Jatuh Cinta di Tanah Lada

Ajakan Untuk Pulang 1

Nursan mengemasi beberapa barang miliknya lalu memasukkannya ke dalam tas punggung yang sudah membersamainya selama hampir lima tahun. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Laptop, buku catatan kecil yang tak pernah ketinggalan, tiga buah jurnal yang telah selesai dia tulis namun harus dia revisi kembali, tak lupa kotak kacamata berwarna hitam. Nursan kembali memeriksa isi tasnya ketika layar gawainya berkedip menampilkan sebuah nama teman masa kecilnya. Fikri Irawan.

"Assalamualaikum, halo bro." Nursan duduk kembali di kursinya sambil menjawab panggilan telepon dari Fikri.

"Walaikumsalam. Prof lagi sibuk nggak?"

"Kalau gua sibuk juga elo nggak bakalan peduli."

"Parah lo. Segitunya amat. Hahahaha."

"Ada apa nih? Tumben banget elo telepon gua."

"Kangen."

"Najis. Gua masih normal bro."

"Hahaha. Gua pikir lo belok. Mana cewek elo? Kenalin geh."

"Sialan. Kalau elo nelepon gua cuma urusan cewek, gua tutup nih."

"Kalem prof. Malu sama gelar. Hahaha. Gua mau balik nih minggu depan. Lo mau gabung gak?"

"Balik? Ke Hujung?"

"Iyalah ke Hujung. Memangnya elo udah punya kampung lain? Bini aja belum punya."

"Senang banget lo bahas masalah jodoh."

"Jelas. Lo boleh punya gelar profesor, tapi urusan itu, nol besar. Jadi ikut balik nggak?"

"Kayaknya gua sibuk bro."

"Sibuk? Lo mau gelar apalagi? Cuma haji sama almarhum doang yang elo belum punya prof."

"Kampret lo. Sekolahin deh itu mulut."

"Woy, dijaga prof itu bahasa. Malu sama mahasiswa. Hahaha."

"Nggak ada mahasiswa gua di sini."

"Hmmm pantas elo ngomong nggak pake filter. Jadi, elo nggak mau ikut nih?"

"Nggak dulu deh. Gua harus revisi jurnal."

"Ayolah. Kali ini aja lo jangan nolak gue. Sekalian temenin gua ngurus surat-surat tanah. Mau dijual nih."

"Jual warisan lagi? Tanah mana yang mau elo jual?"

"Gua nggak jual. Lo ingat Rita? Adik bungsu gua? Dia kan ikut suaminya di Pontianak. Udah nyaman di sana katanya. Nah, dia mau jual kebon punya dia soalnya nggak ada yang ngurus. Daripada sama orang lain, ya gua beli ajalah."

"Hebat tuan tanah kita satu ini. Banyak duit lo."

"Urusan duit, masih banyakan elo. Ikut ya! Gua jemput ntar. Tapi bawa mobil elo aja. Gua males bawa mobil."

"Elo apa gua yang mau pulang? Kenapa gua yang bawa mobil?"

"Ayolah bro, sekalian lo cari jodoh bro. Jangan mikirin jurnal terus."

"Waalaikumsalam." Nursan menutup obrolan. Dia bisa membayangkan beragam umpatan kasar yang keluar dari mulut Fikri saat dia sadar Nursan memutuskan koneksi mereka secara sepihak.

Setelah yakin tidak ada barang yang tertinggal, Nursan mencangklongkan tas di punggungnya lalu keluar dari ruangan yang sudah dia tempati hampir tiga tahun ini. Sebelumnya, Nursan masih berbagi ruangan dengan dosen-dosen lainnya.

Nursan memacu mobil dengan kecepatan sedang. Sore menuju senja adalah waktunya Bandar Lampung didera macet. Sepuluh tahun terakhir, Bandar Lampung mengalami revolusi luar biasa. Mal ada di mana-mana. Hotel bermunculan di sana-sini, berbanding lurus dengan tempat kuliner yang menjamur hampir di setiap titik.

Cari jodoh bro. Jangan mikirin jurnal terus. Ucapan Fikri kembali terngiang di kepala Nursan. Andai semudah itu, mungkin saat ini dia sudah sama seperti Fikri dan teman-teman lainnya. Menimang anak pertama, kedua, bahkan mungkin anak kelima seperti Oskar.

Jodoh sudah ada yang mengatur. Nursan merapalkan mantra yang selalu dia ucapkan bertahun-tahun. Mantra itu cukup ampuh untuk dirinya, tapi tak mempan jika sudah berhadapan dengan keluarga besarnya.

Walaupun dia punya kakak, faktanya Nursan adalah anak laki-laki tertua di keluarganya. Sebagai orang Lampung, bisa dibilang dia adalah tulang punggung penerus keluarga. Umurnya tahun ini memasuki angka 43. Lebih dari cukup untuk berumah tangga. Bahkan beberapa teman perempuannya di Pekon Hujung yang menikah selepas SMP, kini sudah menimang cucu.

Fikri benar. Seharusnya tak ada alasan yang membuatnya masih melajang. Karier mentereng, secara ekonomi dia cukup mapan, tampang pun lebih dari sekadar lumayan. Kecuali alasan bahwa sampai saat ini Nursan belum bertemu dengan jodoh yang sudah ditakdirkan-Nya.

Nursan masuk dalam lorong ingatan terdalam yang membawanya pada kenangan bersama Bak lebih dari seperempat abad lalu.

