Kembalinya Magic Assassin
Rumah Pembunuh, Sky Wing!
Ding!
[Tingkatkan kemampuan anda, skill Magic Assassin akan meningkat dengan latihan fisik]
Tap! Tap! Tap!
Sistem pemberitahuan, Bagas sudah keluar di pagi petang. Dia berlari mengitari beberapa perumahan. Tidak ada waktu cukup untuk bersantai, waktu untuk balas dendam tidak lama. Tujuan hidupnya, hanyalah untuk membalas dendam.
Khalid sudah dihubungi oleh Bagas, mengatasnamakan nama James. Khalid harus menyembunyikan kematian Regard. Alasan paling tepat adalah, dia ketahuan dan melawan petugas. Jasad Regard disembunyikan dan dibuang untuk menghilangkan jejak. Itu adalah tugas Khalid.
Rencana selanjutnya dari Dark Head, Bagas mendapatkan laporan dari Khalid. Mereka memiliki misi yang besar, dan itu akan membuat gerakan paling besar yang pernah dilakukan oleh Dark Head. Misi ini, adalah misi terbesar yang pernah mereka lakukan.
Bagas menebak, misi ini tentu adalah misi yang sangat penting. Bahkan, Khalid belum mendapatkan informasi secara menyeluruh dan hanya sebatas persiapan rencana misi. Lima hari ke depan, akan ada pertemuan dari setiap perwakilan rumah pembunuh. Khalid hanya mengatakan bahwa ada misi gabungan antar rumah pembunuh paling terkuat di negeri ini.
Apakah misi ini berhubungan dengan penumpasan, ataukah ada orang penting di negeri ini yang sedang diincar?
Bagas kembali ke rumah, dia bersiap ke sekolah. Mahmud memintanya untuk berhati-hati, ada pengawalan khusus diberikan. Namun, Bagas menolaknya. Bagas meminta penjaga untuk mengawal Nadia. Romi bahkan sudah tidak berani memasuki rumah Mahmud, dia sudah ketahuan. Dia berani menyewa pembunuh untuk membunuh ayahnya sendiri.
Mahmud marah mendengar itu.
”Apakah siang ini, kamu bisa ikut dengan kakek?” tanya Mahmud.
Mahmud menjelaskan, bahwa ada pertemuan penting dengan semua pengusaha di seluruh kota, bahkan dari luar kota. Pertemuan itu untuk membahas resesi yang akan terjadi di seluruh dunia. Semua pengusaha dan pemilik saham besar. Mereka akan hadir, Mahmud ingin mengajak Bagas dan untuk mengajarinya.
”Baiklah, Kakek. Aku akan ikut.”
Bagas berpikir, mungkin ada benarnya untuk ikut. Selain itu, pasti dia akan bertemu dengan orang-orang terkenal dan juga, bisa jadi ada pembunuh di antara mereka.
***
Di sekolah, tidak ada lagi yang berani pada Bagas. Semua melihat Bagas dengan penuh ketakutan, Natan tidak berani sekolah di sana lagi. Banyak rumor mengatakan, bahwa Natan pindah sekolah dan ketakutan karena dihajar oleh Bagas.
Sekolah berjalan dengan tenang, tidak ada lagi kasus bullying. Nadia sangat senang karena kini, dia juga tidak ada yang mengganggu. Ancaman keras ditujukan dari semua orangtua. Jika sekolah itu tetap membiarkan pembulian. Maka, mereka akan melaporkan sekolah itu ke polisi. Nadia dapat belajar dengan baik. Mereka yang suka mengganggunya, kini tak berani melihatnya.
”Terima kasih, Bagas. Semua berubah sejak kamu melawan mereka.”
Bagas tersenyum, ”Benar! Orang-orang lemah harus melawan, mereka akan menjadi takut. Orang-orang pengganggu, sebenarnya mereka hanya menggertak. Jika orang lain takut, maka mereka akan melakukan aksi bullying.”
Bagas mengatakan hal itu, karena dia sudah hidup di jalan hitam. Pelatihan neraka, pertarungan, penyiksaan, dan superior kekuatan adalah segalanya dalam dunia hitam. Berjalan di dunia normal, sungguh bukan jalan seperti yang biasa dia lakukan. Namun, Bagas harus bersabar dan mempersiapkan diri untuk pembalasan dendamnya.
Sore nanti, Bagas akan menemani kakeknya. Jam sekolah sudah pulang, Bagas bersama Nadia. Mobil datang menjemputnya.
