagas yang berdiri di belakangnya.

DOOORR!

Slap!

Darah mengalir. Namun, bukan tubuh Bagas yang terjatuh di lantai. Itu adalah tubuh Regard. Saat pistol hampir diledakkan, tangan Bagas dengan cepat bergerak dengan kecepatan tinggi. Membalik pistol itu dan mengarah ke dada Regard. Tembakan itu mengenai Regard dan menjatuhkannya dalam satu tembakan.

Tubuh Regard terjatuh lunglai, jatuh ke tanah. Dia terlihat kesakitan dan mulai kehilangan kesadarannya.

”Siapa kamu sebenarnya?”

Bagas berdiri, ”Aku adalah malaikat untuk Dark Head. Aku datang untuk membalas dendam. Aku adalah James!”

Mata Regard terbuka lebar, bersamaan dengan napasnya yang terhenti. Dia telah menghembuskan napas terakhirnya. Bagas berdiri, meninggalkan tempat itu. Dia mengambil handphone di kantong celanya. Dia menekan nomor seseorang, itu adalah Khalid.

”Ada pesan dari Shadow Eagle untukmu.”

Bagas bergerak dan melompati dinding tinggi itu, salah satu musuhnya sudah dikalahkan.

[Kesempatan hidup anda, 55 hari]

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!