Jatuh Cinta di Tanah Lada

Perjalanan dan Harapan 1

Nursan melangkah perlahan dari teras, menjauh dari Atikah yang masih duduk di sana, membiarkan punggungnya menyandar ke pintu kamar. Perlahan ia memejamkan mata. Menengadahkan kepala, lamat-lamat menghirup oksigen agar paru-parunya tak lagi sesak mengingat rangkaian peristiwa yang terjadi hari ini, juga obrolan tak terduga dengan Fikri.

Arum Sukma, sebuah nama yang tak pernah bisa dihapusnya. Nama itu terukir di hati Nursan layaknya sebuah prasasti batu. Dalam dan tak lekang oleh waktu. Berbilang tahun Nursan mencoba mengukir nama baru, namun selalu saja menemui jalan buntu.

Arum mungkin cinta pertamanya. Entahlah. Nursan tak mampu mengeja dengan pasti perasaannya. Saat itu, hampir dua dekade lalu, Nursan hanya berharap bahwa ia akan menjadi teman hidupnya. Perempuan terakhir yang akan dia lihat saat kelak dia menutup mata untuk menuju kehidupan selanjutnya.

Sayang, takdir mencatat lain. Di tahun kedua kuliahnya, Nursan mendapat kabar kalau Arum akan menikah dengan Rizal. Kabar itu menghantamnya seperti pukulan telak. Dada Nursan terasa sesak, napasnya tercekat. Perasaan yang baru saja bisa dia pahami setelah mereka berjarak, kini harus ia bunuh. Ia patah hati, sebuah rasa yang baru pertama kali ia alami begitu dalam.

Beberapa tahun kemudian Nursan mendengar kabar, pernikahan Arum batal. Perasaannya terusik. Namun, komitmen bersama Atikah menyurutkan keberanian Nursan.

Nama Arum akhirnya mengendap di dasar ingatan Nursan dalam kurun lima tahun. Meski begitu, Arum tetap tak mau enyah. Tumpang tindih dengan ingatan dan perasaan lain yang muncul silih berganti di ruang hati.

Selepas kuliah, Nursan pulang. Meski tidak benar-benar pulang karena dia memilih menjadi dosen di Universitas Teknokrat yang terletak di Bandar Lampung daripada kembali ke Pekon Hujung. Namun, sebagai batin dan anak laki-laki tertua di keluarganya, Nursan tetap tidak bisa melepas tanggung jawabnya. Tak kurang dari sebulan sekali dia pulang ke Hujung. Tiap kali ada acara adat yang mengharuskan dia hadir, Nursan tak pernah absen meski hanya bertahan sampai tidak lebih dari enam tahun.

Emak dan bak makin senja. Tidak salah juga jika mereka terus merengek ingin melihat anak laki-laki yang mereka banggakan tersebut menikah kembali. Meneruskan garis keturunan yang menyandang marga keluarga mereka.

Nursan sempat meyakini semua akan baik-baik saja ketika hadir sosok setengah dewi sebagian bidadari bernama Atikah Zahra. Pelaminan sebagai awal tujuan, tak juga menjadi akhir dari perjalanan. Kali ini, adat yang membuat restu menjadi kendala dan mereka harus mengakhiri impian yang masih seumur jagung. Perempuan Minang itu harus pulang. Sesuai pesan kedua orang tua dan adat yang ada di sana.

Kali kedua Nursan menelan pil pahit bernama kehilangan. Dan rasanya lebih dari sekadar menyakitkan. Separuh jiwa kehilangan raga sebagai tempat bermuaranya semua rasa. Nursan limbung.

Bertahun lamanya tak ada perempuan yang mampu membuat Nursan memantapkan hati untuk membina rumah tangga lagi. Menikah jadi sebuah kata yang menjauhkan Nursan dengan emak dan bak. Ada masanya Nursan tidak pulang sama sekali dalam berbilang bulan karena malas mendengar pertanyaan: kapan menikah?

Sampai semesta membawanya pada pertemuan dengan teman lama bernama Arum Sukma. Tepatnya dua tahun lalu, saat anaknya Satria—teman SMA mereka—yang bernama Fahri meninggal. Nursan dan Arum bertemu di rumah Satria ketika sama-sama melayat. Arum adalah sepenggal cerita yang tak pernah dituntaskan oleh Nursan. Perjumpaan demi perjumpaan yang terjadi di antara mereka selalu meninggalkan jeda. Lalu, sebuah sapaan “apa kabar” tiba-tiba saja membuat perasaan Nursan kembali bergetar.

Hanya sebatas itu. Ragu selalu menyelinap dan mengganggu hingga membuat Nursan seolah kehabisan waktu.