Ding!
[Peringatan! Ancaman dideteksi, anda menjadi target pembunuhan]
Sense Assassin dan peringatan sistem layar. Ada yang mengincar nyawanya lagi, mobil terbuka.
”Paman, antarkan Nadia pulang terlebih dahulu. Aku mau ke toko sebelah. Aku ingin membeli komik, nanti aku akan pulang naik taksi,” kata Bagas pada pengawal dan supir. Dia mendorong Nadia untuk masuk dan menutup pintu.
”Tapi, Tuan. Tuan Besar memintaku untuk...”
”Tidak masalah, aku bisa menjaga diri. Cepat pergi! Ini perintah!”
Supir pribadi itu tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia segera menghidupkan mobil di depan sekolah. Nadia melihat Bagas.
”Hati-hati, Bagas.”
Suara terakhir Nadia, dan mobil itu melaju. Nadia selalu mengkhawatirkan Bagas, karena sejak kecil dia tahu. Bagas selalu disiksa dan dipukuli oleh pamannya, apalagi Natan yang sering menghajarnya. Nadia melihat perubahan besar pada sikap Bagas, dia bukan seperti Bagas yang biasanya.
Suasana masih ramai, sekolah baru bubar. Bagas berjalan biasa, dia tahu bahwa ada yang mengintainya. Nalurinya sebagai seorang pembunuh tidak menghilang, dia tahu bahwa dengan kemampuan inderanya yang hidup. Dia merasakan bahwa dia sedang ditargetkan oleh beberapa orang.
Pembunuh! Bagas yakin akan hal itu.
Bagas berusaha berjalan dengan santai, itu adalah aktingnya. Dia berjalan sambil bersiul, seolah tidak terjadi apapun. Di gang, antara gedung yang sepi. Bagas berbelok dan masuk ke gang tersebut.
Pembunuh akan menyerang, saat kondisi sepi. Mereka harus menghilangkan jejak, itulah makna dari Assassin. Membunuh dan menghilang, dan Bagas memiliki jalan itu semua. Dia adalah legenda yang hilang.
Wooooosssshh!
Sebuah gerakan, sangat cepat menyerang ke arah Bagas. Bagas memejamkan matanya, dia tahu arah serangan itu dengan senjata dagger. Lehernya menjadi target.
”Ah! Tali sepatuku lepas lagi! Sialan!”
Bagas merunduk ke bawah, dia memegang tali sepatunya. Sang pembunuh kaget, bahwa serangannya tak menemui sasaran dan hanya mengenai angin. Target dengan cepat duduk dan mengikat tali sepatunya.
Pembunuh itu melompat ke belakang dengan salto di udara, dia tak percaya bahwa targetnya begitu cepat untuk menghindari. Itu pasti kebetulan bukan? Tentu saja! Karena tali sepatunya terlepas.
Slap! Slap! Slap!
Empat orang turun dari ketinggian dan berada di belakang pembunuh yang sebelumnya gagal membunuh Bagas.
”Kakak, bagaimana kamu bisa meleset?” tanya junior di belakangnya. Mereka kaget bahwa senior mereka gagal dalam sekali serangan.
Bagas masih terduduk dan mengikat tali sepatunya, tapi dia mendengarkan dengan baik pembicaraan para pembunuh itu.
”Itu hanya kebetulan, aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Kita harus pergi nanti malam di pertemuan para pengusaha. Perwakilan pembunuh akan melakukan misi bersama! Jadi, selesaikan tugas di sini,” suara pemimpin tim itu.
Bagas sudah mendengarnya, dia berdiri dan menggerakkan kepalanya perlahan. Lima orang pembunuh bersiap untuk melakukan serangan.
”Jadi ..., apakah kalian dibayar oleh Romi, pamanku?”
Lima orang pembunuh itu kaget, Bagas berbalik dan melihat lima orang tersebut. Wajah mereka ditutupi masker hitam. Namun, pandangan Bagas melihat pada bahu salah satu dari mereka. Lencana burung merah.
Rumah pembunuh, Sky Wing! Pamannya, bahkan membayar pembunuh dari rumah pembunuh lainnya.
”Kami memang dibayar untuk membunuhmu, jadi jangan sok jagoan, Bocah!”
Woooossshh!
Junior di belakang marah, kecepatan tinggi digunakan. Pisau tajam berkilat, hanya satu gerakan dan dia yakin akan membuat bocah itu tak lagi bernapas.
Selesailah sudah!
Woooossshhh!
Brush!