Jatuh Cinta di Tanah Lada
Sampai Dinihari Menyapa
Selesai acara makan malam, Arum melangkah keluar rumah, menuruni tangga. Ia mencari pelarian dari suasana canggung yang ditinggalkan Atikah dan obrolannya dengan Nursan. Bayangan Fikri berkelebat di antara ratusan orang yang memadati jalan utama Pekon Hujung. Sigap, Arum setengah berlari menghampiri Fikri dan menggamit lengan kokoh yang berbalut sweater abu-abu itu. Fikri sempat kaget, menepis pelan jemari Arum yang melingkari lengannya, namun seulas senyum langsung tersungging saat dia menyadari siapa di sebelahnya.
"Kenyang?" Fikri bertanya sambil mendekatkan kepalanya ke telinga Arum.
Alunan musik gambus terdengar bersahutan dengan riuh suara orang-orang yang mulai memadati tempat yang telah disediakan. Sebagian warga berdiri di lantai dua rumah mereka untuk menikmati acara hiburan rakyat yang sedang digelar.
"Kenyang banget. Makanannya enak," Arum berteriak sambil mengacungkan kedua jempol tangannya. Suara musik dan keramaian membuat Arum harus sedikit berteriak agar Fikri bisa mendengarnya.
"Mana Nursan?"
"Nggak tahu. Dari tadi aku juga nggak lihat dia."
"Kebiasaan tuh orang. Kayaknya punya ilmu menghilang."
"Memangnya dia siluman? Hahaha."
Fikri membalas tawa Arum tak kalah renyahnya. Mereka mengayunkan langkah menuju kursi yang berjajar untuk para tamu dan masyarakat sekitar. Di ujung jalan, tampak panggung pertunjukan yang berdiri megah. Gemerlap lampu begitu benderang menghalau pekat malam.
Seperti biasa, acara diawali dengan sambutan dari beberapa pemangku adat dan bupati Lampung Barat yang sekaligus resmi membuka kegiatan tersebut. Setelah acara dibuka secara resmi, pesta rakyat sarat budaya Lampung pun dimulai. Bukan hanya para muli mekhanai, anak-anak dan para orang tua pun turun meramaikan acara. Mereka memenuhi panggung dan memadati area di bawah panggung yang sudah disiapkan. Dengan penuh sukaria, semuanya berjoget menikmati alunan musik.
Sekilas Arum melihat Udo yang sudah berbaur di atas panggung dengan pemangku adat dan beberapa pejabat. Arum yakin, sebagai sastrawan kebanggaan Lampung Barat, Udo pasti akan didapuk untuk naik ke atas panggung.
"Mau menari bersama?" Fikri mengulurkan tangannya ke arah Arum.
"Aku? Nggak deh. Aku nggak bisa." Seumur hidupnya, Arum belum pernah menari. Apalagi di depan khalayak banyak.
"Pasti bisa. Ayolah. Kapan lagi elo bisa menari di sini."
"Malu, Fik."
"Mereka nggak bakalan peduli. Nggak kenal juga sama elo."
"Tapi aku nggak bisa nari. Pasti aku malu-maluin deh."
"Nggak ada aturan tarian baku di sini. Yang penting, elo bisa menikmati. Itu udah cukup. Lihat, semua yang datang sibuk dengan dirinya masing-masing. Ayo." Fikri terus memaksa dengan menarik tangan Arum untuk bergabung di bawah panggung.
Setengah terpaksa, diiringi omelan panjang yang jelas tidak akan didengarkan oleh Fikri, Arum menyeret kakinya mengikuti langkah Fikri.
Awalnya, Arum merasa canggung. Namun, lama kelamaan dia mulai terbiasa. Menggerakkan tubuh mengikuti alunan musik yang dimainkan. Benar kata Fikri, tak ada yang peduli dengan tarian Arum. Semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing.
"Rum, ada hubungan apa antara elo sama Nursan?" tanya Fikri penuh selidik.
"Hubungan apa? Kita cuma teman. Sama aja kayak aku dengan kamu."
"Nggak mungkin. Gua kenal banget Nursan. Dia bukan orang yang mau repot-repot ngajak teman ke kampungnya. Apalagi seorang perempuan."
"Kalau nggak percaya, ya udah."
"Rum, elo perempuan, Nursan laki-laki. Kamu orang jomblo. Ada apa-apa juga wajar. Gua dukung banget. Kamu orang berdua itu teman gua. Pasti gua bakal ikut bahagia kalau kamu orang dua bisa jadi pasangan."
"Beneran deh, aku sama Nursan nggak ada hubungan apa-apa."
"Hmmm mungkin belum. Okelah, gua percaya omongan elo. Tapi gua tetap yakin Nursan punya perasaan khusus ke elo."
"Yeeee maksa."
"Arum, elo pikir kita jadi teman dari kapan? Dari kita bocah. Dari gua kencing belum berdiri. Hahaha. Apa lagi yang mau elo pikirin? Kurang apa si Nursan?"
"Kamu nggak tahu apa yang menjadi halangan di antara aku dan Nursan. Lagian, sejak kapan aku sebagai perempuan bisa menentukan siapa yang akan menikahiku?"
"Jadi, sebetulnya elo nggak menolak Nursan? Elo punya perasaan ke dia?"
"Kenapa jadi bahas masalah aku sama Nursan? Acara ini jauh lebih menarik loh."