Bak nyaris tidak pernah memaksa Nursan dalam semua keputusan. Terutama urusan masa depan. Bahkan ketika pernikahan Nursan yang baru seumur jagung harus kandas pun, Bak tetap berdiri tegak di sampingnya. Bak selalu percaya dengan anak laki-lakinya.

Nursan menghembuskan napas kasar ketika mengingat bagaimana dia berjuang mempertahankan pernikahannya yang tak pernah terekspos. Teman-teman dekatnya termasuk Fikri tidak tahu cerita tersebut. Nursan masih lajang, itu yang orang tahu.

Satu-satunya permintaan Bak yang belum bisa Nursan kabulkan hingga saat ini adalah menuliskan berbagai hal tentang kampungnya. Bak sangat menyukai sastra. Menurut Bak, kehidupan masyarakat di Lampung Barat tidak pernah bisa dipisahkan dari sastra. Sayang, selama ratusan tahun sastra hanya berkembang dalam bentuk lisan. Belum ada yang mengabadikannya menjadi sebuah tulisan.

Sejak lulus SD, Nursan sudah dipaksa oleh Bak untuk sekolah di Karang. Hidup mandiri jauh dari orang tua. Bak menyuruhnya untuk berlayar sejauh mungkin mencari pengalaman dan mempelajari banyak hal. Sebuah kebebasan yang harus dibayar mahal oleh Nursan. Seiring berbagai keberhasilan yang mampu dia raih, di saat itu juga Nursan menyadari kalau Bak dan Emak makin mendekati senja.

Ada senyum di wajah Bak saat Nursan mengatakan dia masuk ke fakultas sastra. Senyum yang lenyap dalam dua detik. Tepat ketika Bak mendapat kabar tambahan kalau Nursan masuk fakultas sastra Inggris.

"Untuk apa kamu belajar sastra kompeni?"

"Sastra Inggris, Bak. Bukan kompeni." Nursan meluruskan.

"Sama saja. Mau Belanda, Inggris, atau Amerika, semuanya kompeni. Apa pentingnya kamu belajar sastra mereka? Siapa yang akan melestarikan sastra Lampung kalau tidak ada anak muda yang mau mempelajarinya? Sekarang saja, kamu sudah tidak mau bicara dalam bahasa Lampung, bagaimana nanti? Bisa-bisa Bahasa Lampung ini hilang karena tidak ada lagi penuturnya."

Nursan diam. Tidak membantah, namun tidak juga menuruti keinginan Bak. Sejak itu, hubungan mereka mulai renggang. Seperti ada sekat tak kasat mata yang menjadi benteng di antara Bak dan Nursan.

Sesuai rencana, Nursan tetap kuliah mengambil jurusan sastra Inggris. Menyelesaikannya dalam waktu singkat, lalu melanjutkan karier sebagai dosen.

Bak sudah mulai melunak. Komunikasi di antara mereka terjalin dalam suasana yang terasa canggung. Sampai empat tahun lalu, saat Bak sakit keras, Bak memaksa Nursan pulang. Bak berwasiat dalam hening dan dingin malam.

"Kamu harus pulang dan membangun kampung kamu. Lupakan masa lalu. Kalau kamu tidak bisa mewujudkan keinginan Bak untuk melahirkan karya sastra yang mengangkat tentang Lampung Barat, setidaknya kamu harus mengabulkan permintaan Bak. Menikahlah dengan perempuan yang mencintai sastra dengan jiwanya. Perempuan yang tahu betapa tingginya nilai sebuah budaya dan adat istiadat."

"Maaf Bak, rasanya sulit sekali mencari pasangan seperti itu."

"Kamu akan tahu kalau mau mencari dengan hati. Hanya itu yang Bak minta dari kamu."

Tubuh renta itu menyerah. Ruh pergi meninggalkan raga tanpa bisa dicegah. Nursan seperti pendaki yang kehilangan kompas. Lelaki yang selama ini menjadi tempatnya bersandar, pergi dengan harapan yang sungguh berat untuk dikabulkan.

Sebagian jiwanya seperti tercerabut. Nursan berjalan pincang dengan hanya ada Emak yang menjadi tempatnya berbagi rasa. Lalu, setahun kemudian Emak menyusul Bak. Kesepian telah menggerogoti tubuh Emak. Mungkin sebaiknya memang seperti itu. Emak menyusul Bak dan berbagi cerita dalam kesunyian.

Nursan menghitung, hampir dua tahun dia tidak pulang menengok kampung halaman. Sejak Bak meninggal dan Emak menyusul tak lama kemudian, Nursan memang membatasi kepulangannya. Dalam beberapa acara adat para kerabat pun dia absen.

Dulu, saat Mak masih ada, Nursan menyempatkan diri untuk bisa pulang setidaknya tiga bulan sekali. Lebih dari itu, Mak pasti memaksakan tubuh ringkihnya datang ke tempat Nursan. Untungnya, dalam beberapa bulan terakhir sebelum meninggal, Mak tidak pernah bertanya tentang perempuan yang akan menjadi calon istrinya. Entah karena Mak mengerti kalau jodoh itu sudah diatur oleh Tuhan, atau Mak sudah lelah menanyakan hal yang sama dan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Nursan.

Kepergian Mak membuat Nursan merasa tidak ada alasan lagi yang mengharuskannya untuk pulang.

Sibuk menjadi senjata pamungkas Nursan jika ditanya kenapa tidak pulang. Padahal, Nursan hanya malas menjawab pertanyaan yang sama yang diucapkan sanak saudara di kampung: kapan menikah?

Sejak dua tahun lalu, Nursan sudah berjanji, dia hanya akan pulang ke Hujung bersama perempuan yang bisa dia kenalkan sebagai calon istrinya.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!