Jatuh Cinta di Tanah Lada

Liwa, Sebuah Kisah yang Tak Pernah Usai

Setelahnya, topik tentang gempa berganti menjadi keindahan Gunung Pesagi, beberapa petak kebun kopi milik tamong dan kajjong yang terletak di Kaki Pesagi, serta terselip juga kebun lada mereka yang cukup luas untuk ukuran orang kampung.

Arum masih menatap panggung yang masih ramai oleh para penari nyambai, namun pikirannya telah hanyut ke masa lalu. Masa putih abu-abu yang terasa seperti mimpi.

Bel tanda masuk baru saja berbunyi. Pagi itu, hujan baru saja reda. Udara terasa lembap dan hangat. Di kelas 2.3, suasana agak gaduh karena guru belum juga datang. Beberapa siswa berdiri di dekat jendela, beberapa lagi sibuk bermain kertas lipat di bangku masing-masing.

Arum duduk di bangku kedua dari belakang, menyender di kursinya sambil mencoret-coret sampul buku sosiologi. Di sampingnya, Nursan baru saja duduk, masih mengenakan jas hujan plastik yang menggantung di bahunya.

“Kamu bawa motor?” tanya Arum tanpa menoleh.

“Bawa. Tapi tadi hampir mogok di depan pasar, airnya tinggi banget.” Nursan menjawab sambil menyeka rambutnya yang basah dengan handuk kecil.

“Kamu tuh nekad banget, San. Udah tahu hujan gede, masih maksa berangkat bawa motor.”

Nursan terkekeh pelan. “Ya mau gimana lagi. Kalau nggak masuk, nanti jam sejarah bisa ketinggalan. Aku suka pelajaran itu.”

Arum mendelik sekilas. “Kamu suka sejarah? Bukannya kamu lebih suka gangguin Bu Wiwin?”

“Aku suka sejarah apalagi yang ngajarnya Bu Wiwin. Sejarah itu cerita. Semua pelajaran itu cerita kalau kamu tahu cara dengarnya.”

Itu pertama kalinya Arum memperhatikan Nursan lebih dalam. Selama mereka sekelas, Nursan dikenal sebagai siswa yang biasa saja. Tidak terlalu pintar, tidak terlalu bodoh. Tapi cukup populer karena sepak terjangnya sebagai pecinta alam. Nursan selalu hadir dengan cara yang tenang. Setidaknya di depan Arum.

Mungkin karena itu juga, Arum mulai terbiasa duduk di sampingnya. Awalnya karena kebetulan saja, lama-lama Arum merasa nyaman.

Mereka mulai sering berbincang, kadang hanya tentang PR yang belum selesai, kadang tentang mimpi dan tempat-tempat yang ingin dikunjungi.

“Kalau kamu bisa ke mana aja setelah lulus nanti, kamu mau ke mana?” tanya Nursan suatu siang, saat mereka duduk berdua di dekat lapangan basket.

“Hmm...” Arum berpikir sejenak. “Ke Bali mungkin. Atau Yogya. Pokoknya ke tempat yang hidup, ramai, banyak seni, banyak makanan enak.”

“Klasik,” goda Nursan.

“Kamu?” tantang Arum.

“Aku? Aku justru ingin ke tempat yang sepi. Ke gunung. Atau ke kampungku.”

“Kampungmu?”

“Iya. Di Hujung. Aku sudah sering cerita kan? Ada Gunung Pesagi di sana. Indah banget. Kalau berdiri di puncaknya, kamu bisa lihat Danau Ranau di kejauhan.”

“Berarti kamu memang anak gunung. Pantas ikut pecinta alam.”

“Anak kampung,” jawab Nursan, terkekeh. “Tapi iya, aku suka tempat tinggi. Kayaknya enak banget bisa tinggal di tempat yang jauh dari kebisingan. Kadang aku ngerasa, di kota itu hidup terlalu cepat.”