"Rum, menurut gua, nggak ada yang lebih menarik daripada hubungan antar manusia. Benar, gua kehilangan banyak waktu bersama elo. Mungkin gua udah nggak kenal lagi elo yang sekarang. Tapi, gua jamin, gua nggak pernah kehilangan waktu bareng Nursan. Gua kenal banget dia. Kami lahir dari sini. Anak kandung Pesagi."
"Kalau begitu, kamu pasti tahu tentang mantan istrinya Nursan?"
"Istri? Itu lagi elo bahas. Ngaco lo. Sejak kapan Nursan punya mantan istri? Jangankan mantan, calon istri aja sampai sekarang belum kelihatan hilalnya."
Arum tercekat. Benar apa yang dikatakan Nursan. Seorang Fikri yang notabene sahabat terdekat Nursan pun tidak tahu pernikahan Nursan dengan Arum.
"Kamu tahu mantan pacar Nursan?"
"Kalau yang kamu maksud itu Atikah, gua tahu. Gua orang yang menampung air mata Nursan sepulangnya dia dari Lipek Pageh."
"Berarti ada yang lain selain Atikah?"
"Ada. Bahkan dekat dari sini. Namanya Sinta. Dia orang Kenali. Rumahnya nggak jauh. Harusnya dia ada di sini."
"Atikah ada di sini," gumam Arum.
"Hah? Serius? Anahkidah kek mana lah dia bisa ada di sini?"
"Tadi pagi aku dan Nursan bertemu Atikah. Nursan juga sudah banyak cerita tentang Atikah."
"Mereka nggak mungkin kembali. Atikah sudah menikah."
"Sudahlah. Ngapain kita terus membahas tentang Nursan."
"Bukannya elo ke sini buat nyari Nursan?" selidik Fikri.
"Nggak. Aku ke sini diajak sama teman-teman di DKL. Selain itu, aku juga ingin tahu lebih banyak tentang budaya Lampung terutama sastranya."
"Ck ck ck ... Gua pikir elo udah berhenti jadi sastrawan. Ternyata Arum si paling sastra masih aja sama kayak dulu. Apa yang menarik dari sastra Lampung?"
"Banyak. Lampung itu kaya dengan sastra lisan. Tapi sangat minim jika bicara sastra dalam bentuk tertulis. Salah satu tujuanku setelah acara ini, aku mau ketemu dengan Mamak Lawok di Pesisir Barat. Dia maestro hahiwang yang sudah diakui oleh negara."
"Gua sih nggak terlalu mendalami sastra. Dari dulu juga otak gua nggak sampai kalau mikir sastra. Apalagi bahasa sastra itu rumit. Itu menurut gua ya. Tapi gua setuju sama omongan elo. Sastra Lampung memang sedang mengkhawatirkan. Elo bisa lihat sendiri, berapa banyak sih anak muda yang masih mau ngomong pakai Bahasa Lampung?"
"Bahasa Lampung sendiri sudah hampir punah, Fik. Bagaimana kita mau bicara tentang sastra. Bahkan cerita yang mengangkat tentang adat budaya Lampung aja bisa dihitung dengan jari. Kakiku mulai sakit, Fik. Duduk yuk."
Arum melenggang tanpa mengindahkan jawaban Fikri. Dia menuju tempat duduk paling belakang agar sedikit terhindar dari keriuhan. Tenggorokan Arum mulai kering karena tadi harus bicara sambil teriak untuk mengalahkan suara musik yang memekakkan telinga.
Fikri tidak memberikan jawaban. Dia hanya mengekor di belakang Arum. Fikri juga tidak protes ketika Arum memilih tempat duduk di barisan belakang. Mereka duduk bersisian sambil memandangi hiruk pikuk orang yang lalu lalang.
Anak-anak seliweran sibuk membeli aneka jajanan. Muli Lampung yang beranjak remaja duduk bergerombol malu-malu. Para mekhanai sibuk menebar jala, mengincar bunga mana yang akan dia jadikan pelabuhan hatinya. Orang tua tak kalah seru menikmati alunan musik sambil mengenang masa lalu.
Arum melirik jam di pergelangan tangan kanannya. Sudah lewat tengah malam. Namun, belum ada tanda-tanda acara akan berakhir.
"Fik, biasanya acara begini kapan selesainya?"
"Sampai dini hari. Bisa juga sampai Subuh. Elo udah ngantuk?"
"Kalau ngantuk sih belum."
"Ya udah, di sini aja. Atau kita foto-foto di sana. Pasti bagus."
Fikri menunjuk areal di belakang mereka. Kerlip lampu begitu kontras dalam gelap malam. Ekor mata Arum bergeser ke arah sebuah rumah panggung tak jauh dari tempat mereka duduk. Jantungnya berdebar, sebuah siluet yang familiar menarik perhatiannya. Arum menajamkan pandangannya dan benar saja, di teras bagian atas sebuah rumah, Arum melihat Nursan dan Atikah sedang duduk berdekatan.
"Itu Nursan sama Atikah ya?" Pertanyaan Fikri terdengar bagai gemuruh petir di telinga Arum. Ia menelan ludah, berusaha terlihat tenang. "Elo tenang aja. Mereka mungkin sedang bernostalgia. Gua jamin, Nursan nggak akan balik lagi dengan Atikah. Elo ikut gua deh. Kita foto-foto di sana."
Arum mengangguk, melepaskan gamitan tangannya di lengan Fikri, lalu melangkah bersamanya.
***