Reuni sekolah sebulan kemudian, menjadi kesempatan bagi Nursan untuk mempertaruhkan semuanya. Dia mencoba membangun ruang interaksi yang selama ini terhalang. Komunikasi mereka berlanjut ketika Nursan mengkonfirmasi kehadiran Arum dalam sebuah kegiatan sastra di kampus Nursan. Sejak itu, saling berkirim pesan tiba-tiba saja menjadi ritual tak tertulis di antara mereka.

Berikutnya, episode sekolah kopi satu tahun lalu.

“Aku mau tahu banyak tentang kopi yang berasal dari Lampung Barat. Kira-kira aku harus ke mana ya?”

Riza. Nama adik bungsunya itu tiba-tiba saja terlintas di benak Nursan saat mendengar pertanyaan Arum. Spontan, Nursan mengajak Arum mengunjungi sekolah kopi milik Riza di Sumber Jaya.

***

Jarum jam baru menunjukkan pukul tiga lewat tujuh menit ketika Nursan sadar kalau matanya belum terpejam sama sekali. Kali ini, obrolan bersama Fikri dua jam lalu mengusik pikiran Nursan.

“Apa yang lo sembunyiin dari gua?”

Fikri menghadang Nursan di jalan depan rumahnya. Tatapan tajam Fikri seolah sedang menguliti Nursan. Mereka melangkahkan kaki perlahan menyusuri jalanan di Hujung.

“Maksudnya? Nggak ada yang gua sembunyiin.”

“Kenapa ada Atikah di sini? Kenapa lo nggak pilih Arum aja buat jadi bini elo. Dari SMA dulu elo udah dekat sama dia. Apalagi yang lo pikirin?”

“Mulut lo ya, nggak ada beda sama mulut cewek.”

“Ya udah, lo tinggal jawab tuh. Susah amat. Gua masih kesal sama elo. Kalau Arum nggak bilang, gua nggak tahu elo pernah nikah sama Atikah.”

“Fik, gua minta maaf nggak cerita ke elo. Benar deh, gua tadinya nggak punya niat untuk menyembunyikan pernikahan gua. Tapi keburu gagal sebelum gua sempat bawa dia ke sini dan ngasih tahu kamu orang.”

“Tapi elo bisa cerita sama Arum.”

“Udah geh, nggak usah bahas itu terus. Lo cemburu?”

“Kampret lo. Gua masih normal. Udah terbukti, bini gua tiga kali turun mesin. Emangnya elo? Terus ada hubungan apa elo sama Arum?”

“Sejauh ini sih nggak ada hubungan apa-apa. Namanya juga teman lama, Fik.”

“San, gua ini cowok. Kenal elo bukan setahun dua tahun. Dari brojol kita udah temenan. Gua paham banget, elo punya rasa ke Arum. Elo aja yang nggak sadar. Sejak kita SMA, semua juga tahu kalau elo sama Arum itu udah macam orang pacaran. Kalian aja yang bego. Nggak sadar sama perasaan sendiri. Gengsi kamu orang ngalahin tingginya Gunung Semeru.”

“Gua nggak tahu perasaan gua ke Arum itu cinta atau bukan, Fik.”

“Lebih dari cinta. Kamu orang bukan anak SMA lagi. Bukan nyari buat romantis-romantisan yang alay. Sekarang ini, yang elo butuh ya teman hidup. Jangan bilang kalau elo masih ngarepin Atikah atau Sinta. Elo mau nunggu salah satu dari mereka jadi janda?”

“Suaminya Atikah meninggal empat tahun lalu.”

“Jadi...”

“Gua nggak ada niat balik sama Atikah. Apalagi Sinta. Mereka cuma masa lalu. Bukan masa depan gua.”

“Arum?”

“Gua nggak tahu. Susah menebak perasaan Arum. Kadang gua yakin, dia juga cinta sama gua. Kadang, dia jauh banget dari jangkauan gua.”

“Elo langsung tanya aja ke orangnya. Elo ya, ampun dah. Gelar doang profesor. Urusan cewek, nol besar. Arum nunggu elo. Dari dulu.”

“Banyak yang harus gua pertimbangkan. Terutama wasiat dari bak. Elo juga tahu apa tugas berat gua.”

“Lo harus yakin, Arum jawabannya. Sejak kita SMA, dia sudah suka sastra. Bahkan dia sampai resign supaya bisa fokus menulis. Nah, bisa jadi perempuan seperti Arum itu yang bisa bantu elo mengabulkan impian bokap.”

“Hubungan macam apa yang didasari wasiat seseorang? Gua nggak mau maksa Arum masuk dalam urusan keluarga gua.”

“Sekarang gua tanya lagi, lo cinta sama Arum nggak?”

“Iya.”

“Nah, gitu dong. Berarti selesai masalahnya. Dia juga punya perasaan yang sama ke elo. Tinggal elonya aja yang mau bergerak atau nggak.”

“Elo tahu dari mana? Jangan sok tahu lah.”

“Orangnya sendiri yang bilang sama gua. Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi elo harus berusaha biar Tuhan mau membuka tangan-Nya.”

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!