Arum tidak menjawab. Tapi dalam hati, ia menyimpan percakapan itu. Ada sesuatu dalam cara Nursan berkata-kata yang membuatnya percaya bahwa tempat yang dia ceritakan itu nyata dan indah, meskipun Arum belum pernah melihatnya.

Setelah percakapan tentang itu, Arum dan Nursan jadi semakin sering menghabiskan waktu bersama. Meski tidak pernah menyebut diri mereka pacaran, ada sesuatu yang tumbuh diam-diam di antara mereka, rasa yang hanya mereka berdua pahami tapi tak pernah benar-benar mereka bicarakan.

Waktu berjalan cepat. Sebelum mereka sadar, Ujian Nasional sudah di depan mata. Saat kelulusan diumumkan, semua terasa seperti dihantam badai, tiba-tiba dan membingungkan. Satu per satu mulai bicara tentang rencana kuliah, tentang kota-kota yang akan mereka tuju, tentang masa depan yang masih kosong tapi dipenuhi harapan.

Nursan diterima di Universitas Padjajaran, sedangkan Arum menyeberang lebih jauh ke Yogya. Sesuai harapannya.

Sekolah mereka mengadakan malam perpisahan. Ada pentas seni, sesi foto-foto, peluk-pelukan antar teman, bahkan beberapa tangis haru. Tapi Arum tak betah di keramaian. Sejak pertunjukan selesai, dia diam-diam keluar gedung, berjalan ke lapangan belakang. Di sana, dalam kegelapan, ternyata sudah ada Nursan.

“Kamu siap?” tanya Nursan akhirnya.

“Entah. Kadang aku ngerasa siap. Kadang nggak. Tapi hidup tetap jalan, kan?”

“Selalu.”

Arum menunduk, menatap ujung sepatunya. Hatinya mendesak untuk bertanya banyak hal. Kenapa tidak mencoba? Kenapa tidak memperjuangkan? Kenapa tidak ... kita?

Tapi tak satu pun keluar.

Sebagai gantinya, ia berkata, “Aku takut kehilangan kamu, San.”

Dan itu cukup. Kalimat itu mengandung semua yang selama ini mereka simpan di balik obrolan tentang peta, gunung, kebun kopi, kebun lada dan pelajaran sejarah.

Nursan menoleh perlahan. Matanya hangat, teduh, tapi juga ada luka kecil yang sembunyi di dalamnya.

“Aku juga takut kehilangan kamu. Tapi mungkin, kita memang ditulis untuk pergi dulu supaya tahu seberapa besar arti pulang.”

Arum mengatupkan bibir, berusaha menahan air mata. Tapi satu tetes lolos juga.

“Kalau suatu hari aku datang ke Hujung, kamu bakal masih ingat aku?”

“Aku bahkan nggak akan pernah berhenti mengingat kamu.”

“Jadi kita beneran pisah?” tanya Arum.

“Dari dulu juga kita nggak pernah benar-benar bareng. Kamu nggak pernah mau,” jawab Nursan, setengah bercanda.

Arum terdiam.

“Rum,” kata Nursan pelan, “Kalau suatu hari kamu ke Liwa, kamu nggak perlu kasih tahu aku sebelumnya. Kamu tinggal datang. Rumahku di Pekon Hujung. Semua orang tahu.”

Arum menahan napas. “Kamu nunggu?”

Nursan tersenyum samar. “Nggak. Tapi aku percaya kamu akan datang kalau kamu memang ingin.”

Malam itu, mereka tidak saling berpelukan. Tidak juga saling mencium. Tapi diam-diam, Arum menyelipkan sesuatu ke saku jaket Nursan sebelum mereka berpisah. Secarik kertas bertuliskan, sampai ketemu di kaki Pesagi.

Itu malam terakhir mereka bertemu sebagai dua remaja yang masih belum selesai membentuk mimpi. Malam terakhir sebelum masing-masing mereka menua dengan cerita berbeda.

Tapi di hati Arum, malam itu tidak pernah benar-benar berakhir. Dia tinggal, seperti matahari yang menunggu waktu tepat untuk terbit kembali.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!